
Nila dan Fatan menoleh bersamaan ke sumber suara. Ternyata ada seorang perempuan berdiri di dekat mereka.
"Bunda ..." ucap Fatan dalam hati. Pandangannya tak lepas memandangi perempuan itu. Namun lelaki itu hanya diam, mematung ditempatnya.
Nila melirik sekilas ke arah Fatan lalu menatap seorang perempuan yang ada di depannya.
"Maaf Ibu ada perlu apa ya? Soalnya ini udah jam pulang. Mungkin ada yang bisa kami bantu?" tanya Nila bersikap sopan.
"Nila, beliau ini adalah ibu saya," kata Fatan cepat mengakui sebelum perempuan yang sudah melirik tajam sejak tadi angkat bicara lebih dulu. Fatan pun mendekat ke arahnya.
Lantas perempuan itu mende*sah pelan lalu mengalihkan padangannya ke arah Nila.
"Iya benar. Saya kesini mau menemui Fatan. Apa kamu sekertaris anak saya?" tanya perempuan itu sambil tersenyum hingga terlihat garis kerutan yang sangat halus di setiap ekor matanya.
"Oh ya?" Tukas Nila merasa tidak percaya kalau ibu-nya Fatan bisa ada di kantor. "Benar Bu. Perkenalkan saya Nila Anastasya," jawab Nila lalu mengulurkan tangan kanannya.
"Wah nama yang bagus." Perempuan itu menyambut uluran tangan Nila. "Saya Lalisa Adisuryo."
"Senang bisa berkenalan dengan Anda," sahut Nila. Tak lama keduanya saling melepaskan jabatan tangan mereka.
"Senang bisa berkenalan denganmu juga. Hmm ... Pantas aja semenjak ada disini, Fatan jarang sekali telepon ataupun menjawab telepon saya. Rupaya sekertarisnya sangat cantik dan baik hati," puji Lalisa seraya menyindir anaknya.
"Oh iya Bunda, gimana kalau ngobrolnya di restoran aja? Aku lapar," usul Fatan yang memiliki firasat kalau Nila dan sang bunda akan ada perbincangan yang sangat panjang. Melihat saat pertama kali keduanya bicara, obrolan mereka terdengar nyaaman.
"Ya kalau Bunda sih ayok aja. Kalau Nila sendiri bagaimana?"
"Saya gak apa-apa kok, Bu."
"Jangan panggil Ibu. Panggil aja Bunda biar sama kayak Fatan," timpal Lalisa merasa senang dengan kehadiran perempuan seperti Nila untuk mendampingi karir anaknya selama disini.
"Oh begitu ya?" Nila tersenyum sungkan. Tak sengaja matanya melihat ke arah Fatan dan malah mendapat sebuah kedipan mata dari atasannya itu. Ia pun terkejut dan langsung menatap Lalisa kembali. "Baik B-Bunda."
.
.
.
.
__ADS_1
Di sebuah restoran tak jauh dari kantor, ketiga orang tadi telah duduk di salah satu meja yang ada di sana. Mereka juga baru saja memesan makan dan juga minum.
"Bunda, omong-omong kenapa bisa kesini? Ayah sendirian dong di rumah," tanya Fatan pada sang bunda.
"Iya, tapi gak apa-apa kok. Ayahmu pasti izinin Bunda ke sini," jawab Lalisa dengan santainya.
"Tunggu, tunggu!" Fatan menangkap ada yang aneh dengan jawaban bunda-nya tadi. "Ayah pasti izinin. Berarti Bunda gak izin dulu sama ayah kalau mau ke sini?" tanya Fatan lagi.
Lalisa tersenyum canggung, apalagi sekarang ada Nila yang sedang bergabung dengan mereka.
"Astaga Bunda. Udah ke sini gak bilang-bilang, kalau ada apa-apa di jalan gimana?" timpal Fatan sangat khawatir. Terlebih ibunya masih tampak muda dan juga energik meski usianya sudah setengah abad.
"Ya jangan sampai atuh. Bunda habisnya khawatir. Kamu itu anak Bunda satu-satunya, sepi tahu kamu pindah ke sini. Lagi pula ayahmu tega sekali menempatkan anak jauh dari ibunya sendiri." Lalisa menggerutu kesal.
"Ya setidaknya bilang sama aku atau gak telepon ke kantor. Kalau begini ceritanya, bisa-bisa ayah malah mengirimku semakin jauh," sahut Fatan gelisah.
Sang bunda pun langsung terdiam. Dalam hati ia membenarkan tentang apa yang dikatakan oleh anaknya barusan.
Fatan langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. Kemudian menghubungi laki-laki yang menjadi panutannya selama ini.
"Halo, Fatan ... Tumben telepon Ayah. Ada apa?" sahut laki-laki dengan suara baritone yang khas di seberang telepon itu.
Fatan mengaktifkan loudspeaker-nya.
"Siapa? Pacar barumu?" Sepertinya laki-laki itu hanya asal menebak.
"Pacar darimana sih Yah, astaga ... " elak Fatan.
"Ya terus siapa?"
"Bun ... Da."
"Bunda-mu?"
"Iyalah Bunda-ku cuma satu. Selebihnya ibu sama mama."
"Kamu ini bisa aja menjawabnya!"
Saat itu juga, Nila bertanya-tanya. Pikirannya seketika bercabang. Tentang Fatan dan keluarganya. Sspertinya tidak biasa, pikir Nila demikian.
__ADS_1
"Ayaaah!" sapa Lalisa dengan suara melengkingnya yang khas.
"Bunda kenapa bisa-bisanya gak izin dulu kalau mau kesana? Padahal ayah baru juga akan kesana dua hari lagi, setelah pekerjaan dikantor pusat selesai."
"Maaf Yah. Bunda bosen dirumah sendirian. Gak ada yang diledekin. Masa iya Bunda ledek-ledekan sama pembantu," jawab Lalisa.
Nila dan Fatan saling bertukar pandang. Apalagi sorot mata Nila yang begitu penasaran.
"Ini keluarga abstrak banget sih. Ada bunda, ibu sama mama. Apa iya ayahnya Fatan punya istri lebih dari satu? Ya kalaupun iya juga pantas sih, mungkin perekonomian mereka sangat mencukupi."
Sepasang suami istri itu akhirnya bicara berdua di telepon tanpa menggunakan loudspeaker lagi. Sementara Nila hanya terdiam sambil memainkan ponselnya untuk mengecek email dari para klien maupun orang divisi.
Tak lama kemudian, Lalisa memberikan ponsel Fatan kepada sang empunya.
"Nih ponselmu. Bunda udah mutusin untuk tinggal di apartemenmu sambil menunggu ayah ke sini."
Fatan menghela napas panjang. "Baiklah kalau begitu."
"Gitu dong!" Lalisa menepuk bahu Fatan cukup keras. Seusai drama tadi, ia menoleh ke perempuan yang duduk bersebelahan dengannya.
"Oh iya Nila, kamu berasal darimana?" tanya Lalisa dengan sikapnya yang hangat dan tidak ada tatapan sinis sama sekali.
"Dari Jakarta, Bunda. Kalau Bunda asalnya darimana?" Nila pun bertanya balik.
"Bunda lahir di Aceh. Besar di Padang, eh ketemu jodoh di Jakarta. Tapi, orang tua kamu masih ada?"
"Masih, Bunda. Masih ada adik saya juga yang belum lulus sekolah. Berarti Bunda sampai sekarang tinggal di Jakarta?"
"Iya. Kamu Jakarta-nya mana? Kalau kami di Pantai Indah Kapuk ya, Fatan?" Lalisa menepuk bahu Fatan yang hanya diam dan menjawab dengan anggukkan kepala.
Telinganya mendengarkan kedua perempuan lintas usia itu sedang asik berbincang. Sedangkan matanya fokus ke layar ponsel.
"Oh di sana ternyata. Kalau saya gak jauh dari kantor sih Bunda. Tapi kalau pulang macetnya bisa menyamai jarak dari kantor ke arah rumah Bunda kayaknya deh," jawab Nila lalu terkekeh.
Ditengah asiknya berbincang, pesanan mereka akhirnya tiba. Pelayan yang mengantarkan makanan pun dengan lihai menaruh satu per satu di atas meja.
"Sekarang kita makan dulu ya, nanti ngobrolnya dilanjut lagi. Oke?" tegas Fatan yang sudah sangat lapar. Padahal awalnya yang merasa kelaparan adalah Nila. Kenapa sekarang jadi dia?
Sang bunda hanya menggelengkan kepala, sedangkan Nila mengangguk pelan lalu mulai menyantap makanannya.
__ADS_1
...****************...