Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 171


__ADS_3

Niatnya Nila ingin menunggu Fatan pulang, tapi nyatanya rasa kantuknya jauh lebih besar. Alhasil ia pun ketiduran. Namun ketika dirinya sudah benar-benar pulas, sebuah mimpi datang seakan memberikan isyarat padanya.


Saat itu Nila tengah bermain dengan Ara di sebuah taman dengan padang rumput yang sangat luas. Tiba-tiba Lalisa datang menghampirinya bersama Wicak.


Tentu Nila sangat menyambut kedatangan Lalisa dengan suka cita. Nila memeluk sangat erat, seolah ada kerinduan yang mendalam dan hatipun rasanya tidak ingin melepas.


"Bunda, Ayah. Sini duduk sama kami," ajak Nila merangkul kedua mertuanya supaya ikut duduk dengannya dan juga Ara.


Akan tetapi Lalisa dan Wicak tidak bisa ikut maju, tubuh mereka seakan ada yang menahan. Nila pun sampai bingung.


"Ada apa Bun, Yah?" tanya Nila tampak bingung.


Lalisa kemudian tersenyum. "Nila, menantu kesayangan Bunda ... Bunda tahu Nila sayang sekali dengan kami. Untuk itu, kami minta tolong sama Nila. Janji ya gak boleh pisah sama Fatan apapun keadaan kalian, kami juga titip Ara dan calon cucu kedua kami. Jaga mereka bersama Fatan dengan penuh cinta. Jangan sedih, kami gak akan kemana-mana kok. Maaf, kami harus pergi dulu. Selamat tinggal Nila." Perempuan itu melambaikan tangan lalu keduanya berbalik badan.


Namun ketika Nila berusaha menarik tangan mereka, rasanya sulit sekali untuk menggapainya. Hingga sebuah cahaya menyorot ke arah Nila dan mengaburkan kedua sosok yang tadi sempat ada di depannya.


Nila tersentak bangun di atas tempat tidur. Napasnya tersengal dengan peluh yang bercucuran di area wajahnya. Disaat itu juga, Ara menangis cukup mengagetkan Nila.


Ia segera turun dari tempat tidur dan menghampiri Ara. Nila berusaha menenangkan putri kecilnya itu. Setelah cukup lama Nila berdiri, memberi kenyamanan untuk Ara. Akhirnya keduanya tidur bersama di tempat tidur.


...----------------...


Pagi harinya, Nila mendengar suara keriuhan dari halaman rumah. Karena kebetulan kaca jendela kamarnya menghadap ke halaman depan. Ia penasaran lalu membuka gorden kamar.


Nila memusatkan padangannya ke arah gerbang utama rumah yang terbuka lebar. Banyak mobil yang berdatangan serta orang-orang mengenakan pakaian hitam.


"Ada apa sebenarnya?" gumamnya pelan. Lantas satu hal yang membuatnya lebih terkejut yaitu ada bendera kuning bertengger rapi di pagar rumah. "Di rumah ini ada yang meninggal? Ah!" Tiba-tiba ia teringat akan suaminya belum pulang dari semalam. "Mas Fatan!" Ia buru-buru mencari keberadaan suaminya kesekeliling kamar, tapi ternyata memang tidak ada.


"Ponselku? Dimana ponselku?" Nila begitu tergesa mencari keberadaan benda itu. Namun ternyata ponselnya terjatuh dari atas meja nakas.


Setelah didapat, Nila segera menghubungi suaminya.

__ADS_1


"Terhubung, tapi kenapa gak dijawab?" Nila semakin gelisah. Pandangannya kemudian beralih kepada Ara yang masih lelap dalam tidurnya.


Nila pun berniat untuk keluar dari kamar dan memastikan siapa yang telah meninggal dunia di rumah ini. Namun sebelum itu, ia memindahkan Ara terlebih dahulu. Mengingat dari keamanannya, tempat tidur Ara sudah lebih terjaga. Selain itu, Nila juga bisa memantau melalui layar ponselnya.


Saat sudah berhasil, Nila hendak keluar kamar dengan sangat hati-hati. Tetapi satu hal yang tidak pernah ia duga kalau ternyata Fatan sudah berdiri di depan pintu.


"Mas," ucap Nila. Perasaannya sangat terenyuh ketika mendapati suaminya pulang.


"Sayang .... " Fatan langsung memeluk istrinya sangat erat. Meluapkan segenap kerinduan yang terus bergelut dalam batinnya. "Bunda sama ayah ...." Lelaki itu menangis dipelukan istrinya.


Seketika firasat Nila menjadi tidak enak. Napasnya pun ikut sesak mendengar tangisan sang suami yang selama ini tidak pernah diperlihatkan padanya. Tangisan yang terdengar pilu bahkan mungkin tidak ada obat guna mereda rasa sakitnya.


"Ayah sama bunda kenapa, Mas?" Nila berusaha keras menepis tentang mimpinya semalam. Sebab ia tidak ingin merasakan kehilangan itu lagi untuk yang kedua kalinya, seperti dulu kehilangan ayahnya.


"Mereka udah gak ada." Tangisa Nila pun pecah. Bahkan lebih terdengar pilu dari sang suami.


"Ya Tuhan, kenapa Engkau membuatku merasakan kehilangan lagi? Sesakit inikah rasanya kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Tidak ada lagi teman di rumah ini, selain bunda saat mas Fatan lagi kerja," batin Nila sangat sedih.


Sekarang, tidak ada kata yang mampu terucap, selain suara tangis. Tidak ada mata yang saling bertatap, selain lewat mimpi. Tidak ada lagi kasih sayang yang tercurah, selain doa.


Nila menyeka air matanya, lalu mengangguk patuh. Keduanya masuk ke dalam kamar.


Setengah jam kemudian Fatan, Nila serta Ara sudah rapi. Mereka keluar dari kamar menuju ruang tamu tempat kedua jenazah Wicak dan Lalisa di semayamkan.


Fatan mengambil alih Ara, membiarkan Nila mendekati jasad kedua orang tuanya. Sedih? Pasti. Anak mana sih yang tidak sedih kalau orang tuanya meninggal dunia? Bukan hanya sementara, tapi selamanya.


Tetapi Fatan bukan lelaki lemah yang bisanya terus meratapi kesedihan. Cukup sudah tangisan itu di depn istrinya. Setelahnya dia harus kuat dan menujukkan pada kedua orang tuanya kalau dia memang laki-laki mandiri yang bisa diandalkan.


Sementara itu, Nila bersusah payah untuk tetap tegar. Namun hatinya terlalu rapuh untuk tidak menangis. Terlebih ketika melihat wajah Lalisa yang ada di dalam bingkai foto. Iapun duduk bersimpuh di samping peti yang membungkus jasad Lalisa, lalu sebelah tangannya menyentuh bagian atas peti itu sambil menundukkan kepalanya.


"Bundaku sayang, aku gak nyangka Bunda bakal pergi secepat ini. Padahal, Bunda paling semangat mau lihat adiknya Ara. Apa Bunda udah bisa senyum sekarang? Kalau udah, aku bersyukur dan lega. Itu artinya Bunda udah bahagia. Aku minta maaf ya Bun, karena sering merepotkan Bunda, sering buat Bunda jadi sibuk dan ...." Nila tidak kuasa menahan sesak di dada. "Sekarang, Bunda udah benar-benar pergi. Padahal Bunda kan udah janji sepulang mudik, kita mau jalan bertiga sama Ara."

__ADS_1


Nila mengusap wajahnya lalu melihat ke bingkai foto ayah mertuanya. "Ayah, aku mau bilang makasih banget sama Ayah. Bagiku Ayah udah aku anggap seperti ayahku yang udah pergi duluan. Tapi kenapa sekarang Ayah ikut pergi juga? ... Ayah, Bunda ... Aku udah maafin segala kesalahan yang pernah terjadi baik disengaja maupun nggak. Karena aku tahu, Ayah dan Bunda sama-sana orang yang baik."


Setelah itu, Nila menyeka air matanya lalu berdiri dan menghampiri Fatan yang sedang bersama Ara, menyambut para tamu yang melayat.


"Mas, sini biar Ara sama aku," ucap Nila sambil mengelus lengan suaminya.


Fatan menoleh, "Gak apa-apa Sayang, biar sama aku aja. Lagi pula kamu kan lagi hamil muda dan Ara cukup berat loh."


Nila tersenyum simpul, lalu berkata. "Kalau gitu, ikut aku ke dapur ya. Aku mau kasih makan Ara. Kasihan dia sejak bangun tidur belum makan."


"Oh iya ya, sekalian kamu makan juga ya. Mumpung masih ada waktu satu jam lagi sebelum berangkat ke pemakaman," timpal Fatan lalu Nila pun mengangguk patuh.


Para pelayan sudah menyiapkan sarapan pagi di ruang makan. Namun, ketika masuk ke sana Nila malah mendapati Wiwi yang sedang asik menyantap sarapannya dengan santai. Jika dilihat dari wajahnya, Wiwi tidak tampak sedih ataupun sembab seperti habis menangis.


"Sayang, kamu sama Ara makan disini aja ya. Ada ibu juga. Biar aku ke depan dulu," usul Fatan.


"Mas, kamu juga ikut sarapan ya? Aku khawatir kamu jatuh sakit kalau sampai lupa makan," pinta Nila saat Fatan menaruh Ara di kursi makannya.


Fatan melirik ke arah Wiwi yang hanya diam, tanpa memberi tanggapan apapun. Bahkan terkesan acuh.


"Ya udah deh, aku juga ikut makan." Lelaki itu akhirnya menyetujui. Walaupun sebenarnya dia tidak lapar, tapi mengingat obrolannya bersama sang istri semalam. Hal itu menjadi pertimbangan bagi mental Nila juga. Mereka pun menikmati sarapan bersama.


"Bu, apa kak Elisa udah makan? Tumben gak makan bareng kita," tanya Nila dengan sangat hati-hati.


"Dia udah makan. Kamu aja yang lama keluar dari kamar!" jawab Wiwi ketus.


"Oh begitu rupanya," sahut Nila merendahkan suaranya, lalu melanjutkan sarapannya lagi.


Setelah sarapan, Mirna dan Lativa yang datang bersama Rusli pun baru saja tiba. Nila melihat kedatangan mereka lalu menghampiri.


"Nila, Nak Fatan ... Ibu turut berbela sungkawa ya. Semoga pak Wicak sama jeng Lalisa udah bahagia, dan kalian serta anggota keluarga di rumah ini diberikan kesabaran," ucap Mirna sambil memeluk Nila.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu," balas Fatan.


"Aku juga mau turut berduka cita ya, Kak," ucap Lativa. Pun sama halnya dengan Rusli.


__ADS_2