Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 55


__ADS_3

Nila memiringkan sedikit wajahnya, berharap Fatan akan menatapnya. Dengan begitu Nila bisa melihat dari sorot laki-laki yang ada di depannya, apa yang dibicarakannya itu sebuah kejujuran atau bukan.


"Dia kakak saya. Tapi beda ibu. Apa kamu gak lihat keseriusan dari wajah saya?" Fatan bertanya balik. Seketika Nila mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Maaf, Pak," ucap perempuan itu dengan suara pelan.


"Ya udah sekarang kembali ke meja kerjamu. Dan jangan lupa bawa berkas ini, terus kamu pelajari untuk meeting besok!" perintah Fatan dengan tegas.


Nila mengangguk paham, "Kalau gitu saya permisi, Pak." Ia pun keluar dari ruang kerja Fatam seraya membawa tumpukan berkas itu.


Setelah Nila pergi, Fatan kembali duduk di kursi kebesarannya. Kepalanya tiba-tiba merasa sakit terutama dibagian mata. Ia segera mencari keberadaan ponsel miliknya. Setelah didapat, ia pun menghubungi Lalisa melalui sambungan telepon.


"Halo, Bunda."


"Gimana?" Rupanya Lalisa ingin langsung ke inti pembicaraan.


"Iya, nanti malam aku akan berangkat ke Tiongkok," jawan Fatan. Sebenarnya hatinya merasa tidak rela meninggalkan Nila disini sendiri, apalagi dengan Edward.


"Memangnya kamu udah ngomong sama Nila?" Lalisa bertanya lagi. Sungguh perempuan satu itu ingin sekali menjadikan Nila sebagai menantunya.


"Udah Bunda. Gak ada protes lagi dari dia," jawab Fatan sambil memberi pijatan pada keningnya.


"Serius? Jangan-jangan kamu terlalu galak ya bilang sama dianya?" cecar Lalisa yang sudah bisa menebak sifat anak laki-lakinya itu.


"Nggak kok, Bun .... " Fatan merasa sangat pusing sekali. Ia semakin menambah tekanan pada pijatannya.


"Gak salah lagi pasti!" omel sang Bunda. Sementara Fatan semakin tidak tahan dengan rasa sakitnya itu. Refleks dia pun meringis.


"Hissssh!"


"Fatan? Fatan, kamu sakit lagi kepalanya?" Seketika Lalisa mulai panik. Terlebih dirinya sedang berada di Jakarta.


"Iya ... Bun." Ingin rasanya Fatan membenturkan keningnya ke dinding dengan sangat kencang. Berharap rasa sakitnya itu akan hilang. Tetapi sepertinya itu pikiran yang bodoh. Bukannya sembuh malah tambah penyakit baru akibat luka dari benturan keras itu.


"Ya udah, Bunda kasih tahu Nila ya? Biar dia panggilkan dokter ke sana," tawar Lalisa.


"Jangan Bunda!" cegah Fatan. "Langsung pangilkan dokter aja ke sini ya? Aku belum siap kalau Nila sampai tahu keadaanku yang sebenarnya sekarang!" jelasnya lalu meringis lagi.


"Ya udah, tunggu ya!" Lalisa pun memutuskan sambungan telepon itu. Setelah itu menghubungi dokter yang menangani Fatan.


Setengah jam berlalu, Nila yang saat ini masih fokus berkutat dengan tumpukkan berkas serta data yang ada di laptopnya, terkejut saat menyadari kedatangan seorang laki-laki dengan memakai jas putih. Sekilas dari tampilannya, jelas Nila tahu apa pekerjaan laki-laki itu.


"Tunggu, Pak!" cegah Nila saat laki-laki itu hendak masuk ke ruangan Fatan dan sempat melewati dirinya begitu saja.


"Maaf Nona, saya sedang terburu-buru. Karena Pak Fatan harus segera ditangani," ucap lelaki itu terdengar serius dan tampak tergesa-gesa.

__ADS_1


Nila semakin bingung serta bertanya-tanya dalam hati. "Ada apa sebenarnya?"


"Boleh saya ikut ke dalam?" tawar Nila dengan sorot mata penuh harap.


"Silahkan." Lelaki itu memberi izin, lalu membuaka pintu ruang kerja Fatan.


Ketika pintu berhasil dibuka, lelaki itu terkejut dengan keadaan Fatan dan sudah tidak sadarkan diri duduk di kursinya.


"Astaga! Pak Fatan!" pekik Nila yang tidak kalah terkejut sekaligus panik. Ia berlari kecil menghampiri atasannya.


"Bisa bantu saja ke kamar?" tanya lelaki berjas putih itu. Nila pun mengangguk cepat. Keduanya menggotong tubuh Fatan bersama-sama ke sebuah kamar yang ada di belakang ruang kerja itu.


Setelah Fatan berhasil dibaringkan, lelaki berjas putih itu mulai mengeluarkan alat medisnya dari dalam tas.


"Nona, bisa tunggu di luar sebentar? Saya akan memeriksakan kondisinya," pinta lelaki itu. Sementara itu Nila agak ragu meninggalkan Fatan hanya berdua dengannya. Tapi apa boleh buat, Nila pun mengangguk patuh.


"Baik, Dok." Nila kemudian keluar dari ruangan itu.


Beberapa menit berlalu, Fatan telah diberi obat melalui jarum suntik dan kondisinya sudah sadar serta lebih baik daripada tadi.


"Dok, terima kasih ya udah mau datang ke sini," ucap Fatan dengan sopan.


"Sama-sama, kalau bukan Bunda mu yang telepon, aku gak mungkin ninggalin pasien di rumah sakit dengan buru-buru. Aku takut dihempaskan dari jajaran dokter pribadi keluarga kalian," celetuk lelaki berjas putih itu.


"Oh itu, sekertarismu." Dokter itu memasukkan kembali alat medisnya ke dalam tas. "Jadi sebenarnya sejak kapan kamu merasa kesakitan sampai pingsan seperti ini? Bukannya saat check up dua hari yang lalu masih gak terlalu buruk seperti sekarang?" tanya dokter itu.


"Aku merasa seperti ini sejak semalam. Entah kenapa rasanya semakin sakit sekali," jawab Fatan apa adanya.


"Sekarang apa udah lebih baik?" tanya dokter itu lagi."


"Udah Dok."


"Ya udah kalau gitu saya pergi dulu ya," pamit dokter itu lalu meraih tasnya.


"Dok!" Fatan menahan tangan dokter itu saat dia hendak berdiri.


"Ada apa?" tanya dokter itu lalu tetap duduk di tepi tempat tidur.


"Saya mau minta tolong. Kalau sekertaris saya nanya, saya sakit apa? Jawab aja saya hanya kelelahan aja, ya?" pinta Fatan dengan penuh harap.


Dokter itu mengangguk sambil tersenyu. "Iya, kamu tenang aja. Um, tapi memangnya kenapa ? Kok dia gak boleh tahu?" Lelaki itu mendadak penasaran.


"Ada hal lain yang gak bisa saya bilang," jawab Fatan sekenanya. Laki-laki itu memang sangat tinggi gengsinya. Makanya tidak heran kalau Lalisa selalu saja mengomel terkait sebuah hubungan. Sebab Lalisa takut kalau anaknya itu tidak menyukai lawan jenis.


"Oh begitu rupanya. Boleh saya tebak?" seloroh dokter itu lalu memicingkan mata.

__ADS_1


Sontak Fatan pun memundurkan wajahnya seraya mengerutkan alis. "Tebak apa Dok?" pekiknya.


"Kamu pasti jatuh cinta ya sama dia?" tembak dokter itu. Dia bukanlah anak baru kemarin, usia dokter itu bahkan sebaya dengan sang bunda. Jadi dia bisa paham gerak gerik Fatan, terlebih saat melihat Nila sebegitu khawatirnya tadi pada lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Kenapa Dokter bisa nebak seperti itu?" Fatan masih bisa mengelaknya.


"Ya saya juga gak tahu. Hanya feeling aja. So, biar waktu yang akan menjawabnya ... " ucap dokter itu. "Kamu tenang aja, apa yang sedang kamu derita saat ini masih ada obatnya. Yang jelas yakini dulu dalam diri kamu, bahwasanya suatu hari kamu bisa sembuh dan bisa bersama orang yang kamu cintai," pungkasnya.


Fatan hanya menaikkan kedua alisnya seraya menarik napas dalam. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi.


"Ya udah kalau gitu saya permisi ya. Kalau ada apa-apa langsing hubungi saya. Sampai ketemu nanti malam di bandara, kita akan berangkat bersama ke Tiongkok untuk pengobatan kamu," ujar dokter itu kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Baik Dok."


Dokter itu kemudian pergi dari sana.


Sementara di luar, Nila sedang mondar-mandir. Fokusnya seketika terganggu setelah melihat kondisi Fatan tadi. Sebab baru kali ini melihat Fatan seperti itu.


Saat melihat dokter itu keluar, Nila bergegas menghampirinya.


"Dok apa yang sebenarnya terjadi? Pak Fatan kenapa?" cecar Nila sudah sangat penasaran sekali.


"Anda tenang saja, Pak Fatan hanya kelelahan saja kok. Tidak perlu terlalu dikhawatirkan, nanti dia jadi manja," ucap dokter itu yang sebenarnya dalam konteks bercanda. Lantas Nila pun menautkan kedua alisnya.


"Apa kelelahan bisa membuat orang jadi pingsan mendadak seperti itu, Dok?" tanya Nila lagi.


"Bisa jadi, mungkin tingkat rasa lelah yang terjadi pada Pak Fatan itu sudah sangat tinggi, makanya dia bisa pingsan seperti itu," jawab dokter dengan logikanya.


Seketika Nila pun membatin. "Masa iya baru ditinggal aku belum sampai tiga hari aja sampai parah begitu?"


Tiba-tiba seseorang menjentikkan jarinya di depan wajah Nila. Perempuan itu pun tersadar dari lamunannya.


"Eh Pak Fatan ... Gimana udah baikan?" tanya perempuan itu berusaha menormalkan raut wajahnya yang tadi sangat cemas sekali.


"Udah kok. Kamu ngapain disini? Bukannya tadi saya suruh pelajari berkas untuk meeting besok?" Fatan bertanya balik dengan sikap acuhnya. Sementara itu dokter yang masih bersama mereka hanya menggelengkan kepala, lalu berbisik tepat di telinga Fatan.


"Ternyata buah kalau jatuh memang tidak jauh dari pohonnya ya. Kamu dan ayahmu seperti anak kembar kalau berhadapan dengan perempuan," ledek dokter itu lalu terkekeh. Sedangkan Nila yang melihat kedua lelaki yang ada di depannya mengernyit, karena merasa aneh.


"Kalau begitu Pak Fatan dan ... " Dokter itu bertanya pada Nila dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Nila, Dok," jawab cepat perempuan itu.


"Oh iya ... Bu Nila. Saya izin pamit undur diri karena masih ada pasien yang sudah menunggu sejak tadi, permisi." Setelah dokter itu pergi dari ruang kerja Fatan. Tatapan Nila langsung menjurus tajam pada lelaki itu.


Sontak Fatan menjadi salah tingkah lalu mengusap tengkuk lehernya. "Sana kembali ke meja kerjamu!" perintahnya namun tidak berani menatap Nila balik.

__ADS_1


__ADS_2