Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 106


__ADS_3

Sore hari sepulang dari kantor, Fatan pergi ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Niatnya ia akan membeli hadiah untuk sang istri. Namun ketika baru saja memarkirkan mobil, ponselnya berdering.


Fatan segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Ketika dilihat, ternyata panggilan kesayangan untuk sang istri tertera di layar, Fatan pun menjawab seraya tersenyum meski Nila tidak melihatnya.


"Halo, Sayang. Ada apa?" Pandangan lelaki itu menatap ke depan. Posisinya kondisi mesin mobil belum dimatikan olehnya.


"Mas dimana? Aku pengen banget makan seafood ngampar, Mas tahu gak?" Dari suara Nila yang sangat lembut. Fatan tahu betul kalau perempuan itu sedang ingin dimanja.


"Memangnya boleh makan seafood? Setahuku, ibu hamil gak boleh makan seafood, Sayang." Bukannya tidak ingin membelikan, hanya saja fakta mengenai hal itu masih simpang siur bagi Fatan.


"Gak tahu, tapi aku pengen," rengek Nila seperti anak kecil yang ingin meminta dibelikan permen.


"Coba kamu chat dokter kandungan dulu ya, Sayang. Aku takut kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa kalau makan sembarangan." Detak jantung Fatan begitu berdebar. Lelaki itu takut kalau sang istri sampai tantrum dan bisa jadi menyuruhnya untuk tidur di sofa, itulah yang terlintas dipikirannya saat ini.


"Huuufffttt! Ya udah deh."


Fatan menghela napas. Ia memaklumi dan berusaha sabar, sebab dokter bilang bisa jadi suasana hati Nila yang mudah berubah-ubah adalah efek hormon.


"Nanti kalau kata dokter gak apa-apa, kamu boleh makan di tempat manapun yang kamu mau." Sebenarnya Fatan tidak tega, tapi walau bagaimana pun ia juga tetap tegas.


Pikiran Nila pun terbuka, dia yakin kalau apa yang diinginkan sang suami sebagai bentuk melindunginya dan calon bayi di kandungannya. "Oke, Mas!"


Setelah sambungan telepon terputus, Nila langsung mencari kontak dokter kandungan yang kemarin sempat bertemu dengannya sewaktu pemeriksaan awal.


Dalam percakapan pesan itu, dokter menjelaskan kalau sebenarnya boleh memakan seafood selama sudah benar-benar matang. Akan tetapi, mengingat kondisi kehamilan Nila masih berada pada trismester pertama yang artinya sedang masa pembentukan organ tubuh supaya tidak ada cacat lahir, maka dokter pun tidak menyarankan.


Nila disuruh menunggu sampai masuk trismester ketiga, itupun jumlah asupan seafood tidak boleh berlebihan. Sebenarnya Nila merasa kecewa karena keinginannya kali ini tidak bisa langsung dikabulkan.


Namun dokter berusaha membuat pengertian padanya. Nila pun akhirnya bisa menerima dengan lapang dada. Sebab bukan hanya untuk kesenangannya, tapi juga demi kesehatan calon buah hati.


Setelah percakapan itu berakhir, Nila memilih keluar dari kamar karena perutnya terasa lapar. Ia pergi ke dapur untuk mencari makanan yang bisa mengganjal rasa laparnya itu.


Ketika sampai di dapur, Nila langsung membuka lemari es. Ternyata hanya ada minuman jelly yang dipadukan dengan nata de coco.


"Gak ada apa-apa lagi selain ini. Tapi kayaknya seger deh. Apalagi tadi di luar terik banget," gumam Nila bermonolog. Akhirnya ia mengambil satu cup beserta sedotannya.


Nila duduk di kursi yang terdapat di depan mini bar. Ia meminumnya sampai habis. Suasana hatinya langsung kembali membaik.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Lalisa menghampirinya. Namun Nila belum menyadari, karena matanya masih fokus ke layar ponsel.


"Nila, kamu minum ini?" Suara mertuanya itu berhasil membuat Nila terkejut.


"Iya, Bunda ... Memangnya kenapa?" tanya Nila dengan polosnya.


"Ya gak apa-apa sih. Pasti kamu lapar ya?" Lalisa bertanya balik.


Nila malah cengengesan. "Itu Bunda tahu."


Lalisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Eh iya, Bunda mau pesan buah online. Kamu mau apa?" tanyanya kemudian.


"Apa ya? Um .... " Nila berpikir sejenak. "Jeruk bali ada gak Bun? Kayaknya enak itu asem-asem seger."


"Sebentar ya Bunda cari dulu." Lalisa mencari di aplikasi tempat pembelian buah secara online. "Nila! Ada nih!" serunya lalu menunjukkan layar ponselnya ke pada menantunya itu.


"Mau, Bun," pinta Nila bersikap manja.


"Oke! Bunda pesankan terlebih dahulu ya." Lalisa segera membelinya beserta buah-buahan yang akan dibelinya juga. "Sip! Selesai."


Nila pun tersenyum. "Terima kasih, Bunda!" balasnya penuh syukur.


"Iya, Bun. Ini mau ke kamar kok. Tapi sebelumnya mau buang sampah dulu," kata Nila lalu Lalisa pun mengangguk paham.


"Ya udah, Bunda tinggal dulu ya," pamit Lalisa.


"Bunda mau kemana?" Nila pun bertanya.


"Mau ke kamar juga," jawab Lalisa. Keduanya pun akhirnya kembali ke kamar masing-masing.


.


.


.


.

__ADS_1


Fatan akhirnya tiba di rumah. Lelaki itu turun dari mobil sambil membawa sebuah paperbag berukuran besar. Dia berjalan dengan riang masuk ke dalam rumah. Tujuannya saat ini ya sang istri. Namun ketika sampai di kamar, Nila tidak ada di atas tempat tidur.


"Sayang ... " panggil Fatan. Ia menaruh paperbag itu ke atas sofa lalu mencari Nila ke seluruh ruang di kamar tersebut.


Hingga tiba di depan pintu kamar mandi, Fatan pun langsung membukanya.


"Aaaaah!" Betapa terkejutnya Nila yang sedang berendam air hangat itu saat melihat Fatan tiba-tiba membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Sontak separuh bagian dada perempuan itu mengembul sempurna di atas air yang hampir dipenuhi oleh busa. Fatan menoleh dan menyadari bagian tersebut, sampai bersusah payah menelan ludahnya.


"Kamu apa-apaan sih Mas! Bikin jantungku hampir copot aja deh! Kaget tahu!" tegur Nila dengan wajah cemberut.


"Maaf, Sayang ... Maaf. Aku kira kamu dimana? Ternyata kamu lagi di kamar mandi." Fatan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Habisnya aku panggil-panggil gak jawab sih," sambungnya.


Nila mengembuskan napas panjang lalu separuh merebahkan tubuhnya pada bathtub kamar mandi. Ia berusaha mencari posisi nyamannya lagi.


"Hmmm ... Maaf ... Aku lagi nyaman banget di sini. Apalagi tadi pagi habis mabuk kendaraan. Rasanya otot-otot di sekitar leherku sangat kaku. Makanya aku berendam kayak gini," ucap Nila sedikit merasa bersalah karena telah berbicara dengan nada tinggi karena saking terkejutnya.


"Oke deh, maaf diterima!" sahut Fatan lalu tersenyum.


Nila menoleh lagi dan ikut tersenyum. "Terima kasih," balasnya.


"Omong-omong, kamu cepetan mandinya ya. Aku ada hadiah buat kamu." Fatan teringat akan paperbag tadi.


Nila pun menautkan kedua alisnya merasa heran. "Hadiah? Bukannya ulang tahunku masih lama ya?"


"Ya, memang. Tapi ini hadiah sangat spesial buat kamu. Aku yakin deh, kamu bakal seneng banget!"


"Oha ya? Wah aku jadi penasaran." Nila bertepuk tangan, kegirangan. "Tapi kamu keluar dulu dong, katanya aku suruh buruan mandi," sindirnya masih posisi yang sama.


"Loh? Memangnya kalau aku lihatin kamu mandi gak boleh? Bukannya kita sering mandi bareng?" balas Fatan membuat Nila tersipu malu.


"Mas!"


Melihat wajah Nila yang sudah memerah, Fatan hanya tergelak dengan tawanya. Lelaki itu menjulurkan lidah lalu keluar dari kamar mandi. Tidak lupa juga, Fatan menutup pintu kamar mandinya lagi.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2