Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 169


__ADS_3

Keesokan harinya. Lalisa dan Wicak akan pergi ke luar kota selama beberapa hari ke depan. Niatnya mereka akan mudik ke kampung halaman Wicak di salah satu daerah yang terletak di provinsi Jawa Tengah.


Nila pun memahami, itu artinya selama tidak ada Lalisa di rumah, ia harus menjaga Ara yang sudah semakin aktif bermain. Hal itu juga tidak terlepas dari peran Fatan. Karena memang keduanya belum butuh seorang pengasuh untuk membantu dalam mengurus Ara.


Kepergian Lalisa dan Wicak sebenarnya tidak mendadak bagi Nila. Sebelumnya Lalisa memang sudah lebih dulu bicara padanya terkait hal itu. Namun tidak tahu kenapa, Lalisa memberi larangan pada Nila untuk menceritakannya pada siapapun yang ada di rumah itu termasuk Fatan.


Sehingga lelaki satu itu sempat protes pada bundanya sendiri. Namun dengan keahliannya dalam menyampaikan sebuah alasan, Lalisa seketika membungkam mulut Fatan yang baginya sangat bawel.


Disisi lain yang tampak sedih karena ditinggal oleh Lalisa untuk sementara waktu yaitu, Ara. Gadis kecil itu sampai berlinang air mata ketika mengantar Lalisa ke teras rumah. Pun sama halnya dengan Lalisa sendiri, tidak tega rasanya akan berjauhan dengan cucu kesayangannya itu.


Setelah Lalisa dan Wicak pergi, Fatan pun berpamitan pergi ke kantor. Seketika rumah terasa sunyi. Hanya ada Nila, Ara, serta Wiwi. Sedangkan Elea, sudah memutuskan pindah dari rumah itu sesuai permintaan suaminya sejak seminggu yang lalu.


Entah kenapa, tanpa ada hujan dan angin. Nila tiba-tiba merasa ada perubahan dari sikap Wiwi padanya. Sebelumnya perempuan itu sangatlah baik pada Nila, terkadang juga menggendong Ara sambil mengajak bercanda.


Nila tersenyum saat tak sengaja saling menatap mertuanya itu. Namun kali ini berbeda, yang Nila lihat dari sorot matanya hanya sebuah kesinisan serta picingan tajam.


"Ada apa dengan bu Wiwi?" batin Nila bertanya-tanya.


Wiwi kemudian memilih masuk lebih dulu tanpa mengatakan sepatah katapun pada Nila. Sedangkan Nila sendiri, masih tidak menganggap serius tentang perubahan sikap Wiwi padanya.


Akhirnya Nila pun memutuskan masuk ke dalam rumah. Akan tetapi ketika baru saja melewati pintu, Nila mendengar suara mobil berhenti di depan teras rumah. Ia menoleh sambil berbalik badan.


"Kakak!" seru orang yang baru saja turun dari mobil itu. Orang itu ternyata Lativa.


"Eh, Tiva. Tumben mampir, lagi ada tugas luar?" sapa Nila lalu keluar lagi ke teras rumah.


Lativa mengangguk semangat. "Iya, Kak. Ini aku belikan camilan. Ada buat Ara juga loh sama bunda!" Dia menyodorkan sebuah paper bag ke pada Nila.


Dengan senang hati, Nila pun menerimanya. "Wah terima kasih Tante. Tapi sayang banget, bunda baru aja pergi."


"Loh bunda pergi Kak? Kemana? Lama gak Kak?" tanya Lativa terkejut tentang hal itu.


"Mudik, Tiv ke rumah mbah katanya. Terus bunda bilang sih bisa seminggu," jawab Nila, lalu Lativa pun mengangguk paham. "Ayok masuk, kita ngobrolnya di dalam aja," ajaknya kemudian.


"Gak usah Kak, aku gak lama kok. Bentar lagi udah ditungguin sama bu Elisa di kafe dekat sini. Kami mau meeting sama klien," tolak Lativa dengan alasan jujur.

__ADS_1


"Oh begitu rupanya, ya udah deh. Eh tapi, kalau camilanya buat bu Wiwi aja boleh 'kan?" tanya Nila, sebab saat ia lihat ternyata makanan yang dibawakan oleh Lativa cukup banyak.


"Oh boleh kok Kak. Bebas. Kalau gitu aku pamit dulu ya ...." Tak lupa juga Lativa berpamitan pada Ara. "Cantik, Tante pergi dulu ya. Bye bye!" Dia melambaikan tangan sambil menatap gemas ke arah Ara. Gadis kecil itu tertawa sampai bersuara. Kedua tangan dan kakinya bahkan bergerak semua.


Setelah Lativa pergi, Nila bersama Ara masuk ke dalam rumah. Ia pergi ke area dapur bersih terlebih dahulu, untuk memisahkan makanan yang dibawa oleh Lativa tadi dan akan diberikan kepada Wiwi.


"Bi, lihat ibu gak?" tanya Nila saat melihat salah seorang pelayan masuk ke area dapur bersih.


"Oh nyonya Wiwi ya maksudnya?" Pelayan itu memastikan maksud Nila.


"Iya, Bi. Benar," jawab Nila.


"Kalau nggak salah tadi Bibi lihat, nyonya Wiwi pergi ke teras belakang. Tapi Bibi gak terlalu perhatiin sih mau kemananya. Maaf Nya, memangnya ada apa ya?" Pelayan itu kemudian melirik ke arah kotak yang sedang di pegang oleh Nila.


"Saya mau kasihin ini, Bi. Mungkin aja ibu suka," jawab Nila. Namun tiba-tiba Ara yang sedang digendongnya itu menangis.


"Sssut,ssutt, Sayang sebentar ya kita kasihin ini dulu ke Nenek," ucap Nila, tapi Ara malah semakin mengeraskan suaranya hingga menjerit.


"Maaf Nyonya, kalau mau sini biar saya aja yang kasih ke nyonya Wiwi.' Pelayan itu menawarkan diri.


"Sama-sama, Nya." Nila memberikan kotak itu padanya.


"Bi, itu di atas meja masih ada. Kalau mau ambil aja ya," kata Nila yang masih berusaha menenangkan Ara.


"Baik, Nyonya. Terima kasih. Tapi diantara camilan ini, apa ada yang perlu saya taruh di kulkas untuk Nyonya nanti?"


"Oh iya, paling saya minta dipisahkan tiramisu cake sama shantily cake ya, Bi. Kalau gitu saya ke kamar dulu." Nila bergegas pergi ke kamarnya.


"Iya, Nyonya," jawab pelayan itu yang sekilas masih terdengar oleh Nila.


...----------------...


Sore pun tiba. Fatan akhirnya pulang dari kantor.


"Sayang .... " Dia memanggil Nila setelah membuka pintu kamar lalu mencari keberadaan istrinya ke sekeliling kamarnya. Namun dia hanya menemukan Ara yang tengah asik bermain sendiri sambil menonton film kartun kesukaannya di televisi. Dia pun segera menghampiri anaknya.

__ADS_1


"Ara? Kok sendirian? Emom mana?"


"Hueek! Hueeeek!" Fatan mendengar suara dari kamar mandi. Dia menoleh lalu melihat pintunya terbuka. "Apa mungkin tadi itu suara istriku?" gumamnya. Dia beranjak dan berjalan dengan hati-hati sambil sesekali melihat Ara yang juga sedang memperhatikannya.


"Ya ampun, Sayang!" pekik Fatan ketika mendapati Nila yang terkulai lemas di pinggir kloset. Lelaki itu berjalan sampai tergopoh menghampiri sang istri.


Akan tetapi sambutan Nila luar biasa, perempuan itu masih bisa tersenyum walau wajahnya tampak pucat. "Kamu udah pulang, Mas?" tanyanya pelan. Seakan tenaganya hanya tinggal batas terakhir.


"Kamu kenapa bisa seperti ini?" Fatan terlihat khawatir sekali. Dia langsung mengangkat tubuh Nila dari sana, kemudian membawanya ke sofa yang terdapat di depan televisi. Pun Fatan membaringkannya di sana.


"Makanan yang tadi siang aku makan, keluar lagi," jawab Nila lirih.


"Memangnya kamu tadi makan apa, Sayang?" tanya Fatan sambil menyeka wajah Nila yang basah karena keringat.


"Aku makan makanan yang tersedia di atas meja makan aja kok, Mas. Itupun porsi sedikit." Nila tidak mungkin lupa tentang apa yang dimakannya tadi.


"Ya udah, kamu minum obat mualnya dulu ya. Aku gak tega lihat kamu udah lemas sekali seperti ini." Nila hanya mengangguk pasrah, disisi lain ia juga bersyukur karena Fatan pulang tepat waktu. Sehingga ada yang bantu jaga Ara.


Setelah merasa lebih baik, Nila juga sudah makan beberapa sendok nasi beserta sayur mayur dan lauk pauknya, ia memilih beristirahat. Beruntung Ara tidak sampai tantrum, dan sekarang gadis kecil itu sudah tertidur.


"Sayang, aku mandi ya? Habis itu makan, terus ke kamar lagi buat nemenin kamu," kata Fatan meminta izin pada istrinya.


"Iya, Mas," jawab Nila, lalu Fatan pun lekas pergi ke kamar mandi.


Usai makan malam, Fatan kembali ke kamar. Di sana Nila sedang asik memainkan ponsel.


"Sayang ... Lagi apa?" tanya Fatan dan ikut bergabung bersama istrinya di atas tempat tidur.


"Lagi lihat-lihat sosial media aja, Mas. Kalau lagi kurang selera makan begini, aku biasanya nonton video mukbang di internet. Jadi aku berasa ikut kenyang." Nila terkekeh geli. Lain halnya dengan Fatan yang tercengang ketika mendengar penuturan istrinya.


"Apa iya bisa begitu, Sayang?" tukasnya tampak tidak percaya.


"Iya bisa, kalau menurut aku sih, Mas. Jadi candu sekali kalau nonton video itu," jawab Nila santai.


"Ya ampun, ada-ada aja kamu, Sayang. Gemas deh jadinya!" Fatan memeluk Nila lalu mengelus perut Nila yang hanya terasa sedikit bergelombang.

__ADS_1


Lantas tiba-tiba ia kepikiran sesuatu. "Mas, menurut kamu ..."


__ADS_2