
Pagi di kota Jakarta yang mendung. Tanpa sang surya dan hanya ada awan kelabu diiringi petir yang kian bersahutan dan juga kilat. Suara rintik air mulai terdengar berjatuhan di atas atap rumah.
Lantas perempuan yang sedang duduk di depan cermin itu hatinya merasa cemas. Mengingat jarak antara rumah menuju gedung pengadilan itu cukup jauh. Apalagi ditambah cuaca yang kurang mendukung, bisa jadi akan ada kemacetan dimana-mana. Genangan air di jalan raya pusat ibu kota ini pun kerap melanda secara tak terduga.
Sesaat setelah itu, suara guyuran air berjatuhan terdengar begitu deras.
"Kira-kira, lewat mana ya nanti? Jalan protokol pasti macet kalau udah hujan gini." Perempuan itu tidak lain adalah Lativa. Mulai hari ini dia akan cuti untuk mengurus proses perceraiannya serta ujian tertulis kejar paket.
Dia baru saja selesai merias wajahnya sealami mungkin. Jika dilihat sekilas mungkin riasan pada wajahnya itu menyerupai anak seusianya yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Namun memang pada dasarnya Lativa tidak menyukai riasan tebal dengan berbagai lapisan pada wajahnya.
Tok, tok, tok.
Lativa menoleh ke arah pintu lalu beranjak dari tempat duduknya. "Siapa?" tanyanya seraya melangkahkan kaki.
"Ibu, Tiv," sahut orang yang tadi mengetuk pintu.
Lativa segera menekan ke bawah gagang pintu kamarnya, supaya bisa terbuka. "Iya, Bu?" tanyanya kemudian.
"Kamu dapat jadwal persidangan jam berapa? Di luar hujan deras loh. Beberapa titik jalan utama ke gedung pengadilan pasti ada genangan air," kata Mirna merasa khawatir.
"Bu Puji bilang sekitar jam setengah sepuluh, Bu. Semoga aja hujannya bisa segera reda." Lativa melihat ke arah jam dinding yang terpasang di ruang keluarga. Karena letak kamarnya memang menghadap ke ruangan itu.
"Ya udah, tadi kakakmu sempat telepon ibu ... Katanya dia kemungkin agak mepet datangnya. Terlebih tempat tinggalnya 'kan lebih jauh kalau dari sana ke gedung pengadilan," timpal Mirna.
"Benar juga ya," gumam Lativa seraya berharap supaya hujan bisa segera reda.
__ADS_1
"Mending sekarang kamu cepat siap-siapnya. Habis itu kita sarapan," usul Mirna pada anak bungsunya itu.
"Iya, Bu. Tiva mau lanjut siap-siap lagi ya!"
Mirna menganggukkan kepala lalu Lativa masuk ke dalam kamar, dan ia pun lekas pergi dari sana.
Satu jam berlalu, Lativa dan Mirna sedang berada di jalan menuju gedung pengadilan. Hujan yang tadi sempat mengguyur begitu deras, akhirnya bisa reda juga. Sepanjang perjalanan itu, benar saja apa yang dikhawatirkan oleh Lativa. Jalan tikus untuk memotong rute ditutup sementara oleh petugas karena juga terendam banjir.
Alhasil, Lativa harus berada di jalur utama yang cukup padat. Sebab banyak pengendara yang berusaha menghindari genangan air dan lubang.
"Kapan sampainya kalau jalannya pelan banget kayak gini," keluh Lativa, sedangkan Mirna duduk santai sambil menyandarkan punggungnya.
.
.
.
.
"Bu Puji!" seru Lativa sambil melambaikan salah satu tangannya saat melihat Puji dari kejauhan.
Keduanya bertemu dan ini menjadi kali pertama bagi Mirna bertemu dengan Puji selaku pengacar Mirna. Mereka saling berjabat tangan serta saling bertegur sapa.
Setelah berkenalan, Puji mengajak Lativa serta Mirna masuk ke dalam. Namun ternyata lampu hijau yang terletak di atas pintu ruang sidang itu sudah menyala. Mereka pun masuk ke dalam.
__ADS_1
Ketika Lativa melangkah masuk, tidak sengaja matanya langsung melihat ke arah seorang laki-laki. Dia adalah Antony. Lelaki itu hanya datang bersama pengacaranya. Namun sikap Lativa hanya acuh pada Antony. Ia berharap setelah sidang perceraiannya selesai, dirinya tidak lagi bertemu ataupun bersitatap dengan laki-laki itu.
Sidang pun akhirnya di mulai. Nila yang datang bersama Lalisa, sudah hadir tepat beberapa detik sebelum hakim membuka jalannya sidang.
Beberapa saksi turut disertakan untuk mempercepat keputusan tanpa adanya mediasi. Berkat informasi tambahan dari Rusli, Antony tidak bisa berkilah. Karena semua bukti sudah jelas adanya.
"Dengan segala bukti yang tercantum bersamaan dilayangkannya gugatan, Saudari Lativa Anindita dengan Saudara Antony Darmasatria, saya nyatakan resmi bercerai. Dikarenakan penggugat tidak ingin ada mediasi, maka saya kabulkan. Kasus ditutup!" Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali. Orang-orang yang memihak Lativa bisa bernapas lega. Terutama sang ibu.
Sementara Antony, hanya menatap datar ke arah Lativa. Lelaki itu seakan belum terima dengan hasil putusan hakim. Keduanya kemudian berdiri lalu saling berjabat tangan sebagai tanda perpisahan.
"Terima kasih Antony, kamu telah memberiku banyak pelajaran hidup sampai aku berada di titik terendah. Sekarang, kamu bisa bebas meniduri perempuan manapun yang kamu mau. Kamu bisa bebas jalan dengan siapapun dengan uangmu sendiri. Karena memang asalnya, kita gak akan pernah bersama. Selamat tinggal," ucap Lativa lalu melepaskan tangannya.
Namun seketika Antony tahan. "Sejujurnya aku gak mau lepasin kamu, Tiv. Aku baru sadar tanpa kamu, hidupku berantakan. Tapi kalau memang bahagiamu itu tanpa aku, maka aku akan melepaskan. Dan satu hal lagi ... Jangan pernah bilang selamat tinggal, karena kita gak bakal tahu di waktu mana Tuhan akan mempertemukan kita lagi."
Mendengar ucapan Antony yang sangat manis didengar, membuat Lativa hanya tersenyum. Perempuan itu sudah tidak goyah lagi. "Carilah kebahagianmu, maka Tuhan gak akan mengembalikan waktu untuk bertemu dengan sedihmu ataupun orang yang udah kamu bikin sedih lagi. Permisi."
Lativa mengempaskan tangannya, dan terlepas dari ge genggaman Antony. Ia berbalik badan seraya mengembuskan napas lega. Kedua sudut bibirnya pun mengembang, tersenyum sebagai pelepasan yang sangat membahagiakannya. Ia berjalan menuju ibu, kakak serta mertua sang kakak.
"Akhirnya, langkahku ringan. Aku bisa tetap mencapai cita-citaku. Semoga, suatu hari nanti ... Akan ada seorang laki-laki yang datang bukan hanya menikahi demi sebuah status. Tetapi, bisa menjadi pasangan hidup dalam hal apapun."
Satu per satu mereka memeluk Lativa saling bergantian. Mengucapkan kata selamat. Kini perempuan yang sebentar lagi genap sembilan belas tahun itu sudah bergelar status janda.
Namun hal itu bukan masalah bagi Lativa. Sebab hidup akan terus berjalan. Hanya tinggal bagaimana dirinya mau bangkit dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi.
"Oh iya, karena udah mau masuk makan siang ... Gimana kita makan siang bareng?" usul Lativa dengan mata berbinar. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
__ADS_1
"Oke, let's go!" seru Nila lalu merangkul adik semata wayangnya.
Mereka pun pergi ke sebuah rumah makan yang tidak jauh dari gedung pengadilan itu. Sebagai tanda syukur, makan-makan kali ini akan dibayarkan semua oleh Lativa!