
"Mas, lihat! Itu bukannya Jamal?" seru Nila. Ia menunjuk ke arah lelaki yang dilihatnya serta menepuk bahu Fatan cukup keras.
"Hah! Jamal? Jarfin maksud kamu?" tukas Fatan lalu menoleh mengikuti arah pandang Nila.
"Iya Mas," jawab Nila mengangguk cepat. "Kamu masih ingat 'kan? Ngapain ya dia di sini? Lewat pintu belakang pula," tambahnya merasa curiga.
"Mungkin dia ada urusan disini, Sayang ... " timpal Fatan berpikir positif.
"Ah, masa sih?" Nila tidak percaya sekaligus tidak yakin. Sebab ada satu hal yang sangat membuatnya curiga yaitu jaket hitam yang dipakai oleh Jarfin. "Aku hampiri dia ya? Lagi pula dia 'kan udah gak tinggal di rumah ibu lagi," sambungnya lalu bergegas turun dari mobil. Fatan pun hanya mengangguk, mengiyakan.
Semula, Fatan tidak menaruh kecurigaan sama sekali. Sesaat setelah Nila turun dan sudah berada di depan Jarfin, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
[Bos, pelaku kericuhan di ruang sidang ternyata seharusnya ada 4 orang. Tapi, satu orang lari pergi entah kemana. Yang jelas pakaian yang dipakai olenya, sama seperti 3 orang temannya.]
"Apa? 4 orang? Pakaian mereka .... " Fatan mengingat kembali pakaian yang dikenakan oleh ketiga orang itu saat diamankan pihak polisi. Lantas matanya melihat ke arah Nila yang sedang berjalan hendak menghampiri Jarfin.
"Astaga!" pekik Fatan lalu bergegas turun dari kursi kemudi untuk menyusul Nila. Namun rupanya Nila sudah lebih dulu sampai di hadapan Jarfin.
"Jamal!" seru Nila seraya tersenyum. Sementara Jarfin hanya membalas dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat. Tak lama kemudian, Fatan sampai tepat di belakang Nila.
Jarfin yang melihat kehadiran Fatan di sana, segera menghindar dan berlari.
"Kejar!" ujar Fatan lalu menarik tangan Nila untuk berlari bersama.
Arah mereka berlari menuju sebuah gudang yang masih di dalam lingkungan kantor polisi. Tanpa mereka tahu, salah seorang anggota polisi yang baru keluar dari dalam kantor tidak sengaja melihat mereka saling berkejaran. Dia pun ikut mengejar di belakang Fatan dan Nila.
Hingga tiba pada titik dimana Jarfin terhalang oleh dinding dan tidak bisa berlari lagi. Langkah Fatan dan Nila pun berhenti dengan jarak berkisar seratus meter dari Jarfin.
Fatan mengatur napasnya terlebih dahulu. Kemudian bertanya pada Jarfin. "Kenapa kamu lari saat melihat saya?" Raut wajah Fatan tampak serius mencermati mimik muka yang diberikan Jarfin padanya.
"Kamu gak perlu tahu!" elak Jarfin lalu tersenyum seringai.
"Jelas saya harus tahu! Respon kamu membuat saya bertanya-tanya dan curiga. Ada apa sebenarnya? Katakan!" ujar Fatan dengan nada bicara yang mulai meninggi.
Namun Jarfin hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain seakan enggan sekali melihat lelaki yang sedang berhadapan dengannya. Lantas, Jarfin tiba-tiba merasa ada kesempatan untuk kabur dari mereka tanpa basa-basi pagi, ia pun bergegas melarikan diri.
__ADS_1
Dor!
Tetapi sayangnya, salah seorang anggota polisi yang ada di samping pintu gudang itu terpaksa melepaskan tembakan ke arah kaki Jarfin. Alhasil, lelaki itu kesakitan karena peluru yang sudah menembus betis kakinya. Darah pun kemudian mulai mengalir. Jarfin bertekuk lutut sambil memegangi betis kakinya.
"Ya Tuhan, kenapa hidupku jadi begini?" ucap Jarfin dalam hati.
Anggota polisi itu segera menghampiri Jarfin.
"Maaf saya sengaja melepaskan tembakan karena kamu dicurigai telah melakukan kejahatan," ucap polisi itu kemudian langsung memasang borgol pada kedua pergelangan tangan Jarfin.
Fatan dan Nila keluar dari gudang itu. Melihat polisi sudah berhasil membekukan Jarfin, keduanya pun merasa lega.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Fatan dengan rasa hormat, Nila pun begitu.
"Sama-sama, mari kita selesaikan di kantor. Sekalipun dia tidak bersalah, saya yang akan bertanggung jawab sebab kalian saling berkejaran masih di dalam lingkungan kantor polisi," kata polisi itu lalu menepuk bahu Jarfin supaya mau berjalan.
Tiba di dalam kantor. Mereka bertiga masuk ke dalam sebuah ruangan yang sekatnya terbuat dari baja. Suhu di ruangan itu begitu dingin. Namun bukan hanya mereka dan beberapa anggota polisi saja yang ada di ruangan itu, tapi juga ada tim medis yang bertugas mengobati luka tembakan di kaki Jarfin.
"Siapa nama kamu?" tanya seorang anggota polisi yang ditunjuk untuk mengintrogasi mereka dan kini bertanya pada Jarfin terlebih dahulu.
"Usia?"
"Dua puluh enam tahun."
"Ada masalah apa kamu dengan kedua orang ini?"
"Tidak ada."
"Lantas kenapa kamu dikejar oleh mereka."
"Tidak tahu."
BRAK!!!
"Kalau ditanya itu jawab yang jelas!" bentak Fatan yang sudah kelewat emosi, terlebih saat Jarfin memicingkan mata ke arahnya.
__ADS_1
"Sabar, Tuan. Biarkan kami yang bertanya padanya," kata anggota polisi yang lain guna menengahi mereka.
Lantas polisi yang tadi bertanya pada Jarfin pun menatap laki-laki itu lagi.
"Jawab jujur! Ada masalah apa kamu dengan mereka?" Kali ini polisi tersebut sangat tegas dan nadanya pun penuh dengan penekanan. Namun ya lagi-lagi, Jarfin hanya menghela napas.
"Tidak ada, Pak."
"Jamal! Tolong jawab yang jujur. Ada apa sebenarnya? Kenapa sikap kamu jadi aneh gini sih? Cerita dong jangan diam aja!" sahut Nila yang ikut geram dan gemas sekali.
Polisi yang bertugas memberi pertanyaan akhirnya berdiri. "Tuan, Nyonya ... saya rasa untuk menghindari keadaan yang semakin runyam, biarkan kami yang akan mengintrogasi saudara Jarfin. Tanpa mengurangi rasa hormat kami, Tuan dan Nyonya bisa dipersilahkan menunggu di luar yang nantinya akan bergantian untuk diberi pertanyaan juga."
Fatan menarik napas dalam. "Baiklah, ayo Sayang kita keluar." Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya sembali meraih tangan Nila.
Sebelum Nila benar-benar pergi, tatapannya tidak lepas dari Jarfin. Lantas langkahnya terhenti tepat di samping Jarfin yang sedang duduk. "Aku harap kamu bisa jujur dan terbuka. Kalau gak, jangan harap kamu akan aku anggap saudara lagi!" ancamnya sangat tegas, kemudian Nila melanjutkan langkahnya lagi keluar dari ruangan itu.
Setelah Nila dan Fatan keluar. Para anggota polisi yang ada di dalam pun melanjutkan introgasi lagi.
"Sekarang, coba jelaskan pada kami. Ada apa?"
Jarfin menarik napas. "Um, saya harus mulai darimana ya? Oh iya, berawal saat saya bertemu dengan perempuan bernama Charma di pertigaan lampu merah setelah menyebrang jalan. Saat itu, saya mau berangkat kerja."
Salah seorang polisi mulai merekam lewat kamera tersembunyi.
"Lanjut." Polisi yang bertanya mulai mendengarkan cerita Jarfin.
"Awalnya niat saya hanya menolong dia, karena dia tampak sangat ketakutan. Terus dia, saya bawa ke kos-kosan tempat tinggal saya dan memperbolehkannya untuk tinggal di sana."
"Jadi kalian tidur dalam kamar yang sama?" tukas polisi itu.
"Gak, Pak. Kosan tempat tinggal saya itu ada satu kamar tidur, kamar mandi dan ruang tamu, hanya gak ada dapurnya aja. Jadi dia tidur di kamar, sedangkan saya di ruang tamu. Jadi aman," jawab Jarfin santai.
Polisi itu mengangguk paham.
"Beberapa hari kemudian saat saya pulang kerja, dia gak ada di kosan. Saya cari disekitar area kos-kosan itu ternyata gak ada. Saya hampir putus asa karena jujur, saya takut dia kenapa-napa apalagi kondisi psikisnya sedang terganggu. Tapi, ditengah saya mencari tiba-tiba ada seorang lelaki datang ke saya dan bilang, 'ikut saya kalau ingin perempuan itu selamat.' Saya akhirnya ikutin lelaki itu," sambung Jarfin. Raut wajahnya kian serius.
__ADS_1
"Ternyata ... "