
Saat tengah makan siang, deringan telepon dari dalam kantung jas yang dikenakan oleh Fatan berbunyi. Namun laki-laki itu justru enggan menghentikan makannya.
"Teleponnya gak dijawab dulu Pak? Siapa tahu penting," usul Nila seraya menghentikan makannya lalu melanjutkannya kembali.
"Biarin aja. Lanjut habiskan makananmu!" Fatan masih asik menyantap makanannya. Akan tetapi ponselnya itu tidak henti-hentinya terus berdering. Karena sudah merasa geram akibat makannya terganggu, Fatan mengeluarkan ponsel miliknya itu lalu memberikannya pada Nila tanpa melihat lebih dulu nama yang tertera pada panggilan itu. "Nila tolong kamu jawab aja ya. Bilang kalau saya lagi makan!"
Nila menaruh alat makannya ke atas piring lalu mengambil ponsel milik atasannya itu. Saat ia lihat nama yang tertera pada layarnya, keningnya seketika mengernyit.
"Charma?" gumamnya tapi masih dapat didengar oleh Fatan.
Lantas laki-laki itupun tersendak. Dengan cepat Nila menyodorkan minum kepada Fatan.
Sesaat setelah minum, Fatan mengambil ponselnya lagi. "Saya jawab telepon dulu ya," ucapnya seraya beranjak dari tempat duduk dan pergi dari hadapan Nila.
"Charma? Apa perempuan itu yang mau dijodohin sama dia ya?" batin Nila bertanya-tanya. Sedetik setelahnya, tiba-tiba ia ingin sekali buang air kecil.
Nila kemudian meminta secarik kertas pada pelayan restoran untuk menuliskan pesan. Setelah itu barulah ia pergi ke toilet sambil membawa tasnya, yang ternyata toiletnya itu harus keluar dari restoran itu terlebih dahulu. Saat ia menoleh ternyata Fatan sedang berbicara dengan posisi memunggunginya. Nila tidak ingin mengganggu dan memilih segera pergi ke toilet.
Beberapa menit kemudian, Fatan kembali ke meja tapi tidak menemukan Nila di sana. Lantas ia melihat secarik kertas yang ditindih kotak tisu kemudian membacanya.
"Oh ternyata dia ke toilet." Fatan duduk kembali dan melanjutkan menghabiskan makanannya.
Sementara itu di toilet, Nila baru saja selesai buang air. Ia keluar lalu menghampiri wastafel tempat cuci tangan dan bercermin. Seperti biasa usai cuci tangan, Nila berdiri di depan cermin sambil melihat pantulan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kata Pak Fatan, aku udah punya beauty privilege. Tapi kenapa untuk buka hati lagi rasanya gak percaya diri? Apa karena aku belum merelakan masa laluku ya? Tapi anehnya disisi lain saat tadi Pak Fatan dapat telepon dari kontak yang namanya Charma itu, aku merasa semakin gak percaya diri deh. Ya Tuhan ... Ada apa denganku sebenarnya?" Kedua telapak tangannya diletakkan di atas meja wastafel. Wajahnya menunduk, baru kali ini Nila merasa seperti ada yang salah pada dirinya. Padahal sekuat mungkin ia melakukan penolakan, tapi nyatanya rasanya semakin aneh.
Seketika deringan ponsel membuatnya terkejut. Nila segera merapikan pakaiannya lalu mengeluarkan ponselnya itu dari dalam tas.
"Pak Fatan? Jangan-jangan dia telepon gara-gara kelamaan aku ada di toilet," ucapnya bermonolog. Ia pun segera menjawab telepon itu.
"Halo Pak?"
"Kamu udah selesai belum? Saya lagi di kasir."
"Oh iya Pak, udah kok udah."
"Ya udah saya tunggu." Fatan kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Bayu?"
"Lagi jalan-jalan ya sama pacar baru kamu?" Nada bicara laki-laki itu terdengar sangat sinis. Bahkan tatapannya pun terlihat sangat jijik melihat keberadaan Nila yang ada di depannya saat ini. Padahal dulu sempat dia puja.
"Pacar? Aku gak punya pacar. Cuma lagi makan siang aja habis meeting sama atasanku." Tetapi rasanya percuma Nila mencoba menjelaskan. Tetap saja tidak merubah tatapan laki-laki itu padanya.
"Gak usah bohong Nila. Aku bahkan punya bukti kok kalau semalam kamu itu datang ke hotel sama laki-laki." Bayu menyeringai. "Aku gak nyangka kamu bisa serendah itu sekarang."
"Hah?" tukas Nila sangat tidak percaya akan ucapan Bayu yang bisa menambah luka di hatinya. "Bagiamana bisa?" tanyanya seraya menautkan kedua alis.
__ADS_1
"Gak usah pasang wajah seperti itu. Baru aja aku mau minta balikan sama kamu, ternyata kelakuan kamu sekarang juga sama murahnya seperti Winda!" sarkas Bayu dengan wajah terangkat serta kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celananya.
Nila tidak habis pikir, ia menggeleng dan rasanya ingin mencaci laki-laki yang sudah berkata rendah padanya. Namun rasanya hal itu tidak akan Nila lakukan, karena memang ia tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh Bayu. Ia coba mengatur napas supaya emosinya bisa terkontrol dengan baik.
Perempuan itu lalu tersenyum. Tampak tulus dan tidak ada amarah sama sekali dari sorot matanya. "Makasih loh Bayu udah mau tunjukkin ke aku tentang kamu yang sebenarnya. Tentang hati aku yang udah gak bisa dibuka lagi untuk kamu. Jujur, kalau setelah persidangan itu ada kata maaf ataupun sikap dan niat baik kamu sama aku dan keluargaku, mungkin kamu minta balikan pun aku pasti akan terima. Tapi setelah kejadian adikku semalam dan malah dapat hinaan dari mama mu, terus sekarang kamu malah nuduh aku serendah itu, jelas sudah ... Lebih baik kamu cari perempuan lain yang bisa mengerti kamu dan jadi menantu idaman mama mu. Dan itu bukan aku orangnya, permisi!" tegas Nila dan langsung membuat Bayu diam seribu bahasa.
Meskipun Nila tahu kalau Bayu pasti merasa cemburu, tapi karena kata-kata lelaki itu yang sangat menyakitkannya lagi. Lebih baik Nila memilih untuk tidak saling mengenalnya. Kesempatan untuk Bayu sudah benar-benar ditutup oleh Nila.
Memori kenangan indah dimasa lalu, perlahan menghilang beriringan dengan langkah kaki yang semakin jauh meninggalkan Bayu yang masih berdiam diri di tempatnya. Kembali dengan orang yang sama sudah tidak bisa Nila harapkan lagi. Impiannya bersama Bayu yang masih menempel di angan-angan, perlahan ikut gugur terempas angin. Nila yakin, di depan sana masih ada laki-laki yang memiliki cinta dan kasih sayang tulus untuk dirinya.
Nila mengusap wajahnya saat sudah keluar dari lorong yang menuju toilet itu.
"Nila ... " Suara itu membuatnya seketika menoleh.
"Pak Fatan? Sejak kapan disini?" tanya Nila.
"Setelah apa yang tadi saya lihat dan dengar, kamu pantas untuk bahagia," jawab Fatan yang ikut menyandarkan tubuhnya pada dinding.
"Anda tadi udah dengar semua?" tanya Nila lagi dan tidak percaya.
Fatan menganggukkan kepala. "Saya tahu, delapan tahun itu bukan waktu yang singkat untuk bersama. Tapi yakinlah, ada sebuah kebahagiaan yang pastinya akan menebus rasa kecewamu saat ini. Yuk dari pada semakin galau, saya traktir belanja deh!" ujarnya mencoba menghibur Nila.
Bagaimanapun Nila juga perempuan, mendengar usul belanja semangatnya tiba-tiba pulih. Ditambah dapat traktiran pula. Nila mengangguk setuju dan mereka pun berkeliling mall itu seharian sebelum kembali ke Palembang nanti malam.
__ADS_1