
"Lativa ...." Ali berdehem guna melonggarkan tenggorokannya. "Sebelum meeting ini berakhir ... Saya pribadi dan juga istri ingin mengucapkan bela sungkawa atas kehilangan yang telah kamu alami. Jujur, kami selaku orang tua sangat menyayangkan hal itu terjadi denganmu serta calon cucu kami. Kami merasa malu atas perilaku Antony." Lelaki paruh baya itu menitikkan air matanya. Dia seakan merasakan duka yang sempat Lativa alami kemarin.
"Maaf Pak Ali, Anda gak perlu minta maaaf. Kejadian waktu itu anggaplah sebagai takdir hidup saya. Anda gak perlu sungkan. Semua udah berlalu," ucap Lativa tersenyum simpul. Tidak heran jika ia bisa berlapang dada seperti itu, memang pada dasarnya Lativa memang sudah lelah.
"Akan tetapi, kami selaku kedua orang tua akan bertanggung jawab atas semua perlakuan Antony kepadamu. Dan .... " Ali mengeluarkan sebuah map dari dalam tas kerjanya. "Ini ambillah." Ali memberikannya pada Lativa.
Perempuan itu membaca judul yang tertera di sampul map tersebut. Di sana tertulis 'Hak Kepemilikan Saham'.
"Maaf, Pak. Bukannya saya sombong ... Mungkin kalau anakku hidup, ini akan menjadi haknya. Tetapi bila untuk diti saya sendiri, saya gak bisa menerimanya. Sekali lagi saya minta maaf," ucap Lativa. Meskipun saham yang diberikan orang tua Antony cukup besar, tapi Lativa bukanlah perempuan yang silau harta.
"Kenapa? Ini udah jadi tugas kami sebagai orang tua dari pihak laki-laki ingin memberikan hakmu," timpal Ali merasa tersindir akan ucapan Lativa.
"Jujur, bisa hidup tenang tanpa ada ancaman yang menghantui, saya udah merasa sangat lega. Dari awal, saya memang gak ingin nikah muda, tapi disisi lain dengan adanya kejadian itu telah memberi saya banyak pelajaran," sahut Lativa. Ia memberikan kembali kepada Ali.
Sontak lelaki paruh baya itu menghela napas. "Baiklah jika itu maumu, saya akan mengambilnya lagi."
Lativa tersenyum lalu menganggukkan kepala. Perempuan itu sedang berproses menjadi sosok yang cerdas, mandiri serta ingin sukses dengan berdiri di atas kakinya sendiri. Walau keluarga Antony memang kaya raya, tetap saja Lativa bukan perempuan yang gila harta.
"Ya sudah kalau begitu, saya rasa meeting kita cukup sampai di sini." Ali beranjak dari tempat duduknya lalu mengulurkan tangan, mengajak berjabat tangan. "Untuk Lativa, sekali lagi atas nama pribadi dan keluarga ... mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian itu," sambungnya saat berjabat tangan dengan Lativa.
"Iya, sama-sama, Pak Ali. Saya juga minta maaf dan juga terima kasih atas segalanya." Perempuan itu tersenyum ramah.
__ADS_1
Usai saling berpamitan, Lativa dan Rusli melakukan perjalanan untuk kembali ke kantor. Namun seketika ada yang berbeda dari raut wajah Lativa. Perempuan itu tidak seperti sebelum bertemu dengan Ali.
Lativa tampak murung dan diam. Bahkan pandangan matanya terus mengarah ke luar kaca samping. Rusli menyadari hal itu serta bisa terlihat dari pantulan bayangan yang berasal dari kaca tersebut.
"Tiva ... Apa kamu baik-baik aja?"
Pertanyaan Rusli membuat Lativa terkesiap lalu menoleh ke arahnya. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Tetapi tidak lama kemudian kembali menoleh ke arah semula.
"Maaf sebelumnya kalau aku lancang ... Gimana sih perasaan kamu setelah ketemu kembali dengan orang tua Antony?" tanya Rusli sangat hati-hati. Namun Lativa masih diam, tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. "Tapi kalau kamu gak mau jawab, gak apa-apa kok," timpalnya setelah merespon Lativa. Ia mendadak takut telah menyinggung perempuan yang tengah duduk di sampingnya.
"Gak ada yang beda, Pak. Sama aja seperti waktu pertama kali bertemu dengan beliau," sahut Lativa tiba-tiba dengan suara datar lalu menoleh ke arah Rusli sambil memberi tatapan dingin.
"Beliau itu baik. Apalagi istrinya bu Nata ... yang saya heran kenapa sikap dan perilaku Antony sangat berbeda dengan mereka? Ah, kalau ingat soal itu-"
"Maaf aku yang lancang." Rusli dengan cepat memotong ucapan Lativa. "Aku juga gak maksa kamu buat ceritain semuanya kok. Aku paham perasaan kamu, mental kamu memang lagi masa perbaikan untuk bangkit dari masa lalu. Jadi ... " Lelaki itu kemudian menepikan mobil yang dikendarainya, lalu berhenti.
"Kenapa kita berenti disini, Pak?" tanya Lativa heran. Matanya melihat ke sekeliling jalan ibu kota yang ramai dengan kendaraan roda dua. Lantas tatapannya seketika berhenti saat dashboard mobil yang ada di depannya itu, tiba-tiba terbuka.
Muncul sebuah kotak berwarna perak dengan aksen list warna keemasan di tengahnya. Sekilas memang pasti sudah bisa ditebak kalau kotak itu memang menyerupai kotak cincin. Hanya saja desain yang membungkusnya terlihat elegan serta mewah.
Lativa tercekat pada kotak itu. Sesaat kemudian menoleh ke arah Rusli. "Itu punya siapa, Pak?" tanyanya kemudian. Jelas ia tidak ingin terlalu percaya diri terlebih dahulu, walau sempat refleks merasa tersentuh. Tetapi Lativa bersikap dingin, seolah bukan sengaja diberikan kejutan untuknya. Sebab ia masih tidak pandai serta trauma akan perlakuan manis seorang laki-laki saat di awal perjuangan untuk mendapatkan dirinya.
__ADS_1
"Sebenarnya saya mau minta pendapat kamu. Saya gak ingat sewaktu beli disimpan dimana. Menurut kamu bagus gak?" Dari dalam relung hati yang paling dalam, Lativa kecewa ternyata benda itu memang bukan untuknya. Perkataan serta pertanyaan Rusli seolah membenarkan firasatnya.
Lativa tersenyum sumringah. "Bagus kok, Pak. Buat siapa memangnya?" tanyanya kemudian.
"Niatnya itu mau diberikan untuk seseorang. Saya rasa kamu punya selera yang bagus dalam pemilihan barang, makanya saya tanya ke kamu lebih dulu," jawab Rusli santai.
"Oh." Lativa berlapang dada, batinnya pun langsung berkata, "Kalau dia niat berikan ke aku, mana mungkin dia bisa bicara seperti itu? Kenapa aku mendadak terlalu percaya diri sekali? Sadar, Tiva ... Ingat tujuan awal bekerja, buat cari uang bukan cari laki lagi."
"Menurut saya bagus kok, dari pemilihan warna serta tampilannya gak monoton. Selera Pak Rusli bagus juga," puji Lativa mengomentari benda itu.
Lantas dashboard tadi tertutup kembali dan Rusli melajukan mobilnya lagi. Perempuan itupun kembali menatap ke luar kaca samping sambil berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdebar. Entah kenapa dia bisa jadi seperti itu. Pasalnya sebelumnya tidak begini.
Tak terasa, tiba di perusahaan.
"Pak, saya pamit masuk ke dalam duluan ya," pamit Lativa seraya mengaitkan tasnya pada bahu serta membawa tumpukkan berkas meeting tadi di tangannya.
"Oh iya, silahkan."
Usai Lativa hampir saja menghilang, Rusli langsnng mengeluarkan kotak tadi dari dalam dashboard mobil. Ia segera menyusul perempuan itu. Namun saat Lativa masih terlihat, iapun tidak serta merta menghampirinya. Melainkan mengikutinya kemana Lativa pergi.
Hal yang sedikit aneh, kalau ternyata Lativa tidak pergi ke ruangan tempat meja kerjanya berada. Akan tetapi menuju rooftop yang ada di gedung perusahaan itu.
__ADS_1