Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 154


__ADS_3

Berhubung masih masa libur panjang, Fatan berniat untuk mengajak Nila berlibur bersama buah hati mereka. Namun sampai saat ini dia belum mendapat destinasi liburan yang bagus untuk bertiga. Pasalnya saat memikirkan tentang bayi mereka, banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Satu diantaranya, mengenai tempat, jarak dan juga transportasi yang akan digunakan.


Masalah tempat, mungkin setidaknya Fatan harus menyewa villa atau sebuah kamar hotel yang cukup luas serta memiliki fasilitas yang mendukung.


Lantas tentang jarak. Perjalanan yang ditempuh pun tidak boleh sembarangan. Apalagi ada di plosok daerah. Kalau bisa jangan!


Lanjut mengenai transportasi. Fatan harus memikirkan matang-matang tentanh hal satu ini. Mengingat suasana hati bayi yang seumuran dengan Ara, sangat mudah menangis bila merasa tidak nyaman. Terlebih jika kendaraan yang digunakan sangatlah terkesan memaksakan.


Setelah cukup lama berpikir sambil sesekali menyeruput kopi buatan sang istri di atas balkon kamar, Fatan menyerah. Lelaki itu akhirnya segera menghabiskan kopinya lalu masuk kembali ke dalam kamar.


"Kamu kenapa, Mas? Kok mukanya suntuk gitu?" tanya Nila yang baru saja menaruh Ara ke dalam tempat tidurnya dan melihat Fatan masuk ke kamar dengan wajah persis orang yang sedang frustasi. Rambut acak-acakan, wajah lesu dan lebih seperti kaset rusak, kusut sekali.


"Masa sih?" Fatan bertanya balik lalu segera mencari cermin untuk melihat dirinya sendiri. "Gak suntuk kok. Orang masih ganteng begini juga, kok dibilang suntuk?" Dia malah protes.


Nila mengesah seraya menghampiri suaminya. "Ada apa sih? Lagi ada yang kamu pikirin, hm?" tanyanya lembut dengan sorot mata teduh.


"Aku lagi berpikir ... Sekarang kan libur panjang, nah niatnya aku mau ajak kamu dan Ara buat staycation. Ya kupikir kayaknya seru juga liburan bertiga," jawabnya dengan wajah serius.


"Begitu ya, Mas?" Fatan mengangguk yakin. "Seru sih ... Tapi aku rasa Ara kalau ikut masih terlalu kecil, Mas. Belum lagi kalau tempatnya jauh. Ya memang sih kalau gak coba kita gak bakal tahu. Hm, disisi lain masih banyak yang harus dipertimbangkan juga," jelas Nila.


Sejujurnya perempuan itu sangat ingin menikmati liburan. Tetapi posisinya sekarang sudah berbeda, membuat Nila banyak memikirkan banyak faktor.


"Aku juga daritadi berpikir seperti itu. Ya ... " Fatan mengesah kasar. "Kalau gitu kita liburan yanh dekat aja ya? Kira-kira kamu mau pergi kemana?" tanya lelaki itu.


"Kayaknya sekarang ini aku belum kepikiran, Mas kalau untuk berlibur. Malah yang aku inginkan itu pergi ke salon tiap minggu buat perawatan wajah dan tubuh. Apalagi aku masih suka bergadang buat kasih susu ke Ara, " papar Nila.

__ADS_1


Fatan berpikir lagi beberapa saat. Setelah itu, dia pun menyetujui tentang apa yang dikatakan oleh istrinya tadi. "Oke deh kalau itu mau kamu, aku bakal turutin. Terus, kapan kamu ke salon? Besok? Lusa?"


"Besok juga gak apa-apa."


" Oke!"


Malam sudah semakin larut, tapi kedua mata sepasang suami istri itu masih enggan terpejam. Mereka sedang menonton film di layar televisi yang terdapat di kamar dengan posisi Fatan memeluk Nila.


"Mas?"


"Hm."


"Kamu capek gak sih ngejalanin pekerjaan serta peran kamu sebagai suami dan seorang ayah?" tanya Nila.


"Capek, karena menjadi seorang istri sekaligus ibu adalag pengalaman pertamaku. Tapi meski begitu, adanya kamu, ibu, bunda dan orang-orang yang mau membantuku ... Bikin rasa capek itu bisa hilang seketika," jawab Nila jujur.


Fatan tersenyum lalu mengecup bagian atas kepala Nila. "Maka dari itu aku bangga banget sama kamu. Sebab aku paham berada diposisimu, sama halnya ketika melihat bunda sewaktu aku kecil."


"Ternyata kamu itu melow juga ya, Mas." Nila terkekeh geli. "Padahal waktu awal ketemu, kamu itu menyebalkan sekali. Sok angkuh, sok paling suka merintah, pokoknya sok sok sok deh!" ujarnya merasa gemas ketika mengingat masa itu.


Fatan tertawa pelan, karena jika kencang bisa-bisa Ara terbangun dan jadi menangis. "Mungkin bisa jadi karena sedari kecil aku memang paling dekat sama bunda. Bahkan waktu usia prasekolah, aku menganggap bunda adalah duniaku. Makanya secuil masalah yang aku hadapi, kadang heran kok bunda tahu aja gitu."


"Namanya juga perasaan seorang ibu, Mas. Meski kita diam, beliau pasti tahu. Ya selama gak bikin beliau khawatir, semua pasti akan dihadapinya dengan tenang." Nila menoleh, menatap sang suami.


"Benar juga sih. Kalau ingat waktu aku kecil, aku gak mau Ara mengalami seperti aku." Fatan membalas tatapan Nila yang tampak terheran-heran.

__ADS_1


"Kenapa memangnya?"


"Aku gak terlalu dekat sama ayah. Dan aku gak mau itu terjadi sama Ara. Yang aku tahu cinta pertama anak perempuan itu adalah ayahnya. Supaya kelak jika sudah masuk masa remaja dan dewasa, dia gak mudah mengemis perhatian dari lelaki lain. Sebab seluruh cinta dan kasih sayang padanya telah tercurahkan penuh dari ayahnya," jelas Fatan.


Entah Nila harus bersyukur seperti apalagi. Jujur ia begitu takjub dan tidak menyangka akan sosok laki-laki yang kini terus memeluknya hangat. Lelaki itu membuat dirinya semakin mabuk kepayang hingga matanya berkaca-kaca.


Nila tidak mampu mengucap sepatah katapun. Ia hanya bisa memeluk erat sambil membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami.


"Aku sangat mencintaimu, Mas," ucap Nila seraya menatap kembali suaminya.


"Aku lebih mencintaimu, Sayang," balas Fatan.


Beberapa saat kemudian, keduanya kembali ke posisi semula. Rasa kantuk pun datang. Mereka akhirnya tertidur, melewati malam yang masih seperti biasanya. Nila kadang terbangun ketika mendengar Ara terbangun karena harus meminum susu.


...----------------...


Keesokan paginya. Fatan bangun lebih dulu. Dia melihat Nila masih tertidur pulas di dalam balutan selimut. Mengingat tidak jadi pergi berlibur, Fatan memutuskan untuk lari pagi di sekitar komplek rumah.


Seusai Fatan pergi, Nila merasa aneh ketika tangannya tidak sengaja meraba ke samping, tempat yang bisa Fatan tidur. Rata dan hanya terasa bantal serta guling. Nila pun terbangun.


"Mas Fatan udah bangun? Tapi kemana dia?" Pandangannya kemudian mengarah ke sebuah jam dinding yang terpasang di kamar. "Udah jam setengah tujuh ternyata. Pantas aja dia udah bangun. Duh, aku kok rasanya masih ngantuk ya? Tapi mau lihat Ara dulu deh, siapa tahu diaper nya udah penuh dan harus diganti." Nila bermonolog lalu perlahan turun dari tempat tidur.


Tak lupa sebelum beranjak, Nila meminum segelas air putih terlebih dahulu kemudian menghampiri putri kecilnya.


Setelah di cek, ternyata benar. Diaper yang dipakai Ara sudah penuh dan harus segera diganti. Nila segera mengangkat Ara dengan hati-hati karena putri kecilnya masih tertidur, lalu dipindahkan ke sebuah tempat tidur khusus yang biasa digunakan untuk mengganti pakaian seusai mandi.

__ADS_1


__ADS_2