
Esok hari menjelang waktu pulang kantor. Lativa tiba-tiba mendapat pesan dari Rusli.
"Kita ketemuan yuk, tempatnya aku share location ya!"
Begitulah sekiranya isi pesan yang Rusli kirimkan pada Lativa. Tidak lupa disertakan peta online. Lativa yang membaca pesan itu hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Baik, Pak," balas Lativa pada pesan itu.
Tepat disaat bel pulang berbunyi. Lativa bergegas membereskan meja kerjanya. Pekerjaan yang belum sepenuhnya selesai pun tidak lupa untuk disimpan terlebih dahulu, dan membuat catatan kecil yang kemudian ditempelkan di atas laptop.
"Buru-buru banget sih, Tiv? Memangnya mau kemana?" tanya Betty saat melihat Lativa sedang sibuk membereskan meja kerja.
"Ada urusan, Bet." Saat mejanya sudah rapih, Lativa beranjak dari tempat duduknya. "Ya udah, aku duluan ya! See you tomorrow, bye," ucapnya sambil melambaikan tangan.
"Ya udah deh, bye. Hati-hati di jalan ya, Tiv!" seru Betty dengan suara yang sengaja dikeraskan karena Lativa berjalan sangat cepat sehingga sudah berada jauh di depannya.
Ketika sudah berada di lobby, seorang satpam menghampiri Lativa seraya menbawa sebuah bucket bunga di tangannya.
"Maaf Bu, tadi ada kiriman bunga lagi."
"Dari orang yang sama, Pak?" tanya Lativa sudah bersikap biasa saja bahkan kalau dilihat dari raut wajahnya, ia tampak malas sekali.
"Betul, Bu? Boleh saya bawa pulang lagi?" Satpam itu bertanya balik.
"Iya, Pak bawa pulang aja. Lagian saya gak butuh bunga itu. Mending diberikan pada anak Bapak aja ya? Supaya dia bisa segera sembuh," jawab Lativa sambil mengembangkan senyum tulus.
"Terima kasih, Bu," balas satpam itu merasa bahagia.
"Sama-sama. Ya udah saya pergi dulu ya, Pak. Mari," ucap Lativa lalu pergi dari hadapan satpam itu.
Tentang bucket bunga itu, adalah kiriman dari Antony. Selama tiga bulan terakhir Lativa menunggu proses perceraian dengan lelaki itu, Antony semakin gencar mendekati Lativa bahkan selalu menitipkan bucket bunga pada satpam yang ada di lobby.
Awalnya Lativa ingin membuang bucket bunga itu saat pertama kali tahu kalau pengirimnya adalah Antony. Tetapi satpam itu mencegahnya.
Hal itu disebabkan karena anak dari satpam itu sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Usut punya usut, anaknya itu suka sekali dengan bunga. Ya daripada dibuang begitu saja dan bucket bunga itu bisa jadi tidak murah, lebih baik Lativa berikan saja pada anak dari satpam tersebut. Hingga tepat di hari delapan puluh tiga, Antony masih saja mengirimkan bunga. Itu artinga sudah ada delapan puluh tiga pula bucket bunga yang datang setiap hatinya ke kantor tempat Lativa bekerja.
.
.
.
__ADS_1
.
Tiba di sebuah rumah makan. Lativa memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Namun ia tidak langsung turun, melainkan mencoba memanggil Rusli melalui sambungan telepon. Tidak lama panggilan itu terhubung, Rusli pun menjawabnya.
"Halo, Tiv. Kamu udah sampai?"
"Iya, Pak ... Saya di parkiran mobil. Pak Rusli dimananya ya?"
"Oh ya udah, saya ke depan pintu masuk ya."
"Oke, Pak."
Sambungan telepon itupun berakhir. Lativa menunggu sambil terus melihat ke arah pintu masuk rumah makan itu. Hanya dalam beberapa menit menunggu, Rusli pun terlihat. Lativa segera turun dari kursi kemudi, lalu berjalan menghampiri lelaki itu.
"Hai, Tiv!" sapa Rusli sambil mengangkat sebelah tangannya sebentar.
"Halo, Pak. Maaf ya baru sampai, tadi soalnya sempat terlewat."
"Iya gak apa-apa, ayok masuk!"
Lativa menganggukkan kepala lalu keduanya berjalan beriringan.
"Gak kok, aku juga baru sampai beberapa menit yang lalu," jawab Rusli jujur.
Tidak lama berjalan, mereka pun sampai di meja yang telah Rusli pesan sebelumnya.
"Kamu duduk dulu ya, biar saya panggil pelayan buat anterin buku menu," kata Rusli. Lantas Lativa pun mengangguk patuh.
Sementara Rusli pergi, perempuan itu melihat ke sekeliling suasana di rumah makan tersebut.
"Tempat makan ini nyaman juga, rapih walau bernuansa pedesaan. Pantas aja banyak pengunjungnya," gumamnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Rusli datang lalu duduk berhadapan dengan Lativa.
"Gimana, Pak?" tanya Latiba spontan.
"Gimana?" Rusli merasa bingun, tapi dengan cepat ia mampu menanggap yang dimaksudkan oleh Lativa karena perempuan itu menyiratkan lewat tatapan matanya. "Oh iya ... sebentar lagi pelayannya datang. Soalnya mereka katanya lagi kekurangan orang, jadi kita harus bersabar," pungkasnya.
Lativa mengangguk paham. "Oke, Pak."
"Tiv, gimana kesiapan kamu buat besok?" tanya Rusli. Sebab beberapa hari kedepan Lativa akan mengambil cuti untuk sidang perdana perceraiannya dengan Antony, serta ada ujian tertulis kejar paket supaya bisa mendapat ijazah sekolah menengah atas.
__ADS_1
"Ya, lumayan deg deg kan, Pak. Tapi bagaimanapun harus siap menghadapinya," jawab Lativa terlihat santai.
"Tapi kok yang aku lihat, kamu seperti gak ada beban ya?" timpal Rusli sambil meletakkan kedua tangannya ke atas meja.
"Maksudnya, Pak?" tukas Lativa merasa belum paham apa yang dimaksud oleh Rusli.
"Ya, kamu itu kelihatan santai. Gak terlalu mikirin, lurus aja gitu ... Ya, sebenarnya bagus sih. Itu tandanya kamu udah mampu mengelola emosimu sendiri." Rusli tersenyum bangga.
Lativa menghela napas lalu ikut tersenyum. "Ya, mungkin ini salah satu cara saya belajar buat membangun mental saya kembali, Pak. Saya yakin Pak Rusli tahu apa yang telah terjadi pada saya kemarin. Saya cuma gak mau, masa lalu itu menghambat perkembangan diri saya di masa depan."
"Betul, bagus sekali! Kamu hebat!" Rusli mengacungkan kedua ibu jari tangannya ke arah Lativa. "Gak semua perempuan bisa sepertimu, Tiv. Terkadang kita butuh egois demi kebahagiaan diri kita sendiri."
"Iya, saya pun begitu. Apalagi Tuhan lebih sayang anak saya, mungkin dengan saya kehilangan dia ... secara gak langsung Tuhan membuat saya belajar untuk sabar dalam sebuah penantian mendapatkan jodoh yang baik, biar gak lewat jalur instan lagi," kata Lativa lalu diakhiri kekehan kecil.
Disela perbincangan mereka, seorang pelayan datang menghampiri keduanya.
"Maaf menunggu lama, ini daftar menunya. Kalau sudah selesai, bisa panggil saya ataupun pelayan yang lain ya."
"Baik, terima kasih," ucap Lativa dan Rusli bersamaan.
Usai memesan makanan, keduanya melanjutkan perbincangan lagi.
"Oh iya, Tiv. Kalau boleh tahu, kalau misalkan kamu udah siap nih untuk menikah lagi ... Pengen kamu tuh cari suami yang seperti apa sih?" tanya Rusli dengan segenap keberaniannya.
Sontak Lativa sampai reflek terkekeh geli setelah mendengar pertanyaan Rusli tersebut. "Maaf, Pak." Ia menarik napas dan berusaha serius menanggapi pertanyaan itu supaya Rusli tidak tersinggung. "Selama ini saya gak pernah kepikiran mau nikah muda. Apalagi belum lulus sekolah, terus udah mengandung duluan. Jelas itu bukan cita-cita saya ... Rupanya Tuhan membuat takdir di usia muda saya seperti itu. Entah saya harus menyesal atau bersyukur. Kalaupun nanti saya udah siap baik mental dan juga finansial, saya hanya ingin siapapun yang akan menjadi suami saya itu ... Dia penyayang, lemah lembut baik sikap dan tutur katanya, dan satu yang terpenting yaitu ... saya merasa diratukan, bukan dibabukan."
"Kenapa seperti itu?" tukas Rusli masih mencoba memahami yang dikatakan oleh Lativa barusan.
"Bagi saya lebih baik sabar dan lelah dalam menanti jodoh yang tepat, daripada menikah dengan orang yang salah ... Karena itu jauh lebih melelahkan," ujar Lativa seraya mengembuskan napas panjang.
Beberapa detik lamanya keduanya saling diam. Rusli hanya melempar senyum pada Lativa, begitupun sebaliknya. Mereka tampak canggung. Seakan kehabisan kata-kata untuk mereka ungkapkan. Namun tidak lama setelah itu, makanan yang tadi dipesan pun datang.
"Um, kayaknya lebih baik kita makan dulu ya, Tiv. Obrolannya nanti kita lanjutkan lagi," kata Rusli lalu bersiap untuk menyantap makanan yang ada di depannya.
"Iya, Pak. Selamat makan!"
Obrolan santai tadi, membuat efek samping pada perasaan keduanya. Terasa aneh dan canggung. Sebab selama tiga bulan ini, Rusli memang lebih intens melakukan pendekatan pada Lativa. Baik dari segi komunikasi ataupun interaksi saat di kantor. Hanya saja, saat ini adalah kali pertama mereka jalan bersama.
Padahal Rusli sering sekali mengajak Lativa jalan bersama ataupun hanya sekadar makan siang pun malam. Tetapi perempuan itu selalu saja menolak dan seakan menjaga jarak. Selebihnya Rusli pun tidak ingin egois, karena memang status Lativa belum benar-benar berpisah dari Antony.
Entah setelah keputusan sidang esok hari. Akankah perasaan Rusli masih sama, atau justru berbeda?
__ADS_1