
Tok Tok Tok Tok!
Suara ketukan kaca mobil membuat kesadaran Nila berangsur pulih.
Tok Tok Tok Tok!
Suaranya semakin keras dan terdengar menyakitkan di telinga. Lantas Nila pun terlonjak kaget hingga tanpa sengaja menekan klakson mobilnya.
"Sial, siapa sih yang bikin kaget begini?" Nila memijat keningnya yang terasa pening.
"Nila!" Tok Tok Tok Tok!
Sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggil namanya. Saat menoleh ke samping, ternyata Fatan orangnya. Ia seketika tercengang.
"Perasaan aku udah sampai butik deh, kok ada Pak Fatan?" gumamnya lalu melihat ke sekeliling. "Hah! Masih di kantor?" Lantas tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit. "Aduh, kayaknya vertigo aku kambuh lagi deh." Ia mengusap wajahnya lalu menarik rambut sekuat tenaga.
Hal itu dilihat oleh Fatan dari luar kaca dan membuat panik. "Nila! Apa yang kamu lakukan di dalam?"
Kali ini suara Fatan sangat terdengar jelas olehnya. Ia segera merapikan rambut lalu turun dari kursi kemudi.
"Pak Fatan kok disini? Mau keluar kantor?" tanya Nila dengan raut wajah biasa saja dan seola tidak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya ia masih merasa sakit di bagian kepala.
"Saya yang harusnya nanya sama kamu, Nila ... Kok kamu masih disini? Bukannya tadi saya suruh ke butik?" Fatan dengan sabar berbicaran lembut pada sekertarisnya itu.
Nila mengulum bibirnya lalu menghela napas. "Maaf Pak tadi saya ketiduran di mobil," jawabnya sambil cengengesan.
Sontak Fatan pun terkejut. "Bagaimana bisa?" tukas lelaki itu tidak habis pikir.
"Iya ... Jadi pas saya sampai mobil tiba-tiba kepala rasanya sakit banget. Saya gak mau ambil resiko langsung tancap gas ke butik. Terus hanis itu niatnya saya cuma mau meremin mata, eh lama-lama ketiduran," jelas Nila sambil menahan malu. Baru kali ini ia tidak langsung melaksanakan perintah dari atasannya itu.
"Kamu sakit?" tanya Fatan. Sorot mata laki-laki itu tampak khawatir.
"Cuma pusing aja kok Pak. Ini juga udah lebih baik dari sebelumnya," kilah Nila seraya tersenyum dan berusaha supaya tampak sehat.
"Ya udah sini kunci mobil kamu! Biar saya yang nyetir aja." Fatan menodongkan tanganya kepada Nila.
"Loh! saya bisa kok nyetir sendiri, Pak." Nila merentangkan tangannya untuk menghadang jalan Fatan supaya tidak duduk di kursi kemudi.
"Nila. Ini perintah atasanmu! Saya gak mau kamu sampai sakit. Jadi sekarang lebih baik saya yang akan mengantarkanmu ke rumah sakit." Fatan tetap bersikukuh.
__ADS_1
"Tapi Pak--"
"Gak ada tapi-tapian!" Karena tidak ingin berdebat lagi, Fatan memegang tangan Nila lalu menariknya pelan menuju kursi penumpang yang ada di samping kemudi. Laki-laki itu membukakan pintu untuk Nila. " Sekarang kamu masuk ke dalam ... Ayok tunggu apalagi?"
"Pak saya bisa ke dokter sendiri," kata Nila dengan tegas.
"Nila, mau nurut gak?" Fatan masih sangat sabar menghadapi keras kepalanya seorang Nila.
"Pak, please ... " Namun perempuan itu memohon dan kali ini raut wajahnya tampak menyedihkan.
"Nila, sakit kepalamu harus segera diobati!" Fatan semakin terlihat khawatir.
"Pak saya cuma butuh tidur aja kok," balas Nila mencoba memberi paham pada Fatan.
Akan tetapi laki-laki itu kemudian diam. Dia menarik napas sangat panjang. "Ya udah, aku gak akan antar kamu ke rumah sakit. Tapi mau ajak kamu ke suatu tempat."
"Hah? Kemana?" tukas Nila. "Tapi kerjaan saya masih banyak Pak," protesnya.
"Udah masuk aja ke dalam. Nanti kamu juga akan tahu."
Nila menghela napas dan akhirnya masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu, Fatan langsung menuju kursi kemudi dan dia mulai melajukan mobil itu.
Sepanjang perjalanan Nila terdiam sambil membatin.
"Nila ... " panggil laki-laki itu. Sontak Nila pun terkesiap lalu menoleh ke arahnya.
"Ada apa Pak?" tanya Nila spontan.
"Kamu kok melamun? Apa ada yang lagi kamu pikirin?" Fatan bertanya balik.
"Ah, tapi rasanya bukan waktunya sekarang buat nanyain hal itu. Perasaanku masih ragu. Aku pun gak yakin kalau Pak Fatan bakal jawab sesuai ekspetasiku." Nila bermonolog dalam hatinya.
"Nila ... Kok melamun lagi? Saya kan lagi tanya sama kamu!" Fatan protes lalu berdecak kesal.
"Ma-Maaf Pak, saya cuma kepikiran mau ubah jadwal dan saya juga belum konfirmasi terkait perubahan jadwal itu pada klien kita," jawab Nila, berbohong demi menjaga profesionalitas kerja.
"Lupain dulu soal kerjaan, Nila. Tubuhmu itu udah kasih sinyal untuk istirahat. Santai aja ... Kan ada saya yang masih bisa handle semuanya," kata Fatan seraya menoleh sesaat lalu menatap ke depan kembali.
"Iya, Pak. Terima kasih untuk pengertiannya," balas Nila tersenyum melihat laki-laki tampan yang duduk disebelahnya itu.
__ADS_1
...----------------...
Fatan membawa Nila ke sebuah rumah dibilangan kompleks rumah mewah. Nila menautkan kedua alisnya saat Fatan membelokkan mobilnya itu ke sana.
"Ini mau ke rumah siapa Pak?" tanya perempuan itu.
"Ke rumah saya," jawab Fatan dengan santainya.
"Ke rumah Anda?" tanya Nila mengulang jawaban Fatan karena masih tidak paham.
"Iya. Kamu bilang kan cuma butuh istirahat. Daripada ke apartemen, mending istirahat di rumah saya. Toh kamu belum tahu kan rumah saya, jadi sekalian aja saya kasih tahu," jawab Fatan sambil memarkirkan mobil di salah satu rumah dengan konsep hunian super mewah. Laki-laki itu tidak hanya memarkirkan di halaman depan rumah, melainkan memasukkannya ke dalam sebuah ruangan bercat hitam pekat.
Namun saat pintu tertutup, tiba-tiba sorot lampu warna putih menyala dan ruangan berubah suasananya seolah ada di dalam pesawat luar angkasa.
"Pak ini kita dimana?" Belum sempat Fatan menjawab, keempat ban mobil terkunci kemudian Nila merasa sedang terjun pelahan. "Loh Pak kita gak apa-apa ini?" tanya perempuan itu panik.
"Kamu tenang aja, kita cuma lagi menuju basement. Jadi nanti masuknya lewat lantai dasar," jawab Fatan menaruh kedua tangannya dibatas paha dan membiarkan lift berhenti dengan sempurna.
Setelah berhenti, Fatan membuka sabuk pengamannya. "Ayok kita turun!" ajaknya lalu membuka pintu mobil.
Nila tidak mengeluarkan kata-kata, tapi ia hanya menganggukkan kepala dan mengikuti Fatan yang juga turun dari mobil.
Lampu-lampu itu masih menyala, Nila pun kebingungan mencari pintu keluar. Tak disangka, Fatan langsung menarik tangannya lalu menuntunnya keluar dari garasi mobil itu.
"Pak Fatan sejak kapan beli rumah ini? Estetik banget," tanya Nila saat keduanya telah berada di ruang tamu.
"Udah lama sih sebenarnya, sebelum saya jadi CEO. Terus tiba-tiba inget kalau punya rumah yang belum sempat direnovasi. Ya udah deh, setelah saya dapat pendapatan yang cukup. Akhirnya saya renov dan ... Tada! Jadilah rumah seperti ini."
"Oh seperti itu .... "
Tidak butuh waktu lama keduanya sampai di depan sebuah pintu. Fatan pun membuka pintu itu. "Silahkan masuk, Nila."
Nila menengok ke dalam. "Ini kamar siapa Pak?" tanyanya penasaran. Sebab dari konsepnya saja tidak menyerupai kamar tamu pada umumnya.
"Ya kamar kosong aja. Siapapun bisa tidur disini. Tamu, keluarga, ataupun bisa jadi kamar anak nantinya," jawab Fatan lalu terkekeh geli.
Nila ikut tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya juga sih Pak."
"Ya udah sana masuk, istirahat. Nanti setelah makan siang, saya akan menjemputmu lagi."
__ADS_1
"Hah? Memangnya Anda mau kemana?" tanya Nila sambil mengernyit.
"Saya ada urusan sebentar. Saya pergi dulu, bye Nila. Selamat istirahat!" Fatan mengangkat sebelah tangannya lalu berbalik badan dan pergi dari hadapan Nila.