Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 97


__ADS_3

Tidur siang Nila kali ini terasa sangat panjang. Saking terlalu nyenyaknya, panggilan yang masuk ke dalam ponselnya itu sampai tidak terdengar. Padahal benda pipih berbentuk persegi panjang itu ada di atas nakas, tepat di samping tempat tidurnya.


Hingga saat cahaya di dalam kamarnya itu mulai redup, karena memang matahari sudah tenggelam. Nila pun akhirnya terbangun.


"Eeuuugghhh!!" Nila melenguh sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Lantas ia masih terus menguap sangat kuat sampai mengeluarkan air mata. Sesaat kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. "Ternyata udah sore," ucapnya sembari menghela napas dan turun dari tempat tidur untuk segera mandi.


.


.


.


.


Di ruang makan, Lalisa baru saja selesai menyiapkan makan malam dengan hati bahagia. Sebab, perempuan paruh abad itu baru melakukannya lagi setelah sekian lama vakum dari perdapuran.


Nila terkejut saat melihat makanan yang jarang sekali dimakan olehnya pun sudah tersedia di atas meja.


"Bunda? Ini semua Bunda yang masak?" tanya Nila tidak percaya sekaligus bangga. Pasalnya Lalisa memasak makanan khas betawi yang sudah sangat jarang ditemui bahkan tidak pernah lagi dimasak oleh ibunya, karena memang kedua orang tuanya berdarah jawa.


Lalisa mengangguk antusias. "Iya dong! Siapa lagi? Lagian gampang kok, Bunda juga tadi pesan sayuran lewat online terus cepat sampai juga," jawabnya yang baru saja selesai mencuci peralatan masak.


"Terima kasih Bunda udah masakin ini semua!" seru Nila lalu memeluk Lalisa merasa terharu.


Begitupun dengan Lalisa yang tersenyum bahagia. "Sama-sama ... ayok kalau gitu kita makan!" ajaknya lalu menarik salah satu kursi untuk dijadikan tempat duduknya.


"Iya Bun!" Keduanya pun makan malam bersama.


Selama makan, Lalisa hanya fokus makan seperti kebiasaannya selama ini. Tidak ada yang boleh bicara sebelum makanan yang ada di atas piring sudah habis.


Nila pun begitu. Hingga beberapa menit berlalu keduanya pun telah selesai makan. Nila berinisiatif membereskan serta mencuci piring kotor dan Lalisa pun mengizinkan.

__ADS_1


Usai semuanya telah rapih kembali dan sisa makanan dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan, Nila dan Lalisa pergi ke ruang keluarga untuk bersantai bersama.


"Bunda, aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Nila berharap Lalisa bersedia.


"Boleh, tanya aja!" Nila bernapas lega saat Lalisa menjawab demikian.


"Dulu, saat jauh sebelum mas Fatan ketemu sama aku ... Dia pernah punya perempuan yang sangat dicintainya gak sih?" Kali ini Nila menahan napas beberapa saat sampai pertanyaan yang diajukannya itu selesai.


Lalisa menoleh lalu tersenyum. "Setahu Bunda sih gak ada. Fatan itu dari kecil suka banget belajar hal-hal baru. Bunda 'kan pernah cerita sama kamu kalau dia itu anak yang cerdas dan gak neko-neko. Maka dari itu, untuk kenal sama perempuan aja dia sering malu-malu," jelasnya diiringi dengan tawa.


"Begitu ya, Bunda." Entah kenapa firasatnya Nila bilang tidak mungkin.


Lalisa merasa terheran saat melihat respon Nila. Ia memiringkan sedikit kepalanya. "Memangnya kenapa Nila? Ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" tanyanya kemudian.


"Um, gak kok Bun," sahut Nila cepat. Pasalnya ia belum bisa menerka dengan pasti apa firasatnya itu benar atau tidak.


"Yakin?" tanya Lalisa lagi.


Satu jam sudah mereka menikmati siaran televisi, akhirnya keduanya pun sama-sama merasakan kantuk.


"Nila, boleh gak malam ini Bunda tidur sama kamu?" Sebenarnya Lalisa ingin bercerita banyak hal pada menantunya itu.


"Boleh kok, Bun," jawab Nila seraya mengangguk. Lalisa tampak senang dan mereka masuk ke dalam kamar.


Ketika keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur berukuran kingsize, Lalisa merubah posisinya menjadi miring ke arah Nila, sedangkan Nila yang menyadari hal itu hanya menoleh.


"Ada apa Bun? Kok lihatinnya gitu?" tanya Nila merasa kikuk dan tidak enak hati.


"Kamu cinta gak sama anak Bunda?" Lalisa malah bertanya balik padanya.


"Cinta, Bun. Kalau gak cinta mana mungkin Nila mau nikah sama mas Fatan," jawab Nila terdengar yakin.

__ADS_1


"Kalau suatu saat salah satu diantara kalian ada yang menyakiti, entah kamu atau Fatan. Apa pernikahan kalian akan dipertahankan?" Pertanyaan Lalisa teramat berat bagi Nila. Sebab, teruntuk hal itu ... Mengingatkannya pada masa lalu saat bersama Bayu dulu. Sakit, dan sampai tidak mampu menjabarkan sakitnya itu seperti apa.


Nila diam beberapa saat. Pikirannya sedang bekerja keras supaya bisa menyusun kata yang pas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tidak lama kemudian, ia pun mulai bicara.


"Mungkin yang pertama, aku harus bicara dulu sama mas Fatan ... Dari hati ke hati. Mencoba mencari jalan keluar supaya bisa memaafkan dan memberi kesempatan. Tapi bagiku, konteks menyakiti dalam suatu hubungan itu sebenarnya luas. Dan yang paling gak bisa aku pertahankan yaitu mempertahankan orang yang mencintaiku tapi dia sama sekali gak bisa percaya denganku. Ya begitulah, Bun kira-kira ... Itu berdasarkan pandanganku, entah kalau memang pada kenyataannya berbeda ... Dibalik itu semua aku yakin Tuhan gak pernah tidur dan selalu ada bersamaku," papar Nila. Pemikirannya kini memang sudah lebih dewasa dibanding beberapa tahun yang lalu.


"Oh begitu ...." Lalisa manggut-manggut seraya merubah posisinya menjadi terlentang. "Kalau misalkan nih, kamu disuruh milih antara harta atau kebahagiaan ... Mana yang akan kamu pilih?" tanyanya kemudian.


"Kebahagiaan dong Bun," sahut Nila cepat.


"Kenapa?" Lalisa menoleh sampai menautkan kedua alis matanya.


"Sebab memiliki banyak harta, gak akan menjamin kita bahagia. Tapi kalau kita bahagia, kita gak pernah terus merasakan kekurangan terus. Harta pasti punya masa untuk habis. Sedangkan rasa bahagia ... akan terus ada sampai nanti kita pulang ke pangkuanNya."


Jawaban Nila membuat Lalisa tersentuh hingga tanpa sadar menitikkan air matanya.


"Bunda gak salah pilih kamu sebagai pendamping anak Bunda satu-satunya itu. Kamu dewasa, cantik, pintar serta mampu menenangkan hati," puji Lalisa. Nila pun sangat tersentuh mendengarnya.


"Bunda bikin aku malu. Padahal aku cuma perempuan biasa aja. Aku juga punya kekurangan dan kelebihan. Tapi aku percaya sekaligus bersyukur dengan hidupku sekarang. Ada ibu, Bunda, Lativa, mas Fatan. Semuanya orang baik yang ada di hidup Nila sekarang.


"Kok malu sih? Bunda 'kan memang omong apa adanya. Jadi kamu pantas dong bisa dapat ujian seperti itu?" tukas Lalisa seraya terkekeh. Sementara Nila hanya tersenyum semakin tersipu malu.


"Oh iya, omong-omong kapan dong Bunda bisa gendong cucu? Bunda udah gak sabar tahu!" Lalisa tiba-tiba membayangkan bayi mungil berada dalam gendongannya.


"Sabar ya Bunda, kami juga lagi berusaha. Ditambah luka karena tusukan itu belum sembuh," kata Nila berusaha menenangkan ibu mertuanya.


Lalisa mengempaskan napas panjang, ia tidak kecewa ataupun marah. "Iya juga sih. Bunda jadi ngin lihat Fatan. Lagi apa ya dia? Coba dong kamu telepon Fatan sekarang," usulnya. Padahal Nila sudah sangat ingin beristirahat. Pasalnya besok dia harus kembali ke Palembang untuk menemui Fatan yang masih di rawat.


"Oke Bunda. Tunggu sebentar ya .... " Kedua jari jempol tangan Nila dengan lihai mengetik nama sang suami yang ada di kontak nomor ponselnya. Beberapa menit berlalu, sebuah panggilan video pun terhubung. Mereka akhirnya berbincang bersama.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2