Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 76


__ADS_3

..."Satu detik terasa begitu lama. Bila semesta masih mengizinkanku membuka mata, aku ingin orang yang pertama kali kulihat itu, kamu."...


...----------------...


Brak!!!


Wuuussshhhh.


Byuuurrr.


Nila terjatuh ke dalam laut, semakin dalam. Hingga cahaya yang sempat terlihat, seketika padam dan menjadi gelap.


Sementara di dalam pesawat, laki-laki itu menarik tangan pramugari yang tadi ingin mengajak Nila menyelamatkan diri itu ke dinding dengan sangat kasar.


"Ah! Apa kau gila? Kalau dia sampai tenggelam di lautan sendirian bagaimana?" teriak pramugari itu. Ia sangat marah pada laki-laki yang ada di depannya saat ini. Sekuat tenaga ia melepaskan cengkraman tangan yang sejak tadi begitu sangat menyiksanya.


Akan tetapi lelaki berpakaian serba hitam lengkap dengan masker dan topi itu, mengeluarkan sebuah pisau dari kantung celananya secara tiba-tiba. Hingga ....


Jleb!!!


"Ah! Sakit!" Sontak pramugari itu membuka matanya lebar-lebar. Dia merasa tubuhnya semakin lama tambah melemah akibat rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya


"Jangan berani mencampuri urusanku! Tapi karena kau seperti orang hebat, kau harus rasakan ini!" ujar lelaki itu dan terus menekan tusukan itu semakin dalam. Sementara pramugari itu sudah tidak mampu berkata-kata. Hanya ada rasa sesak yang kian menderanya.


Sayatan pisau akibat lelaki itu sangat dalam hingga tak disangka, darah mengalir sangat deras dan tanpa ampun. Dalam sekejap nyawa pramugari pun lenyap.


Beberapa saat kemudian ....


Ngiiikkkkkkk Duaaarrrrr!!!


Pesawat itu akhirnya menabrak lereng tebing, serta mengalami ledakan yang cukup dahsyat. Akan tetapi, bagian terparah akibat ledakan itu berada di ekor pesawat. Sedangkan bagian badan dan kepala hanya mengalami penyok dan keretakan. Entah masih ada yang selamat atau tidak dan yang pasti masih menunggu pertolongan.


Tidak ada yang tahu bahwasanya laki-laki tadi sudah lompat dari pintu sesaat sebelum pesawat itu mengalami kecelakaan, dan ternyata dia yang sempat tergelincir itu masih bisa bangun dan bergegas pergi dari sana.


"Aku pastikan siapapun yang membantu menggagalkan rencanaku untuk membunuh Fatan, udah pasti dia gak akan selamat," ucap laki-laki itu sangat percaya diri seraya melangkahkan kaki dengan gagahnya mencari jalan keluar dari sana.


.


.

__ADS_1


.


.


Masih di Beijing. Setibanya di hotel, Fatan membuka laptopnya. Ia mulai menghubungi tangan kanannya untuk berkoordinasi mengenai pencarian Nila.


"Bagaimana?" tanya Fatan sangat serius.


"Barusan saya mendapat informasi kalau istri Anda terbang menggunakan pesawat komersial menuju Indonesia. Yang lebih parah, ada pihak pegawai bandara yang melihat kalau pesawat yang ditumpangi istri Anda itu dibajak oleh seseorang. Dan sekarang pesawat itu dinyatakan hilang kontak saat terbang di perairan Semenanjung Malaya."


"Apa? gak mungkin? Kenapa Nila ada di pesawat itu?" timpal Fatan menyangkalnya.


"Saya masih terus mencari tahu Bos. Beberapa orang udah saya kerahkan untuk segera ke tempat kejadian serta bandara di Beijing. Keyakinan saya masih sama, orang yang melakukan ini bukan orang yang mudah untuk kita balas."


Fatan mende*sah kasar. "Baiklah, kalau gitu kita harus tetap hati-hati dan jangan sampai ceroboh."


"Siap Bos."


Panggilan itu berakhir. Fatan kembali menghubungi seseorang di rumah sakit tempat kedua orang tuanya dirawat. Menurut informasi yang diterima dari tangan kanannya, bahwasanya ada salah seorang laki-laki berpofesi sebagai perawat sengaja di jadikan agen rahasia. Meskipun rencana itu diluar dari rencana awal, tapi pada akhirnya Fatan setuju guna mencari tahu siapa yang melakukan tindak kejahatan sebenarnya.


"Benar kamu yang bernama Lian?"


"Saya Bos dari Bos kamu."


"Oh! Begitu ya? Anda Bos-nya Rusli?"


"Iya." Fatan menjawab singkat.


"Ada apa Bos?"


"Bagaimana keadaan orang tua saya?"


"Begini, pertama kondisi tuan Wicak masih kritis di ruang ICU. Sedangkan untuk Nyonya Lalisa sendiri sudah membaik dan sekarang berada di ruang rawat inap biasa. Tadi ada beberapa keluarga beliau juga yang menjenguk."


"Lantas yang diperintahkan oleh Rusli bagaimana?"


"Oh tentang dokter Fano ya?"


Fatan hanya bergumam menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


"Seharian ini dia tidak kelihatan. Saya juga udah menaruh beberapa CCTV di ruang kerjanya serta beberapa tempat yang sering dikunjunginya. Sejauh ini, gak ada yang mencurigakan darinya. Tapi .. . " Lian menghentikan ucapannya karena baru saja orang yang dibicarakannya itu ada tak jauh dari pandangannya.


"Tapi apa Lian?" tanya Fatan sangat tidak sabar.


Cukup lama Lian terdiam karena pergi dari sana dan mencari tempat aman untuk bicara.


"Bos saya gak bisa lanjutin pembicaraan ini. Tapi saya ada sebuah rekaman yang bisa dijadikan bukti untuk memperberat pelaku. Setelah ini akan saya kirimkan."


Fatan mengembuskan napas panjang. "Ya udah kalau begitu."


Usai panggilan berakhir, tidak lama kemudian sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Fatan segera membukanya, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Lian yaitu berupa rekaman. Fatan pun mulai mendengarkannya dengan seksama.


"Sore Dok."


"Sore. Anda ... Edward bukan? anaknya Tuan Wicak?"


"Iya benar. Hahaha ... Ingatan Anda sangat tajam sekali."


"Anda mau bertemu dengan Tuan Wicak?"


"Udah ketemu Dok, baru aja. Oh iya Dokter tahu perkembangan kesehatan adik saya Fatan sekarang?"


"Wah saya kurang tahu. Terakhir saya tahu kabarnya pas dia sakit kepala sebelum ke Tiongkok. Selebihnya saya gak tahu. Soalnya Nyonya Lalisa bilang kalau dia akan pengobatan di sana sangat lama."


"Ah, seperti itu ya. Baik deh, terima kasih."


Rekaman itu berakhir. Fatan langsung berpikir keras. Lelaki itu kemudian meminta Lian untuk segera mencari tahu rekaman CCTV saat Edward bertemu dokter Fano berlangsung guna melihat apakah orang yang dicurigakan oleh Fatan selama ini atau bukan.


Ditengah gentingnya keadaan, Fatan mencoba menghubungi pihak bandara Beijing untuk kepastian pesawat yang sekarang mengalami kecelakaan itu. Ternyata kejadian itu benar adanya, informan dari pihak bandara pun mengatakan total penumpang dalam pesawat itu berjumlah tiga puluh lima orang, serta kemungkinan tidak akan ada yang selamat. Fatan juga meminta daftar nama orang-orang yang ikut ke dalam pesawat tersebut.


Tidak butuh waktu lama, pihak bandara pun mengirimkan padanya melalui email. Setelah di cek berkali-kali guna memastikan data itu benar adanya, ternyata nama Nila tidak ada di daftar orang itu. Fatan pun berpikir, pasti orang yang melakukan itu mengganti nama Nila dengan nama orang lain.


Ting!!


Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Fatan. Lelaki itu segera membuka dan memeriksanya.


"Cepat juga kerjanya!" Fatan memuji kerja keras Lian untuk mendapatkan rekaman CCTV seperti yang ia minta.


Memang dalam rekaman video bersurasi 5 menit itu sama sekali tidak ada gerak-gerik yang membuatnya curiga. Fatan seketika terdiam.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan bukan Edward dalang dibalik semua ini? Kalau pun begitu adanya, lalu siapa?" gumamnya bermonolog.


__ADS_2