
Dua hari kemudian.
Kondisi kesehatan Mirna sudah mulai membaik dan esok rencananya acara pernikahan Lativa akan dilaksanakan. Segala persiapan pun telah diserahkan semuanya kepada pihak Antony. Bukannya Nila ataupun Mirna tidak mau membantu mempersiapkan, hanya saja memang pihak orang tua Antony sendiri yang menginginkannya.
Hari ini Mirna sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sementara itu, Nila yang masih berada di rumah sedang membereskan rumah dari mulai nyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju dan segala macam. Walau dibilang ia sangat jarang melakukan itu. Tetapi dengan kondisi yang ada, Nila punya kemauan untuk melakukan hal tersebut.
Rupanya bangun dari pukul 4 pagi hingga sekarang telah pukul 8 pagi, sudah sangat merungas tenaganya. Nila mengembangkan senyumnya tatkala melihat seisi rumah sudah nyaman dipandang mata.
Setelah dirasa rapi semua, Nila bergegas mandi dan berganti pakaian. Ia harus segera pergi ke rumah sakit untuk mengurus administrasi ibunya supaya bisa pulang.
Namun sebelum berangkat, Nila merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur, membiarkan matanya terpejam beberapa saat. Menetralkan kembali detak jantungnya, hingga mendapat ketenangan dan merasa sangat damai.
Ditengah merasakan nikmatnya relaksasi ala dirinya sendiri, ponsel yang sejak tadi belum terjamah olehnya, tiba-tiba berdering. Nila mengembuskan napas panjang lalu membuka mata seraya tangannya mencari keberadaan ponselnya itu.
Tak lama kemudian, akhirnya didapat. Nila melihat ke layarnya ternyata sebuah panggilan video call. Mata Nila membulat sempurna serta detak jantungnya pun seolah berhenti beberapa saat.
"Pak Fatan?" Ia terperanjat duduk di atas tempat tidur sambil membenarkan tampilannya. Seketika Nila menjadi salah tingkah dan kebingungan sendiri. Sampai-sampai ia langsung menjawab panggilan itu dan tidak ingat dengan outer yang seharusnya dipakai.
"Selamat pagi, Pak," sapa Nila saat menjawab panggilan itu. Didalam panggilan itu Fatan menautkan kedua alisnya. Lelaki itu baru pertama kali melihat Nila hanya mengenakan pakaian tanpa lengan sama sekali alias kemben.
"Astaga!" tukas Nila yang terkejut dengan tampilan dirinya di dalam panggilan itu. "Maaf Pak, tunggu sebentar." Ia pun segera mencari outer miliknya dan membiarkan kamera panggilan itu hanya terekspose ke langit-langit kamar.
"Kamu lagi pakai handuk, Nila? Atau lagi dimana?" tanya Fatan tidak menggubris sapaan Nila yang terdengar lembut dan sopan. Suaranya sengaja di loudspeaker oleh Nila sehingga apa yang Fatan ucapkan itu masih bisa di dengar ke seluruh kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Nila kembali dengan sudah berpakaian rapi serta sopan.
"Maaf Pak. Tadi saya gak ingat pakai outer," jawab Nila merasa tidak enak hati. Bagian dada yang seharusnya tertutup, malah dibiarkan terbuka di depan atasannya itu.
"Hm ... Kamu lagi gak godain saya kan?" tanya Fatan curiga sambil memicingkan matanya.
"Mana ada sih Pak!" Protes Nila dengan suara biasa saja. "Saya itu habis bersihin rumah. Jadi tadi posisinya lagi enak banget tiduran," tandasnya berharap Fatan mengerti.
"Oh gitu. Kamu pulang ke Jakarta kenapa gak bilang sama saya?" tanya Fatan membuat Nila bersusah payah menelan ludahnya. Nila sepertinya sampai tidak sempat untuk kasih informasi sama atasannya itu.
__ADS_1
"Saya minta maaf, Pak. Dua hari ini lagi ada masalah yang saya pun jarang banget pegang handphone. Tadinya niat saya pas sampai di Jakarta mau kabari Anda, cuma karena masalah keluarga jadi sampai gak sempat. Tapi saya udah bilang kok ke Titik untuk ambil cuti empat hari. Sekali lagi saya minta maaf ya Pak ..." jelas Nila. Ia mengulum bibirnya dengan hati yang cemas. Terlebih saat melihat Fatan di layar ponselnya itu tampak kesal.
"Bisa dipercepat gak pulangnya? Soalnya lusa mau ada meeting besar dengan para pemegang saham. Apa kamu benar-benar gak buka email sama sekali?" ujar Fatan dengan nada bicaranya yang tegas. Itulah dia ketika sudah sangat membutuhkan Nila, pasti sikapnya akan seperti itu. Namun Nila pun sudah biasa.
Perempuan itu tiba-tiba tercekat. Pasalnya memang semenjak di Jakarta, dia benar-benar tidak memikirkan pekerjaannya sama sekali.
"Gini aja deh Pak. Besok pas acaranya udah selesai, saya langsung ke kantor. Paling sekitar habis makan siang saya sudah sampai sana," jawab Nila mencoba bernegosiasi.
"Memangnya ada acara apa sih? Penting banget ya?" tanya Fatan mulai ketus.
"Iya Pak, sangat penting. Saya gak bisa ninggalin acara itu. Soalnya ... "
"Kak ... Bantu aku di dapur sebentar!" teriak Lativa memanggil dari luar pintu kamar. Sementara Fatan pun semakin penasaran dengan acara yang dimaksud oleh Nila.
Nila pun menahan panggilan video call itu, lalu menjawab panggilan dari Lativa. "Iya!" seru perempuan itu lalu melanjutkan kembali berbicara dengan Fatan.
"Pak maaf banget ya, saya gak bisa lama-lama. Intinya setelah ini saya akan cek email untuk melihat lagi jadwal meeting yang akan diadakan lusa," kata Nila terkesan buru-buru. Terlebih melihat wajah Fatan terlalu lama membuatnya semakin merasa sulit meraih lelaki itu.
"Oh itu ... Acara pernikahan Pak. Saya harus ada di acara itu. Maaf ya Pak harus saya sudahi dulu panggilan ini. Selebihnya saya akan kirim email ke Anda. Selamat Pagi."
Nila pun mengakhiri panggilan itu. Ia bernapas lega akhirnya tidak terlalu lama bicara dengan atasannya. Namun jika ingat saat diawal tadi, ia merasa malu. Ia pun bergegas keluar dari kamar untuk membantu adiknya di dapur yang entah sedang apa.
.
.
.
.
.
Sementara di kantor, Fatan sangat kesal karena Nila malah mengakhiri panggilan video call darinya. Bukan tanpa alasan, Fatan sebenarnya selama 2 hari ini kehilangan sosok Nila yang selalu membantunya.
__ADS_1
Lelaki itu sampai menggebrak meja lalu mengusap kasar wajahnya. Ia berkacak pinggang sambil berusaha mengontrol napasnya kembali yang masih terasa menggebu. Sesekali ia pun mende*sah kasar.
Disaat hatinya terasa gundah, seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Ya, masuk!" perintahnya seraya menaruh kedua telapak tangannya keatas meja. "Bunda ..." gumamnya saat melihat perempuan setengah abad itu muncul dari balik pintu.
"Fatan, gimana keputusan kamu? Kita gak bisa menunda lagi. Kamu harus segera pergi ke Tiongkok," ucap sang bunda seraya berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku belum tahu, Bun. Tunggu Nila kembali ya, dia sedang di Jakarta sekarang," jawab Fatan. Manik matanya mulai memerah, hatinya kembali dirundung kebimbangan.
"Oh, pantas aja Bunda gak lihat dia di depan. Memangnya dia kenapa pulang ke Jakarta?" tanya Lalisa kembali.
"Katanya ada acara pernikahan dan dia wajib ada disana." Seketika raut wajahnya murung.
Lantas Lalisa mengelus punggung Fatan guna memberi kekuatan untuk anaknya itu.
"Kamu harus kuat, harus sabar. Kalau memang Nila orangnya, pasti kalian akan bersatu," ucap Lalisa sangat lembut.
"Tapi Bunda, aku udah bilang sama Nila kalau aku akan nikah sama Charma," cicit laki-laki itu. Meskipun usianya sudah tiga puluh satu tahun, tetap saja jika bersama bundanya dia bagai anak usia lima tahun.
"Astaga! Bisa-bisanya ya kamu bilang begitu! Kalau Nila tahu Charma itu siapa, dia bakal semakin marah sama kamu, Fatan!" sembur Lalisa seraya menjewer salag satu telinga anaknya.
"Ampun Bunda, ampun!" teriak Fatan merasa kesakitan. Lantas Lalisa pun ingat dan langsung melepaskan jewerannya itu.
"Ya udah pokoknya Bunda gak mau tahu, kamu harus segera pergi ke Tiongkok! Biar ayahmu juga tahu kalau kamu ini masih bisa diandalkan!" tegas Lalisa lalu menepuk bahu Fatan cukup keras.
"Iya Bunda." Fatan tidak mampu berkata-kata lagi.
"Ya udah. Bunda mau arisan dulu. Habis itu langsung pulang ke Jakarta," kata Lalisa yang kemudian pamit. Ternyata perempuan satu itu hanya singgah saja ke kantor anaknya.
"Okey ... Bunda hati-hati di jalan ya." Fatan merangkul sang bunda lalu mengantarkannya sampai ke depan pintu ruangan.
Lalisa pun kemudian pergi dari sana dan Fatan tetap menatap kepergian bundanya hingga menghilang tertutup oleh pintu lift.
__ADS_1