Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 64


__ADS_3

Di sebuah kamar yang sangat luas, seorang laki-laki berdiri menatap ke luar jendela. Dia memicingkan mata, seakan mengamati musuh yang sedang berada tepat depannya. Begitupun raut kemarahan sangat tergambar jelas pada wajahnya.


"Sial! Jadi Edward telah melanggar janjinya padaku. Lihat aja kau nanti! Aku akan buat perhitungan denganmu. Kau kira apa yang aku ucapkan beberapa waktu lalu hanya gurauan semata!"


Lelaki itu tak lain adalah Fatan. Betapa kesalnya dia saat mendapati berita yang dikirimkan oleh tangan kanannya itu, kalau Nila resmi mengundurkan diri dari perusahaan.


Awalnya Fatan sempat tidak percaya, tapi saat sudah mendengar langsung dari yang bersangkutan. Amarah yang sempat tertahan, kini kian meletup-letup. Rasanya kesabaran yang ia miliki sudah habis.


Lantas tak lama berselang, pintu kamar itu ada yang mengetuk dari luar. Fatan mencoba meredam emosinya seraya berbalik badan lalu melangkahkan kaki menuju pintu.


"Bunda ... Ada apa?" tanyanya menautkan alis.


Perempuan separuh abad itu tidak langsung menjawab, melainkan langsung masuk ke dalam kamar tampak terburu-buru. Fatan menatap curiga padanya.


"Ada apa sih, Bunda?" tanya lelaki itu lagi seraya melihat ke luar kamar. Namun ia tidak melihat siapapun di sana.


Lalisa mengambil alih gagang pintu lalu menutupnya rapat-rapat.


"Fatan ... Kamu udah pegang surat hasil pemeriksaanmu selama di Tiongkok kemarin?" tanya Lalisa. Perempuan satu itu tampak cemas sekali. Fatan semakin bertanya-tanya lewat tatapan matanya.


"Iya, semua hasilnya sama seperti pengecekan di Jakarta. Memangnya kenapa Bun?"


"Ini ... " Lalisa mengeluarkan sebuah amplop berukuran panjang dan berwarna putih, yang biasa digunakan untuk mengirim surat dari dalam kantung celananya, lalu menyodorkan benda itu kepada Fatan.


"Apa ini Bun?" tanya Fatan tampak bingung. Lelaki itu tidak begitu saja menerima.


"Jadi tadi Bunda lihat Charma masuk rumah, terus gak sengaja surat ini terjatuh. Awalnya Bunda gak peduli, tapi .... " Lalisa menghentikan ucapannya. "Ambillah dan baca sendiri, tadi Bunda udah sempat baca dan isinya sungguh diluar prasangka kita selama ini," lanjut perempuan itu.


Mendengar ucapan Lalisa itu, Fatan menerima surat itu lalu membacanya. Kop surat itu tertera nama rumah sakit yang telah memvonis penyakit yang di derita Fatan saat ini, dan yang paling membuat lelaki itu tidak percaya bahwasanya bisa-bisanya Charma yang memilikinya. Darimana dia mendapatkan itu? Pikir Fatan.


"Bunda ngerasa aneh dengan keadaan akhir-akhir ini. Di saat ibunya Charma sedang koma dan kamu harus pemeriksaan lebih lanjut ke Tiongkok kemarin, lalu Edward masuk menawarkan diri untuk memimpin kantor cabang yang ada di Palembang. Sebenarnya tadi Bunda sempat mau tanya sama Charma, tapi firasat Bunda bilang jangan. Ya, jadinya Bunda kasih ke kamu aja deh," jelas Lalisa.

__ADS_1


"Tapi sampai sekarang aku belum menerima hasil pengecekan dari rumah sakit di Tiongkok Bun. Nanti aku coba memastikannya lagi," sahut Fatan seraya mengusap tekuk lehernya.


"Ya nanti selebihnya, kalau ada info lagi ... Bunda akan sampaikan sama kamu." Lalisa tersenyum lalu menepuk pelan bahu Fatan. "Bagaimana dengan Nila? Sampai kapan kamu akan memendam terus? Kalau dia menikah dengan orang lain bagaimana?" cecarnya. Kali ini membuat Fatan menutup mulutnya rapat-rapat.


Laki-laki itu tersenyum seraya menarik napas panjang. "Kalau memang jodoh gak akan kemana kok Bun," jawab Fatan. Padahal tidak sesuai dengan hatinya yang sedang menyusun rencana supaya bisa menarik hati Nila lagi.


Kalau saja Fatan tahu Nila masih menunggunya, entah rasa bahagia seperti apa yang bisa ditunjukkannya pada perempuan itu. Sekarang Fatan hanya menunggu waktu. Membereskan semuanya terlebih dahulu kemudian datang pada Nila, begitulah kira-kira rencananya. Selebihnya Fatan biarkan Tuhan yang menentukan.


"Baiklah. Besok, ayahmu akan kembali. Semoga lekas sembuh anak Bunda," kata Lalisa mengundang haru pada anak semata wayangnya itu.


"Iya Bunda, terima kasih banyak support nya."


Lalisa keluar dari kamar Fatan.


...----------------...


Setelah Lalisa pergi, Fatan mengunci kamar lalu segera menghubungi tangan kanannya.


"Bagaimana hasil pemeriksaan saya di Tiongkok kemarin? Apa kamu udah dapat?"


"Maaf Bos, saya hampir aja tidak ingat. Hasilnya baru saya dapatkan tadi pagi. Bos mau dikirim lewat email atau langsung?"


"Dua-duanya aja. Saya tunggu sekarang!"


Fatan langsung mengakhiri panggilan itu. Ia kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan mondar mandir di sana.


"Dari kecil aku gak pernah merasa sakit kepala sedahsyat akhir-akhir ini. Apa benar tanpa aku sadari, aku punya penyakit yang sangat berbahaya itu?" gumam Fatan. Dirinya mendadak tidak tenang.


Hampir setengah jam berlalu, Fatan mendapati telepon dari pelayan rumah karena tangan kanannya telah berada di depan teras. Fatan langsung menyuruhnya untuk ke kamar supaya informasi yang akan disampaikan pun bisa lebih aman.


"Pagi Bos," sapa tangan kanannya itu dengan raut datar.

__ADS_1


"Pagi," sahut Fatan dingin.


Seorang laki-laki itu mengeluarkan amplop putih dari dalam saku jaket yang dipakainya lalu memberikannya pada Fatan.


"Ini hasil yang Anda minta. Saya belum mengeceknya sama sekali, karena Anda yang lebih berwenang," ucap laki-laki itu.


Fatan hanya mengangguk pelan lalu mengambil dan membukanya. Matanya mulai meneliti rincian hasil yang ada di selembar kertas itu. Lantas setelah dilihat secara menyeluruh dan sangat jeli, Fatan pun menggelengkan kepala membuat lelaki yang ada di depannya melemparkan sorot penuh tanda tanya.


"Ada apa Bos? Apa ada kecurangan?"


"Gak ada." Fatan menjawab dingin. "Tapi sampai disini saya paham rencana mereka."


"Apa Bos mengetahui sesuatu?" tanya laki-laki itu lagi.


"Mereka sepertinya udah merencanakan ini sejak lama. Dalam surat ini pihak rumah sakit menyimpulkan kalau saya sebenarnya tidak benar-benar sakit yang selama ini didiagnosa oleh rumah sakit di Jakarta."


"Hah? Yang benar Bos?" tukas laki-laki itu, tapi malah mendapat sorotan tajam dari Fatan.


"Ada yang sengaja memberi saya obat keras yang memang digunakan untuk penyakit terdiagnosa itu. Saya yakin, otak dari rencana ini adalah orang terdekat dan benar-benar sangat licik. Begitu juga dengan keadaan saya yang udah seperti ini, orang itu semakin bergerak dengan leluasa. Apalagi kalau bukan untuk menguasai harta kekayaan ayah saya," jelas Fatan dan membuat lelaki yang ada dihadapannya mengangguk paham.


"Apa kita perlu membalas permainan mereka?"


"Jangan dulu!" Fatan berbalik badan lalu berjalan menuju jendela berukuran besar yang ada di kamarnya. "Pihak kita sepertinya hanya minoritas. Sekarang yang kita butuhkan mencermati pergerakan mereka seketat mungkin. Suatu saat nanti jika sudah menemukan celah dan ruang untuk kita, barulah kita basmi mereka layaknya seperti serangga!" ujar Fatan menatap ke depan dengan penuh raut kebencian.


"Baik Bos. Saya akan siap kapanpun kalau Bos butuhkan. Dan nyonya besar juga udah bilang pada saya, kalau tuan besar udah banyak menemukan bukti. Anda bisa mendapat dukungan penuh dari beliau. Siapapun nanti musuh Anda, jika tuan besar udah marah ... saya yakin dia gak pandang bulu," tutur orang yang menjadi tangan kanan Fatan.


"Ya udah, kita mulai lakukan itu sekarang!" tegas Fatan lalu berbalik badan dengan posisi saling berhadapan.


"Baik, Bos. Kalau gitu saya. Permisi, semoga Anda lekas sembuh kembali."


"Terima kasih."

__ADS_1


Usai lelaki itu pergi, Fatan berjalan menghampiri tempat tidurnya. Ia merebahkan tubuh di sana, sebab tubuhnya tiba-tiba terasa lemas dan seakan tulang-tulangnya pun sangat rapuh. Fatan memilih beristirahat.


__ADS_2