
Prang!!!
Tiba-tiba gelas yang ada di meja makan tidak sengaja tersenggol oleh Mirna. Perasaannya mendadak tidak enak, pikirannya pun seketika teringat pada kedua anak perempuannya.
"Astaga, ada apa ini? Apa aku telepon Nila kali ya? Eh tapi, Nila bilang kalau siang ini mau ke rumah sakit. Kenapa perasaanku gak enak sekali," ucapnya bermonolog sembari mengelus dadanya berkali-kali.
Saat ini kebetulan Mirna sedang berada sendiri di rumah, karena Jarfin sedang pergi ke kantor pemerintahan untuk mengambil hasil sertifikasinya. Sebelum Jarfin melihat ada pecahan gelas di lantai, Mirna pun segera membersihkannya.
.
.
.
.
Di tempat yang cukup jauh dari insiden jatuhnya pesawat. Nila mencoba berenang ke tepi pantai yang sebenarnya cukup jauh dari tempatnya berada. Dalam hatinya terus menyebut nama sang ibu dan juga suaminya. Kedua kakinya terus bergerak. Sungguh Nila sebenarnya sudah sangat lelah sekali. Berjuang untuk naik ke atas permukaan laut saja butuh tenaga yang tidak sedikit.
Kondisi sekitar pantai di sana sangat sepi. Mungkin sebenarnya pantai itu bukankah pantai yang dijadikan sebagai objek wisata. Padahal pemandangan serta pasir putihnya pun tampak sangat indah, atau bisa jadi bukan musimnya untuk berlibur ke pantai, pikir Nila demikian.
Sesampainya di tepi pantai, Nila langsung merebahkan tubuhnya. Nyaman sekali, ia pun membiarkan ombak membasahi tubuhnya. Tanpa sadar dan sudah telalu lelah Nila pingsan.
Sementara, Anji yang masih terus mencari keberadaan istri Bos nya itu, sangat pantang menyerah. Dia berjalan menuruni bukit dan melewati pohon besar, serta jalan setapak yang licin.
Hampir setengah jam melakukan pencarian, Anji sampai di pantai. Lelaki itu pun terus berjalan menelusuri pantai tersebut. Alangkah terkejutnya Anji saat melihat seorang perempuan tergeletak di tepinya. Anji pun bergegas berlari kencang menghampiri perempuan itu, kemudian saat sudah di dekatnya, Anji memeriksa keadaan perempuan yang ditemukan itu.
"Dia masih hidup!" serunya lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Anji menyamai wajah perempuan itu dengan wajah istri Fatan. "Benar, dia Nyonya Nila!" tambahnya dan memastikan lagi.
Anji kemudian melakukan pertolongan pertama. Tidak lama kemudian, Nila tersendak hingga mengeluarkan banyak air dari mulutnya.
Uhuk! Uhuk!
Lantas Nila pun merasa kepalanya sangat sakit sekali. "Aw! Ish," keluhnya sembari berkali-kali mengedipkan matanya.
"Syukurlah Nyonya sudah sadar." Anji mengeluarkan sebotol air mineral kemasan sedang dari tas ranselnya. "Maaf Nyonya, ini minum dulu." Anji pun menyodorkan air itu pada Nila.
Namun perempuan itu tidak langsung menjawabnya. Nila justru malah mengerutkan kening karena merasa heran.
__ADS_1
"Tadi kamu panggil saya Nyonya? Memangnya kamu siapa?"
Anji menarik tangannya lagi, sambil bertekuk lutut lalu memaruh air minum ke atas pahanya. Lelaki itu tampak mengembuskan napas tenang.
"Perkenalkan saya Anji, saya ditugaskan oleh suami Anda untuk segera membawa Anda pulang," papar Anji lalu menyodorkan air minum itu lagi. "Minumlah dulu, biar saya yang akan memberitahu Bos kalau Anda sudah ditemukan dalam keadaan selamat," sambungnya.
Seketika kedua manik mata Nila tampak berkaca-kaca. Dalam hatinya dia sangat bersyukur karena masih bisa selamat dan ditemukan oleh orang baik. Nila mengangguk lalu mengambil air minum itu dari tangan Anji. Lelaki itu juga membawa beberapa macam makanan dan disuguhkan untuk istri Bos nya itu.
Sembari menunggu Anji memberikan informasi kepada Rusli yang akan diteruskan pada Fatan, Nila dibiarkan untuk makan dan minum terlebih dahulu.
.
.
.
.
Di Beijing, Fatan merasa sangat bahagia karena mendapat dua kabar baik. Diantaranya pelaku pembajakan pesawat telah berhasil diringkus polisi dan juga ditemukannya sang istri dalam keadaan selamat.
Fatan segela lekas pergi dari kamar hotel sembari membawa barang-barang berharganya lalu pergi ke sebuah landasan helikopter di lantai paling atas yang ada di hotel itu.
Helikopter yang ditumpangi oleh Fatan telah lepas landas. Lelaki itu semakin tidak sabar untuk menemui pujaan hati serta belahan jiwanya.
Setelah hampir 3 jam di udara, Fatan melihat keberadaan Nila bersama dengan Anji di tepi pantai yang cukup sulit dijangkau dengan mata te*lanjang. Oleh karena itu tadi Fatan sempat menggunakan teropong untuk menjangkaunya.
Nila berhasil dinaikkan ke atas helikopter bersama dengan Anji.
"Sayang, aku seneng banget akhirnya kamu selamat," ucap Fatan seraya meraup wajah Nila dengan kedua telapak tangannya.
"Aku juga seneng. Tapi .... " Bibir Nila mulai bergetar hebat. "Aku kedinginan sekali."
Fatan terenyuh serta merasa tidak tega. Lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah handuk dan satu stel pakaian dari dalam tasnya. Sementara Nila yang dibantu oleh Fatan mengganti pakaian, Anji membantu membentangkan kain berukuran cukup besar untuk menutupinya.
Memang anak buah Rusli itu sangat bisa diandalkan!
Beberapa menit kemudian, Nila sudah merasa lebih baik. Namun hal yang mengagetkan Fatan pun terjadi, tubuh Nila demam.
__ADS_1
"Kita kembali ke Beijing, istri saya butuh perawatan khusus!" perintah Fatan dan mereka pun bergegas pergi dari langit tanah air.
...----------------...
Di sebuah ruangan bernuansa putih, seorang perempuan tengah terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Dia adalah Nila.
Ketika sampai di rumah sakit, suhu tubuhnya sangat panas yakni sebesar tiga puluh sembilan koma lima derajat celsius. Wajahnya saat ini sangat pucat sekali. Tidak hanya itu, Nila hampir kehabisan napas karena suhu tubuh yang tinggi tersebut.
Sementara, Fatan tetap duduk di samping Nila sambil menggenggam tangannya yang tidak terpasang infus. Lelaki itu tersenyum bahagia, karena bisa melihat sang istri kembali. Ia pun seketika berjanji dalam hati.
"Adanya kejadian tadi, aku gak akan pernah lagi tinggalin kamu sendirian. Belum ada sehari aku kehilanganmu aja, rasanya sakit sekali. Aku kacau tanpa kamu, Sayang. Jangan pergi dariku lagi ya," lirih Fatan tanpa terasa sampai menitikan air matanya.
Hampir 2 jam sudah Fatan masih dalam posisi yang sama.
"Kamu dari tadi lihatin aku terus, Mas?"
Pertanyaan Nila membuat Fatan terkesiap lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit malu. Alhasil jadi salah tingkah.
"Aku masih ngerasa ini kayak mimpi, Sayang," jawab Fatan. Ia pun membe*lai rambut Nila penuh kasih sayang.
"Aku juga. Apalagi saat berjuang di tengah laut, aku hampir aja nyerah," sahut Nila, suaranya masih terdengar lemah. "Mas, aku haus .... "
Fatan segera mengambil segelas air yang terdapat sedotan supaya Nila bisa dengan mudah minum tanpa harus bangun dari posisi rebahannya.
Setelah minum, Fatan menatap sang istri lagi sambil tersenyum.
"Mas, aku ingin ketemu ibu, boleh gak?" kata Nila menatap Fatan penuh harap.
"Boleh, tapi mungkin alangkah baiknya tunggu keadaan kondusif dan kamu juga udah sehat lagi ya, Sayang ... Atau kalau ibu mau, bisa ikut tinggal dengan kita," jawab Fatan berusaha bijak.
Nila mengangguukkan kepalanya. "Iya, Mas."
"Oh iya untuk sementar waktu kita nanti akan tinggal di hotel ya. Soalnya kalau tetap di rumah itu, pasti jaksa ataupun pengacara kita masih terus ke sana," ujar Fatan mencoba menjelakan pad Nila.
"Kamu istirahat lagi ya, aku yakin kamu pasti lelah banget. Atau mau makan?" tawar Fatan memberi pilihan pada istrinya.
"Makan aja deh Mas. Kepalaku rasanya pusing selali karena tidur terus." Nila mende*sah pelan.
__ADS_1
"Ya udah, mau makan apa? Biar aku yang pesankan buat kamu, Sayang," balas Fatan akhirnya menyetujui Nila.
Nila pun menberitahukan semua makanan serta minuman yang diinginkannya saat ini. Dengan senang hati, Fatan pun menyanyanggupinya. Namun tentunya lelaki itu tidak membelinya sendiri, melainkan menyuruh Rusli. Alasannya itu karena masih ingin berduaan dengan sang istri.