
Sebelum masuk ke ruang ICU, Fatan menghubungi Lian terlebih dahulu.
"Dimana?" tanya Fatan ketika Lian sudah menjawab panggilannya.
"Saya baru keluar dari ruang otopsi, Bos. Ada apa?"
"Saya tunggu di depan ruang ICU tempat ayah saya di rawat ya, sekarang!" perinta Fatan dengan nada tegas.
"Baik Bos. Saya ke sana sekarang." Sambungan telepon itu kemudian terputus.
Fatan melangkahkan kakinya tanpa ada keraguan menuju ruang ICU yang letaknya satu lantai di bawah tempat Lalisa di rawat inap. Namun, ketika ia hendak melewati pintu tangga darurat, tidak sengaja mendengar suara benturan yang samar di telinganya. Pun langkahnya tidak begitu saha berhenti, melainkan sangat perlahan mendekati pintu itu.
"Bagaimana mungkin kau gagal lagi untuk membuat laki-laki itu mati?" teriak seorang lelaki lalu memberi hantaman pada laki-laki yang berpakaian seorang perawat. Bisa dipastikan perawat itu telah bekerjasama dengannya.
BUG!!!
"Maaf Bos. Di depan ruangannya sangat ketat sekali. Bahkan mereka memiliki nama perawat dan dokter yang bisa masuk ke dalam," ucap perawat itu sambil bertekuk lutut dengan wajah babak belur karena telah diamuk oleh lelaki yang bersamanya.
"Bodoh! Kau sama sekali gak bisa diandalkan! Saya gak mau tahu lelaki itu harus mati sekarang!" Hantaman pun dilayangkan kembali. Perawat itu hampir terjatuh ke bawah anak tangga.
Fatan semakin penasaran. Sebab meskipun suara mereka terdengar samar, tapi rasanya tidak asing di telinga. Ia mengeluarkan ponsel, lalu memulai sesi rekaman. Fatan menempelkan ponselnya dekat dengan engsel pintu.
"Ampun Bos. Jangan pukuli saya lagi. Saya janji akan segera membunuh lelaki tua yang Bos bilang di ruang ICU itu."
"Bagus! Kalau sampai si Wicak itu gagal mati, kau yang akan menanggungnya!"
Fatan tersentak bukan main. "Apa dalangnya ada disini? Dia ada di rumah sakit ini? Hmm ... Lantas apa dia mengetahui keberadaanku dan Nila juga? Aku harus lebih waspada!" ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Tiba-tiba Fatan mendengar suara seseorang menaiki anak tangga. Ia segera pergi dari sana dengan berbalik arah untuk mencari tempat persembunyian. Tepat di samping pintu darurat itu terdapat sebuah pintu kecil, Fatan masuk ke dalam sana lalu menguncinya.
Tak lama kemudian, orang itu keluar dari pintu darurat. Entah kenapa Fatan melihat orang yang berpakaian serba hitam itu seperti menyadari kalau ia sedang diintai olehnya.
Orang itu tidak langsung pergi. Dia melihat ke sekeliling dan juga ke arah pintu yang terdapat Fatan di dalamnya. Beruntung ruangan itu gelap, jadi keberadaan Fatan tidak sampai ketahuan olehnya.
Tanpa disadari oleh orang itu, diam-diam Fatan segera mengambil gambar dirinya dari balik pintu. Saat orang itu telah benar-benar pergi, dengan sangat hati-hati Fatan keluar dari sana.
Akan tetapi ketika baru saja berhasil keluar dari ruangan itu, seorang lelaki berpakaian perawat muncul dari balik pintu. Wajah lelaki itu tampak babak belur. Namun Fatan bersikap biasa saja seolah tidak tahu apapun.
"Si*al ! Kalau aja gue gak butuh duit, mana mau kerjasama sama orang psikopat kayak dia. Muka malah jadi babak belur gini. Astaga, harus bagaimana ini? Bisa-bisa nanti gue diabisin lagi sama dia. Malah tonjokkannya sakit banget," keluh lelaki itu berjalan sampai terserok-serok. Sebab tubuhnya terasa sudah lelah sekali.
Mendengar lelaki itu mengomel, Fatan menghentikan langkahnya lalu tersenyum seringai. Setelah itu Fatan berbalik badan.
"Saya bisa bantu kamu, asalkan kamu bisa bantu saya juga," ucap Fatan dengan suara yang cukup keras hingga menggema di seluruh lorong tempatnya berada.
Pun perawat itu kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Kini dia dan Fatan saling berhadapan.
Fatan melangkahkan kakinya demi posisi bisa lebih dekat dengan perawat itu. "Kalau yang kamu butuhin adalah uang. Saya bisa kok bayar berapapun yang kamu mau. Tapi syaratnya kamu bantu saya juga. Mudah bukan?" tawar Fatan seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Perawat lelaki itu tampak berpikir dan menimbang-nimbang. Memang tidak dapat dipungkiri kalau dia sedang sangat butuh uang untuk keperluan keluarganya. Sebab hanya dia yang bisa diandalkan dalam keluarganya guna mencari uang demi sesuap nasi.
"Gimana? Tenang, selama sama saya ... Kamu gak akan merasa kekurangan. Dan satu lagi, nyawa kamu juga aman." Tawaran yang menggiurkan bukan? Fatan memang cerdik dalam hal seperti ini. Bukan sekadar untuk memanfaatkan karena ingin segera tahu siapa dalang dibalik semua ini, tapi memang pada dasarnya dia tipe lelaki dermawan.
"Memangnya apa yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu tampak ragu-ragu.
"Mudah kok. Tapi kamu harus janji dulu sama saya yaitu mau bantu saya apapun," jawab Fatan sangat santai. "Waktu saya gak banyak disini. Saya harap kamu bisa memikirkannya secara baik-baik dan pikiran dengan jernih," sambungnya seraya memperhatikan lekat sorot mata lelaki itu.
__ADS_1
Satu menit.
Dua menit.
Hingga menit ke lima, perawat lelaki itu menarik napas dalam sebelum akhirnya bicara. "Saya mau bantu kamu."
Fatan mengangkat kedua alis matanya seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Asalkan apa yang kamu bilang barusan itu bukan sebuah penipuan," lanjut perawat lelaki itu, sementara Fatan langsung terkekeh geli.
"Memangnya tampang saya ada tampang penipu kah? Saya pun begitu, selama kamu jujur kerja untuk saya ... Hasil yang kamu terima akan sepadan dengan kerja kerasmu," timpal Fatan lalu berjalan mendekati perawat itu.
"Siapa tahu 'kan?" sahut perawat lelaki terdengar meremehkan.
"Ya ... kalau kamu gak percaya ... Ikut dengan saya sekarang!" titah Fatan lalu berbalik badan dan berjalan lebih dulu. Namun perawat itu masih diam di tempatnya, rupanya dia masih berpikir. Hingga Fatan sudah mulai jauh dari pandangannya, perawat itu akhirnya melangkahkan kaki menyusul Fatan.
Tiba di depan ruang ICU Fatan melihat Lian sudah ada di sana menunggu kedatangannya.
"Selamat pagi Bos," sapa Lian seraya menunduk hormat.
"Pagi," balas Fatan dengan sikap dinginnya.
"Dia siapa Bos?" Usai bertanya, Lian menujuk ke balik punggung Fatan.
Fatan menoleh sekilas lalu berbalik pada Lian. "Katanya dia akan bergabung dengan kita. Tugasmu sekarang, berikan dia pengetahuan hal apa aja yang boleh dan gak boleh dilakuin setelah bergabung bersama kita," titah Fatan dan dijawab anggukkan kepala oleh Lian serta raut keseriusan pada wajahnya.
"Baik Bos. Kalau gitu saya permisi." Lian menunduk hormat, lalu menoleh ke arah perawat lelaki yang berdiri tidak jauh dari tempat Fatan berada. "Kamu, ikut dengan saya!" perintah Lian dan perawat itu menarik napas yang kemudian pergi dari hadapan Fatan.
__ADS_1
Setelah kepergian mereka, Fatan masuk ke dalam ruang ICU dimana ayahnya berada. Jujur, dia sedih melihat sang ayah hanya terbaring dengan banyak alat medis yang terpasang ditubuhnya.
"Yah, ini Fatan ... anak Ayah." Air matanya jatuh berderai tanpa permisi. "Ayah harus sembuh, supaya bunda gak sedih dan kesepian. Bukankah Ayah tahu bukan, kalau bunda cuma mau disamping Ayah? Aku berharap Ayah bisa lekas sembuh dan mendukungku mengungkap orang yang udah berniat jahat pada keluarga kita, bahkan orang-orang disekeliling kita, Yah," ucap Fatan bermonolog. Dia tidak berlama-lama berada di ruangan itu, pun hanya 5 menit keluar lagi dari sana dan bergegas menghampiri guna menghampiri Lian dan juga perawat lelaki tadi.