Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 81


__ADS_3

Sore harinya. Seperti yang sudah diberitahukan oleh Rusli bahwasanya sore ini akan dilakukan penyelidikan pertama sebab kasus pembunuhan itu telah masuk ke dalam tahap penuntutan dan akan ditangani langsung oleh dua orang jaksa yang sangat kompeten.


Dua orang jaksa masuk ke rumah itu dengan menggunakan sarung tangan steril serta masker guna menutup hidung dan juga mulut.


Sekilas tidak ada yang mencurigakan setelah keduanya berkeliling dan mencermati secara detail. Namun entah kebetulan atau tidak, salah satu jaksa itu menemukan sebuah alat pendeteksi lokasi berbentuk persegi menyerupai gantungan kunci yang terbuat dari bahan akrilik, di area sekitar dapur tidak jauh dari tempat kejadian perkara.


"Tunggu!" ucap salah satu jaksa itu berjongkok seraya mengambil benda itu.


"Ada apa?" sahut yang satunya.


Alat tersebut di angkat ke atas untuk memastikan kalau itu adalah alat yang dimiliki oleh para pelaku benar atau tidak. "Aku menemukan ini!" serunya lalu memberikan pada temannya.


"Ini seperti menyerupai wireless. Ya udah kita bawa aja sebagai barang bukti. Sekalian minta polisi untuk mengeceknya juga."


"Iya kamu benar. Ayok kita ke kantor polisi! Supaya pulang gak larut malam," ajak salah satu jaksa yang menemukan alat itu kemudian hendak melangkahkan kaki untuk keluar dari sana.


"Sebentar," cegah yang satunya seraya menahan tangan temannya agar tidak segera pergi. Dia menemukan sebuah CCTV dengan lampu berwarna merah itu berkedip, tandanya sedang menyala dan berfungsi dengan baik.


"Ada apa?"


Teman yang mencegahnya tadi pun menunjuk ke arah CCTV itu.


"Kayaknya kita perlu data dari CCTV itu. Mungkin aja akan ada bukti tambahan," usulnya dan disetujui oleh temannya. "Dan satu lagi ... tadi saat aku di dapur, di sampingnya itu ada pintu. Kita belum mengecek apa yang ada di belakang pintu itu. Mengingat terakhir pihak kepolisian hanya mengevakuasi korban saja," sambungnya dan mereka pun langsung bergegas ke sana.


Setelah pintu itu terbuka, ternyata di sana hanya terdapat sebuah taman yang ukurannya tidak terlalu besar serta ruangan dengan pintu tertutup.


Mereka pun membagi tugas. Satu memeriksa area taman dan satunya lagi pergi ke ruangan itu.

__ADS_1


Brak!! Pintu itu terbuka dengan mudahnya.


"Ternyata gak dikunci," gumam lelaki itu lalu perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya ketika dia menemukan 2 buah tali yang tergeletak di lantai. Meskipun ruangan itu dari luar tampak seperti gudang, tapi di sana hanya ada 2 kotak yang terbuat dari rangkaian kayu. Namun ternyata saat dilihat pun tidak ada apapun di dalam kotak itu. Dia segera memotret tali itu lalu membawanya pergi dari sana.


Namun jaksa satunya lagi masih mencari letak monitor yang terhubung dengan CCTV itu. Dia berkeliling rumah itu lagi, menelusuri setiap ruangan yang ada di sana. Hingga dia menemukan sebuah tombol yang dicurigai menuju sebuah ruangan yang memang sulit dijangkau oleh siapapun.


Dia menekan tombol itu lalu mundur beberapa langkah. Benar saja, dinding itu bergerak memutar yang tadinya hanya tampak sebuah rak buku, kini berganti dengan sebuah layar dan juga kursi.


Lelaki itu mencermati dan mencoba bermain dengan instingnya. Tatapannya pun begitu tajam. Mungkin jika manik matanya mengeluarkan sebuah cahaya laser, bisa jadi layar berukuran besar itu akan terpecah belah dan tidak berbentuk lagi.


"Sepertinya aku harus cek layar monitor itu," ucapnya bermonolog. Sebelum waktunya habis, dia segera duduk di kursi lalu menyalakan layar monitor tersebut. Sepuluh jarinya dengan lihai menekan satu per satu huruf pada keyboard yang juga ada di sana.


Bak sebuah ilusi, dia mampu membobol kode yang diharuskan untuk membuka kunci pada layarnya.


Jeng jeng jeng.


Jaksa itu tersenyum menyeringai. "Lihat aja. Aku akan segera menemukan keberadaanmu!" ucapnya sangat geram. Walaupun wajah mereka tertutup, tapi bentuk tubuhnya bisa dengan jelas terlihat.


Dia segera mengeluarkan sebuah benda untuk menyimpan data dalam kapasitas besar lalu mengambil rekaman dari sebelum hingga terjadinya kejadian itu. Setelah selesai, dia mengembalikan lagi ke tempat semula lalu keluar dari ruangan itu.


Di luar beberapa anggota polisi sedang berjaga sangat ketat. Kedua jaksa tadi akhirnya keluar dari rumah itu dengan membawa beberapa benda yang akan dijadikan bukti.


.


.


.

__ADS_1


.


Esok paginya di rumah sakit, Nila baru saja selesai dilakukan pemeriksaan oleh seorang dokter yang di dampingi 2 orang perawat. Dokter bilang kalau Nila sudah bisa pulang hari ini. Ia maupu Fatan pun merasa lega.


"Mas, gimana bunda mau tinggal sama ibuku?" tanya Nila saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi guna mengganti pakaian.


"Kemarin aku udah sempat telepon Anji untuk menanyakan pada Lian. Tapi Lian bilang kalau bunda masih harus dalam penanganan medis sampai benar-benar pulih. Oh iya, mungkin lusa kita akan ke Indonesia untuk menemui ayah sama bunda, sekalian bilang sama ibu juga. Soalnya kondisi rumah orang tuaku itu cukup parah," papar Fatan. Lantas lelaki itu menghubungi bagian administrasi rumah sakit untuk diurus kepulangan Nila dari sana secepatnya.


"Oh begitu rupanya .... " Nila menganggukkan kepala lalu tersenyum pada sang suami.


"Sayang, sepulang dari rumah sakit ... Aku mau ajak kamu pilih rumah di negara ini. Tapi, sepertinya kita akan pindah ke Guangzhou. Soalnya .... " Lagi-lagi Fatan membuat Nila penasaran karena menghentikan ucapannya tiba-tiba. Nila menaikkan sebelah alisnya seakan menyuruh Fatan melanjutkan ucapannya lagi.


"Bukannya Guangzhou itu kota terbesar di Tiongkok selatan ya, Mas?" Nila akhirnya mengajukan pertanyaan karena sudah tidak sabar menunggu Fatan bicara.


"Iya kamu benar, di sana itu merupakan jantung bisnisnya negara ini. Jadi, maka dari itu aku tertarik untuk pindah ke sana dan membuat sebuah usaha," jawab Fatan membuat Nila menarik napasnya sangat dalam.


"Memangnya kamu mau mulai bangun bisnis apa?" tanya Nila lagi. Namun Fatan hanya mengangkat kedua bahunya menandakan belum tahu. Seketika Nila tersenyum, dimatanya tingkah nekatnya yang terkadang konyol itu bagai hiburan tersendiri. Tetapi buruknya jika sampai tidak terkontrol mungkin bisa jadi sebuah ancaman juga, bukan hanya pada diri sendiri melainkan orang yang ada di dekatnya.


"Yang pasti kita harus segera pindah dari kota ini setelah kasus selesai dan ditutup. Aku cuma ingin hidup tenang dan damai ... dari aku kecil, yang memihakku hanya bunda. Bahkan saat aku remaja, aku di asingkan. Sepi udah jadi makanan pokok setiap hari, maka dari itu ... Adanya kamu, aku gak mau kalau sampai suatu hari nanti anak-anak kita merasakan apa yang aku rasakan dulu," tutur Fatan.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan, lalu pintu itu terbuka dan terlihat seorang perawat membawa sebuah map berwarna merah di tangannya.


"Maaf mengganggu waktunya Tuan dan Nyonya. Administrasi perawatan atas nama Nila Anastasya sudah selesai," kata perawat itu seraya menyerahkan map tersebut pada Fatan.


Fatan mengangguk seraya menerimanya. "Terima kasih banyak, Sus."


"Sama-sama ... Jangan lupa ya Tuan, ada obat Nyonya yang harus diambil di bagian farmasi ... Semoga sehat selalu Nyonya, kalau gitu saya permisi," kata perawat itu bicara pada Fatan dan Nila bergantian.

__ADS_1


Perawat itupun keluar dari ruangan, sesaat kemudian giliran Fatan dan Nila yang keluar. Sementara orang-orang yang biasa berjaga di depan pintu pun ikut turut pergi dari sana.


__ADS_2