
Tak disangka orang yang datang itu adalah Lalisa.
"Bun, ini belum masuk jam besuk loh! Kok Bunda bisa masuk sih?" tanya Fatan heran. Namun perempuan yang sedang diajaknya bicara itu bertingkah acuh lalu menerobos masuk diantara dirinya dan juga Nila.
"Anggap aja rumah sakit ini milik sendiri. Gampanglah cingcai sama satpam buat Bunda tuh." Langkahnya langsung menuju alasan utama dia kemari. Tiada lain dan tiada bukan adalah cucunya. "Aaaa! Cucu Omay udah bangun." Dia mengangkat lalu menggendong cucunya.
Nila menoleh ke arah suaminya. "Mas, aku mau mandi dulu ya. Kayaknya sebentar lagi dokter bakal visit ke sini dan bisa jadi juga aku udah bisa dibolehin pulang."
Fatan mengangguk setuju, lalu berucap. "Iya juga sih. Ya udah sana mandi, nanti barang-barangnya biar aku yang beresin."
"Iya, makasih ya, Mas," balas Nila seraya tersenyum. Lagi-lagi Fatan menganggukkan kepala sebagai jawaban. Lantas ia menghampiri ibu mertuanya. "Bun, aku mandi dulu ya. Paling gak kayaknya sebentar lagi ada perawat yang mau mandiin adek."
"Oh iya, oke. Memangnya jadi pulang hari ini?" tanya Lalisa.
"Kemungkinan sih iya, Bun. Cuma tergantung nanti pemeriksaan dokter," jawab Nila.
"Tapi kamu sehat 'kan, Nila? Gak ada meriyang atau sakit kepala?" tanya Lalisa lagi. Sebab dia khawatir menantu kesayangannya memiliki gejala sakit yang tidak disadari ataupun dirasa.
"Sehat kok, Bun. Semalam juga tidurnya nyenyak banget." Nila tersenyum semringah.
"Syukurlah. Ya udah kamu mandi dulu. Bunda mau main dulu sama cucu yang cantik ini," kata Lalisa dan Nila pun mengangguk patuh.
...----------------...
Usai mandi benar saja. Nila kedatangan dokter bersama seorang perawat. Tidak hanya dokter kandungan, tapi juga ada dokter anak yang sekalian memeriksakan putri kecilnya. Kedua dokter itu akhirnya memperbolehkan Nila dan bayinya pulang.
Segala barang-barang selama menginap di rumah sakit baik milik Nila ataupun Fatan sudah masuk ke dalam koper. Sisanya hanya segelintir barang yang nanti akan dimasukkan ke dalam tas milik Nila.
Namun lagi-lagi Fatan menemukan benda yang sebelumnya menjadi bahan perdebatan di dalam tas sang istri, lalu bergumam dalam hati. "Mungkin aja Nila ingin ganti ponsel baru dengan uang yang aku kasih. Lagi pula kenapa juga tadi aku sampai menyindir dia. Aku sendiri bahkan gak ngaca juga. Maaf ya, Sayang udah bikin kamu begini. Kalau gitu, aku akan menuruti keinginanmu untuk tinggal sementara di rumah ibu."
__ADS_1
Selesai mengemas semuanya, Fatan beranjak dari sofa yang dia duduki lalu berniat pergi ke bagian administrasi.
"Mas, mau kemana?" tanya Nila saat sedang memberi ASI pada bayinya.
Fatan menghampiri sang istri sebelum menjawab. "Aku mau menyelesaikan administrasi sekalian ngambil obat di farmasi, supaya kita bisa cepat pulang." Dia mengecup kening Nila dengan penuh kasih sayang, sampai-sampai Nila dibuat terenyuh. "Aku mencintaimu, istriku."
Semakin menjadilah hati Nila meleleh layaknya keju mozarella yang sedang dipanaskan. Tangki cinta yang sempat menyusut, perlahan airnya mulai naik kembali.
"Aku juga mencintaimu, Mas."
"Ehem, ehem!" Suara deheman Lalisa membuat keduanya terkejut. "Bunda ikut terharu merasakan kebahagiaan kalian. Semoga rumah tangga kalian tentram dan penuh cinta setiap harinya ya." Perempuan itu baru saja selesai buang air di toilet.
"Aamiin," sahut Nila dan Fatan bersamaan.
"Ya udah kalau gitu ... Bun, aku minta tolong titip Nila sama anakku ya!" Fatan berpamitan pada sang bunda.
"Iya, udah sana ke bagaian administrasi! Tanpa kamu minta tolong, pasti udah Bunda jagain kok," ujar Lalisa sok ketus.
"Ck!" Lalisa berdecak lalu memicingkan mata. Lantas kemudian tertawa. Pun Nila ikut tertawa.
Lima belas menit kemudian, Fatan kembali ke ruangan untuk menghampiri istrinya.
"Sayang, ini berkas pembayaran sama ada obat untuk kamu. Kamu simpan ya," ucap Fatan seraya menyodorkannya. Lantas Nila menerima dan mengangguk paham. "Nanti tiga hari lagi, kita balik ke rumah sakit buat kontrol kondisi kamu dan anak kita. Waktunya sih katanya bebas. Bisa pagi, siang ataupun sore. Dan kalaupun sore batasnya hanya sampai jam delapan aja," sambungnya menjelaskan.
"Oh, iya Mas. Aku ngerti." Nila yang sejak tadi duduk di atas tempat tidur, kini perlahan turun dengan hati-hati. "Jadi sekarang kita udah boleh pulang, Mas?" tanyanya kemudian.
"Udah, Sayang. Yuk kita pulang ... Kamu udah kabarin ibu 'kan kalau kamu bakal tinggal di sana sementara waktu?" ujar Fatan.
Namun entah kenapa ketika mendengar Fatan berbicara seperti itu, hati Nila merasa tersentak. Kali ini justru dia yang tidak ingin pulang ke rumah ibunya sendiri.
__ADS_1
"Mas ...." Nila menghela napas panjang.
"Ada apa, Sayang?" Perasaan Fatan seketika bergejolak. Meskipun lelaki itu tidak tega berjauhan dengan sang istri, tapi nyatanya dia bukanlah lelaki yang cengeng dan harus menerima apapun keinginan istrinya.
Nila memantapkan hati, kemudian berkata, "Aku ... Mau tinggal sama kamu aja."
Dalam hitungan detik, wajah Fatan tampak berseri. "Tuhan, terima kasih udah bikin istriku luluh," ucapnya dalam hati.
"Waaaaaaa!" teriak Lalisa spontan. Dia adalah orang kedua di kediaman Wicak yang sangat menginginkan Nila bersama bayinya tinggal di sana. Sebab dirinya ingin mengulang masa-masa saat pertama kali melahirkan Fatan dan menjadi seorang ibu. "Nila ... Bunda senang sekali mendengarnya." Bahkan perempuan itu sampai menitikkan air mata karena saking terharunya.
Sementara Nila terkekeh pelan. "Iya Bunda, aku juga senang bisa dekat sama Bunda."
Lalisa langsung memeluk menantu kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
...----------------...
Tiba di kediaman Wicak, ternyata Mirna telah ada di sana beberapa menit sebelum mereka datang. Dia menyambut anak sulungnya serta cucu keduanya.
"Ibu ... Sejak kapan Ibu sampai?" tanya Nila memeluk sang ibu. Sebab di sepanjang perjalanan tadi, ia sempat menelepon Mirna untuk memberitahukan kalau sepulang dari rumah sakit akan pulang ke rumah mertuanya.
Mirna pun tidak keberatan, terlebih Lalisa yang sangat baik pada anaknya. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Tetapi bagaimanapun mental seorang ibu setelah melahirkan, apalagi ibu baru harus benar-benar dijaga. Mirna percaya kalau Nila adalah perempuan yang sudah siap menjadi ibu.
Mirna mengelus punggung Nila, "Baru aja sampai," jawabnya seraya melepaskan pelukannya.
Nila melihat ke sekitar ibunya, ia tidak menemukan keberadaan Lativa di sana. "Bu, Tiva gak ikut? Ibu sama siapa?"
"Sama Tiva. Tadi Ibu diantar dia ke sini. Katanya sih dia mau ke salon."
"Oh begitu, semalam dia sempat datang sih Bu ke rumah sakit. Aku kira paginya dia mau datang lagi, soalnya dia gak bilang apa-apa lagi," papar Nila.
__ADS_1
"Ya, Ibu rasa nanti sepulang dari salon dia akan ke sini sama nak Rusli. Mending sekarang kamu ke kamar ya, istirahat. Yuk Ibu antar," ajak Mirna. Meskipun melahirkan secara pervaginam, tetap saja selepas bersalin itu bagaikan memiliki 'tubuh baru'.
"Iya, Bu." Nila mengangguk patuh.