Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 24


__ADS_3

Di sebuah ruang kantor, Fatan masih sibuk mengecek laporan yang harus ditandatangani olehnya. Seharian ini lelaki itu sibuk sekali karena pekerjaan yang seharusnya di atur oleh Nila, dia benar-benar melakukannya sendiri. Mengingat pegawai lain yang ada di kantor itu sudah sangat sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Lantas seorang office boy mengetuk pintu ruangannya untuk membawakan makan malam yang tadi sempat dipesan olehnya.


"Masuk!" perintahnya dan pintu pun terbuka.


"Permisi Pak, ini makan malamnya. Mau taruh dimana ya?" tanya office boy itu membawa kantung plastik warna putih ditangannya.


Fatan melirik sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. "Taruh aja di atas meja," pintanya.


"Baik Pak." Office boy itu mengangguk paham lalu menaruhnya ke atas meja sesuai permintaan atasannya itu. Setelah itu ia menunduk hormat kemudian pergi dari sana.


Fatan melanjutkan pekerjaannya hingga benar-benar selesai. Mengingat laporan-laporan tersebut harus sudah dikembalikan lagi ke masing-masing divisi.


Hingga satu jam kemudian, Fatan mengangkat kedua tangannya sambil meregangkan otot pinggang yang terasa kaku. Saking tegangnya otot-otot itu, sampai bunyi kretek yang membuatnya merasa nyaman dan lebih relaks setelahnya.


Sebelum pulang, lelaki itu menghabiskan makanan yang telah dipesannya tadi. Barulah setelah habis, dia pulang ke apartemen.


...----------------...


Setibanya di basemen apartemen, Fatan tidak langsung turun dari mobilnya. Ia mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu untuk memastikan ada panggilan ataupun notifikasi yang masuk atau tidak. Namun sayangnya, hanya ada sebuah pesan dari sang bunda yang berisi pertanyaan tentang keberadaanya. Fatan pun hanya membalas seadanya saja pesan itu.


Lantas pikirannya tiba-tiba teringat akan Nila, sekertaris yang sudah menemaninya selama enam bulan terakhir ini. Fatan mencari kontak perempuan itu di ponselnya kemudian melakukan panggilan. Lelaki itu hanya ingin tahu saja keadaan Nila di Jakarta bagaimana.


Beberapa kali memanggil, nomor Nila sedang sibuk.


"Kenapa nomornya susah sekali dihubungi? Apa terjadi sesuatu sama dia?" gumam Fatan bermonolog. Akhirnya ia turun dari kursi kemudi lalu pergi ke unit apartemennya.


Ketika baru saja membuka pintu, Fatan tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya seorang perempuan dengan wajah hitam legam dan rambut yang dibiarkan tergerai.


"Astaga! Siapa kamu?" Lelaki itu sedikit ragu antara maju atau mundur. Sayang sekarang tidak ada Nila disana. Mungkin kalau ada perempuan itu, Fatan bisa menumpang di apartemen dia untuk bersembunyi.


"Siapa kamu siapa kamu! Ini Bunda tahu!" protes perempuan itu lalu mengikat rambutnya.

__ADS_1


"Aish!" Fatan mengelus dada sambil menormalkan kembali deru napasnya yang tadi sempat menggebu. "Bunda ngapain sih muka di olesin masker warna hitam gitu? Serem tahu gak!" Ia pun tak kalah protes.


"Ya habisnya kamu lama sih. Ditungguin gak pulang-pulang. Bunda bosen tahu disini sendirian. Eh iya, Nila ada gak sih di apartemennya? Kok dari kemarin sore Bunda gak lihat dia?" tanya Lalisa karena biasanya setiap Fatan pulang, ia selalu melihat Nila masuk ke dalam apartemennya.


Fatan yang baru saja duduk di sofa baru teringat kalau dirinya belum memberitahukan sang bunda tentang musibah yang sedang dialami oleh Nila.


"Oh iya, Nila kemarin siang izin pulang duluan soalnya dia dapat kabar kalau ayahnya meninggal karena jadi korban tabrak lari," kata Fatan.


"Hah? Serius kamu? Kasihan sekali Nila," tukas Lalisa ikut merasa sedih.


"Itulah kenapa Fatan lembur sampai malam begini. Soalnya gak ada Nila, jadi gak ada yang bantuin. Biasanya kalau tugas luar dan lain-lain Fatan terima beres," ujar Fatan sambil melepas dasinya yang seakan terasa menyekik di leher.


"Berarti sekarang dia di Jakarta?" tanya Lalisa cepat.


Fatan menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Kamu udah coba telepon dia belum? Atau sini Bunda yang telepon. Bunda jadi khawatir keadaannya sekarang gimana." Lalisa langsung menghampiri Fatan yang masih bersantai lalu dengan segera meraih ponsel milik anaknya itu yang ada di atas meja.


Seketika, Fatan terlonjak di atas sofa kemudian langsung merebut ponselnya yang sudah berada di tangan sang bunda. Sontak Lalisa terkejut lalu menggelengkan kepala mendapati tingkah Fatan yang seperti itu.


Di kamar Fatan. Lelaki itu memilih pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuh serta pikirannya. Baru sehari setengah saja tanpa Nila, ia sangat kuwalahan dengan pekerjaanya. Apalagi kalau Nila sampai minta jatah libur satu minggi? Wah bisa-bisa kantor cabang yang tadinya sudah sangat baik, menjadi berjalan ditempat atau mungkin bisa jadi menurun.


Setelah selesai mandi, Fatan lekas memakai pakaiannya lalu pergi ke balkon yang terhubung dari kamarnya. Tak lupa juga ia pun membawa ponsel untuk menghubungi Nila kembali.


Tidak sampai deringan ketiga, panggilannya itu terjawab. Fatan seketika salah tingkah.


"Selamat malam, Pak," sapa Nila dengan suara khas yang lembut ditelinga.


Detak jantung yang dirasakan oleh Fatan, kenapa sangat cepat? Ada apa dengan laki-laki itu?


"Malam Nila ... " Fatan melonggarkan tenggorokannya sejenak. "Um, gimana kabarnya? Kok tadi saya telepon malah sibuk sih?" tanyanya.


"Maaf Pak, tadi ada telepon masuk jadi gak bisa jawab telepon Pak Fatan."

__ADS_1


"Oh gitu ... kabarmu dan keluarga gimana sekarang?" Fatan mengulang pertanyaannya lagi.


"Baik kok Pak. Oh iya Pak, sebelumnya saya mau minta maaf ..." Nila menjeda ucapannya.


"Memangnya kamu salah apa? Kok minta maaf segala?" Fatan tidak sabaran.


"Begini, kasus tabrak lari yang dialami ayah saya sudah masuk laporan pihak kepolisian. Barusan itu saya dapat info dari mereka kalau pelakunya sudah mengakui dan sudah masuk ke dalam sel tahanan. Terus mereka meminta saya untuk ke kantor lagi besok karena ada hal lain yang ingin dibicarakan. Saya minta izin ya Pak dan mohon maaf kalau besok belum bisa kembali ke sana," jelas Nila dengan sangat hati-hati.


"Perlu pakai pengacara gak? Saya ada nih pengacara keluarga, itu juga kalau kamu mau. Gak usah bayar, alias gratis! Soalnya kalau kamu bayar nanti bunda malah ngomel," sahut Fatan membuat Nila terkekeh geli.


"Belum perlu kok Pak. Lagi pula prosesnya murni dari pihak kepolisian. Kalaupun nanti perlu pengacara ya, saya mau obrolin dulu sama ibu," jawab Nila.


"Ya udah kalau begitu. Berarti jadinya kamu masuk ke kantor kapan?" tanya Fatan.


"Mungkin lusa atau besok pulang dari kantor polisi saya ke sana untuk ambil barang di apartemen," jawab Nila menurut perkiraanya.


"Oke. Istirahat sana, jangan sampai kelelahan ya!" seru Fatan.


Nila yang sudah tahu perilaku bosnya itu seperti apa, tidak mengambil hati atas perhatiannya itu. Baginya, wajar seorang bos memberi perhatian seperti itu.


"Iya, Pak Fatan juga. Jangan begadang. Oh iya tadi sore, saya kirim email ke Anda soal jadwal meeting yang udah saya ubah sesuai permintaan klien. Terus saya juga udah jelasin ke mereka kalau selama beberapa hari ke depan untuk berbicara dengan Anda langsung, gak apa-apa kan Pak?"


"Oh gitu ya gak apa-apa sih. Lagi pula takut ganggu urusan kamu juga di sana, santai aja. Untuk email dari kamu, saya belum cek sih. Soalnya tadi banyak laporan yang harus saya periksa. Setelah ini akan saya cek."


"Oke Pak. Oh iya mungkin segitu dulu informasi dari saya. Maaf ya Pak saya udah ngantuk, mau pergi tidur dulu."


"Oh iya silahkan, selamat beristirahat!"


"Baik Pak terima kasih. Malam."


"Malam."


Panggilan itupun berakhir. Fatan segera mengeluarkan laptopnya dari dalam tas lalu mulai memeriksa email yang dikirim oleh Nila.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2