
Pihak terminal penerbangan Beijing akhirnya mendapat kabar dari tim khusus evakuasi yang ada di tanah air. Beberapa kelompok anggota tim itupun di arahkan ke lokasi kejadian.
Juru bicara maskapai akhirnya angkat suara pada kompersi pers saat ini. Baik di Beijing maupun Indonesia sendiri. Sebab sebagian besar penumpang yang ada di dalam pesawat itu merupakan warna asli Indonesia.
Keluarga para korban yang mendengar pun menangis histeris. Termasuk seorang lelaki yang merupakan anggota kepolisian yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Dadanya terasa sesak, dia teringat akan seseorang ketika juru bicara maskapai memberitahukan tipe pesawat yang mengalami insiden itu.
"Gishella ...."
Dia adalah Dirjen Pol. Aberto Harisman S.H, biasa dipanggil Pak Berto oleh para anak buahnya. Setelah mendapat kabar itu, Berto teringat akan calon istrinya yang juga merupakan seorang pramugari di pesawat tersebut. Sebab komunikasi mereka sebelum kejadian pun sangat intens, sehingga Berto tahu calon istrinya bertugas di pesawat apa hari ini.
Berto langsung meninggalkan pekerjaannya di Mabes Polri. Dia melajukan mobil dinas menuju tempat kejadian meskipun jaraknya cukup jauh. Demi sang calon istri, apapun akan dilakukannya.
Berhubung akses ke tempat kejadian cukup sulit, Berto diantar oleh seorang warga pribumi yang ada di kepulauan tersebut mengunakan sebuah motor yang biasa melewati daerah lereng itu. Sesampainya di sana, keadaan masih sepi dan belum ada tim evakuasi yang datang. Terlebih dibagian ekor pesawat masih tampak kepulan asap yang lumayan tebal.
Berto memberanikan diri mendekat ke sekitar lokasi kejadian. Dia berharap akan melihat calon istrinya di sana. Berto berkeliling, hingga tepat di dekat pintu dia melihat sebuah kaki yang masih tampak mulus dan ramping. Entah kenapa firasatnya bilang kalau kaki itu milik Gishella, calon istrinya.
Berto mendekat, kedua tangannya pun tidak lupa memakai sarung tangan steril berwarna hitam serta masker untuk menutupi hidung dan mulutnya.
Brak!!!
Dia membuka pintu itu sekuat tenaga. Setelah berhasil, alangkah terkejutnya lelaki itu tatkala melihat banyak darah di sekitar tubuh Gishella.
Berto terkulai lemas, bertekuk lutut dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Apa yang sudah terjadi padamu, Sayang? Kenapa kamu jadi seperti ini? Siapa yang tega melakukan ini padamu?" lirihnya lalu menunduk sambil bercucuran air mata.
Ya, Gishella adalah pramugari yang sempat mengajak Nila menyelamatkan diri dari insiden itu. Namun nahas, Gishella tewas karena lelaki yang tadi menusukkan pisau diperutnya tanpa ampun.
Cukup lama Berto menangis, wajahnya kembali terangkat. Dia menatap ke jasad Gishella dipenuhi dengan amarah serta dendam.
"Aku akan segera mencari tahu siapa yang tega melakukan ini padamu. Sekalipun nyawaku taruhannya!" Berto begitu dendam pada pelaku yang telah menghabisi nyawa calon istrinya itu.
Mungkin pelaku itu tidak tahu siapa Aberto yang sebenarnya. Siap-siap saja dia akan diringkus habis oleh Aberto dan anak buahnya. Bisa jadi sampai ke akar-akarnya.
Ditengah pilu yang dirasakan oleh Berto, seorang lelaki berdiri tidak jauh darinya. Beberapa bagian tubuh yang tidak tertutupi oleh pakaian pun tampak ada luka. Tatapannya pun sangat tajam mengarah kepada Berto yang masih berpakaian lengkap seorang petinggi polri.
__ADS_1
Siapa sangka, kehadiran lelaki itu sudah bisa dirasakan oleh seorang Berto. Sebelum lelaki itu semakin mendekatinya, Berto dengan sigap berbalik badan dan keduanya saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.
"Siapa kau?" tanya Berto dengan suara baritone yang terdengar sangat tegas.
Lelaki itu tetap menatap dengan raut wajah sinisnya.
Lantas mata Berto melihat ke tangan kanan lelaki itu, di sana dia memegang sebuah pisau dengan ujung mata runcing. "Kau yang membunuh dia?" tanyanya lagi, kali ini salah satu tangannya ke belakang mengarah pada Gishella yang sudah mulai membiru karena kehabisan darah.
Namun lelaki itu mengangkat tangan yang sedang memegang pisau. Dia memperhatikan benda tajam itu sembari melontarkan tatapan membunuh pada Berto. "Apa Anda ingin mencobanya Pak? Kalau Anda mau, saya bisa membuat Anda bisa bersama dia selamanya." Jawaban laki-laki itu sangat menyeleneh.
Berto semakin naik pitam dan seketika ingin membunuh lelaki yang ada di depannya saat ini juga. Tetapi Berto paham, jika itu benar dilakukan, biarpun dia benar tetap saja hukum memandangnya salah karena membunuh merupakan tindak kiriminal. Itu artinya Berto pun tidak jauh berbeda dengan laki-laki itu.
"Kenapa kau membunuhnya? Apa salah dia? Bre*ngsek!" sarkas Berto benar-benar sangat emosi.
"Hahahaha .... " Lelaki itu tertawa hingga terbahak. "Dia telah mencampuri urusan saya!" bentaknya lalu menoleh ke sekeliling memastikan tidak ada orang lain di sama selain mereka. "Dia membantu umpan saya untuk bisa selamat dari insiden ini. Padahal saya sangat ingin umpan itu mati! Tapi dia menggagalkannya. Bukankah saya benar? Dia sendiri yang menyerahkan tubuhnya untuk menggantikan umpan saya itu!"
Kedua tangan Berto seketika mengepal. "Kau harus dihukum seberat-beratnya! Dia tidak mungkin melakukan itu kalau orang yang ada di dekatnya itu dalam keadaan bahaya!" Ia pun berbalik membentak lelaki itu.
"Sayangnya saya yakin hal itu gak akan pernah terjadi." Lelaki itu bersiap untuk berlari sambil mengarahkan pisau yang dipegangnya itu ke arah perut Berto.
Keadaan di sana mendadak sangat genting, pasalnya Berto tidak memegang senjata apapun. Sedangkan lawannya memegang sebuah pisau yang sangay tajam.
Tiba-tiba saja ....
Dor!! Dor!! Dor!!!
Tiga kali tembakan langsung mengenai bagian lengan, dan kedua kaki lelaki itu. Pisau yang hampir mengenai Berto seketika terempas ke tanah.
Berto bernapas lega ketika lelaki itu ikut bergeletak di tanah sembari kesakitan, kemudian ia melihat beberapa orang dibalik punggung lelaki itu. Ternyata sudah ada dua orang angota polisi yang merupakan anak buahnya, dan satu lagi yakni orang yang telah berhasil menembak tepat sasaran pada lelaki itu adalah orang suruhan Rusli.
"Kartumu sudah kami pegang," kata salah satu anggota polisi.
"Bawa dan kurung dia. Saya pastikan hukumannya tidak akan main-main!" kecam Berto dengan tatapan tajam pada laki-laki itu.
Kedua anak buah Berto pun membawa lelaki itu ke kantor polisi, sedangkan Berto dan orang suruhan Rusli hanya saling tatap sesaat.
__ADS_1
"Kau siapa? Omong-omong terima kasih sudah menolong saya," kata Berto lalu mengajak berjabat tangan.
"Sama-sama . Saya Anji, orang yang sedang ditugaskan Bos saya untuk memecahkan misi. Saya juga disuruh mencari perempuan yang merupakan penumpang pesawat ini juga. Saya belum menemukannya sampai sekarang."
Berto seketika terdiam. "Siapa Bos mu itu?" tanya nya seraya memicingkan mata.
"Dia tangan kanan dari seorang anak konglomerat di negeri ini. Oh iya, maaf saya masih harus mencari keberadaan perempuan itu Pak, permisi." Anji menunduk hormat lalu berbalik dan pergi dari sana.
Melihat Anji pergi, Berto merasa seperti ada yang tidak beres. Apalagi sudah sampai pada kasus pembunuhan juga. Berto jadi berpikir, kalau insiden pesawat, lelaki tadi, pembunuhan Gishella karena menggagalkan niat lelaki tadi adalah sebuah kesinambungan.
Berto kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia menghubungi salah satu anak buah ya guna diberikan tugas terkait kasus yang telah terjadi ini.
.
.
.
.
Di dalam air laut yang permukaannya tampak tenang, Nila masih berusaha berenang ke permukaan. Perempuan itu masih sangat yakin kalau dirinya pasti akan selamat dari maut yang bagaikan sudah separuh dari badannya itu.
Entah sudah sampai dikedalaman berapa meter, yang pasti Nila tidak ingin menyerah begitu saja. Bayang-bayang akan memori indah yang baru saja dialaminya bersama sang suami, menambah semangat tersendiri untuknya.
"Aku harus bisa! Pasti bisa!"
Tidak banyak orang yang tahu, Nila sebenarnya mantan atlet perenang semasa sekolah menengah pertama. Meskipun sudah lama sekali, tapi sebuah keajaiban menghampirinya dengan mengingat semua teknik renang yang pernah diajarkan oleh gurunya dahulu kala.
"Ibu, mas Fatan, Lativa, Jamal ... Aku pasti bisa!"
Sekuat tenaga Nila berusaha melawan arus air laut yang kian deras. Firasatnya bilang kalau ia sempat terempas sangat dalam, makanya cahaya di dalam air laut pun sangat minim, terlebih oksigen. Nila terus naik, naik dan naik lagi dengan kerja keras walau tubuhnya sudah terasa sangat letih.
Hingga saat sudah menjelang sore, Nila berhasil muncul di permukaan dengan kondisi bibir yang mulai membiru serta gigi yang mengerat kuat karena kedinginan.
Sementara di tempat kejadian, tim evakuasi sudah mulai mengeluarkan serta membawa jenazah korban dari kabin pesawat.
__ADS_1