
Perempuan itu menunjuk seraya menautkan kedua alisnya. "Kamu, Nila kan?" Cara bicaranya masih sama seperti saat itu. Dimatanya Nila tetap terlihat rendah.
Nila memicingkan mata. Ia masih ingat betul pertemuan terakhirnya dengan perempuan itu karena hampir membuatnya mengamuk di restoran beberapa waktu yang lalu. Nila tidak meresponnya sama sekali dan memalingkan wajah ke arah ibunya.
"Bu, apa dia orang yang udah bawa Tiva ke sini?" tanya Nila. Dalam hatinya berharap bukan dia orangnya.
"Iya, Nila," jawab Mirna lalu melirik ke arah Nimas.
Seketika Nila seolah kehabisan oksigen. Dadanya terasa sesak. Kenapa dunia sempit sekali? Ia tidak habis pikir.
"Memangnya kenapa Nila?" tanya Mirna tidak paham dengan sikap anaknya yang berubah drastis.
"Dia, mamanya Bayu, Bu," jawab Nila lalu mendelik tajam kepada Nimas. Sementara itu, Fatan masih diam memperhatikan mereka.
"Apa?" tukas Mirna. "Jadi kamu ibu dari laki-laki brengsek itu?" Ia langsung menoleh ke arah Nimas dan berkata dengan nada tinggi karena terlanjur kesal. Terlebih dengan kelakuan Bayu yang hampir membuat Nila kehilangan harapan.
Manik Nimas seketika membulat dengan sempurna. "Anak saya nggak brengsek!" ucapnya tirak terima dan juga sama bermaga tinggi. "Kalau begini ujungnya, saya menyesal udah bantuin dia yang ternyata masih ada hubungannya dengan keluarga miskin seperti kalian!" bentak Nimas kepada mereka.
Nila menarik napasnya sangat dalam. "Dengar ya Ibu Nimas yang terhormat. Sebelumnya saya berterima kasih karena sudah menolong adik saya ... dan saya harap setelah ini kita tidak akan bertemu lagi. Sudah cukup untuk semuanya."
Helaan napas panjang keluar begitu saja setelah ia selesai mengatakan itu. Sebisa mungkin Nila harus tetap bersikap tenang dan tidak ada lagi amarah yang sampai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Dasar anak gak tahu diri! Kalau aja saya tahu korbannya itu adik kamu, mending saya biarkan aja dia tergeletak dipinggir jalan," ujar Nimas lalu mendengus kesal. Tatapan yang diberikannya semakin tidak bersahabat.
Sementara itu, dokter keluar dari balik tirai. Tempat Lativa berada.
Mirna menoleh begitupun dengan Nila, keduanya kemudian menghampiri dokter itu untuk memastikan keadaan Lativa yang sebenarnya.
"Tunggu, sebenarnya Anda itu siapa sih? Bisa-bisanya merendahkan mereka seperti itu?" cegah Fatan saat Nimas hendak pergi dari sana. Namun Nimas hanya bersikap acuh padanya disertai lirikan sinis.
"Saya ingatin sama kamu ya. Jangan mau menikah sama keluarga mereka. Selain gila, mereka juga matre!" kata Nimas sambil tersenyum licik.
__ADS_1
"Ah masa? Saya kok gak percaya ya? Lantas yang tadi Nila sebut nama Bayu itu, anak Anda?" Fatan bertanya lagi.
"Iya dia ajak saya satu-satunya. Beruntung anak saya gak jadi nikah sama perempuan yang gak tahu aturan macam si Nila itu. Hati-hati ya!" Fatan mengangkat sebelah alisnya. Meski begitu laki-laki itu tidak termakan omongan Nimas. Terlebih perempuan setengah abad itu menempuk bahu Fatan sebelum akhirnya ia pergi dari sana.
"Ternyata benar, usia memang hanya sekadar angka. Perempuan tadi itu kayaknya sebaya sama bunda. Tapi yang aku lihat, disorot matanya hanya ada kebencian pada Nila," batin Fatan menggelengkan kepala menatap kepergian Nimas hingga menghilang dari pandangannya. Setelah itu ia pun menghampiri Nila yang masih bicara dengan dokter.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Nila dan Mirna bernapas lega. Pasalnya Lativa tidak mengalami luka serius dan bisa langsung pulang malam ini juga.
Saat dokter itu telah pergi, Fatan menghampiri mereka. "Bagimana kondisi adikmu, Nila?" tanyanya ingin tahu.
"Kata dokter, lukanya masih ringan. Oh iya Pak, saya sama ibu mau ke bagian administrasi dulu ya ... Soalnya dia udah boleh pulang," jawab Nila. Sedangkan Mirna ada di dalam tirai menemani Lativa yang sudah sadarkan diri.
"Kenapa gak rawat inap? Kan biar bisa dipantau lukanya sama dokter?" Fatan menatap serius.
"Saya tahu sekali Lativa itu paling gak mau kalau dirawat di rumah sakit. Apalagi lukanya juga gak parah, paling juga pulang dari sini ... Hari senin udah masuk sekolah." Nila menghela napas sambil menaikkan kedua alisnya.
"Oh ya udah kalau gitu. Aku tunggu di sana aja ya," kata Fatan seraya menunjuk ke barisan bangku kosong yang ada di ruangan itu. Lantas Nila pun mengangguk setuju.
Mobil yang dikendarai oleh Fatan telah sampai di halaman rumah Nila. Saat laki-laki itu berniat ingin membantu Nila untuk memapah adiknya, sayangnya niat baik itu ditolak oleh Lativa dengan alasan merasa tidak nyaman. Fatan pun memahami dan membiarkan Nila serta Mirna memapah Lativa hingga masuk ke dalam kamar.
Berhubung hari sudah larut, saat Nila keluar dari kamar, Fatan berdiri.
"Nila, apa semuanya udah baik-baik aja?" kata laki-laki itu memastikan.
"Udah kok Pak. Aman terkendali."
"Ya udah kalau gitu aku pulang ya. Ini kunci mobil kamu ... Sampai ketemu besok." Fatan pamit seraya memberikan kunci mobil pada Nila.
"Loh Pak Fatan naik apa ke hotelnya?" Nila menatap penuh keheranan. Sebab sudah malam seperti ini mana mungkin ada mobil taksi yang mau angkut penumpang.
"Tadi pas kamu di dalam, aku minta tolong sopir buat jemput ke sini ... " Sesaat kemudian sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah Nila. "Nah itu mobilnya!" serunya melihat keluar dari pintu yang masih terbuka. "Omong-omong, ibumu mana? Aku mau pamit," katanya lagi.
__ADS_1
"Oh iya sebentar ya." Nila kembali memanggil ibunya yang dirasa masih ada di kamar Lativa. Tak lama kemudian, Nila pun menghampiri Fatan bersama Mirna.
"Pak Fatan mau pulang?" tany Mirna karena sebelumnya sudah diberutahukan oleh Nila.
"Iya Bu. Udah larut malam juga. Saya pamit ya Bu untuk kembali ke hotel. Oh iya apa gak ada keluhan lagi dari adiknya Nila?" Sebelum pulang, Fatan memastikan kembali.
"Tiva udah tidur kok di kamarnya. Saya pribadi dan juga sekeluarga mau bilang terima kasih sama Pak Fatan karena udah izinin Nila tadi ke rumah sakit. Terus juga anterin kami pulang ke rumah," ucap Mirna dengan kerendahan hatinya.
"Sama-sama Bu. Ya udah sopir saya udah nunggu di depan. Saya izin pulang dulu ya, permisi."
"Iya, hati-hati dijalan Pak Fatan."
Nila dan Mirna mengantar laki-laki itu hingga ke depan teras rumah. Setelah Fatan masuk ke dalam mobil lalu benar-benar pergi dari sana, keduanya pun masuk ke dalam rumah kembali.
"Nila, atasan kamu itu kelihatannya baik ya," ucap Mirna sambil menutup serta mengunci pintu.
"Iya Bu, dia memang baik banget. Bundanya juga." Nila juga ikut memuji lelaki itu.
"Oh ya? Kamu pernah ketemu sama orang tuanya?" Mirna terkejut.
"Pernah, di Palembang itu apartemen Nila sama dia sebelahan. Jadi keluarga yang datang ke sana pun Nila tahu." Perempuan itu berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
"Apa kamu gak tertarik sama dia?" tanya Mirna. Namun pertanyaan itu membuat Nila yang baru saja menenggak minumannya langsung tersendak.
"Hubungan Nila sama dia hanya profesionalitas kerja aja Bu. Memang Nila akui dia baik dan kekeluargaan banget. Disisi lain sikap tegasnya itu gak pandang bulu. Cuma kalau untuk soal ketertarikan sama dia dalam konteks 'mencintai', Nila rasa belum siap Bu. Nila masih trauma jatuh cinta sama laki-laki," jelas Nila lalu menghela napas panjang.
Sang ibu tidak bisa berkomentar lagi. Memang ada benarnya juga apa yang dibilang oleh anak sulungnya itu. "Ya udah kalah memang itu membuatmu nyaman, Ibu akan selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik untukmu."
"Terima kasih ya Bu," ucap Nila lalu memeluk ibunya sangat erat. Kehangatan seorang ibu pun sangat dirasakan oleh Nila saat ini.
"Sama-sama." Sang ibu merasa bangga, Nila yang notabene anak sulung yang sekarang menjadi tulang punggung seutuhnya untuk ia dan Lativa, tapi ia bangga dan sangat bersyukur.
__ADS_1