Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 79


__ADS_3

Dua puluh empat jam sudah Fatan menemani Nila di ruang rawat inap itu. Perkembangan kesehatannya pun sudah semakin membaik, terlebih Nila sudah bisa makan dalam jumlah banyak serta teratur. Fatan pun tentunya merasa lega akan hal itu.


"Mas ... " panggil Nila saat baru saja membuka mata. Namun orang yang dicari pun tidak ada di sekeliking pandangannya. Ia pun perlahan bangun lalu duduk di atas tempat tidur.


Ketika Nila menoleh, tak sengaja ekor matanya melihat secarik kertas yang ditindih oleh ponsel di atas meja. Nila mengerutkan kening seraya berusaha meraih kedua benda itu kemudian membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.


Maaf ya aku tinggal sebentar. Suamimu♡


Nila tersenyum simpul dan menghela napas. Lantas beralih mengecek ponsel itu yang ternyata miliknya. Lagi-lagi Nila tersenyum saat melihat gambar yang pertama kali dilihatnya ketika hendak membuka kunci layar. Ya, di sana terdapat foto sewaktu mereka baru saja sah menjadi suami istri.


"Ternyata ada pesan dari mas Fatan!" serunya kemudian men-scroll ke bawah. "Eh, ada pesan dari ibu juga." Nila membuka pesan dari suaminya terlebih dahulu, sebab kalau dengan ibunya lebih baik bicara melalui telepon supaya tidak salah paham, pikirnya demikian.


From : Suamiku Yang Tampan


Hai Istriku ♡


Pasti kamu baru bangun kan? Ngaku deh, ya ya ya?


Hehe tunggu aku ya. Cuma sebentar aja kok.


Aku sedang ke kantor firma hukum di kota Beijing.


Oh iya kamu tenang aja, walaupun sendirian di kamar, ada yang jagain kamu kok di depan pintu. Aku udah nyuruh orang untuk menjagamu lebih ketat lagi.


Mungkin kamu ingin makan sesuatu, bilang aja ya Sayang.


Nila terkekeh geli membaca isi pesan dari Fatan. Terlebih saat mengetahui kontak namanya.


"Ternyata tingkah kamu itu gak pernah berubah, malah sekarang kami terlalu berlebihan," ujar perempuan itu seakan berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan. Dia pun kemudian membalas.


^^^Iya, aku baik-baik aja kok Sayang ♡^^^


^^^Tetap hati-hati ya, aku menunggumu.^^^


^^^Sepertinya aku ingin makan choipan. Mas mau cariin choipan buat aku?^^^


Tidak lama setelah Nila membalas. Ternyata Fatan pun langsung balas pesan darinya.


From : Suamiku Yang Tampan

__ADS_1


Siap istriku. I love you ♡


Usai membaca pesan itu, ingin rasanya Nila berteriak sambil guling-guling di atas tempat tidur karena terlalu bahagianya. Namun sayang, kondisinya masih belum memungkinkan untuk melakukan seperti itu, jadi Nila hanya tersenyum malu. Mungkin jika ada yang melihat, wajahnya itu tampak memerah.


Sembari menunggu Fatan kembali, Nila merubah posisi duduknya menjadi bersandar. Ia pun kemudian menghubungi ibunya lewat sambungan telepon.


"Ibu ...."


"Nila, astaga apa kamu gak apa-apa? Kenapa pesan Ibu dari kemarin gak kamu balas? Kamu baik-baik aja 'kan?" cecar Mirna terdengar cemas.


"Maaf udah bikin Ibu khawatir ... Nila gak apa-apa kok. Ibu tenang aja." Nila rasa, kejadiannya saat ini belum bisa diceritakan pada ibunya.


"Ah, syukurlah Ibu merasa lega mendengarnya. Ibu takut kamu kenapa-kenapa."


Nila terkekeh pelan. "Ibu gak usah risaukan apapun ya. Oh iya, Lativa udah hubungi Ibu lagi?"


"Sampai saat ini belum, barusan Ibu telepon ke nomor ponselnya juga gak bisa dihubungi. Ada apa ya sama anak satu itu? Udah seminggu loh dia gak ada kabar," keluh Mirna dan Nila pun ikut sedih mendengarkan hal itu.


"Ibu tenang ya ... Nanti Nila coba bicarain sama mas Fatan ya, Bu. Siapa tahu mas Fatan bisa bantu."


"Iya semoga aja suamimu bisa bantu, soalnya semenjak gak ada kabar dari adikmu ... Firasat Ibu benar-benar gak enak padanya."


"Ibu ... Lebih baik untuk sekarang kita doakan aja. Semoga Lativa di sana baik-baik aja dengan anak yang dikandungnya itu." Nila mencoba menenangkan sang ibu.


"Iya ... " Mirna terisak. "Kamu benar ... Tanpa kamu ataupun Lativa minta, Ibu selalu mendoakan kalian. Semoga terus selamat, sehat dan juga bahagia. Ibu sebenarnya kangen sama kalian di rumah, tapi Ibu gak bisa egois kalau anak-anak Ibu udah punya keluarga sendiri-sendiri."


Nila semakin tidak kuasa menahan tangisnya. Dalam hati pun dia bersyukur, mungkin selamatnya dia dari maut kemarin itu ada berkat doa ibunya juga.


"Nila juga kangen sama Ibu." Tangis Nila pun pecah. Sontak kedua orang yang ada di luar pun terkejut mendengar tangisannya. Sampai-sampai salah satu diantara mereka masuk ke dalam untuk memastikan.


"Ada apa Nyonya? Apa yang terjadi?"


Suara lelaki itu sampai terdengar di telinga Mirna.


"Suara siapa itu Nila?"


Nila mengempaskan napas tenang seraya memberi kode pada lelaki itu kalau dirinya baik-baik saja. Lantas lelaki itupun kembali ke luar ruangan dan berjaga di depan bersama temannya.


"Oh itu anak buah mas Fatan, Bu. Mungkin kaget denger aku nangis, hehe ...."

__ADS_1


"Ibu kira kenapa. Ya udah Ibu mau masak dulu ya, sehat-sehat kamu di sana."


"Iya Bu. Tapi aku kangen masakan Ibu ..." kata Nila merengek layaknya anak kecil pada ibunya.


"Kapan dong kamu pulang? Nanti Ibu masakin yang enak-enak."


"Hehehe, kayaknya sih nunggu Mas Fatan lebih baik lagi keadaannya, Bu. Nanti kalau Nila pulang ke rumah, bakal Nila kabarin kok."


Beberapa saat kemudian, sambungan telepon pun berakhir. Nila menundukkan kepalanya seraya menghela napa.


"Tuhan, jaga ibuku di sana. Aku gak mau terjadi hal buruk seperti yang aku alami. Cukup aku aja, tapi jangan ibuku. Aku tahu, Engkau sedang mengujiku supaya aku bisa naik level. Lindungilah orang-orang yang sangat aku sayangi, Tuhan ... " Nila berdoa dalam hatinya sampai bibirnya bergetar karena menahan suara tangisan. Air matanya pun sudah mengalir membasahi pipinya.


Hingga pintu ruangan itu terbuka lebar. Nila langsung mengangkat kepalanya lagi dan menatap orang yang baru saja masuk ke ruang rawat inapnya itu, dengan sisa air mata yang masih tampak pada wajahnya.


"Sayang .... " Dia adalah Fatan, suaminya sudah kembali dari urusannya serta tidak lupa membawa makanan yang diminta oleh Nila.


"Mas ..." lirih Nila menatapnya sendu.


"Ada apa? Kenapa kamu nangis?" Fatan menghampiri sang istri sampai tergopoh-gopoh. Ia menaruh makanan itu ke atas meja lalu memeluk Nila sangat erat. "Jangan sedih ... maaf ya udah ninggalin kamu sendirian disini," sambungnya lalu memberi kecupan di pucuk kepala Nila.


Akan tetapi Nila justru melanjutkan tangisannya lagi karena sebelumnya belum cukup lega. Fatan mengerti dan membiarkan Nila terus menangis hingga merasa lega.


Beberapa menit kemudian, tangisan Nila itu berhenti. Perasaan perempuan itu sudah merasa lebih baik dari sebelumnya dan pelukan itu terlepas. Fatan duduk di kursi yang biasa ditempati olehnya sembari menunggu Nila beristirahat.


"Sekarang cerita sama aku, ada apa?" tanya Fatan dengan suara selembut mungkin serta tatapan yang teduh. Sungguh hati Nila meleleh melihat tatapannya itu, dan membuat dia seketika menunduk.


"Sebenarnya, tadi aku habis telepon ibu," jawab Nila lalu mengangkat wajahnya lagi dan menatap suaminya.


"Iya, terus?" Fatan tampak serius dan siap mendengarkan cerita dari sang istri. Lantas, Nila pun menceritakan semuanya. Dia sempat nangis lagi, tapi tidak sampai tergugu seperti tadi.


"Jadi begitu rupanya ... " sahut Fatan seraya memikirkan rencana baru untuk mengetahui keberadaan adik iparnya itu.


Sementara, Nila hanya mengangguk dan memberi tatapan penuh harap pada suaminya.


"Sayang, jangan terlalu dipikirkan ya. Bagaimanapun kamu juga harus lekas sembuh. Soal Lativa, biar aku yang akan mencari tahu. Kamu tenang aja ya," timpal Fatan yang sebenarnya lebih ingin mengutamakan kesembuhan Nila. Namun jika hal itu bisa membantunya, pasti akan Fatan lakukan.


"Terima kasih banyak ya, Mas," balas Nila lalu memeluk Fatan kembali. Lelaki itupun terenyuh dan membalas pelukannya. Ditengah suasana romantis di dalam ruang rawat inap itu, tiba-tiba saja pintu ruangan pun ada yang mengetuk.


Tok tok tok.

__ADS_1


Keduanya sama-sama tersentak dan menoleh ke arah pintu bersamaan.


__ADS_2