Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 28


__ADS_3

Setengah jam lamanya mereka menikmati indahnya malam di kota Palembang. Keduanya sempat ingin mampir ke tempat jajan yang berjajar rapi di pinggir jalan, tapi sayangnya Nila dan Fatan kebetulan tidak mengantongi uang sama sekali. Alhasil mereka pulang dengan tangan kosong.


Saat sudah memarkirkan mobilnya kembali di tempat semula, Nila mematikan mesinnya.


"Gimana menurut kamu mobil ini? Nyaman?" tanya Fatan seraya membuka sabuk pengaman.


"Nyaman sekali, Pak. Semakin betah saya kerja di kantor yang sekarang!" jawab Nila sangat bersemangat.


"Loh memangnya sebelum kerja di kantor ini, kamu pernah kerja di kantor lain?" tanya Fatan terkejut.


"Nggak sih, Pak. Kantor yang sekarang itu tempat pertama kali saya mengenal dunia kerja. Dari yang gak bisa apa-apa, jadi bisa banyak hal," jawab Nila cengengesan.


"Oh iya menurut kamu, usia saya yang sekarang ini udah pantes belum sih buat nikah? Saya butuh saran kamu."


Deg. Pertanyaan yang diajukan oleh Fatan itu seketika mengempaskan alam bawah sadarnya ke masa lalu. Sebab dulu Bayu juga pernah bertanya hal yang sama dengannya.


Nila memejamkan mata beberapa saat, lalu menoleh seraya tersenyum. "Bukannya menikah itu bukan hanya dilihat dari segi usia ya Pak?" tanyanya dengan hati-hati.


"Terus dari segi apa? Materi? Jelas saya udah banyak uang. Perempuan mana yang gak mau sama saya?" jawab Fatan sangat percaya diri. Sikap lelaki seperti itulah yang membuat Nila seketika menjadi kesal.


"Itu hanya salah satunya. Masih ada yang paling penting," ujar Nila lalu membuka kaca jendela mobil supaya ada udara yang bisa keluar masuk. Punggungnya langsung bersandar ke kursi dengan mata yang mengarah ke depan.


"Lantas apa?" tanya Fatan dengan polosnya.


"Cari calonnya dulu, Pak. Habis itu Pak Fatan bakal tahu, udah pantaskah menikahi seorang perempuan yang akan mengabdi dengan Anda seumur hidupnya? Pantas dalam artian udah pasti siap loh, Pak," jawab Nila menurut pandangannya.


"Oh gitu, baiklah." Fatan melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu dan turun dari mobil itu. Nila pun mengikuti.


Sepanjang jalan menuju unit apartemen keduanya saling diam. Tidak ada sepatah katapun yang mau memulai untuk bicara. Hingga sudah berada di depan pintu masing-masing unit, barulah keduanya saling berpamitan.


"Saya masuk ke dalam dulu ya Pak," kata Nila lalu tersenyum.


"Oke, bye Nila. Makasih JJM-nya," sahut Fatan membuat perempuan itu terkekeh geli.

__ADS_1


"Sama-sama."


Setelah itu keduanya masuk ke dalam untuk istirahat.


...----------------...


Keesokan harinya Nila bangun seperti biasa. Perempuan itu lekas mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Sentuhan make up tipis pun tidak lupa diaplikasikan pada wajahnya.


Setelah cukup rapi, barulah ia bergegas keluar dari kamar dan pergi ke kantor. Sebelum turun ke basemen, Nila ingin mengetuk pintu apartemen milik Fatan. Namun tak sengaja ia melihat pintunya sedikit terbuka dan terdengar suara orang yang sedang bicara. Nila menghampiri dan berdiri di depan pintu.


"Pokoknya Ayah gak mau tahu, bulan depan kamu harus pindah ke kantor pusat untuk jadi pimpinan utama perusahaan. Ayah gak mau lagi kalau kakakmu itu yang masih memimpin di sana. Bagaimana nasib perusahaan kita kedepannya?"


"Gak bisa Yah. Jangan mentang-mentang kantor disini udah maju terus Ayah seenak jidat pindahin Fatan gitu aja? Maaf Yah, Fatan masih gak setuju. Kalau perlu, mending kantor ini memisahkan diri aja dari kantor pusat. Biar Fatan gak nyesel, udah dibangun susah payah malah jadi kena imbas para tangan kotor itu!"


Disaat Nila tengah fokus mendengarkan obrolan itu, awalnya ia hanya ingin memastikan kalau yang bicara itu benar Fatan atau bukan. Namun percakapan itu semakin menarik perhatiannya hingga tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya. Sontak Nila pun terkejut bukan kepalang.


"Sedang apa kamu disini?"


Nila menoleh dan ternyata bundanya Fatan.


Lalisa tampak berseri. "Sebentar ya, biar Bunda panggilkan Fatan dulu. Kamu tunggu disini!" Usai memberi perintah, Lalisa langsung masuk ke dalam.


"Kalian masih bicara dari tadi?" Nila mendengar Lalisa melontarkan pertanyaan kepada ayah dan anak. "Fatan ... Ditungguin Nila tuh. Berangkat sana!"


Entah kenapa Nila semakin gugup. Apalagi saat mendengar langkah kaki Fatan semakin mendekat ke arahnya.


"Kamu nungguin saya?" tanya Fatan muncul dari balik pintu.


"Nggak sih, Pak. Saya kebetulan mau berangkat, kali aja kan, Pak Fatan mau bareng," jawab Nila salah tingkah.


Fatan hanya mengangguk dengan menunjukkan sorot dingin. Nila seperti tersentak merasa tidak biasa karena tatapan itu baru pertama kali ditunjukkan di depannya.


"Tunggu. Saya ambil tas dulu!"

__ADS_1


Nila pun patuh tetap berdiri di tempatnya. Tak lama kemudian, Fatan keluar dengan pakaian kantor lengkap sambil memegang tas.


"Ayok berangkat!" titah Fatan lalu berjalan lebih dulu dan Nila pun mengikuti.


Seperti semalam, namun pagi ini pekerjaan Nila merangkap. Sopir sekaligus sekertaris dari seorang laki-laki yang duduk disebelahnya.


"Pak Fatan udah sarapan?" tanya Nila memecah keheningan diantara keduanya.


"Belum, lagi gak selera," jawab lelaki itu terdengar ketus dan seakan sedang memendam amarah di dalam lubuk hatinya.


"Mau sarapan dulu gak? Mumpung masih ada waktu. Lagi pula walaupun kota, jalan raya disini gak sepadat di Jakarta," tawar Nila mencoba mencairkan suasana.


"Terserah kamu deh," sahut Fatan. Tatapan laki-laki itu hanya lurus ke depan. Sementara Nila mengembuskan napas panjang seraya tersenyum tipis.


Perempuan itu memperlambat kecepatan mobilnya. "Perasaan semalam ada yang jual makanan khas Palembang didaerah sini deh," batinnya sambil melihat dengan teliti.


Tak lama berselang, mata Nila seolah bersinar terang ketika melihat tempat makan yang sedang ia cari sejak tadi. Nila segera mencari tempat parkir di dekat sebuah warung gerobakan itu. Namun ternyata sangat ramai.


Fatan pun menoleh ke kanan dan kiri dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu yakin kita makan disini? Ramai sekali loh. Langsung ke kantor aja, nanti pesan lewat aplikasi," ucapnya terdengar tegas.


Nila hanya menelan ludah kasar. Pagi ini Fatan benar-benar sangat berbeda. Padahal semalam laki-laki itu masih asik diajak bicara santai. Apa karena pembicaraan dengan ayahnya tadi?


Perempuan itu akhirnya menurut. Dia segera mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir itu.


...----------------...


Sesampainya di kantor, Fatan turun lebih dulu setelah Nila menghentikan mobilnya tepat di depan lobby. Setelah itu barulah Nila menaruh mobilnya di tempat parkir yang telah disediakan.


Melihat suasana hati atasannya itu sedang tidak baik, Nila segera masuk ke dalam kantor. Langkahnya sengaja dipercepat supaya bisa melakukan aktifitas paginya untuk mengecek jadwal terlebih dahulu. Barulah setelah itu memberitahukan atasannya.


Saat jadwal sudah di cross check kembali, Nila pergi ke ruangan Fatan. Namun tentunya sebelum itu mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk!"

__ADS_1


...****************...



__ADS_2