
Lativa terkejut saat Rusli bertanya demikian. "Iya ... Tadi pagi setelah acara pembukaan perusahaan, Antony tiba-tiba datang dan mencengkram lengan saya. Untungnya pas lagi sama bunda. Dia diusir satpam dari sana," jelas perempuan itu sedikit gugup.
Seketika Rusli langsung menarik napasnya dalam-dalam. "Apa yang dia katakan sama kamu?"
"Dia bilang mau bawa aku kembali padanya, karena memang aku masih berstatus istrinya. Meski begitu, jelas aku gak mau. Aku takut kejadian itu terulang lagi. Apalagi aku udah gak percaya sama pengkhianat seperti dia," jawab Lativa terdengar ketus dan keras kepala.
Rusli pun terdiam. Disatu sisi, lelaki itu paham tentang trauma yang dialami Lativa kemarin dan hal itu juga membuatnya tidak menyukai Antony. Tetapi disisi lain, Rusli juga paham kalau Antony memang masih punya hak atas Lativa karena status mereka masih jelas. Namun Rusli merasa khawatir kalau terus dibiarkan, Lativa akan tetap berada dalam masalah.
"Kalau saya bantu kamu gimana?" tawar Rusli. Ia menoleh sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Hah? Bantu gimana Pak maksudnya?" Lativa sebenarnya pura-pura tidak paham. Perempuan itu merasa berhutang budi karena pernah menolongnya. Walau dibawah perintah Fatan.
"Gini, kamu maunya gimana?" tanya Rusli, tapi Lativa langsung mengerutkan kening. "Hubunganmu dengan dia maksudnya?" sambungnya dengan cepat.
Raut wajah Lativa langsung berubah menjadi biasa saja. "Oh ... Saya sih ingin cerai darinya. Apalagi kedua orang tuanya juga seakan lepas tangan dengan masalah ini. Jadi buat apa dipertahankan? Berada diantara mereka aja, saya bagai orang asing," jawab Lativa jujur.
"Oke, kalau itu mau kamu ... saya bisa kok urusin perceraian kamu sama dia. Tapi lewat pengacara rekomended dari saya ya. Selebihnya biar urusanmu dengan pengacara, anggap aja saya sebagai perantara."
Lativa seketika tercekat. "Maaf Pak ... Sebenarnya saya ..."
"Gak usah sungkan. Saya bantu kamu karena saya peduli seperti yang diterapkan Bos Fatan selama ini. Siapapun yang butuh bantuan, selagi saya mampu ... Saya pasti akan bantu." Belum sempat Lativa melanjutkan perkataannya, Rusli sudah lebih dulu tahu. Tentu Lativa menjadi semakin tidak enak hati. "Pun semampu saya," pungkas Rusli.
Sejauh Lativa mengenal Rusli. Dimatanya, lelaki itu memanglah sangat baik. Tentang perceraiannya dengan Antony, menjadi kali kedua kebaikan Rusli mengalir padanya.
"Terima kasih banyak, Pak. Saya gak tahu harus bilang apa lagi. Karena saya juga sebenarnya bingung harus darimana ingin berpisah dengan Antony," kata Lativa yang tanpa sadar manik matanya sampai berkaca-kaca.
"Sama-sama," sahut Rusli dengan senyum tulus yang mengembang dari kedua sudut bibirnya. "Kalau gitu besok setelah jam makan siang, temui saya di ruang meeting lantai dua ya. Kita akan bicarakan lebih lanjut terkait hal ini," sambungnya.
__ADS_1
"Baik, Pak. Terima kasih banyak." Lativa pun tersenyum lega. Ia seperti menemukan titik terang atas permasalahannya dengan Antony.
"Ehem!"
Suara deheman yang tidak asing di telinga mereka, terutama Rusli membuat keduanya hening. Entah sejak kapan orang itu berdiri di belakang mereka.
Rusli menoleh lalu menunduk hormat pada orang yang kini berhadapan dengannya. "Bos, dari kapan di sini?"
"Baru aja sih. Saya mau ke mobil eh pas buka pintu ada kalian berdua ... Saya jadi gak enak mau lewat, apalagi tatapan diantara kalian itu seperti punya 'chemistry'." Orang itu adalah Fatan. Memang seperti gayanya, serampangan dan terlalu jujur saat bicara, alias bar-bar.
Lativa dan Rusli saling curi pandang. Namun Lativa masih tampak biasa saja. Berbeda dengan Rusli yang sedikit salah tingkah setelah mendapat ledekan dari bos nya itu.
Tidak ingin memperpanjang soal itu. Rusli langsung memberi jalan supaya Fatan bisa lewat. Padahal teras pintu masuk resto itu sangatlah luas. Memang pada dasarnya saja Fatan itu orang yang jahil.
"Maaf Bos, silahkan."
"Maksudnya, Bos?" tukas Rusli. Namun Fatan tidak menanggapi pertanyaannya, melainkan pergi begitu saja.
Tanpa Rusli sadar kalau ternyata Lativa masih bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Fatan tadi. Perempuan itu memilih diam, tidak menanggapi. Sebab hatinya belum sepenuhnya bisa terbuka lagi untuk menerima orang baru. Traumanya saja masih menghantui, bagaimana bisa bagi Lativa dengan cepat jatuh cinta lagi? Apalagi pada dasarnya, dia tidak mudah mencintai seorang laki-laki.
"Maaf Pak Rusli, sepertinya saya harus ke dalam," pamit Lativa.
"Oh iya, silahkan." Rusli tersenyum mengiyakan, kemudiaj Lativa pun masuk untuk menghampiri ibunya.
Usai Lativa pergi, Rusli mengusap tengkuk lehernya. Lelaki itu tampak salah tingkah.
"Kenapa bisa-bisanya bos Fatan bilang seperti itu?" ujarnya kemudian ikut masuk ke dalam.
__ADS_1
.
.
.
.
Waktu bergulir begitu cepat. Tidak terasa sekarang sudah pukul sembilan malam. Nila bersama para anggota keluarga lainnya pun memutuskan untuk menyudahi acara dan memilih pulang ke rumah masing-masing.
Seperti biasa, Nila dan Fatan pulang paling terakhir guna memastika tidak ada yang tertinggal di resto. Sekaligus, membayar makan malam mereka.
Kini keduanya pun telah berada di dalam perjalanan. Nila bersandar santai menikmati suasana jalan raya yang cukup renggang di malam hari.
"Sayang," panggil Fatan pada sang istri di tengah fokusnya menyetir mobil.
Nila menoleh. "Ada apa, Mas?"
"Menurut pandanganku, sepertinya Rusli menaruh hati sama Lativa." Nila mengerutkan kening. "Kalau Rusli mau deketin Lativa, boleh gak?" tanya Fatan kemudian.
"Memangnya Mas tahu darimana kalau Rusli punya hati sama Tiva? Kalau tujuan dia tulus dan jelas ingin hidup bersama demi membangun sebuah keluarga yang bahagia, jelas aku gak akan ngelarang. Tapi kalau dia malah bikin Lativa tambah trauma, dia akan berurusan denganku!" jelas Nila sangat tegas.
"Ya, aku sependapat sih sama kamu. Tapi sejauh aku kenal Rusli, dia termasuk laki-laki dingin dan sayang banget sama ibunya. Sampai waktu ibunya meninggal pun, dia sempat seperti orang yang kehilangan tujuan hidup. Ya ... walaupun gak mengurangi profesionalitas kerjanya sedikitpun," tambah Fatan.
"Kita biarin aja dulu. Aku yakin, mereka udah sama-sama dewasa. Kalaupun Tuhan menakdirkan mereka bersama dan saling memiliki, nanti juga dimudahkan jalannya. Tugas kita cukup memantau aja," timpal Nila. Walau ada keraguan dihatinya terhadap Rusli, tapi bagaimana pun Lativa juga punya hak untuk menentukan hidupnya sendiri.
Beberapa menit berlalu, keduanya pun sampai di rumah. Nila turun lebih dulu dari mobil, sedangkan Fatan pergi le garasi untuk menaruh mobilnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Berhubung malam sudah semakin larut dan tubuh pun sudah terasa lelah. Mereka pun pergi beristirahat.