
Malam ketika Nila sudah tertidur lelap, Fatan tiba-tiba kebangun karena teringat akan ponselnya yang belum diisi daya sejak kemarin sore. Dengan sangat perlahan Fatan turun dari tempat tidur lalu mencari keberadaan alat pengisi daya ponsel di sekitar meja nakas yang terletak di samping tempat tidur Nila.
Semua laci telah diperiksa olehnya, tapi barang yang dia cari tidak ada. Hingga Fatan menemukan tas milik Nila yang ada di dalam laci tanpa pintu di nakas tersebut.
"Oh mungkin ada di dalam tas istriku," ucapnya dalam hati.
Fatan membuka resleting tas itu. Namun bukannya mendapat barang yang dicari, dia justru menemukan sebuah kotak persegi panjang berwarna putih. Fatan tahu apa isi kotak itu, sebab di depannya terdapat sebuah gambar yang sangat familiar, yaitu sebuah ponsel.
"Ponsel siapa ini?" Fatan mengeluarkannya dari dalam tas. "Masih baru, tapi punya siapa? Apa punya Nila? Tapi kapan dia beli?" Lelaki itu berusaha menerkanya sendiri. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya langsung, tapi melihat Nila sudah sangat lelap, dia pun tidak tega untuk membangunkannya.
Akhirnya Fatan menaruh kotak itu ke atas meja, lalu melanjutkan mencari alat pengisi daya ponsel. Tak lama setelah itu, dia menemukannya dan segera menyambungkan alat itu pada ponselnya, kemudian lekas tidur.
...----------------...
Pagi harinya, Fatan sudah bangun lebih dulu kemudian pergi ke toilet untuk mandi. Sementara Nila bangun tidur saat 5 menit setelah Fatan masuk ke kamar mandi.
Nila terduduk dulu di atas tempat tidur, ia mengusap wajahnya berkali-kali guna memulihkan kesadarannya. Lantas ketika ia tidak sengaja meregangkan otot pinggangnya, pandangannya menangkap sebuah benda yang ada di atas meja nakas.
"Ponselku?" Nila meraih ponselnya seraya berpikir. "Perasaan kemarin sewaktu Tiba kasih ke aku, langsung aku masukin ke tas. Kok ada di atas meja? Seingatku, gak naruh di sini deh." Ia turun dari tempat tidur dengan hati-hati, kemudian mengambil tasnya dari dalam laci dan memasukkan benda itu kembali.
Tak lama berselang, Fatan keluar dari toilet hanya menggunakan kaos oblong polos dan celana pendek sebatas lutut. Dia melihat sang istri yang sedang berjalan ke arah box bayi tempat anak mereka berada.
"Sayang, kamu udah bangun?" Fatan berjalan menghampiri Nila.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Seketika Fatan teringat akan benda yang semalam dia temukan. Matanya langsung ke arah atas meja nakas. "Sayang, barang yang aku taruh di atas meja itu ... Kamu lihat gak?"
Deg. Nila mematung beberapa saat. Pun ia langsung tercekat. "Barang apa ya, Mas?" tanyanya gugup.
Fatan menaikkan sebelah alis matanya. "Kamu gak tahu atau pura-pura gak tahu, Sayang?" Raut wajah lelaki itu tampak seringai. Sementara Nila hampir kehabisan napas karena merasa sulit sekali untuk menjawab pertanyaan itu.
"Inget loh, aku gak suka dibohongin. Jadi, kalau aku marah karena kamu nyembunyikan sesuatu, kamu harus berusaha buat baikin aku lagi," ujar Fatan.
Mendengar suaminya berkata demikian. Rasa gugupnya seketika sirna lalu beralih menjadi rasa jengkel karena menurutnya Fatan tidak berkaca dari diri sendiri.
"Begitu ya? Menurut kamu, apa aku kayak gitu, Mas?" Kali ini Nila menunjukkan seringainya. Ingin marah pun tiada artinya. Sebab ini masih terlalu pagi untuk meluapkan amarah.
"Terserah kamu aja," balas Nila kemudian menghampiri putri kecilnya yang baru bangun. Ia pun memilih mengurus sang buah hati, demi meredam gejolak amarah dalam hatinya.
"Sayang ... " Fatan menghampiri Nila lalu memeluk mesra dari belakang. "Maaf, aku udah menyinggung perasaanmu. Sungguh aku gak ada maksud apapun."
Napas yang sempat tertahan, akhirnya dihembuskan juga oleh Nila. Lantas ia pun berbalik badan. Kini keduanya berdiri saling berhadapan. "Aku juga minta maaf ya, Mas." Wajahnya menunduk beberapa saat lalu menatap suaminya kembali. "Jujur aja, sejak kejadian kemarin rasa percayaku ke kamu mulai berkurang. Dan ...."
"Iya, aku paham." Fatan segera memotong ucapan Nila. "Sekali lagi aku minta maaf ya. Kamu begini juga karena aku. Jadi aku harus terima konsekuensinya." Sorot matanya semakin sendu.
Nila terenyuh akan tatapan sang suami. "Sebenarnya, apa selama ini kamu udah melepaskan masa lalumu itu, Mas?" Ia menerka sebuah kejujuran dari sorot mata yang suaminya berikan. Dalam hatinya berharap akan ada jawaban yang bisa membuatnya jauh lebih tenang. Tidak dipenuhi kegundahan seperti ini.
__ADS_1
"Sebenarnya udah lama banget aku lepas dari bayang-bayang masa lalu itu. Sejak itu aku udah bisa membuka hati dan ternyata orangnya itu kamu. Kemarin 'kan udah aku paparkan. Aku paham berada diposisi kamu saat ini gak mudah. Lagipula sebenarnya selama ini aku juga gak tahu kalau Ocha sering mengirim email. Nomor ponselnya pun gak tahu, dan di hotel itu hanya sebuah kebetulan aja. Aku gak ada janjian sama sekali, sama Ocha." Fatan mengungkapkan dengan jujur dengan apa yang telah terjadi sebenarnya.
Lantas Nila hanya meremang, menundukkan pandangannya. "Entah aku harus percaya atau nggak. Rasa sakit kemarin masih membekas. Tapi ... Ini egoku yang gak mampu melihat dari sisi kamu. Perasaan seperti ini yang paling gak aku suka. Ya Tuhan, kembalikan rasa bahagiaku lagi karena telah bersamanya," ucapnya dalam hati. Air matanya mengalir deras dan tanpa sadar bahunya bergemetar.
"Sayang." Fatan mengangkat dagu Nila pelan, seakan memaksa perempuan itu mendongak dan menatapnya kembali. "Aku harap kamu gak meragukanku. Hal ini bisa membuat pelajaran untukku ke depannya supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jujur, aku gak menyesal ataupun malu memiliki istri seperti kamu. Justru aku bangga, karena kamu adalah sisi terbaik dari diriku. Tetaplah bersamaku, karena pilihanku menikah hanya untuk bersama orang terkasih, yaitu kamu dan anak-anak kita."
Suasana yang terasa seperti menaiki 'roller coaster' benar-benar membuat Nila tertatar tapi terarah. Meski marah, sedih, serta bahagia terkadang hadir disaat yang bersamaan, tetap saja tujuan utana harus tetap terdepan.
"Iya, Mas." Nila semakin terguguk setelah mendengar ucapan dari sang suami.
Fatan langsung membawanya ke dalam pelukan. Sangat hangat dan Nila bisa lebih puas menangis hingga pakaian yang baru saja diganti oleh Fatan pun menjadi basah karena air matanya.
"Aku gak tahu harus ngomong apalagi," ucap Nila ditengah tangisannya. Beruntung di dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga.
"Hahaha .... " Fatan malah tertawa seraya mengelus rambut Nila pelan. "Aduh sedihnya. Ah, aku jadi semakin merasa bersalah karena udah buat kamu nangis," sambung laki-laki itu.
Sesaat kemudian, pintu kamar Nila tedengar ada yang mengetuk. Keduanya seketika hening. "Siapa ya?" gumam Nila pelan tapi masih dapat di dengar oleh suaminya. Ia pun melepaskan pelukan lalu cepat-cepat mengusap air matanya.
"Biar aku yang lihat ya." Fatan berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Lelaki itu seketika membulatkan matanya dengan sempurna tatkala melihat seseorang yang berdiri di depan pintu.
"Siapa, Mas?" tanya Nila kemudian menghampiri suaminya. Pun sama dengannya sendiri, terkejut bukan main.
"Selamat pagi!"
__ADS_1