
Ingin rasanya Nila berbalik badan dan memilih pulang ke rumah. Namun rasanya malu, apalagi sudah terlanjur ada di depan ibu-Nya Bayu. Bila saja Nila tahu dari awal rupa dan sikap ibu dari mantan kekasihnya itu, mungkin dirinya tidak akan mau diajak bertemu.
Nila pun akhirnya duduk bersamaan dengan Nimas. Sesaat kemudian Winda yang baru saja dari toilet pun datang menghampiri mereka.
"Ma, udah pesan makan?" tanya Winda sopan dan lemah lembut pada ibu mertuanya. Namun sikapnya itu langsung luntur ketika melihat keberadaan Nila di sana. "Ma ... " katanya sambil menatap Nimas menuntut sebuah penjelasan.
"Sini duduk dulu. Biar kita bicara." Nimas menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya supaya Winda bisa segera duduk di sana.
Beruntung belum ada minuman ataupun makanan yang terhidangkan di atas meja. Jikalau ada, mungkin Nila akan menjadi bahan luapan emosi Winda. Sebab perempuan itu sangat tidak menyukai keberadaan Nila di sana dan menganggap kalau Nila itu biang dari masalah rumah tangganya bersama Bayu.
Akan tetapi, Nila merasa tidak bisa terlalu lama dengan mereka. Walau ia tidak tahu apa--apa saja yang akan diucapkan oleh Nimas, tapi sepertinya Nila sudah bisa menebak ke arah mana tujuan pembicaraannya.
Sesaat setelah Winda duduk dan suasana semakin menegang, Nila seketika beranjak seraya meraih tasnya.
"Maaf Ibu Nimas dan Winda yang terhormat, saya gak bisa melanjutkan pertemuan ini," ucap Nila akhirnya punya keberanian supaya terbebas dari suasana yang kian membunuh suasana hatinya perlahan.
"Nila, apa-apaan kamu! Tolong duduk!" ujar Nimas dengan kedua mata yang membulat seperti ingin menelan Nila hidup-hidup.
Perempuan berusia 26 tahun itu berdecih. "Maaf Bu Nimas saya harus segera pulang, permisi," ucap Nila berpamitan dengan mereka lalu berbalik badan.
Namun ketika Nila hendak melangkahkan kaki, tba-tiba Winda mengebrak meja sambil berdiri. "Heh! Pengecut" sarkasnya yang sudah sangat emosi. Ia menarik tangan Nila lalu menjambak rambutnya.
Nimas terkejut dengan sikap Winda yang kelewat batas. Dengan cepat dia mencoba melepaskan tangan Winda dari rambut Nila.
Nila pun tidak tinggal diam, ia mengeluarkan jurus karate yang sudah dipelajarinya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tangganya langsung melinting tangan Winda dan sekarang Nila mengambil alih karna berhasil mengunci tangan Winda dengan tangannya sendiri.
"Asal kamu tahu, Bayu udah mutusin hubungan sama aku sebelum dia menikah sama kamu. Setelah itu gak ada komunikasi apapun antara aku sama dia. Kalau kamu anggap aku sebagai masalah dalam rumah tangga kalian, kamu salah Winda! Salah besar! ... Sesayang dan secintanya aku sama dia, gak ada sedikit pun niatku untuk jadi seorang perebut! Camkan itu!" tegas Nila lalu melepas kuncian tangannya.
Seketika bagian lengan sampai tangan Winda memerah karena sudah berani melawan Nila.
Saat itu juga Nimas hanya terdiam. Rasa tidak suka terhadap Nila perlahan memudar.
Tanpa sadar mereka menjadi pusat perhatian di dalam restauran itu. Nila merapikan pakaiannya kembali lalu keluar dari sana dengan perasaan yang tak menentu. Setidaknya apa yang terjadi barusan bisa memacunya supaya bisa segera move on dari Bayu.
Tak lama Nila pergi dari halaman restauran, sebuah mobil mengikuti mobilnya. Tidak terlalu jauh, mungkin hanya berjarak sekitar 100 meter saja.
Awalnya Nila menganggap kalau mobil itu mungkin searah dengannya, tapi saat hendak masuk ke dalam komplek rumahnya Nila seketika merasa curiga. Akhinya ia tidak jadi masuk ke dalam komplek, melainkan membelokkan mobilnya ke sebuah taman yang ada di dekat komplek rumah. Taman itu tidak pernah sepi, karena ada lapangan futsal yang selalu ramai hingga malam hari.
__ADS_1
Saat Nila menghentikan mobilnya di sana, mobil yang mengikutinya pun langsung pergi.
"Huh, akhirnya dia pergi juga! Siapa sih yang ngikutin tadi?" gumamnya bernapas lega.
Nila tidak turun dari kursi kemudinya melainkan segera melajukan mobil itu kembali untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di depan rumah, Nila tidak langsung mematikan mesin mobil. Ia mengempaskan punggung ke sandaran kursi lalu menghela napas panjang.
"Kenapa rasanya rumit banget pas putus dari kamu sih Bayu? Perasaan delapan tahun kita sama-sama, aku gak pernah ngerasain kayak gini. Ya Tuhan semoga gak ada lagi ketemu ujian model kayak tadi, jantungku rasa mau copot," kata Nila bermonolog lalu mengusap kasar wajahnya.
Tiba-tiba ia dikejutkan lagi dengan suara ketukan kaca jendela mobilnya. Nila langsung menoleh dan yang lebih mengejutkannya lagi orang yang mengetuknya tadi.
"Bayu ... " ucapnya. Nila segera turun dari mobilnya lalu pandangannya mengedar ke sekeliling rumah. Tidak biasanya kendaraan yang biasa dipakai ayahnya tidak ada di sana. Apa mungkin orang rumah sedang pergi? Pikir Nila demikian.
Sebisa mungkin Nila bersikap biasa saja. Ia tidak menonjolkan sakit hati yang masih terasa pedih.
"Ada apa kamu ke sini? Bukannya kamu bilang kalau aku gak boleh hubungi kamu lagi?" tanya Nila sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Nila ... Jujur, aku masih cinta sama kamu. Aku gak bisa jalanin hidup begini terus. Aku cuma mau nikah sama kamu," jawab Bayu menunjukkan sorot mata sedih.
Nila mende*sah pelan. "Aku rasa sebenarnya kamu lebih beruntung ketimbang aku. Punya istri cantik, terkenal pula. Perusahaanmu sukses, punya ibu juga sangat perhatian sama anaknya. Terus kenapa kamu nyerah cuma karena perasaanmu? Kalau kamu emang gak yakin nikah sama Winda, kamu harusnya bisa nolak dengan tegas dan kasih pengertian ke ibu kamu!" cerocos perempuan itu merasa geram.
"Maaf, aku gak mau bahas ini. Lebih baik kamu segera pergi dari rumahku!" kata Nila dengan nada tinggi mengusir Bayu dari sana.
Lelaki itu tidak dapat memaksa Nila lagi. Ia pun pergi dari sana.
Melihat kepergian Bayu, Nila berusaha keras menahan tangisnya. Hingga mantan kekasihnya itu benar-benar pergi, Nila berbalik badan lalu menangis sejadi-jadinya. Bahunya sampai bergetar, wajahnya menunduk dan tak disangka bukan hanya cairan dari mata yang keluar, tapi dari hidung pun juga. Sungguh rasa sedih yang sangat mendalam dialami oleh Nila.
Saat Nila hendak berjalan ke teras rumah, ada sebuah sorot lampu mobil meneranginya. Nila menoleh dengan wajah yang masih basah karena air mata. Matanya pun menyipit karena terlalu menyilaukan. Tak lama kemudian, seseorang turun dari kursi kemudi sambil mematikan sorot lampu itu.
"Kak Dany ... "
"Nila, kamu kenapa? Habis nangis? Siapa yang bikin kamu nangis kayak gini?" cecar Dany tampak sangat khawatir.
"Nggak kok, gak apa-apa ... Tadi cuma kelilipan aja, soalnya ada orong-orong sama samber mata lewat eh ditabrak sama mereka jadi begini," jawab Nila sekenanya.
"Yakin cuma karena binatang?" tanya Dany lagi.
__ADS_1
"Iya beneran. Omong-omong, gimana bisa kamu tahu rumahku? Perasaan aku belum kasih tahu kamu sama sekali." Nila mengerutkan kening merasa heran. Ia pun lalu menghapus air matanya.
"Aku tahu dari Bayu dan juga ... Aku tahu tentang kamu dari dia. Ternyata perempuan yang sekarang aku sukai itu, mantan pacarnya teman baik aku." Nila terkejut mendengar pengakuan Dany.
"Jadi kamu tahu aku sama Bayu pernah pacaran delapan tahun?" tanya Nila ingin memastikan kalau Bayu memang benar-benar cerita pasa lelaki itu.
Dany mengangguk dan tampak yakin. Sementara Nila langsung mengembuskan napas panjang.
"Terus kamu ke sini mau ngapain?"
"Mau bilang sama kamu, kalau aku cinta kamu dari pandangan pertama dan ... Kamu mau gak kalau kita pacaran?"
Nila terperangah lalu tertawa sampai terbahak.
"Lok kok ketawa sih?" protes Danya karen Nila tak henti-hentinya tertawa.
Seketika Nila memasang raut wajh serius. "Maaf Kak Dany. Aku belum bisa buka hati buat siapapun. Lebih baik kak Dany cari perempuan yang juga cinta sama Kakak. Udah ya, aku ke dalam dulu. Bye Kak!" kata Nila menolak permintaan Dany yang terkesan konyol baginya.
"Nggak Nila, aku cuma mau pacaran sama kamu!" kata Dany bersikukuh lalu meraih tangan Nila dan menahan perempuan itu supaya tidak sampai masuk ke dalam rumah.
"Tapi sayangnya aku gak mau lagi pacaran. Percuma kalau ujung-ujungnya hanya jagain jodoh orang. Kak Dany gak tahu kan rasanya merelakan orang yang udah dicintai sepenuh hati itu kayak apa belajarnya? Perih Kak!" tegas Nila dengan penuh penekanan.
"Aku cinta sama kamu, Nila ... " Dany masih berusaha membuat Nila luluh.
"Terima kasih udah cinta sama aku dan ... Aku hargai itu. Tapi maaf, maaf sekali ... Aku gak bisa balas cinta Kak Dany."
Tampak jelas raut kekecewaan pada wajah Dany. Sementara Nila hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Mending sekarang Kak Dany pulang. Udah malam juga, gak enak sama tetangga di sini," kata Nila mengusir laki-laki itu secara halus.
Sudah tahu kalau Nila itu mantan kekasih Bayu dan mereka baru putus karena memang diputusin sama Bayu. Lantas sekarang Dany ajak Nila pacaran? Mungkin buat Dany bagai mimpi di siang bolong.
Laki-laki itu sungguh tidak berperasaan. Belum juga Nila sepenuhnya merelakan Bayu. Dia pun muncul bak pahlawan kesiangan. Apa memang tabiatnya seperti itu? Terlebih Bayu atasannya sendiri plus teman baiknya.
"Ya udah deh. Bye, Nila. Selamat malam," ucap Dany lalu mengangkat sebelah tangannya berpamitan pada Nila.
Dengan senang hati Nila pun akhirnya lega karena Dany mau juga pergi dari halaman rumahnya. Sebab pikirannya hari ini benar-benar sangat kacau.
__ADS_1
...****************...