Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 157


__ADS_3

Seminggu setelah pernikahan Lativa dan Rusli. Entah kenapa pagi ini Nila merasa sangat mual serta pusing. Untuk bangun dari tidur saja, rasanya tidak sanggup. Fatan yang baru saja terbangun dari tidur pun terkejut ketika melihat Nila tampak pucat.


"Sayang, kamu sakit?" Lelaki itu menempelkan punggung tangannya ke kening sang istri. "Sedikit demam."


"Kayaknya gara-gara semalam aku tidur larut, jadi masuk angin deh," jawab Nila. Suaranya terdengar lemas, tak bertenaga.


"Aku suruh bibi buat siapin bubur sekarang ya, Sayang? Munggu ini kamu udah pijat belum?" tanya Fatan lagi. Dia terlihat khawatir sekali. Sebab dia baru melihat Nila seperti ini lagi setelah melahirkan Ara. Terakhir melihat Nila sakit yaitu, saat awal-awal hamil Ara.


Nila hanya mengangguk pasrah. "Aku belum sempat ke salon buat pijat, Mas. Habis acara minggu lalu, Ara mendadak demam karena tumbuh gigi. Tadinya hari ini aku mau pijet, tahunya badanku kok rasanya gak enak sekali," ucapnya.


"Kira-kira salon langganan kamu bisa dipanggil ke rumah gak? Ya kalau bisa, biar aku yang telepon suruh ke rumah. Soalnya menurut info yang aku tahu, masuk angin kalau gak ditangani dengan tepat dan cepat bisa memperparah kondisi tubuh. Apalagi kamu udah biasa pijat semenjak setelah melahirkan Ara," papar Fatan sepengetahuannya.


"Kayaknya bisa deh. Minta tolong tanyakan ya, Mas." Nila meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas lalh memberikannya pada Fatan.


"Ya udah aku tanyakan dulu ya, Sayang. Kamu istirahat lagi aja," kata Fatan, lalu Nila pun mengangguk pelan. Lelaki itu berjalan ke arah pintu dan keluar dari kamar.


Tidak lama berselang, Ara tiba-tiba menangis. Nila yang baru saja memejamkan mata pun mau tidak mau membuka matanya kembali. Ia menoleh ke arah sang suami. Masih dalam panggilan telepon. Akhirnya perlahan ia bangun dan turun dari tempat tidur.


Nila menarik napas terlebih dahulu untuk menghirup oksigen, supaya bisa masuk ke dalam otak dan meringankan pusing yang sedang dirasakannya. Setelah cukup membaik, ia pun beranjak dari pinggir tempat tidur kemudian berjalan menghampiri tempat tidur Ara.


"Ara, Sayang. Ini Emom." Nila tersenyum semringah ketika berada di depan putri kecilnya. Ia memeriksa suhu tubuh hingga diaper yang dipakai oleh Ara. Saat dirasa tidak demam dan tidak ada kebocoran pada diapernya itu, Nila pun mengangkatnya.


Ara tampak bahagia ketika berada di dalam pelukan Nila. Putri kecil itu jauh lebih tenang. Lantas Nila melihat ke arah jam dinding,


"Mas Fatan bisa telat kalau aku gak bantu dia siapin pakaian," gumamnya lalu berjalan ke ruang ganti. Meski masih terasa pusing berdenyut, ia tetap memaksakan diri untuk mempersiapkan keperluan Fatan sebelum berangkat ke kantor.


Tidak butuh waktu lama baginya memilih pakaian yang akan dikenakan oleh Fatan, walau harus sambil menggendong Ara.


Lantas saat Fatan kembali ke kamar, dia melihat Nila yang juga baru keluar dari ruang ganti.


"Sayang, kamu udah enakan?" tanyanya seraya mempercepat langkahnya menghampiri Nila. Dia juga mengambil Ara dari tangan Nila. Khawatirnya Ara ikut terjatuh kalau sampai Nila kehilangan keseimbangan karena rasa pusing dikepalanya itu.

__ADS_1


"Udah kok, Mas. Oh iya gimana? Apa terapisnya bisa datang ke rumah?" tanya Nila kemudian.


"Bisa kok, tadi aku udah minta mereka untuk mengantar terapis yang biasa pijat kamu. Sekalian aku juga udah suruh bibi buat antar bubur ke kamar," jawab Fatan lalu mengelus pipi istrinya sangat lembut.


Nila mengangguk paham. "Makasih banyak ya, Mas."


"Sama-sama. Oh iya kalau gitu, aku mandikan Ara dulu ya. Setelah Ara rapi, baru deh aku mandi. Mending kamu istirahat, Sayang. Aku khawatir sekali kalau kamu sakit begini," ucap Fatan tampak tidak tega dengan istrinya.


Sementara Nila sampai tidak mampu berkata-kata lagi. Perempuan itu hanya diam sembari menyunggingkan senyum. Sebab hatinya begitu tersentuh ketika mendapatkan perlakuan yang penuh perhatian serta pengertian dari suaminya.


"Iya, Mas. Sekali lagi, Makasih banyak ya," ucap Nila merasa kagum.


"Sama-sama, Sayangku." Fatan memberi kecupan di kening sang istri. Lantas Nila pun pergi ke tempat tidurnya kembali. Sedangkan Fatan pergi ke kamar mandi untuk memandikan putri kecilnya.


"Ara, mandi sama Daddy ya. Nanti sambil main bebek-bebekan. Tapi jangan lama-lama oke? Soalnya Daddy takut Ara kedinginan." Suara Fatan dari dalam kamar mandi terdengar oleh Nila.


Setengah jam kemudian, Fatan telah selesai memandikan Ara, memberi susu sembari menidurinya. Sedangkan Nila tengah tidur sangat lelap.


Dia pun segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Pakaian yang telah dipersiapkan oleh Nila sebelumnya pun dipakai. Lumayan, bisa mempersingkat waktu. Tidak butuh waktu lama, dia pun telah siap.


Setelah itu, dia menghampiri Nila yang masih tertidur sangat lelap. "Istriku cantik, bidadariku ... Aku berangkat kerja dulu ya. Nanti aku tugasin salah satu pelayan rumah buat bantu kamu jagain Ara. Lekas sehat ya, Sayang." Fatan memberikan kecupan dia area wajah sang istri. Namun Nila hanya menggeliat tanpa terbangun dari tidurnya.


Ketika Fatan baru saja membuka pintu, seorang pelayan yang sebelumnya membuatkan bubur untuk Nila pun datang.


"Maaf Tuan. Bubur buat nyonya di taruh dimana ya?" tanya pelayan itu.


"Taruh aja di atas meja nakas ya, Bi. Sekalian saya minta tolong, bantu istri saya buat jagain Ara. Jam setengah sepuluh nanti akan ada terapis buat pijat istri saya," pinta Fatan dengan suara pelan, supaya tidak mengganggu istirahat Nila dan juga Ara.


"Baik, Tuan."


"Oke, terima kasih." Fatan pun bergegas pergi ke ruang makan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Sebab dia tidak biasa sarapan di kantor yang menurutnya kurang nyaman.

__ADS_1


Saat tiba di ruang makan, Fatan menyapa ayah, bunda serta ibu sambungnya. Dia tidak melihat keberadaan Elisa, anak-anak Elisa serta keluarganya Elea. Mungkin mereka sudah berangkat, pikirnya demikian.


"Pagi semua," sapa Fatan seraya menarik kursi dan menaruh jas sert tas kerjanya ke atas kursi kosong di sebelahnya.


"Pagi," sahut mereka bersamaan.


"Loh kok kamu sendirian, Nila sama Ara mana?" tanya Lalisa. Perempuan itu baru saja selesai makan, begitupun yang lainnnya.


Fatan mengambil 2 lembar roti tawar lalu membuka tutup topples selai coklat kacang. "Nila lagi gak enak badan, Bun. Suhu badannya sih sedikit demam, ada pusing sama mual juga. Tadi aku udah minta tolong bibi buat buatin bubur dan bantu Nila jagain Ara." Dia menyantap sarapannya.


"Astaga. Ya udah nanti Bunda lihat deh ke kamar. Tapi pagi ini Bunda mau temenin ayah kontrol ke rumah sakit," pekik Lalisa.


"Gak apa-apa, Bun. Tadi sih Nila minta dipijat sama terapis langganannya di salon. Paling kalau nanti makin parah, aku mau Nila ke rumah sakit," timpal Fatan sesaat setelah mengunyah lalu menelan rotinya.


"Oh seperti itu, ya semoga aja sih gak lama ya, Yah?" harap Lalisa seraya menatap suaminya.


"Iya Fatan, kamu gak usah khawatir. Kan ada Ibu juga. Nanti Ibu bantu Nila," sahut Wiwi, istri pertama Wicak.


Fatan menoleh lalu tersenyum pada Wiwi. "Makasih banyak, Bu. Maaf ya ngerepotin."


"Gak apa-apa, Nila juga menantu Ibu," tambah Wiwi.


Wicak pun tersenyum melihat keluarganya tentram dan penuh kedamaian. Hal itulah yang membuat dirinya semangat untuk bisa pulih seperti sedia kala.


"Baiklah kalau gitu, aku pamit dulu ya semuanya. Permisi." Fatan beranjak dari tempat duduk, lalu menunduk hormat pada mereka.


"Iya, hati-hati di jalan."


...----------------...


Sesampainya di kantor tepat pukul 8.15. Fatan telat 15 menit. Beruntung kondisi lobby sedang sepi, jadi tidak banyak orang yang melihat kedatangannya. Hanya ada dua orang resepsionis, serta beberapa orang yang berlalu lalang. Mereka pun menyapa Fatan.

__ADS_1


Hari ini, Fatan hanya bekerja sendiri tanpa didampingi oleh Rusli. Hal itu dikarenakan Rusli masih mengambil cuti nikahnya selama 2 minggu.


Fatan langsung masuk ke ruangannya lalu mulai bekerja.


__ADS_2