
Hari ini Lativa akan kembali bekerja. Ia tengah berdiri di depan cermin, guna memastikan kalau tampilannya sudah benar-benar rapih. Setelah itu barulah ia keluar dari kamar, lalu pergi ke ruang makan untuk menyantap sarapan yang telah disediakan oleh sang ibu.
"Pagi, Bu!" seru Lativa. Wajahnya tampak ceria. Mungkin karena sekarang urusannya telah selesai.
"Pagi, ayok sarapan dulu, Tiv!" ajak Mirna seraya duduk di kursi. Begitupun dengan Lativa.
Setelah menyelesaikan sarapan, Lativa berpamitan dengan sang ibu untuk berangkat bekerja.
.
.
.
.
Berkendara menelusuri jalan ibu kota yang cukup padat di pagi ini, tidak membuat Lativa merasa jenuh. Sebab ia sambil menyalakan musik sepanjang perjalanan. Hingga tanpa terasa, dirinya pun tiba di perusahaan. Lativa segera memarkirkan mobilnya lalu lekas turun untuk segera melakukan absensi.
"Terima kasih telah absen!" Itulah bunyi mesin absensi setelah Lativa berhasil melakukannya. Ia segera pergi ke ruangan tempat meja kerjanya berada.
Bruk!!
Lativa tidak sengaja menabrak seseorang ketika hendak mengejar lift yang pintunya masih terbuka.
"Maaf, saya gak sengaja," ucapnya merasa bersalah.
"Kamu buru-buru banget, mau kemana?"
Suara itu berhasil membuat Lativa mendongakkan wajahnya.
"Pak Rusli ...." Perempuan itu tercekat dan hampir tidak berkedip bahkan tidak ingat untuk bernapas. Dalam hitungan detik, akhirnya di pun tersadar. "Maaf, Pak. Saya mau masuk ke dalam lift," ucap Lativa lalu menoleh ke arah lift, tapi ternyata pintunya sudah tertutup. Dia menghela napas berat.
"Masih pagi, Tiv. Santai aja, apa pekerjaanmu udah segudang karena kemarin kamu cuti?" Entah bertanya atau menyindir, tapi Rusli langsung tersenyum mengeluarkan aura ketampanannya. Hal itu tentu membuat Lativa merasa malu dan salah tingkah.
Lativa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Nggak tahu juga sih, Pak." Ia menyadari ke sekelilingnya, beberapa pegawai yang berlalu lalang memperhatikannya. Lantas ia menjadi tidak enak hati. "Sekali lagi, saya minta maaf ya, Pak ... Tapi kayaknya sekarang saya harus pergi ke ruangan dulu. Permisi."
Rusli bergumam seraya menganggukkan kepalanya. Lelaki itupun langsung bergegas pergi ke ruang kerjanya.
Sesampainya di ruangan, Lativa bertemu dengan Jenna, atasan kerjanya.
"Tiv, nanti jam sembilan tolong wakili saya ya untuk meeting sama kolega baru kita. Soalnya tendernya besar banget kalau kita sampai berhasil kerjasama dengan mereka," kata Jenna merasa yakin kalau Lativa adalah orang yang tepat.
"Memangnya meeting dimana, Bu? Terus saya sendiri atau bagaimana?" tanya Lativa ingin memastikan.
"Di salah satu restoran dekat sini. Mereka yang udah booking sendiri, jadi kita tinggal datang aja ... Oh iya nanti kamu ke sana ditemani sama pak Rusli ya, soalnya pak Fatan ada meeting sama pemegang saham hari ini. Itu sih informasi yang pak Rusli sampaikan tadi," jelas Jenna.
Mendengar nama Rusli, entah kenapa jantungnya berdetak tak keruan. Lativa sampai bersusah payah menelan air liurnya sendiri. "Oh begitu ya ... Baik, Bu." Mau tidak mau, Lativa pun menerima dan akan melaksanakan tugas itu.
"Kalau boleh tahu memangnya perusahaan mereka sebesar apa, Bu?" tanya Nila lagi. Perempuan itu setidaknya memiliki acuan terhadap target yang akan berhadapan dengannya nanti.
"Besar banget, bahkan dulu mereka itu sempat bersaing dengan perusahaan ini. Ya, berhubung kita pernah mengalami krisis, tapi setidaknya sekarang udah lebih baik," jawab Jenna. Ia memang salah satu pegawai terlama yang bekerja di perusahaan ini. Tak ayal, ia tahu seluk beluk bagaimana perkembangan perusahaan ini yang pernah naik, kemudian turun, lalu naik lagi.
"Tadi Bu Jenna bilang kalau mereka pernah jadi saingan kita. Terus sekarang mereka malah mau ajak kerjasama, apa gak merasa curiga akan hal itu?" Lativa menunjukkan raut wajah serius.
"Nah, maka dari itu. Berhubung saya ada tugas luar juga dan waktunya bertabrakan, jadi saya pilih kamu. Selama kamu bekerja disini, saya rasa kamu itu orang yang teliti pada saat bernegosiasi kalau ada kolega baru. Saya yakin kamu gak akan mengecewakan kami," jawab Jenna lalu menepuk bahu Lativa sangat tegas.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas kepercayaan yang udah Bu Jenna beri. Saya akan berusaha semaksimal mungkin!" Lativa tersenyum simpul, begitu pula dengan Jenna.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu saya pergi dulu ya. Kalau nanti ada yang cari, bilang aja saya gak ada di tempat terus kalau mau bertemu ataupun hubungi lewat resepsionis aja lalu tinggalkan pesan, paham 'kan?"
"Paham, Bu."
Usai Jenna tidak terlihat lagi, tiba-tiba Rusli muncul dari dalam lift. Lelaki itu berjalan lalu masuk ke dalam ruangan tempat Lativa bekerja.
Ternyata Rusli datang tidak hanya tangan kosong, melainkan membawa tumpukkan map berwarna merah dan biru.
"Tiv, meja kamu dimana?" tanya Rusli yang terlihat kesulitan membawa map itu.
"Di sini, Pak." Lativa segera memberitahukannya. Lantas Rusli pun langsung menaruh map-map itu ke atas meja.
"Tiv, ini berkas kamu pelajari sekarang ya. Bu Jenna udah kasih tahu kamu 'kan soal meeting jam sembilan nanti?" Rusli berbicara serius kali ini. Tidak tampak raut kegugupan pada wajahnya. Lelaki itu benar-benar sangat menjaga profesionalitas kerjanya.
"Iya, Pak. Udah. Kira-kira meetingnya akan membahas soal apa ya, Pak? Siapa tahu kalaupun nanti ada pertanyaan, saya bisa jawab langsung lebih spesifik lagi. Mengingat, bu Jenna bilang kalau kolega yang akan kita temui nanti pernah jadi saingan perusahaan ini?" Lativa pun bersikap sama.
"Saya juga belum bisa menebak, yang jelas kamu pasti paham bagaimana cara kolega memberikan penawaran serta timbal balik supaya bisa mencapai kata sepakat. Untuk itu, saya sarankan supaya kamu mempelajarinya terlebih dahulu. Dari sekian banyak map ini, seingat saya ada beberapa point penting yang harus kamu catat dan ingat. Itu aja sih," jelas Rusli. Terlebih dengan perkerjaannya yang lebih padat dari bagian lainnya, membuat Rusli juya tidak serta merta mengingat dan bertumpu padanya. Dia juga butuh orang lain untuk diajak bekerjasama.
"Baik, Pak. Saya akan mulai pelajarinya sekarang." Lativa melirik ke arah petunjuk waktu yang terpasang di dinding ruangan. "Waktunya sisa dua jam lagi," ucapnya dalam hati.
"Ya udah, berhubung udah masuk jam kantor ... Saya mau kembali ke ruangan dulu ya. Sampai ketemu nanti, jam setengah sembilan saya tunggu di lobby!" tegas Rusli lalu Nila pun mengangguk paham.
Setelah Rusli benar-benar pergi, Lativa langsung duduk di kursinya. Perempuan itu kemudian membuka laptop untuk mengecek pekerjaan yang akan dikerjakan hari ini. Namun Lativa belum sadar kalau ponselnya terus berdering dan teman kerjanya, Betty belum datang juga.
...----------------...
Hingga tepat pukul delapan lewat lima belas menit, Lativa baru teringat akan ponselnya. Ia mencari ke dalam tas, beruntung benda itu ada di sana. Ketika Lativa melihat ke layar ponsel, ternyata sudah banyak panggilan masuk dari Betty.
Lantas Lativa memundurkan kursinya yang memiliki rod pada ketiga kaki benda tersebut. "Betty belum datang? Terus dia ngapain telepon? Apa jangan-jangan dia izin?" gumamnya.
Namun ketika Lativa hendak menelepon balik, tiba-tiba saja Betty masuk ke dalam ruangan.
"Motorku mogok, apes banget aku hari ini. Telat datang juga. Besok-besok, aku mau ikut jemputan bagian produksi aja deh!" keluh Betty seraya duduk di kursinya lalu mengeluarkan tempat make up dari dalam tas. Iapun mulai menambahkan riasan wajahnya lagi, karena sempat terlalu lama terkena sinar matahari.
"Ya ampun! Kasihan banget. Terus tadi telepon aku ngapain?"
"Minta tolong bilangin bu Jenna kalau aku telat, Tiv. Tapi kamu gak angkat-angkat. Untungnya pas terakhir hubungi beliau, diangkat juga." Betty mengempaskan napas kasar.
"Gak kena omel 'kan sama bu Jenna?" ledek Lativa.
Betty meringis. "Dikit."
Ditengah serunya obrolan mereka, ponsel Lativa pun berdering. Perempuan itu segera melihat ke layarnya dan ternyata Rusli yang memanggilnya.
"Siapa?" tanya Betty penasaran.
"Pak Rusli! Astaga aku sampai lupa ada meeting sama dia. Aku pergi dulu ya, Bet!" Lativa menjawab panggilan telepon dari Rusli sambil membawa tas serta beberapa berkas penting untuk bahan meeting nanti.
"Maaf ya Pak tadi habis ngobrol sebentar sama Betty," ucap Lativa ketika sudah berada di depan Rusli.
Lelaki itu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dilihatnya sudah pukul delapan lewat empat puluh menit. Itu artinya Lativa sudah telat lima menit. "Iya gak apa-apa. Lain kali jangan diulangi lagi ya."
"Baik, Pak." Lativa menunduk karena merasa bersalah sekaligus tidak enak hati.
"Ya udah ayok masuk! Kita gak boleh terlambat ke tempat meeting," ajak Rusli yang kemudian membukakan pintu untuk Lativa.
Mendapat perlakuan itu, Lativa menjadi sungkan. "Terima kasih, Pak." Iapun masuk ke dalam kemudian Rusli menutup pintunya lagi.
__ADS_1
.
.
.
.
Tiba di sebuah restoran sesuai permintaan kolega, Lativa merasa tidak asing. Perempuan itu seolah mengingat akan kejadian di restoran tempatnya kini berada.
"Bukankah tempat ini pernah aku datangi dulu sewaktu bersama Antony?" ucapnya dalam hati.
"Tiva?" panggil Rusli, membuat Lativa terkesiap dari lamunannya.
"Oh iya, Pak? Kita udah sampai?" tanya Lativa gugup.
"Udah, ayok turun!"
Lativa dan Rusli turun dari mobil bersamaan. Keduanya masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, seorang pelayan langsung mengarahkan mereka ke sebuah ruangan yang biasa di pesan oleh pelanggan dengan konsep lebih privasi serta tertutup.
Pelayan itu membukakan pintu untuk keduanya. "Silahkan masuk Tuan dan Nona."
"Terima kasih!" kata Lativa dan Rusli bersamaan.
Saat sudah masuk dan pelayan itu menutup pintunya kembali. Lativa seketika tercekat saat melihat seseorang yang ada di depan matanya.
"A-Anda ... Tuan Ali?" Lativa sampai terbata.
"Kamu kenal dengannya, Tiv?" bisik Rusli yang sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Lativa.
"Dia, ayahnya Antony," jawab Lativa dengan tatapan datar serta kosong.
"A-apa?" tukas Rusli seakan tidak percaya. Lelaki itupun menatap Lativa dan lelaki yang mengenakan setelan jas merk ternama itu, saling bergantian.
"Silahkan duduk," pinta laki-laki itu yang sudah lebih dulu duduk dikursinya.
Dengan perasaan ragu, mau tidak mau Lativa harus tetap bersikap profesional dalam bekerja.
Mereka duduk saling berhadapan.
"Sebelum kita mulai meeting pagi ini, izinkan saya memperkenalkan diri ... Saya Ali Baskoro dari perusahaan MolWare." Tatapan lelaki itu tidak lepas dari Lativa. Meskipun usianya sudah paruh baya, tapi tampilan berpakaian yang di dukung dari fisik masih tampak sehat bugar, membuat Ali tampak jauh lebih muda dari usia aslinya.
"Baik, salam kenal Pak Ali. Saya Rusli ... dan ini teman kerja saya di bagian marketing, namanya Lativa."
Ali tidak datang sendiri, melainkan bersama dua orang laki-laki. Mengingat meeting ini sangat penting bagi perusahaan, Lativa tetap menjaga sikap baik layaknya sesama kolega.
Ketika meeting itu berlangsung, Lativa sempat dilanda gugup. Padahal ini bukan kali pertama baginya bertemu dengan kolega baru. Namun berkat bantuan Rusli, Lativa mampu melewatinya dengan lancar.
"Program kalian cukup bagus. Ya sejalan dengan apa yang saya rencanakan juga," kata Ali setelah mendengar presentasi dari Lativa. "Kalau begitu .... " Ia menjeda ucapannya sejenak karena harus meminta berkas dari salah seorang laki-laki yang ikut datang bersamanya. "Kerjasama kita untuk project ini, saya setujui. Silahkan sebagai perwakilan dari pak Fatan untuk menandatangani surat kontrak dari kami," pungkasnya lalu memberikan sebuah map kepada Rusli.
Dalam hati Lativa dan juga Rusli merasa lega karena kerjasama ini tidak main-main hasilnya jika kelak berhasil. Usai membaca ulang isi kontrak itu lalu menandatanganinya, pintu ruangan pun ada yang mengetuk.
Salah satu laki-laki yang duduk di samping Ali pun berdiri lalu berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.
"Maaf Tuan mengganggu waktunya, kami mau mengingatkan kalau sekarang sudah pukul sebelas siang. Apa makananya mau disajikan?" tanya seorang pelayan restoran.
"Oh iya, sebentar ya. Saya harus konfirmasi terlebih dahulu," kata lelaki itu. Perlayan pun bersedia menunggu di depan pintu.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan, beberapa pelayan masuk sambil membawa hidangan yang tampak lezat sekali.
"Lativa ... "