Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 80


__ADS_3

Fatan berjalan menghampiri pintu lalu membukanya. "Oh kamu rupanya," katanya saat melihat Rusli yang datang. "Masuk!" Ia mempersilahkan tangan kanannya itu masuk ke dalam ruangan.


Rusli pun menunduk hormat pada Nila, begitupun dengan perempuan itu sendiri. "Perkenalkan saya Rusli, orang yang bertugas sebagai tangan kanannya suami Anda. Mengingat kejadian kemarin, saya harap semoga Anda lekas sembuh, Nyonya," kata lelaki itu dan pintu di tutup kembali oleh Fatan.


"Salam kenal, saya Nila. Terima kasih doanya," balas Nila tersenyum simpul, dan Fatan pun ikut mengembangkan senyumannya meski hampir tidak terlihat.


"Rus, kita bicara di sana aja ya," cetus Fatan seraya menunjuk ke sebuah sofa yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur Nila.


"Sayang, aku bicara dengannya dulu ya," lanjut Fatan kali ini bicara pada istrinya. Sedangkan Nila hanya mengangguk setuju.


"Ada apa kau datang ke sini?" Fatan menatap serius pada laki-laki yang duduk tidak jauh darinya.


"Beberapa saat yang lalu, saya dapat informasi dari pengacara kalau nanti sore akan ada penyelidikan langsung oleh jaksa ke tempat kejadian. Dia juga bilang kalau kasus pembunuhan di negara ini akan tetap berjalan sampai putusan selesai, dan untuk di Indonesia sendiri ... Saya udah siapkan dua pengacara dengan dua kasus yang berbeda, yaitu tentang kebakaran di rumah dan kecurigaan tentang penyakit Anda yang mengarah ke kasus pembunuhan berencana. Tapi Bos ...." Rusli menjeda ucapannya, seketika Fatan menaikkan sebelah alisnya seakan menuntut Rusli untuk melanjutkan ucapannya lagi.


"Tapi barusan saat saya masih di lift, orang saya yang ada di perusahaan itu bilang kalau bagian keuangan dan data mengalami kerampokan besar-besaran. Pihak management bilang kalau pihak pemilik gak ada pergerakan, maka mereka akan mengundurkan diri dan menuntut uang pensiun lima kali lipat dan bisa jadi perusahaan akan bangkut total," beber Rusli sangat jelas.


Fatan mengusap kasar wajahnya. "Saya semakin penasaran dalang dibalik semua ini siapa. Oke lebih baik kita mulai susun rencana baru." Mereka pun berdiskusi panjang lebar.


Sementara, Nila yang mendengar pun sedikit syok dengan adanya berita itu.


"Ya Tuhan, Kau uji kami begitu bertubi-tubi. Bolehkah kami meminta untuk bisa dimudahkan segalanya?" ucap Nila dalam hati seraya menatap nanar ke arah suaminya yang tampak pusing dengan beban yang saat ini dipikulnya.


Air matanya sampai mengembang lagi. Dia harus benar-benar kuat. Sudah saatnya untuk bangkit.

__ADS_1


"Oh iya Rusli, apa kamu punya agen di Amerika?" tanya Fatan berniat untuk meminta bantuan lelaki itu.


"Amerika?" Fatan mengangguk. "Ada beberapa orang, tapi mereka udah hafal seluk beluk yang ada di benua itu."


"Bagus! Boleh saya minta bantuanmu?" Fatan menajamkan tatapannya, sehingga Rusli pun mau tidak mau mengiyakannya.


Fatan kemudian menceritakan tentang Lativa, ssrta keluarga Antony seperti apa yang pernah diceritakan Nila padanya.


"Bisa saya minta nomor ponsel adiknya nyonya, Bos? Soalnya saya perlu lacak dulu dari sana," timpal Rusli.


"Tunggu sebentar." Fatan beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri sang istri. "Sayang, kirimkan nomor handphone Lativa ke aku lewat pesan ya," pintanya saat sudah berhadapan dengan Nila. Lantas perempuan itu menganggukkan kepala lalu mulai melakukan yang diminta oleh Fatan.


"Udah, Mas," kata Nila dan Fatan segera mengecek ponselnya. Ternyata benar! Lelaki itupun kemudian mengecup kening Nila. Rusli pun menjadi salah tingkah sendiri saat melihat tingkah Fatan itu.


"Rus, udah saya kirim. Ada di pesan ya. Saya tunggu informasi dari kamu secepatnya," kata Fatan ketika sudah duduk kembali di sofa. Lantas setelah itu Rusli pun pamit dari sana.


"Ada apa Sayang? Kok lihatnya begitu?" tanya Fatan gugup.


"Tadi Rusli bilang ... rumah kebakaran itu rumah yang ditempati ayah sama bunda? Kok aku gak tahu?" Nila melihat Fatan sangat intens. Dia mencari sebuah kebenaran dari manik mata suaminya itu.


"Iya, Sayang ... Um, maaf aku belum beritahu kamu. Soalnya kejadian itu baru aja terjadi kemarin sebelum kamu ditemukan." Fatan terduduk lesu di kursi itu. "Jujur, aku gak tahu harus gimana. Kata Rusli ibunya kak Elisa dan Charma gak ada di sana. Tapi aku gak bisa langsung nuduh gitu aja. Semua itu seakan seperti kebetulan dan ... " Kali ini Nila dan Fatan saling menatap satu sama lain, sangat dalam dan keduanya sama-sama mencari sebuah ketulusan di dalamnya.


"Dan apa?" tanya Nila. Namun yang ia temukan justru hanya sebuah kesedihan di sana. Ia merasa tidak tega. Kedua tangannya kemudian meraih kedua tangan suaminya. "Cerita aja apapun yang mengganjal hati dan pikiranmu. Aku udah ada disini, di samping kamu. Percayalah, aku tanpa kamu bagai lentera tanpa cahaya. Aku pun akan sangat bahagia kalau kamu mau terbuka tentang segala hal padaku," sambung perempuan itu.

__ADS_1


Lantas sepasang mata lelaki itu seketika berkaca-kaca. Dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Tetapi satu hal yang dia sadari, dia sangat mencintai perempuan yang kini berada di depan matanya. Tak mampu berkata-kata, Fatan kemudian memeluk tubuh ramping sang istri sangat erat. Bahkan dia pun berkali-kali mengecup kepala istrinya, dan kemudian jatuhlah air matanya.


Nila membalas pelukan suaminya, menepuk punggung laki-laki itu sangat lembut. Perlakuan itu seperti sebuah 'magic'. Rasa yang berkecambuk di dalam diri Fatan berangsur hilang dan merasa jauh lebih baik.


"Gak apa-apa. Untuk seorang laki-laki bila dia menangis itu bukan berarti cengeng. Karena setiap orang pasti punya cara tersendiri buat meluapkannya. Dan aku ingin kamu jangan pernah ragu untuk menangis ... Aku tahu, beban yang sedang kamu pikul itu gak mudah."


Fatan melepaskan pelukannya lalu berganti menggenggam kedua tangan sang istri sangat erat.


"Kita hadapi masalah ini sama-sama. Dari awal aku membuat keputusan untuk mau menikah sama kamu, karena aku tahu ... Kamu butuh seorang perempuan sepertiku untuk bisa berjuang bersama menghadapi resiko yang akan kita hadapi di depan," sambung Nila lalu membe*lai wajah Fatan dari rambut hingga dagunya.


"Terima kasih banyak, Sayang. Aku semakin takut kalau kamu pergi dan ninggalin aku sendiri," ucap Fatan lalu memeluk Nila kembali. Tangis keduanya pun pecah.


Satu jam berlalu ....


Kondisi jiwa Nila dan Fatan sudah jauh lebih baik. Mereka merasa lebih kuat karena saling menguatkan satu sama lain.


"Mas, keadaan bunda sekarang gimana?" tanya Nila sesaat setelah dokter keluar dari ruangan itu.


"Aku belum menghubunginya, soalnya terakhir yang aku tahu bunda mengalami trauma yang cukup berat. Aku juga heran kenapa bisa seperti itu, padahal bunda yang aku kenal dia gak ada fobia apapun," jawab Fatan jujur.


"Terakhir Mas hubungi kapan? Coba sekarang tanyakan lagi, kalau memang udah boleh pulang, gimana kalau bunda tinggal sama ibuku?" cetus Nila yang tiba-tiba kepikiran seperti itu.


"Ah, iya kamu benar juga. Sejauh ini agennya Rusli yang memantau di sana gak ada orang mencurigakan sih," timpal Fatan baru teringat.

__ADS_1


"Iya coba tanyakan dulu."


Fatan mengangguk cepat, menyetujui usul dari istrinya itu kemudian membuka layar ponselnya untuk menghubungi Anji.


__ADS_2