
Matahari mulai tenggelam, jam pulang kantor telah selesai sejak tiga puluh menit yang lalu. Akan tetapi, Lativa baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia segera merapihkan meja kerja serta tidak lupa mematikan laptop. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya.
"Ibu?" gumamnya lalu membuka layar ponsel.
Ibu : Tiv, lagi dimana? Kok jam segini belum pulang? Macet ya?
^^^Me : Masih di kantor, Bu. Kerjaan Tiva baru selesai. Ini mau pulang kok.^^^
Ibu : Ya udah. Hati-hati di jalan ya.
^^^Me : Iya Bu.^^^
Ketika melihat ke sekeliling ruangan, Lativa baru sadar kalau hanya dirinya yang pulang paling akhir di ruangannya.
"Cukup melelahkan juga ya menyelesaikan laporan yang diminta dadakan itu," gumanmya sambil meregangkan otot leher yang terasa kaku sampai terdengar bunyi kretek. Setelah selesai, Lativa beranjak dari tempat duduk seraya meraih tasnya.
Sebagian lampu yang ada di ruangan itu memang sudah banyak yang dimatikan. Namun berbeda dengan lampu yang berada di sepanjang lorong menuju pintu keluar. Lampu-lampu di sana akan otomatis menyala ketika sensor mendeteksi adanya keberadaan orang yang lewat.
"Sepi juga ya kantor, kalau jam segini," ucapnya dalam hati. Lativa mempercepat langkahnya berjalan di sepanjang lorong menuju pintu keluar. Dia agak sedikit takut sebenarnya, tapi akhirnya bisa juga melewatinya. Sebelum keluar, Lativa menekan tombol absen dengan ibu jarinya.
Saat tiba di lobby, Lativa tidak sengaja bertemu dengan Rusli yang baru saja keluar dari pintu lift.
"Selamat sore, Pak," sapa Lativa seraya menunduk hormat dan tersenyum.
Disisi lain, hati Rusli seakan meleleh layaknya es batu bila di taruh pada suhu ruang yang cukup hangat. Lelaki itu membalas senyuman serta sapaan Lativa.
"Sore. Loh Tiv, kamu baru pulang?" tanya Rusli kemudian. Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, Rusli juga cukup tampan.
"Iya, Pak. Tadi ada pekerjaan yang harus selesai hari ini. Soalnya gak mungkin juga kalau saya bawa pulang ke rumah. Karena takut keburu ketiduran," jawab Lativa yang disertai kekehan kecil.
"Oh begitu rupanya ... Mau saya antar pulang gak? Ya, mungkin kita bisa ngobrol sekalian makan malam gitu?" usul Rusli. Wah, wah, ada keberanian juga Rusli bilang seperti itu, sampai lancar pula tanpa hambatan.
"Um, maaf Pak bukannya saya mau nolak rezeki. Tapi Pak Rusli udah baik banget sama saya. Kayaknya saya mau langsung pulang aja, Pak. Takut ibu udah masak juga, nungguin mau makan malam bareng," tutur Lativa. Ia merasa tidak enak hati dengan ajakan Rusli tersebut.
"Iya juga sih, tapi kalau saya ke rumah kamu gimana? Ya sekalian mau kenalan sama ibu kamu," usul Rusli lagi. Sepertinya dia mulai gencar melakukan pendekatan. Mungkin kepada Fatan dan Nila bisa bernegosiasi, tapi kalau pada ibunya Lativa bisa jadi harus ekstra sabar.
__ADS_1
Lativa semakin bingung. Disatu sisi, ia tidak mau kalau ibunya itu salah paham dengan kedatangan Rusli. Tetapi disisi lain, sebenarnya Lativa senang.
"Tenang aja, aku ... Maksudnya saya hanya ingin berkenalan aja sama ibu kamu. Tak kenal, maka tak sayang bukan?" Aih! Pintar juga Rusli merayunya. Amboy!
"Memangnya Pak Rusli juga mau pulang?" tanya Lativa.
"Iya dong, saya biasa pulang jam segini."
"Oh begitu, Pak."
Karena semakin merasa tidak enak hati, Alhasil Lativa pun menerima usul dari Rusli.
"Baik, Pak. Kalau gitu mari!" ajaknya. Lantas Rusli pun menyuruh Lativa untuk berjalan lebih dulu.
Rusli mengikuti mobil yang dikendarai oleh Lativa. Memastikan kalau perempuan itu tetap aman dalam pengawasannya, walau sebenarnya Rusli sudah tahu kediaman Lativa.
Saat hampir dekat dengan komplek kediaman Lativa, Rusli membelokkan mobilnya terlebih dahulu pada sebuah toko roti.
"Selamat malam, mau cari kue apa Tuan?" sapa pelayan itu dengan ramah.
"Boleh, mari ada di sebelah sini Tuan." Pelayan itu menunjukkan etalase khusus diletakkannya cake-cake tersebut.
"Saya pilih ini, ini dan juga ini," kata Rusli sambil menunjuk cake yang dipilihnya. Pelayan itu segera mengemasnya ke dalam wadah premium khusus cake tersebut.
"Ada lagi Tuan?"
"Gak ada, itu aja."
"Baik, silahkan tunggu di kasir ya."
Rusli langsung pergi ke kasir untuk membayar cake yang dibelinya. Setelah itu, barulah dia melanjutkan kembali perjalanannya menuju kediaman Lativa.
.
.
__ADS_1
.
.
Sementara itu, Lativa yang sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah, merasa heran saat melihat ke belakang tidak terlihat mobil yang dikendarai oleh Rusli. Lativa hanya menghela napas.
"Apa semua lelaki sama aja?" gumam Lativa sepintas menganggap Rusli itu hanya sekadar memberi harapan padanya. Lativa pun turun dari kursi kemudi, kemudian mengunci mobilnya dengan menekan satu tombol di tangannya.
Lativa tidak mau membung waktu, ia ingin segera mandi dan makan malam bersama ibunya. Namun saat dirinya akan melangkah, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.
"Lativa, tunggu!"
Awalnya Lativa tidak menghiraukan, tapi setelah mendengar suara itu ia terkejut. Ia mendadak menghentikan langkahnya. Detak jantungnya pun seketika begitu cepat seperti genderang saat akan perang. Ia mencoba bersikap biasa saja lalu berbalik badan.
"Ada apa? Berani juga kamu menemui aku di sini," tanya Lativa ketus. Tatapannya sangat tajam mengarah pada lelaki yang kini berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Aku cuma mau kamu kembali," jawab lelaki itu sangat tenang dan percaya diri. Ya, lelaki itu adalah Antony. Sepertinya dia belum jera juga.
"Gak mau! Jangan maksa deh! Asal kamu tahu, sebentar lagi kita udah gak ada hubungan apapun!" tekan Lativa sangat tegas.
"Sampai kapanpun, aku gak akan pernah ngelepasin kamu. Kalau kamu tetap ingin lepas, maka aku akan tetap mengawasimu!" Antony berbalik mengancam Lativa.
"Silahkan aja. Aku gak takut!" sahut Lativa sangat percaya diri, tangannya sengaja dilipat bersilang dada. Tatapannya kian tajam. "Dengar ya Antony, dari awal hubungan pernikahan ini tuh udah salah. Anak yang telah kamu bunuh itu, akan menjadi saksi kalau ayahnya memang gak pernah mengharapkan kehadirannya di dunia. Kisah kita udah lewat. Masa depanku udah hancur sama kamu. Tapi aku masih bersyukur karena Tuhan masih kasih aku setitik harapan supaya aku bisa bangkit. Dan aku mau, kamu pergi dari hidupku selamanya!"
"Hahahaha ...." Antony terbahak sangat puas. Apa yang diucapkan Lativa tadi, seperti sebuah candaan belaka baginya. Lelaki itu mulai berjalan menghampiri Lativa secara perlahan.
Melihat itu terjadi, pun Lativa ikut mundur. "Mau apa kamu?" tanyanya mulai panik.
Tak diduga, tiba-tiba saja sebuah tangan menepuk punggun Antony. Hal itu membuat Antony menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.
Bug!!!!!!
Satu tinjuan berhasil dilayangkan oleh orang itu. Sementara Lativa terkejut sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Aaah!"
__ADS_1