
"Dia di rumah Antony, Bu. Jadi tadi pas selesai dari dokter kandungan ... Nila yang paksa dia untuk ke rumah lelaki itu. Enak aja masa mau bikinnya doang! Nila mau Antony bisa tanggung jawab atas perbuatannya itu," gerutu Nila merasa kesal. Sementara respon ibunya hanya tersenyum seringai.
"Terus tanggapan keluarganya gimana? Dia dikeluarkan juga gak dari sekolah?" cecar Mirna lagi. Menyebut nama Antony saja, ia rasanya enggan dan ingin sekali memaki.
"Pas sampai di rumahnya, gak tahu kenapa tiba-tiba Nila ragu. Apalagi Tiva juga takut diusir. Ternyata pas udah ketemu dengan orang tuanya ... Mungkin nasib baik sedang berpihak pada Tiva, kedua orang tuanya baik sekali, Bu. Dan malah ... Ayahnya Antony pun yang menyuruh mereka untuk cepat-cepat nikah," jelas Nila mencoba membuka pemikiran ibunya, kalau Lativa memang akan baik-baik saja.
"Syukurlah ... Ibu juga sempat salah saat pertama kali mendengar dia hamil dan dikeluarkan dari sekolah. Ibu langsung berpikir apa kata orang nanti, tanpa melihat dia yang sebenarnya sedang butuh dukungan dari Ibu," ucap Mirna penuh sesal menatap Nila. "Padahal apapun yang terjadi dihidup kita bukan tentang kata orang. Rasanya Ibu ingin sekali bertemu dengan adikmu sekarang, Nila," sambung perempuan paruh baya itu, manik matannya menatap Nila penuh berharap.
Nila mengusap lengan ibunya. "Bu, Nila rasa hal yang ibu lakukan itu wajar. Ibu hanya mengungkapkan rasa kecewa, walaupun caranya sedikit keliru. Mungkin lebih baik, Ibu beri restu pada mereka ... " bujuknya kemudian.
Mirna pun tersenyum. Melihat Nila ada disisinya saat ini bagai penawar dikala sakit yang sempat membuatnya hampir kehilangan nyawa. "Nila, kapan adikmu akan kembali? Ibu ingin bicara lagi sama dia," tanyanya.
"Sebentar, biar Nila telepon dia terlebih dahulu ya, Bu." Nila mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian kedua jemarinya langsung mengetik nama Lativa, lalu memanggilnya.
Tidak butuh waktu lama, panggilan pun dijawab oleh Lativa.
"Halo Kak? Ada apa?"
"Tiv, kamu dimana?"
"Dijalan Kak, mau ke kedai. Ibu udah sadar Kak?"
"Kedai mana? ... Iya ibu udah sadar kok. Sekarang ibu nanyain kamu, katanya kapan kamu kesini?"
Lativa langsung terdiam. Air matanya pun menetes karena terharu.
"Tiv ... " panggil Nila memastikan kalau Lativa masih mendengar suaranya.
Lativa segera menghapus air matanya. "Iya Kak. Aku kesana sekarang ya!" cetusnya langsung berubah pikiran. "Bye Kal!" Ia pun langsung memutuskan panggilan itu.
Nila menjauhkan ponsel itu dari telinganya, kemudian berkata pada ibunya. "Bu, Tiva lagi jalan menuju ke sini. Mungkin gak lama lagi akan sampai."
__ADS_1
"Oh ya udah kalau gitu. Mending kamu makan dulu, Nila. Daripada nanti kamu sakit karena gak makan, mau memangnya?" usul Mirna. Ditengah sakitnya itu, ia masih tetap memperhatikan sang anak. Terlebih dalam situasi seperti ini, selera makannya bisa hilang tiba-tiba.
"Iya Bu. Nila mau pesan lewat online aja, soalnya gak mau ninggalin Ibu sendirian disini," jawab perempuan itu sambil tersenyum.
"Ibu udah gak apa-apa kok .... " Mirna terkekeh pelan saat mendengar Nila sangat khawatur padanya. "Dokter juga udah kasih Ibu obat, mungkin bisa jadi besok pun Ibu udah bisa pulang lagi ke rumah," sambungnya seraya mengelus punggung anak sulungnya.
Nila menghela napasnya. "Bu ... " panggilnya pelan.
Mirna melengkungkan kedua alisnya, menatap Nila cukup lekat. "Kenapa?"
"Kemungkinan, Tiva akan tinggal bersama Antony. Kalau Nila resign dari tempat kerja dan nemenin Ibu dirumah bagaimana? Nila kepikiran jadi ingin buka usaha aja deh, Bu," tutur Nila meminta pendapat ibunya. Apalagi firasatnya bilang kalau hubungannya dengan Fatan setelah kejadian tadi pagi, mungkin bisa merenggang dan membuatnya merasa tidak nyaman.
"Memangnya di kantor kamu yang sekarang kenapa? Bukannya atasan kamu itu baik?" tanya ibunya. Namun yang Mirna lihat dari sorot mata Nila, seperti ada hal lain. Untuk saat ini, Mirna pun belum bisa bertanya langsung tentang hal lain itu apa.
Nila mende*sah pelan. "Nila cuma ingin nemenin Ibu dan juga ... pekerjaan kantor yang udah hampir lima tahun Nila jalani, rasanya penat juga ya."
"Apa kamu yakin mau resign?" tanya Mirna lagi memastikan kalau anaknya sudah benar-benar yakin atau belum. Namun setelah itu Nila hanya mengangguk ragu. Mirna memiringkan sedikit wajahnya. "Apa gak sebaiknya kamu minta pindah aja ke kantor yang di Jakarta? Mungkin aja atasanmu itu menyetujui," usulnya lagi. Kali ini Nila terdiam seraya berpikir keras.
"Nanti Nila pikirin lagi deh. Ya kalau memang masih rezeki Nila bekerja di perusahaan itu, pindah mungkin menjadi pilihan Nila setelah ini," jawab Nila seraya menegakkan punggungnya.
"Saran Ibu, lebih baik minta pindah aja ke kantor yang disini. Lagipula dekat dengan rumah bukan? Selebihnya coba kamu pikirkan baik-baik. Ibu harap, kamu gak gegabah dalam mengambil keputusan," ucap sang ibu walau sebenarnya apapun yang menjadi keputusan Nila itu tetap akan didukung olehnya. Hanya saja ia sedang menguji pendirian anaknya, supaya tahu apa Nila sudah benar-benar yakin atau belum.
...----------------...
Tiba-tiba pintu ruangan tempat rawat inap Mirna, ada yang mengetuk. Nila menoleh ke arah pintu begitupun dengan Mirna, lalu keduanya saling bertukar pandang.
"Biar Nila lihat ya Bu." Nila segera beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekat ke arah pintu.
Setelah dibuka, ternyata Lativa bersama Antony. Raut wajah keduanya bisa dibilang sudah lebih baik ketimbang tadi saat pertama kali bertemu lagi.
"Siapa Nila?" tanya Mirna seraya melongok ke arah pintu.
__ADS_1
"Tiva, Bu ... Sama Antony," jawab Nila, kemudian ia pun menyuruh mereka masuk.
Lativa terlihat takut dan juga bingung saat bersitatap dengan ibunya. Lantas Antony langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Mirna.
"Jadi kamu laki-laki yang telah menghamili anak saya?" tanya Mirna. Nada bicaranya biasa saja, tapi tatapan sangat tajam seperti ujung pisau.
"Iya, Bu. Kenalin saya Antony." Laki-laki itu sedikit takut dengan tatapan yang diberikan oleh Mirna.
"Ibunya ternyata galak juga ya," batin Antony merasa was-was.
Nila mengedipkan mata pada Mirna supaya mau menyambut uluran tangan laki-laki itu. Dengan sedikit ragu, Mirna pun mau melakukannya.
"Bu, saya mau minta maaf atas kesalahan yang telah saya perbuat beberapa bulan yang lalu. Saya akui, kalau saya salah. Kesalahan ini pun udah berimbas pada saya yang juga dikeluarkan dari sekolah. Saya mohon, maafin saya ya, Bu," sambung Antony. Ia berusaha memberanikan diri untuk mau mengakui kesalahannya.
Tatapan Mirna semakin tajam pada anak laki-laki yang sebaya dengan Lativa itu. "Kamu cinta sama anak saya?"
Antony melirik sekilas ke arah Lativa. Perempuan yang berdiri disampingnya itu seakan memberi keberanian tersendiri untuknya. Tiba-tiba tangannya menggenggam tangan Lativa sangat erat.
"Benar, saya mencintai dia, Lativa Anindita," jawab Antony sangat yakin.
Mirna pun tercengang sekaligus takjub. Meskipun usia Antony sebaya dengan anak bungsunya. Untuk keberaniannya saat ini patut diacungkan jempol.
"Baiklah, kalau memang kamu yakin cinta sama Lativa, saya akan memberi kalian restu."
Antony dan Lativa bernapas lega. Begitupula dengan Nila.
"Tapi ingat! setelah menikah nanti, kalian harus menjaganya dengan baik. Kalau memang berada disebuah masalah yang sulit diselesaikan berdua, minta sama Tuhan. Kalaupun Tuhan belum kasih jawab karena keadaan benar-benar mendesak, coba cerita sama Ibu ataupun ibunya Antony, paham kan?" papar Mirna memberi bekal untuk anak bungsunya. Lantas keduanya pun mendengarkan dengan baik dan mengangguk tanda paham.
"Pernikahan itu belajarnya seumur hidup, Nak ... Bukan hanya disaat-saat tertentu. Ibu harap, kamu .... " Mirna menatap ke arah Antony, tapi kali ini tatapannya sangat teduh. "Bisa membahagiakan Lativa, ya?" sambungnya.
"Iya Bu ... Saya akan lakukan apapun semampu saya," jawab Antony masih terdengar sangat yakin. Genggaman tangannya pada Lativa pun semakin erat ia lakukan.
__ADS_1
Restu dari ibunya Lativa pun telah di dapat. Sementara waktu cuti Nila masih ada tiga hari lagi. Nila berharap setelah ini hubungannya dengan Fatan masih tetap membaik.