
"Nila ... " Bayu mulai angkat suara setelah tadi sempat diam beberapa saat.
"Iya?" sahut Nila menatap Bayu, memasang wajah serius tapi tetap santai.
"Aku mau minta maaf untuk semuanya. Terutama untuk mama ku ... " Bayu diam, menunduk sejenak lalu menatap Nila kembali. "Sebenarnya dalam waktu dekat ini, aku akan menemuimu untuk mengungkapkan semuanya. Aku tahu, selama ini kamu pasti bertanya-tanya tentang pernikahanku dengan Winda, kenapa bisa mendadak waktu itu ... " Senyum pun menjeda ucapan laki-laki itu. Sementara Nila masih tetap memperhatikan Bayu sambil duduk santai.
"Alasan itupun aku tahu setelah sidang perceraianku dengan Winda selesai. Ternyata, kamu adalah perempuan yang sangat mirip dengan perempuan yang sudah merebut mendiang papa dari mama ku," terang Bayu. Sontak hal itupun membuat Nila terkejut bukan main.
"Aku gak habis pikir, hanya karena itu alasannya?" batin Nila seraya memicingkan matanya kepada Bayu.
"Maaf kalau sikap mama selama ini udah bikin kamu sakit hati. Dan terlebih aku ... Karena aku yang paling bersalah membiarkanmu terluka diatas kenangan indah yang pernah kita rangkai bersama ... " ucap Bayu penuh sesal. Sementara Nila hanya menghela napas panjang dengan raut wajahnya yang sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Gak apa-apa. Aku udah banyak belajar dari kejadian masa itu. Toh manusia gak ada yang sempurna bukan? Aku pun sama, karena pada akhirnya level tertinggi meminta maaf dan memaafkan seseorang ketika hati udah benar-benar merelakannya. Bahwasanya hidup bukan hanya terpaku pada satu masalah ... Dan setiap luka pasti ada obatnya," tutur Nila. Perempuan itu berkata dengan santun. Ia benar-benar sedang merasakan berada diposisi apa yang dikatakannya barusan.
"Iya, kamu benar. Terlebih kamu yang aku lihat sekarang, udah jauh lebih dewasa dan juga ... Lebih cantik," puji Bayu. Lelaki itu berusaha menarik hati Nila kembali.
Namun sayangnya, apa yang dikatakan Bayu barusan sama sekali tidak mempan bagi Nila. Sekarang sudah tidak ada lagi ruang spesial dihatinya untuk laki-laki itu. Baginya, Bayu sudah menjadi bagian dari masa lalu yang tidak perlu diulang kembali.
"Terima kasih ... " Nila tersenyum. "Percayalah, berada di posisiku saat ini, gak mudah ... Banyak hal yang udah aku pelajari dari setiap rasa sakit hatiku di masa lalu," sambungnya tanpa ada niat menyindir atau apapun.
"Ya, aku tahu itu. Maka dari itu aku bangga padamu ... Nila," sahut Bayu lalu terkeleh pelan hingga tampak kerutan dari kedua sudut matanya.
Lantas seorang pelayan pun datang. Dia mengantarkan pesanan yang sebelumnya telah di pesan oleh mereka. Setelah selesai menaruh ke atas meja, pelayan itu pergi guna membiarkan mereka menikmati makanan dari restoran itu.
"Um, kayaknya kita makan dulu deh. Aku udah lapar nih!" seloroh Nila mengalihkan pembicaraannya bersama Bayu karena sudah tergiur dengan makanan yang tampak lezat di depannya. Selain itu juga perutnya automatis menjadi keroncongan, mengingat sejak bangun tidur tadi Nila belum makan sama sekali.
"Oke baiklah," ucap Bayu sambil terkekeh lagi.
Keduanya pun menikmati makan di sore ini bersama. Sesekali Bayu menatap Nila yang sedang makan dengan lahapnya.
"Apa aku udah benar-benar kehilangan kesempatan, Nila? Bahkan sekarang, aku sama sekali nggak melihat emosi yang seperti sebelumnya? Kamu tampak tenang dan tersirat membatasi diri denganku. Kalaupun iya, apa sekarang giliranku yang benar-benar harus melepaskanmu?" batin Bayu.
__ADS_1
Disisi lain, Nila sebenarnya sadar kalau Bayu terus memperhatikannya sejak tadi. Namun ia berusaha bersikap biasa saja. Tidak ingin salah tingkah apalagi sampai terlihat oleh Bayu.
"Jujur, perasaanku yang dulu pernah ada hanya untukmu ... Sekarang rasanya hambar. Berada saling berhadapanmu saat ini, detak jantungku pun biasa saja. Walaupun memang mungkin ada kesempatan untuk kembali, aku rasa gak mudah dan gak akan seindah dulu," batin Nila bermonolog.
Seusai menghabiskan makanan, mereka masih duduk bersama. Seakan waktu pun sangat banyak, mungkin Tuhan sengaja supaya setelah ini tidak ada lagi rasa yang mengganjal hingga meradang di dalam hati mereka masing-masing.
"Nila ... Soal yang di hotel tempo lalu, sebenarnya kamu sedang apa disana? Dengan laki-laki pula," tanya Bayu membuka pembicaraan lagi. Nada bicaranya masih terdengar posesif.
Nila tertawa pelan, "Rupanya kamu masih penasaran dengan waktu itu?" selorohnya lagi.
Bayu mengangkat kedua alisnya seraya menarik napas sedalam mungkin. "Ya ... Aku hanya khawatir kamu melakukan sesuatu hal yang selama ini gak pernah dilakukan olehmu," jawabnya asal.
Tawa Nila semakin menjadi tapi masih dengan suara pelan. "Kamu tenang aja, aku bukan perempuan serendah itu. Lagipula lelaki itu atasanku, dan aku pun gak lama ada di sana soalnya aku ditelepon ibu, terus dapat kabar kalau adikku itu kecelakaan. Eh pas dirumah sakit, aku malah ketemu mama kamu," terangnya dengan nada santai seolah tanpa beban.
Seketika Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oh begitu rupanya ... " Jujur saja ia merasa malu dan langsung memiliki firasat pada pertemuan antara Nila dan ibunya. "Apa mama ku bilang sesuatu sama kamu?" tanya lelaki itu ragu-ragu.
"Ya aku yakin kamu udah bisa menebaknya seperti apa pertemuan kami. Ya udahlah, gak masalah buatku," balas Nila lalu tersenyum.
Bayu tersenyum canggung. "Nila .... "
"Iya?"
"Ke suatu tempat?" Nila menautkan kedua alisnya dan Bayu pun mengangguk antusias. "Kemana?"
"Rahasia dong!" jawabnya lalu melipat kedua tangan di dada.
"Jauh gak dari sini? Pulangnya jangan malam-malam ya? Besok pagi aku ada acara soalnya," tawar Nila. Perempuan itu khawatir akan berangkat ke rumah Antony karena acaranya akan dilaksanakan pagi-pagi sekali.
"Nggak jauh kok. Kalau boleh tahu, acara apa?"
"Acara keluarga," jawab Nila cepat.
__ADS_1
"Oh gitu ... Ya udah yuk kita pergi sekarang!" ajak Bayu lalu beranjak dari tempat duduknya. Nila pun mengangguk dan mengikuti.
...----------------...
Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di sebuah hotel bintang lima. Sebelum turun, Nila menoleh ke arah Bayu.
"Kita mau apa ke hotel? Jangan macam-macam ya!" ancam Nila seketika menjadi ketus.
Bayu menahan tawanya. "Kamu tenang aja, kita bukan buat check in kok. Aku cuma mau kasih lihat sesuatu ke kamu," jawabnya dengan santai. "Ayok turun!" ajaknya lalu membuka pintu dan turun dari mobil.
"Baiklah kalau begitu," kata Nila berusaha percaya dengan jawaban Bayu.
Saat di lobby hotel, keduanya disambut oleh seorang lelaki berpakaian petugas di hotel itu.
"Selamat malam Tuan Bayu dan Nona Nila, mari silahkan!" Petugas itu mempersilahkan mereka.
Bayu melirik ke arah tangan Nila yang bersebelahan dengannya. Saat dirasa punya kesempatan, Bayu meraih lalu menggenggam tangan perempuan itu.
Nila terkejut akan perlakuan Bayu. Ia segera melepaskan tangan laki-laki itu dari tangannya. Namun nahas, tenaga Bayu jauh lebih besar darinya. Hingga akhirnya sebuah cubitan kecil mendarat di punggung tangan Bayu oleh Nila. Sontak Bayu pun melepaskan genggaman tangannya itu.
"Sakit loh Nila!" pekiknya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Makannya jangan berani macam-macam sama aku! Kita itu bukan pasangan, jadi gak semestinya pegangan kayak gitu!" protes Nila dengan penuh penekanan. Bahkan suaranya pun sengaja di pelankan.
"Maaf deh," cicit Bayu merasa tidak enak hati.
Tak lama kemudian, keduanya sampai di sebuah ruangan terbuka yang terletak di lantai paling atas hotel itu.
Hembusan angin sore yang akan beranjak malam begitu terasa lembut menyapu bulu halus di sekitar wajah Nila. Beruntung cuaca sore ini sangat bagus. Sampai-sampai Nila bisa melihat suasana ketika matahari terbenam dari puncak hotel itu.
"Indah bukan?" tanya Bayu, berdiri di samping Nila.
__ADS_1
Perempuan itu memejamkan mata sejenak seraya mengangguk. Tak lama kemudian, matanya terbuka kembali.
"Kenapa kamu bawa aku kesini?" tanya Nila menoleh dan menatap lekat ke manik mata yang berdiri di sebelahnya. Lantas mereka pun merubah posisi dari berdampingan menjadi saling berhadapan. Jarak diantara keduanya pun hanya dua langkah kaki saja.