
Semalam Fatan merasa sangat lelah sekali. Selama lima hari, lelaki itu benar-benar belajar banyak dengan diadakannya kegiatan pelatihan tersebut.
Tak disangka, karena terlalu lelah. Pagi ini Fatan sampai sulit sekali bangun dari tempat tidur. Dia merasa sangat nyaman, apalagi suhu di ruangan itu terasa sejuk.
Ponsel yang tergeletak di atas meja nakas kecil, dibiarkan dalam keadaan mati. Namun Fatan tidak sengaja mematikan ponselnya, melainkan dia tidak sempat untuk mengisi daya. Sungguh, tubuhnya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Fatan merasa butuh Nila.
.
.
.
.
Di kediaman Wicak, Nila yang masih berada di dalam kamar ssperti biasa berniat memanggil suaminya melalui sambungan telepon. Hal itu dilakukan supaya dirinya tahu kalau sang suami benar-benar sudah bangun atau belum.
Akan tetapi, Nila hanya mendapat jawaban dari operator telepon yang bilang kalau nomor Fatan sedang berada di luar jangkauan.
"Gak biasanya ponsel mas Fatan pagi-pagi sulit dihubungi. Biasanya terhubung terus," gumam Nila bermonolog.
Perempuan itu mondar-mandir di depan tempat tidur. Hatinya merasa gelisah.
"Kalau aku nyusul ke sana, gak apa-apa kali ya?" sambungnya lalu mengelus perut buncitnya sendiri dan berbicara pada janinnya, "Adek, ikut Emom ketemu Daddy ya. Adek baik-baik di dalam."
Usai sarapan, Nila kembali ke kamar untuk mengambil tas. Setelah itu ia bergegas keluar dari kamar. Namun ketika hendak menuruni anak tangga, ponsel Nila berdering.
"Siapa yang telepon ya?" gumamnya sambil membuka tas lalu mengeluarkan ponsel. Nila melihat nomor asing yang tertera pada layarnya. "Hah? Nomor siapa ini?" sambungnya lalu menjawab panggilan itu.
"Halo?" Nila menyapa lebih dulu.
"Ha-lo ... Sayang." Suara parau seorang laki-laki langsung menyahut dari seberang telepon.
"Mas? Ini Mas Fatan?" tanya Nila mulai panik. Sebab ia merasa yakin kalau suara laki-laki itu adalah suaminya.
"I-ya. Aku kok gak enak ba-dan ya?"
__ADS_1
"Mas Fatan sakit? Aku susul ya ke sana? Aku pesan tiket sekarang." Nila tidak ingin berlama-lama. Ia bergegas menuruni anak tangga.
"Gak u-sah, aku takut kamu kelelahan, Sa-yang ...."
"Gak bisa, Mas. Aku gak yakin kamu bisa sendiri. Suaramu aja udah lemas banget kedengarannya," bantah Nila. Lantas ketika dirinya sudah berada di ruang tamu, datang Lalisa yang baru saja masuk ke dalam rumah. Keduanya saling berpapasan.
Sementara Fatan tidak menjawab lagi karena sudah terlalu lemas, kemudian Nila pun memutuskan sambungan telepon itu.
"Kamu mau kemana, Nila?" tanya Lalisa menautkan kedua alisnya.
"Mau menemui mas Fatan, Bun. Tadi dia telepon, dia bilang badannya gak enak. Aku takut dia kenapa-kenapa, Bun." Tidak bisa dipungkiri walau sebisa mungkin Nila berusaha tenang, tetap saja kekhawatirannya tersirat dari sorot matanya.
"Kamu sendirian ke sana? Bunda temani ya?" usul Lalisa. Pun Nila seketika menggelengkan kepala.
"Nila minta izin buat berangkat sendiri ya, Bun? Nila gak mau Bunda kelelahan. Lagipula, Bunda 'kan baru aja sampai rumah. Masa mau pergi lagi?" tolak Nila secara halus.
"Kamu yakin? Sekarang jadi Bunda yang khawatir sama kamu dan calon cucu Bunda ... Atau kamu ajak adikmu aja bagaimana?" Lalisa mengusulkan lagi.
"Tiva masih kerja Bun kalau jam segini. Nila beneran koo gak apa-apa. Bunda tenang aja ya, Nila juga bakal jagain baby di perut baik-baik," ucap Nila mencoba meyakinkan Lalisa.
Nila menganggukkan kepala. "Iya, Bun ... Nila paham. Kalau gitu, Nila berangkat sekarang ya, Bun?" pamitnya kemudian.
"Iya hati-hati di jalan ya. Salam buat ayah, Bye Bunda!" seru Nila lalu berjalan keluar dari rumah menuju tempat dimana mobil yang biasa digunakan anggota keluarga Wicak.
.
.
.
.
Sesampainya di bandara, Nila akhirnya bisa mendapatkan tiket pesawat menuju Bali dengan kelas VIP. Hal itupun berkat bantuan satpam bandara, meningat dirinya sedang berbadan dua.
Tiba di dalam pesawat, Nila memposisikan duduknya senyaman mungkin. Walaupun jalan dari Jakarta menuju Bali tidaklah sebentar. Sepanjang perjalanan menuju kota tujuan, Nila memilih memejamkan mata guna menenangkan pikiran.
__ADS_1
Tak terasa pesawat yang Nila tumpangi bisa mendarat lancar di bandara internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Nila berdiam diri beberapa saat sambil memulihkan kesadarannya. Setelah itu, barulah ia turun dari kabin pesawat.
Nila tidak menunggu terlebih dahulu ke area ruang tunggu untuk mengambil barang yang dititipkan di bagasi. Ia langsung keluar dari pintu kedatangan, kemudian mencari taksi.
Usai menemukan taksi yang kosong, Nila membuka rangkaian pesan dari Rusli kemarin. Diantaranya berupa alamat hotel yang ditempati oeleh sang suami. Ia juga memberitahukan alamat itu kepada sopir taksi.
Nila menyandarkan punggunggnya demi memberikan kenyamanan atas dirinya sendiri. Santai san relaks.
Hampir tiga puluh menit perjalanan dari bandara ke hotel, Nila pun akhirnya sampai. Ia memastikan lagi kalau alamat hotelnya sudah benar atau belum.
Akan tetapi, saat Nila baru saja menutup pintu mobil taksi. Ia melihat seseorang yang dikenalinya duduk dalam keadaan lemah di atas kursi roda.
"Mas Fatan?" lirih Nila dengan suara sangat pelan dan hanya bisa didengar oleh diri sendiri.
Lelaki yang duduk di kursi roda itu tidak sendiri, melainkan bersama seorang perempuan.
"Dia siapa?" gumamnya. Nila hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri Fatan serta bertanya lebih banyak kepada perempuan itu. Namun sayangnya, perempuan yang bersama Fatan tampak buru-buru masuk ke dalam mobil. Tak lama setelah itu mobil iti berjalan.
Beruntung mobil taksi yang tadi sempat dinaiki oleh Nila masih ada. Nila bergegas masuk ke dalam mobil.
"Pak ikuti mobil di depan ga!" pintanya. Nila mendadak kalut serta bertanya-tanya. "Siapa perempuan itu? Kenapa dia terlihat dekat sekali? Apa dia teman satu pelatihannya? Tapi keakraban mereka membuatku semakin bingung."
Beberapa menit berlalu, Mobil yang dinaiki baik Fatan maupun Nila sampai di rumah sakit bersamaan. Nila segera membayar tarif taksi itu dan kemudian turun dari kursi penumpang.
Akan tetapi, ketika Nila baru saja turun, Fatan sudah tidak ada lagi di depan pintu utama ruangan instalasi gawat darurat. Nila mencari ke sekeliling tirai yang tertutup semua.
Nila yakin salah satu pasien yang ada di dalam tirai itu, pasti ada Fatan. Tak lama kemudian ada seorang perempuan keluar dari salah satu tirai tersebut. Nila berpikir dan mencoba mengingat perempuan itu lagi.
Namun Nila tidak menghampiri perempuan itu, melainkan langsung pergi ke tempat dimana dia keluar.
"Ocha ...."
Satu kata itu membuat Nila tersentak. Baru beberapa hari berjauhan dengannya, lelaki yang masih berada di balik tirai itu sudah memanggil nama perempuan lain. Pikiran Nila semakin laut, pun ia mendadak tremor. Hatinya terasa panas bagai air mendidih. Tidak ingin terbawa emosi, Nila langsung menyingkap tirai itu.
Seorang lelaki yang terbaring lemah di atas tempat tidur langsung membulatkan matanya lebar-lebar. Nila yang melihat itu hanya menyunggingkan senyum penuh seringai ke arahnya sambil melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
"Kenapa? Kaget ya?"