
"Jangan pernah menghalangi keinginanku!" Charma menyodorkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Nila. "Selama ini ... semua orang di rumah ini selalu mengabulkan apa yang aku inginkan. Tapi kamu! ... Kamu membuat kak Fatan menghindar dariku! Aku benci sama kamu!" seru Charma lalu menangis. Namun tangisannya terdengar dibuat-buat, Nila menyadari itu.
Nila mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu tahu Charma? ... Cinta yang seharusnya tumbuh dihatimu itu bukan untuk memilikinya, tapi lebih kepada membiarkannya bahagia dengan pilihannya sendiri. Kamu sebagai saudaranya udah seharusnya mendukung, bukan malah menghalangi!" sahutnya. Namun tetap saja hati Charma bagai 'batu' yang sangat keras sekali. Terlalu keras kalau langsung dihantam, perlahan Nila mencoba menjadi 'air'. Sebab dengan begitu perempuan itu yakin kalau Charma akan berubah.
Siapa sangka? Charma justru malah tertawa sampai terbahak. "Haha ... aku tahu kamu bilang seperti itu, karena kamu memang perempuan pilihannya kak Fatan. Coba kalau bukan, kamu pasti tahu rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu bagaimana, bukan?"
Nila melipat kedua tangannya di dada. Ia tersenyum sinis pada Charma. "Kamu ini masih muda. Perjalananmu masih sangat panjang. Kalau kamu hanya terfokus pada satu orang yang kamu anggap duniamu, sedangkan dia nggak. Untuk apa kamu bertahan? Masih banyak laki-laki diluar sana yang jauh lebih baik. Kamu yakin 'kan kalau cinta itu buta? ... maka jangan mencintai orang hanya karena kekayaannya aja, tapi lihat dari hatinya, setulus apa dia mencintai kamu."
"Alaaah! Jangan sok benar kamu jadi perempuan! Harusnya kamu yang ngaca. Kamu dari kalangan biasa aja, kenapa bisa cinta sama kak Fatan? Pasti mau dapetin hartanya doang 'kan?" tukas Charma dengan amarah yang kian meletup-letup. Baginya apa yang diucapkan oleh Nila barusan sama sekali tidak berguna. Charma memang sedang benar-benar sulit untuk dinasehati.
Nila menggelengkan kepalanya. "Sepertimu, cinta itu buta. Sampai detik ini, aku masih mencintainya, di dalam sehat ataupun sakitnya. Aku ingin menemaninya sampai dia sembuh," balasnya dengan penuh percaya diri.
Tanpa mereka sadari, Fatan ada juga di sana. Bahkan bukan hanya laki-laki itu saja. Melainkan ada orang lain yang melihat serta mendengar perseteruan mereka.
"Bullshit! Aku gak percaya itu. Kamu pasti cuma ingin hartanya aja kan? Secara kak Fatan yang akan mendapat harta paling banyak diantara kami," kata Charma. Apa yang dikatalannya mulai tidak terkontrol. Mungkin karena hatinya merasa sakit saat melihat Nila masuk ke rumah ini diundang oleh Fatan. Bahkan Lalisa pun sangat menyambut kedatatangan Nila penuh suka cita.
"Terserah kamu mau percaya atau nggak, itu hak kamu," balas Nila lagi. Kali ini sikapnya jauh lebih santai ketimbang tadi. Ia semakin terlihat dewasa saat bicara dengan Charma. Karena kedua kakak perempuannya pun terkadang sulit mengimbangi amarah perempuan satu itu.
Melihat Nila tampak jauh lebih tenang ketimbang dirinya, Charma hanya bisa memandangi perempuan yang ada di depannya itu dengan tatapan sinis. Tak lama kemudian, Charma berbalik badan dan meninggalkan Nila begitu saja, sementara Nila pun tidak mencegahnya lagi.
Tak lama berselang, Nila berbalik badan dan hendak kembali ke ruang makan. Tiba-tiba, seseorang telah berdiri hanya berjarak beberapa langkah darinya.
"Eh, kamu ... Dari kapan ada disini?" tanya Nila tersenyum. Ternyata orang itu adalah Fatan.
"Sejak Charma pergi." Fatan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jogger yang dipakai olehnya.
__ADS_1
"Kenapa gak dikejar lagi?" tanya Nila sambil mendelik.
"Gak ah!" tolak Fatan. Ia pun melangkahkan kakinya lebih dekat lagi dengan Nila. Kedua tangannya pun dikeluarkan dari saku celana. "Aku maunya sama kamu," sambung laki-laki itu yang kemudian satu tangannya merangkul pinggang Nila dan satu tangannya lagi meraup salah satu sisi bagian wajah perempuan itu.
Sontak Nila pun terkejut dengan tingkah Fatan seperti itu. Debar dijantungnya semakin tidak terkendali. Nila hampir pingsan dibuat oleh laki-laki satu itu.
"Aku mencintaimu, Nila Anastasya," ungkap Fatan lalu memajukan wajahnya bahkan sangat dekat dengan Nila. Hingga saat ia ingin menyentuhnya, suara deheman laki-laki membuat mereka langsung membenarkan posisi kembali.
"Kalau memang cinta, menikahlah. Disini banyak CCTV loh ... " Suara itu sangat khas ditelinga Fatan maupun Nila. Siapa lagi kalau bukan Lalisa dan yang berdehem tadi yaitu ayahnya Fatan.
Kedua orang yang sedang dimabuk asmara itu hanya tersenyum malu dan tampak kikuk.
"Untung kami cepat datang ya, coba kalau nggak. Bisa-bisa mereka jadi tontonan orang yang ada di bagian CCTV deh," timpal ayahnya Fatan. Ia beserta Lalisa menghampiri tempat Fatan dan Nila berdiri.
Disisi lain Fatan terkejut melihat sikap sang ayah yang biasa acuh dan seolah tidak mau tahu, kini menjadi lebih bersahabat.
Kedua orang tuanya pun saling bertukar pandang seraya tersenyum.
"Kalau memang Nila adalah bahagiamu, lakukanlah. Restu kami menyertai kalian," ucap sang ayah lalu menepuk kedua bahu Fatan dengan tegas.
"Terima kasih Ayah, Bunda." Fatan memeluk kedua orang tuanya dengan penuh haru.
Begitupun dengan Nila. Perempuan itu ikut merasakan kehangatan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tua Fatan juga pada dirinya. Dalam hati pun ia berharap, "Semoga ibu merestui kami dan juga ayah yang udah tenang di alam sana."
"Kapan pernikahan kalian akan dilakukan?" tanya ayahnya, yaitu Wicak Darsono.
__ADS_1
Namun Fatan maupun Nila tidak langsung menjawabnya. "Yah, bisa gak kita obrolin tentang hal ini di ruang kerja Ayah aja? Sekaligus ada sesuatu hal yang mau Fatan kasih tahu ke Ayah," pintanya. Sebab saat ini ia merasa sedang berada di bawah ancaman.
Lalisa merangkul suaminya dan Wicak pun menoleh. Lalisa kemudian mengangguk seraya mengedipkan kedua matanya tanda setuju akan permintaan Fatan.
"Ya udah kalau gitu, yuk ke ruang kerja Ayah."
...----------------...
Mereka duduk bersama di sebuah sofa berbentuk huruf L. Fatan kemudian bercerita tentang penyakit dan praduga penyakitnya itu akibat pihak rumah sakit yang salah memberi obat padanya. Termasuk dengan dugaan adanya unsuk kesengajaan di dalamnya.
Awalnya Wicak tidak begitu yakin, sebab Wicak mengira kalau apa yang dilontarkan Fatan itu hanya sebuah ilusi saja. Namun tiba-tiba Wicak pun teringat kalau harta yang dimilikinya belum sempat dibagi kepada anak-anaknya. Semakin lama Wicak juga ikut sepemikiran dengan Fatan. Akhirnya Wicak menghubungi pengacaranya untuk segera datang ke rumah.
Disisi lain, Wicak juga tidak lepas tangan tentang apa yang terjadi pada Fatan saat ini.
"Ayah rasa kalau begini keadaannya, lebih baik kalian menikah tanpa ada acara besar. Sebab menunggu keadaan kondusif dan kondisi Fatan udah pulih, maka barulah kita mengadakan acara besar. Setuju 'kan?"
Fatan menoleh kepada Nila yang duduk disebelahnya, serta genggaman tangan mereka pun semakin erat. Nila mengangguk seraya mengerjapkan matanya.
"Iya, Yah. Kami setuju," jawab Fatan sangat yakin.
"Setelah kalian menikah nanti, mungkin lebih baik tinggal di Tiongkok terlebih dahulu untuk melanjutkan perawatan. Setelah udah benar-benar sembuh, barulah kembali ke sini, bagaimana Yah?" usul Lalisa lalu meminta persetujuan suaminya.
"Iya, itu saran yang bagus. Ayah dukung seratus persen. Kalian gak usah mikirin soal biaya, Ayah akan suruh orang-orang Ayah untuk mempersiapkan segala kebutuhan selama tinggal disana," kata Wicak.
"Terima kasih banyak Ayah dan Bunda," jawab Fatan dan Nila bersamaan.
__ADS_1
Selepas itu, Fatan dan Nila pamit dari hadapan Wicak dan Lalisa. Lantas mereka pun pergi menemui Mirna guna mendapatkan restu.