Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 159


__ADS_3

"Sayang, kamu harus kuat ya. Aku yakin kamu pasti bisa!" Fatan menyemati istrinya. Lantas Nila pun menganggukkan kepala seraya tersenyum.


Sepuluh menit berlalu, seorang perawat yang menunggakan alat pelindung diri datang. Dia juga membawa sebuah bankar berisi alat-alat kesehatan. Diantaranya tabung penyimpanan darah, serta jarum suntik. Dia juga melakukan menyuntikan menggunakan sarung tangan steril.


"Dengan Nyonya Nila Anastasya?" Perawat itu membaca nama Nila dari selembar kertas yang dibawanya juga.


"Iya, Sus," jawab Nila.


"Diambil darahnya dulu ya, Nyonya," kata perawat itu sambil mempersiapkan jarum suntik yang akan dipakai. Setelah itu, dia memasangkan sebuah ban pengikat yang berguna untuk melihat urat nadi yang ada di lengan kanan Nila. Tidak butuh waktu lama, perawat itu sigap menyuntikkan jarum itu ke nadi yang telah terlihat. Lantas Nila pun tidak merasakan rasa sakit berlebih dan hanya seperti gigitan semut saja. "Sudah selesai." Dia menaruh darah yang telah diambil ke dalam tabung. Lalu memberi tisu bercampur alkohol pada bekas suntikan.


"Tuan, Nyonya ... Hasil laboratorium akan keluar sekitar dua puluh menitan lagi. Nanti nama pasien akan tertera di layar depan konter pengambilan data ya, permisi," tambahnya, setelah itu dia pergi sambil membawa bankar tadi.


"Baik, Sus," sahut Fatan.


"Mas, aku lapar," ucap Nila lirih.


"Kamu mau makan apa? Biar nanti aku yang belikan." Tiba-tiba Fatan berpikir. "Tapi kalau aku pergi, kamu gak apa-apa disini sendiri?" tanyanya dengan sorot teduh. Lelaki itu tampak tidak tega melihat istrinya yang sedang terbaring sakit.


"Aku gak apa-apa kok, Mas. Kan aku masih pegang ponsel. Nanti kalau ada apa-apa, aku bisa hubungi kamu," kata Nila berusaha meyakinkan suaminya.


"Oke deh, memangnya kamu mau makan apa?" tanya Fatan lagi.


"Aku mau bubur ayam yang ada di depan rumah sakit. Tadi pas lewat kelihatannya enak," jawab Nila merasa tergiur ketika mengingat penjual bubur ayam gerobakan di pinggir jalan raya, tepat di depan rumah sakit.


"Loh, memangnya kamu lihat, Sayang? Soalnya tadi aku nggak sadar kalau ada penjual bubur ayam," tukas Fatan seingatnya.


"Lihat, Mas. Minta tolong ya beliin," pinta Nila sambil merengek dan menggoyang-goyangkan lengan sang suami.


"Iya, Sayang ... Iya. Ya udah kamu tunggu disini sebentar ya. Aku keluar dulu beli bubur buat kamu." Nila tersenyum lalu mengangguk patuh. Lantas kemudian Fatan pun pergi.

__ADS_1


Tidak sampai 10 menit, Fatan pun datang membawa beberapa buah kantung plastik warna putih. "Taraaaa!" Lelaki itu mengangkat benda yang dibawanya diiringi dengan senyum semringah.


"Waaah." Mata Nila seketika berbinar. "Penjualnya beneran mangkal, Mas?" tanyanya kemudian. Dengan hati-hati ia merubah posisinya dari terlentang, menjadi duduk kembali.


"Iya dong!" sahut Fatan dengan bangganya. "Ayok makan dulu. Biar aku yang suapin ya," sambungnya lalu mengeluarkan makanan itu dari dalam kantung plastik. Dia tidak hanya membelikan bubur ayam saja, melainkan ada minuman dan juga camilan.


Namun ketika satu sendok bubur beserta kondimen lainnya tercampur dan masuk ke dalam mulut, Nila mendadak mengalami mual yang sangat hebat. Kepala bagian belakannya bahkan terasa seperti ketarik.


Dengan cepat Nila menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia segera mencari wadah untuk memuntahkan isi yang ada di dalam mulutnya. Setelah kalang kabut mencari, Nila akhirnya memakai salah satu kantung plastik tadi.


"Huweeeek!"


Fatan sampai tercengang ketika Nila berhasil memuntahkan makanan tadi ke dalam kantung plastik itu.


"Sayang, apa buburnya gak enak?" tanyanya heran. Lelaki itu kemudian mencobanya sendiri. Namun setelah dirasakan oleh indera pengecapnya, tidak ada yang aneh dari rasa bubur itu. "Oke kok rasanya. Enak malah."


Nila menggelengkan kepala lalu merebahkan tubuhnya kembali. "Kayaknya bukan bubur itu yang gak enak, tapi memang mulutku rasanya aneh sekali. Setiap makanan yang masuk gak bisa langsung tertelan tanpa menutup hidung terlebih dahulu. Maaf ya, Mas aku jadi muntah," keluhnya dengan wajah murung.


"Ya udah gini aja, daripada buburnya gak kemakan, lebih baik aku yang makan. Oh iya aku tadi sempat belikan camilan roti kesukaan kamu, siapa tahu ini masuk ke perut kamu, Sayang," usulnya lalu menyodorkan camilan itu kepada istrinya.


Namun entah kenapa baru mencium aroma dari roti itu saja, Nila mendadak tidak suka. Padahal aroma tiramisu itu adalah yang paling disukainya.


"Nggak, Mas. Buat kamu aja. Aku jadi tambah mual, padahal baru menghirup baunya aja," tolaknya senbari menutup hidung


Akhirnya semua makanan yang tadi dibeli oleh Fatan, pun dimakan sendiri.


Tidak terasa setengah jam berlalu. Seorang perawat datang membawa sebuah amplop berwarna putih ditangannya. Bisa dipastikan, amplop itu adalah hasil tes darah yang tadi sempat Nila lakukan.


"Maaf, mengganggu waktunya Tuan, Nyonya. Ini saya bawakan hasil tes tadi. Mengenai hasilnya, sebentar lagi dokter akan kesini," ucap perawat itu lalu memberikan amplop itu kepada Fatan.

__ADS_1


"Terima kasih, Sus."


"Sama-sama. Kalau gitu saya permisi ya Tuan, Nyonya." Perawat itu pamit pergi.


Tidak lama berselang, dokter yang sebelumnya memeriksakan kondisi Nila pun datang kembali.


"Bagaimana? Hasilnya sudah ada?" tanya dokter itu ramah.


"Udah, Dok. Tapi belum kami buka," jawab Fatan menunjukkan amplop yang diberikan oleh perawat tadi.


"Baik, kalau begitu boleh saya pinjam hasilnya? Biar sekalian saya bacakan," pinta dokter itu lalu Fatan memberikannya.


Fatan menoleh ke arah sang istri, kemudian sebelah tangannya mengelus lemput kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Dari sorot matanya seolah menyemangati Nila.


Beberapa saat kemudian, dokter itu mulai bicara. "Tuan, Nyonya ... setelah saya lihat hasil tesnya, ternyata tidak ada penyakit apapun yang berarti yang Nyonya alami. Tetapi justru saya akan bilang selamat untuk kalian berdua. Bahwasanya saat ini Nyonya sedang mengandung."


Kaget, kelu dan mematung beberapa saat. Itulah yang Fatan dan Nila rasakan ketika dokter memberitahukan hal tersebut. Keduanya benar-benar tidak menyangka. Terlebih Ara baru saja menginjak usia 9 bulan, yang nomalnya masih butuh ASI serta sedang belajar merangkak.


"Mas, apa ini mimpi?" tanya Nila menoleh ke arah sang suami.


Lantas wajah Fatan seketika berubah menjadi santai. "Aku rasa nggak, Sayang. Kan kita rajin, makanya jadi."


Disitu dokter yang mendengarnya langsung mengulum bibir karena menahan tawa. "Maaf Tuan, Nyonya. Mungkin untuk lebih akurat lagi. Saya akan memberikan surat rujukan ke dokter kandungan ya. Biar sekalian di periksa melalui USG. Mungkin ini baru awal kehamilan, jadi bisa sekalian konsultasi langsung pada ahlinya," saran dokter itu.


"Baik, Dok. Terima kasih banyak," balas Fatan, lalu dokter itu tersenyum seraya mengangguk.


"Sama-sama. Mohon tunggu sebentar ya, biar saya buatkan terlebih dahulu surat rujukannya."


"Baik, Dok."

__ADS_1


Dokter pun pergi dari hadapan mereka. Sementara Nila masih bergeming dan tampak syok mendapati kenyataan hidupnya saat ini.


"Sayang, kamu kenapa?"


__ADS_2