
Fatan menganggukkan kepala lalu menunggu jawaban dari Nila.
"Menurut saya, khawatir akan hal itu wajar. Tapi, kalau sampai menutup jalannya jodoh buat masa depan Anda sendiri, itu yang gak wajar. Banyak orang menyangka, kalau jodoh itu cerminan dari diri kita yang gak pernah kita sadari ataupun akui. Tapi menurut saya ... " Nila mengusap dagunya seakan sedang berpikir.
"Kenapa? Ada yang salah ya dari aku?" Fatan langsung merasa ada yang tidak beres pada dirinya. "Apa aku kurang tampan?" sambungnya.
"Gak ada sih ... Coba Anda berdiri di depan cermin. Perhatikan diri Anda baik-baik dari pantulan cermin itu sambil tanya sama diri sendiri ... 'Hal apa sih yang paling aku suka ataupun gak suka?' 'Disaat apa sih aku bisa marah bahkan sampai sangat kecewa?' atau ... 'Udah seberapa baik sih aku buat orang-orang yang ada disekitarku?' 'Udah pantas belum sih kalau aku harus menikah diumur sekarang?' ... "
Fatan tertegun mendengar penuturan Nila. Entah kenapa dadanya terasa bergetar setiap kali ia menelisik wajah perempuan yang sikapnya tampak dewasa sekali. Bukan hanya dilihat dari luarnya saja, tapi bagi Fatan cara berpikir Nila pun juga.
"Ternyata kedewasaan orang itu, bukan hanya dilihat dari usia. Karena usia hanya soal angka. Aku jadi penasaran, kenapa bisa dia sedewasa ini?" batin Fatan mulai menerka-nerka. Namun ia masih terdiam dan ingin mendengarkan Nila berbicara lagi.
"Mencintai seseorang itu sebenarnya mudah, banyak yang mengalami dari mata turun ke hati. Lain halnya kalau dalam diri kita masih menyimpan luka lama yang entah kapan bisa benar-benar tertutup rapat. Karena sejatinya, mencintai seseorang harus siap dengan dua hal. Bahagia atau kecewa. Itu aja," tambah perempuan itu seraya tersenyum.
Fatan yang mendengarkannya sejak tadi hanya tercekat kagum sambil bertopang dagu. "Sebenarnya kamu itu punya pacar gak sih?"
Nila sangat terkejut tiba-tiba Fatan bertanya seperti itu. "Memangnya kenapa Pak?"
"Beruntung aja kayaknya laki-laki yang bisa sama kamu sekarang. Kamu udah punya beauty privilege, smart, pemikiran dewasa, dan aku rasa kamu itu gak ada bakat buat selingkuh juga," jawab Fatan jujur.
Nila terkekeh pelan. "Punya pacar atau nggak, mungkin diri saya sekarang ini sebagai bentuk sebuah perbaikan dari diri saya dimasa lalu, Pak."
Ditengah perbincangan mereka, bel kamar itu berbunyi.
"Pak mungkin itu yang antar makanan!" seru Nila. "Biar saya yang ambil ya?" sambungnya lalu hendak beranjak. Akan tetapi Fatan langsung memegang tangannya supaya Nila duduk kembali.
"Biar aku aja. Kamu tunggu disini, oke?"
Nila tersenyum simpul lalu mengangguk dan duduk manis lagi ditempatnya.
Tak lama berselang, Fatan datang bersama seorang pelayan restoran yang membawa service trolley berisi pesanan mereka. Pelayan itupun menaruh makanan itu ke atas meja. Beberapa saat kemudian pamit undur diri dari hadapan mereka.
"Silahkan dimakan!" kata Fatan lalu duduk kembali.
"Iya Pak. Selamat makan!" Nila yang sudah lapar sejak tadi, langsung menyantap makanannya hingga habis tak tersisa.
__ADS_1
...----------------...
Seusai makan, tiba-tiba ponsel Nila berdering. Perempuan itu langsung membuka tasnya lalu tangannya merogoh ke dalam mencari ponsel. Tak lama kemudian, ia pun menemukannya.
"Ibu telepon, ada apa ya?" gumamnya dan terdengar oleh Fatan.
Laki-laki itu melirik dengan mulut yang baru saja disuapkan makanan dan kedua alisnya naik turun seolah bertanya 'Siapa yang telepon kamu?'
"Ibu ... " ucap Nila dengan suara pelan sambil menggeser ikon berwarna hijau guna menjawabnya.
"Halo Ibu?"
"Nila, bisa izin gak ke atasan kamu buat pulang sekarang?" Perempuan paruh baya itu terdengar sangat panik.
"Bisa, memangnya ada apa Bu?" Nila melirik ke arah Fatan yang sedikit lagi makanannya akan habis.
"Tiva kecelakaan Nila. Ini Ibu lagi dijalan mau ke rumah sakit. Tadi yang telepon Ibu itu seorang perempuan, tapi Ibu gak kenal."
"Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya Bu kok Tiva bisa sampai kecelakaan?" cecar Nila sangat terkejut.
"Lebih jelasnya nanti kita ketemu di rumah sakit aja ya Nila. Ini Ibu udah sampai rumah sakit."
"Rumah sakit Jakarta yang ada di jalan Sudirman."
"Oh iya Bu. Nila ke sana sekarang!"
Sang ibu memutuskan panggilan itu dan Nila pun langsung menaruh ponselnya lagi ke dalam tas.
"Ada apa?" tanya Fatan yang baru saja menghabiskan makakannya.
"Adik saya kecelakaan Pak. Saya izin pulang ya," jawab Nila, dari wajahnya hanya tampak sedikit kekhawatiran. Padahal dalam hatinya lebih dari yang dilihat.
"Aku antar ya? Aku takut kamu gak fokus nyetir." Fatan berinisiatif.
Nila tampak menimbang-nimbang. Dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan barusan. "Saya takut ngerepotin Pak Fatan," tolaknya secara halus.
__ADS_1
"Nggak kok. Ayok, tunggu apa lagi!" seru laki-laki itu dan akhirnya Nila pun mengangguk setuju walau sedikit ragu.
Kali ini Fatan yang mengambil alih kemudi dan tugas Nila memberitahu alamat rumah sakit tempat Lativa dilarikan.
Sepanjang jalan, Nila terus berdoa. Berharap adiknya itu tidak sampai terluka parah. Biarpun keduanya sering bertengkar ketika sedang bersama di rumah, tapi rasa sayangnya itu jauh lebih besar dibalik sikap acuhnya selama ini.
Setibanya di rumah sakit, Fatan langsung memarkirkan mobil di tempat yang tidak jauh dari pintu masuk. Setelah itu keduanya pun turun dan langsung menuju ruang instalasi gawat darurat.
Ketika Nila membuka pintu, orang yang pertama kali dilihatnya yaitu ibunya. Ia pun langsung menghampiri perempuan itu dan Fatan mengikutinya.
"Bu, gimana keadaan Tiva sekarang?" tanya Nila sambil duduk dikursi kosong di samping ibunya.
"Tiva masih diperiksa sama dokter. Tadi Ibu sempat lihat dia mengalami luka di bagian kaki kanannya ... Kalau kata saksi yang ada ditempat kejadian itu, Tiva nabrak tiang listrik karena menghindari orang yang tiba-tiba menyebrang," jelas ibunya.
"Loh Ibu tahu dari siapa? Ada polisi juga gak ditempat kejadian?" tanya Nila lagi.
"Kata perempuan yang bawa Tiva ke sini. Tadi sewaktu dia ada di sana, belum ada. Terus saksi yang melihat kejadian barusan menghubungi perempuan yang bawa Tiva kalau motornya udah dibawa ke kantor polisi."
"Tapi Tiva masih sadar gak Bu?"
"Pingsan Nila, makanya Ibu khawatir sekali. Untung tadi ada tetangga yang mau bantu Ibu buat antar ke sini."
"Semoga Tiva gak kenapa-napa ya Bu," ucap Nila lalu memeluk ibunya.
"Aamiin."
"Oh iya Bu, kenalin ini Pak Fatan, atasan Nila di kantor." Fatan kemudian menunduk hormat lalu mengulurkan tangannya.
"Saya Mirna, ibunya Nila." Keduanya saling berjabat tangan. "Oh tadi Pak Fatan ya yang telepon ke saya?"
"Iya benar, Ibu." Fatan tersenyum ramah.
"Permisi ... " Semuanya seketika terdiam dan langsung menoleh ke sumber suara.
Mirna tersenyum melihat perempuan yang berdiri di sampingnya. Sementara Fatan hanya bersikap biasa saya tanpa mengurangi rasa hormat.
__ADS_1
Akan tetapi berbeda dengan Nila. Detak jantung serta napasnya seakan berhenti saat melihat perempuan itu berdiri di hadapannya.
"Kamu ... "