
Lalisa membulatkan matanya dengan sempurna ketika Fatan terus bertanya padanya.
"Bisa gak sih diam dulu? Bunda pusing daritadi kamu itu nanya mulu. Udah ikutin aja!" omel Lalisa.
Fatan akhirnya menurut apa kata sang bunda. Lantas keduanya pun turun dari mobil dan Lalisa berjalan satu langkah di depan Fatan.
Hingga sampai di depan pintu masuk menuju ruang rawat inap khusus perempuan usai bersalin, degub jantung Fatan seperti sehabis lari maraton.
"Bun, kita gak salah masuk sini? Memangnya siapa yang melahirkan?" tanya Fatan yang tiba-tiba merasa sangat gugup sekali.
Namun mengingat jam besuk sudah habis, seorang satpam yang berjaga di sana menghentikan langkah mereka.
"Maaf, Pak, Bu. Sekarang bukan jam besuk. Kalau kalian ingin membesuk pasien, silahkan kembali besok pagi dan sore."
"Oh, maaf, Pak." Lalisa tersenyum merasa tidak enak hati. "Kami bukannya mau membesuk, tapi mau bergantian berjaga. Di dalam sana ada keluarga yang mau saya ajak pulang dan lelaki yang ada di samping saya ini adalah suami pasien."
Mendengar Lalisa berkata demikian, Fatan langsung merubah posisi mengarah ke sang bunda dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Oh seperti itu, baiklah. Silahkan, tapi jangan lama-lama ya, Bu."
"Iya, Pak satpam tenang aja. Mari."
Lalisa langsung menarik tangan anaknya untuk segera pergi dari hadapan satpam itu.
"Bun, jangan ngadi-ngadi deh, Bu. Nila aja belum melahirkan. Nanti Nila tambah marah sama aku," ucap Fatan, tapi tidak digubris sama sekali oleh bundanya.
Lalisa terus terjalan hingga berhenti di depan pintu kamar kelas eksekutif di rumah sakit itu. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu membukanya perlahan.
__ADS_1
"Selamat malam," sapa Lalisa dengan suara sedikit berbisik. Melihat saat ini perempuan yang sedang bersandar di atas tempat tidur itu sedang menyusui bayi mungilnya.
Sontak Fatan langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat, karena saking terkejutnya. "Nila ..." ucapnya lirih. Sesaat kemudian air matanya mulai menggenang di kedua ekor mata.
Terharu sekaligus menyesal. Itulah yang tengah dirasakan oleh Fatan saat ini. Seharusnya dia tidak membiarkan Nila pergi begitu saja.
Tipe ruang open-space itu membuat Nila menyadari kalau pintu ruangannya terbuka. Perempuan itu tidak sengaja menoleh dan melihat kedatangan Lalisa bersama dengan seorang laki-laki yang sedang dihindarinya saat ini.
Sementara Mirna yang masih duduk di samping Nila pun justru menatap heran ke arah besannya. "Jeng, katanya beli camilan? Gak jadi?"
Lalisa mendadak kikuk. Padahal itu hanya alasannya saja supaya bisa membawa Fatan menemui Nila.
Lain halnya dengan Nila, segera ia memalingkan pandangannya dari sang suami dan memilih menatap buah hati yang baru saja dilahirkannya.
Lalisa berjalan lebih dulu menghampiri Mirna. "Jeng kita pulang yuk! Udah ada Fatan juga, biar dia yang begadang," ajaknya sambil menarik pelan tangan Mirna, supaya besannya itu bisa segera berdiri.
Sebelum beranjak dari tempat duduk, Mirna melihat ke arah jam dinding yang terpasang di sana. Memang benar, malam sudah semakin larut.
"Oh gitu, oke deh." Lalisa akhirnya mau menunggu.
Tak berselang lama, Lativa keluar dari toilet.
"Bu, kita mau pulang sekarang?" tanya Lativa saat melihat Mirna sudah beranjak dari kursi.
"Iya, Tiv. Udah malam. Lagipula udah ada nak Fatan disini."
Lativa pun menyadari keberadaan Fatan yang masih mematung di ambang pintu. Ia juga teringat akan pesan yang sempat Rusli kirimkan padanya sewaktu baru pulang dari kantor.
__ADS_1
"Oh ya udah, ayok kalau begitu."
...----------------...
Usai ketiga perempuan itu berpamitan pulang, kini tinggal Nila dan Fatan serta bayi mungil yang ada di dalam ruangan itu. Keduanya tampak canggung.
Fatan memberanikan diri mendekati sang istri yang baru saja selesai menyusui anak mereka. "Sayang ... Aku minta maaf atas kejadian hari ini."
Nila terhenyak beberapa saat, lalu bersikap biasa kembali. Namun perempuan itu masih diam, tatapannya masih asik memperhatikan setiap jengkal wajah sang putri di pangkuannya.
"Sejujurnya, aku sangat menyesal telah meninggalkanmu, membiarkanmu dalam kesalahpahaman dan ... Berjuang sendiri melahirkan anak kita," sambung Fatan. Lelaki itu menangis tersendu. Bahkan cairan yang keluar pun bukan hanya dari matanya saja, tapi dari lubang hidungnya juga.
Sambil terisak, Fatan melanjutkan ucapannya lagi. "Aku salah. Gak seharusnya aku menutupi tentang kita dari Ocha. Tapi, semua udah aku luruskan. Berharap, dia pun gak akan mengganggu keluarga kecil kita lagi." Biar saja Nila menganggapnya cengeng karena menangis, nyatanya dia memang benar-benar tulus.
Sementara itu, dengan sangat hati-hati Nila menaruh putri kecilnya ke dalam box bayi. Lantas ia menarik napas sangat dalam, dan mengembuskannya perlahan. Emosinya sudah tidak setinggi di awal. Meski masih ada kesal, Nila mencoba tetap bersikap dan berpikir dewasa.
"Mas .... " Nila menatap Fatan dengan raut wajah datar. "Aku salut kamu bisa mengakui kesalahanmu. Tapi ada satu yang masih mengganjal di hatiku tentang dia ... Seberapa besar sih pengaruhnya dia di masa lalu kamu? Apa dia termasuk orang yang berarti di hidup kamu dulunya?" Tenang, ia berusaha mengelola emosi di masa-masa setelah guncangan yang menerpanya itu terjadi.
Fatan duduk di kursi sebelah Nila. Kedua tangannya menggenggap tangan sang istri lalu mengecupnya dengan penuh perasaan. Lantas kemudian, wajahnya terangkat menatap lekat istri cantiknya itu.
"Dulu, aku dan dia hanya sekadar teman. Tepatnya teman kuliah sewaktu semester dua. Aku kenal dia saat ada acara seminar kampus. Itu juga dari temanku ... Terus dari yang awalnya cuma saling menyapa, lama-lama akrab. Tapi keakraban aku sama dia hanya sebatas teman biasa aja ... Masuk semester empat, dia tiba-tiba ajak aku jalan, tapi gak ajak teman-temanku yang lain. Karena aku menghargai, aku sanggupin. Ternyata pas ketemuan, dia bawa teman lagi. Namanya Mawar. Sejak saat itu dia terus jodoh-jodohin aku sama si Mawar. Padahal aku menganggap dia dan si Mawar cuma teman ... gak ada pikiran mau jadiin pacar atau teman tapi mesra. Semuanya sama. Tapi makin lama kok aku ngerasa aneh, dia sering kirim pesan romantis, segala lagu buatan dia. Hingga satu hari dia datang ke rumahku, sendirian ... Di sana gelagatnya aneh banget, dia mencoba mengecohku dengan tatapan serta sentuhannya. Aku, sebagai lelaki normal, mana ada sih kucing yang nolak dikasih ikan di depan mata?"
"Kamu sama dia, melakukan hal hubungan suami istri?" Nila reflek memotong cerita Fatan.
"Hampir aja. Keadaan itu benar-benar di luar batas kemampuanku. Untung aku cepat sadar, padahal hanya tinggal satu langkah lagi karena posisi aku dan dia udah sama-sama gak pakai apa-apa," jawab Fatan jujur.
Meskipun begitu, Nila langsung terhenyak. Sakit sekali rasanya. Walau kejadian itu sudah menjadi bagian dari masa lalu suaminya, tetap saja perasaan cemburu tidak bisa terelakkan.
__ADS_1
"Lantas setelah itu apa yang kamu perbuat padanya?" Pandangan Nila seketika meremang. Mentalnya setelah melahirkan benar-benar sedang diuji akibat kejujuran suaminya sendiri.
"Aku ..."