Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 7


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Nila berangkat ke kantor tepat pukul setengah tujuh pagi. Mengendarai mobil ditengah padatnya lalu lintas sudah menjadi sarapannya setiap pagi.


Sampai di kantor masih pukul tujuh lewat lima belas menit. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi untuk bersantai sebelum jam masuk kantor tiba.


Satu jam kemudian setelah bel masuk, Nila dipanggil oleh kepala bagian di ruang meeting. Pikirannya tiba-tiba terlintas tentang promosi jabatan pegawai di perusahaan itu. Apa Nila termasuk salah satu orangnya?


Tok tok tok!


Nila kemudian masuk setelah mendengar perintah dari dalam. Ternyata di dalam ruang meeting itu sudah cukup banyak orang, namun di bagian tempatnya bekerja hanya dia seorang.


"Permisi ... ada apa ya Pak panggil saya?"


"Nila silahkan duduk. Nanti biar Bu Dian yang akan menjelaskannya ya," jawab atasan Nila yang duduk tidak jauh dari pintu masuk.


"Oh iya, Pak." Nila duduk berhadapan dengan Dian. "Ada apa ya Bu?" tanyanya pada perempuan berkacamata itu.


"Begini Nila, sesuai dengan kinerja kamu selama bekerja di sini ... Kami memutuskan untuk memindahkan kamu ke perusahaan cabang yang ada di kota Palembang."


Napas Nila seketika tertahan dalam diamnya.


"Jabatan kamu di sana nantinya akan berganti menjadi sekertaris CEO. Untuk CEO sendiri, kami belum bisa memastikan siapa-nya. Sebab kami pun masih merekrut orang yang pantas duduk pada jabatan itu," jelas Dian dan akhirnya hembusan napas panjang berhasil dikeluarkan oleh Nila.


"Memangnya saya pindah mulai kapan Bu?" tanya Nila memastikan.


"Satu bulan lagi. Mengingat kantor di sana masih baru dan hanya beberapa orang lama yang sudah berpengalaman dipindahkan ke sana guna mengoptimalisasi jalannya management dengan baik. Tentunya, kamu termasuk salah satu pegawai pilihan kami," jawab Dian seraya memuji kinerja Nila.


"Selain dipindahkan, apa ada fasilitas lain yang akan saya dapatkan Bu?" Nila memastikan lagi karena memang ia bukan tipikal pekerja yang terima saja tentang keputusan atasan.


"Pasti, kamu akan tinggal di sebuah apartemen bintang lima, mobil dan juga fasilitas lain yang sama seperti di kantor ini."


Mendengar hal itu, membuat Nila tertarik. Mungkin dengan dirinya menjauh dari kota tempat tinggalnya sekarang beberapa waktu, bisa memulihkan kembali kondisi hatinya yang luluh lanta akibat Bayu, pikir Nila demikian.


"Baik Bu. Saya akan terima tawaran ini."


"Begitu kiranya informasi dari saya. Nanti selebihnya mengenai pekerjaan di sini kamu bisa koordinasikan pada atasanmu ya," pungkas Dian.


"Baik Bu." Nila kemudian berdiri diikuti oleh Dian dan juga atasannya.

__ADS_1


"Nila kamu bisa kembali ke meja kerjamu ya," perintah atasannya.


"Iya Pak. Kalau begitu saya permisi ya ... Bu, mari." Nila keluar dari ruang meeting itu.


.


.


.


.


Setelah resmi bergelar menjadi seorang suami, sikap Bayu semakin dingin pada Winda. Namun keduanya hanya mampu bersikap manis dan saling perhatian di depan ibunya Bayu. Sebab Bayu tidak bisa membiarkan sang ibu tinggal sendiri di rumah itu.


Satu minggu waktu yang cukup untuk Bayu mengambil cuti menikah di kantornya. Hari ini dia berangkat pergi ke kantor dengan seorang sopir, mungkin akan seterusnya.


Setibanya di kantor, Bayu turun dari mobil seraya membenarkan stelan jas kantornya lalu masuk ke dalam. Di lobby sudah ada Denada, sekertarisnya.


"Dena, tolong kamu cek ke bagian management pemasaran mengenai peluncuran produk terbaru kita bulan depan, apa sudah ready semua atau belum? Terus meeting kita pagi ini gimana? Sudah ada konfirmasi dari client?" tanya Bayu tetap berjalan menuju ruang kerjanya.


"Apa iya? Atau mungkin saya yang tidak ingat?" Bayu malah bertanya balik dan mulai mengingatnya kembali. "Nanti akan saya cek lagi deh kalau sudah sampai di ruangan." Denada menganggukkan kepalanya.


Saat Bayu sudah masuk ke dalam ruang kerja, Denada pun ke meja kerjanya sebentar untuk mengambil berkas lalu pergi ke bagian pemasaran sesuai perintah darinya.


Sementara itu di dalam ruangan, Bayu mendapatkan sebuah map coklat di atas meja kerjanya.


"Berkas apa ini? Tadi Dena gak bilang ada berkas di sini. Oh mungkin dia gak inget pernah naruh." Bayu mengangkat kedua bahunya lalu duduk dan membuka map itu.


Setelah di buka ternyata kiriman dari agency tempat Winda bernaung. Di sana terdapat beberapa lembar kertas berisi kontrak kerja yang telah di tanda tangani oleh Winda pada agency itu.


"Apa dia sengaja mengirimkannya ke aku? Harusnya kontrak ini dia sendiri yang menyimpannya," gumam Bayu kemudian memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam map dan menyimpannya pada salah satu laci yang terdapat pada meja kerjanya.


Tiba-tiba pintu ruangannya itu ada yang mengetuk. Bayu menatap sekilas seraya bilang, "Masuk!" pada orang itu.


Sesaat kemudian pintu terbuka.


"Pagi Pak Bos, wih udah masuk nih. Gimana pernikahannya? Lancar? Udah unboxing belum?" ledek seorang laki-laki yang menjabat sebagai wakil direktur di perusahaan milik Bayu.

__ADS_1


"Ah lo Dan!" Bayu mendecak menepis kebenaran pada ledekan lelaki yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu.


"Ya udah unboxing juga gak apa-apa kali, lo kan udah sah sama Winda. Gile kan, seorang pengusaha sukses menikahi artis cantik bernama Winda Dwistira," seloroh laki-laki itu diiringi dengan tawa yang terdengar sangat puas sekali.


"Ada apa lo ke ruangan gue pagi-pagi gini?" tanya Bayu mengalihkan topik pembicaraan yang sejak tadi jadi bahan tertawaan sahabat sekaligus partner kerjanya.


"Gak ngapa-ngapain sih, tadi gue dikasih tahu si Dena kalau lo udah masuk kantor. Makanya gue ke sini mau 'say hello' ceritanya," jawab lelaki itu lalu duduk di kursi berhadapan dengan Bayu.


"Dany ... omong-omong gimana kantor selama gue cuti? Aman?" tanya Bayu lagi.


"Aman kok, sangat terkendali. Lo gak usah khawatir."


Ya, laki-laki itu bernama Dany Morata. Belum lama ini dia bergabung dengan perusahaan milim Bayu karena saat itu wakil yang sedang menjabat mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal ditempat kejadian. Kebetulan Dany datang pada Bayu meminta info lowongan pekerjaan, alhasil Bayu pun menawarkannya jabatan yang memang tepat untuknya. Mengingat Dany juga punya pengalaman di bidang yang sama digeluti oleh Bayu.


"Oh iya, kemarin gue sempet dateng ke acara reuni SMA. Terus gak sengaja, gue ketemu sama perempuan cantik banget. Rambutnya panjang, putih ... tapi dia cuek banget. Gue sampai heran. Apa gue kurang ganteng ya?" kata Dany bercerita.


"Reuni SMA?" tanya Bayu memastikan. Sebab ia teringat akan sesuatu.


"Iya, kenapa? Lo punya temen yang satu SMA sama gue?"


"Bukannya Nila juga dari SMA yang sama seperti Dany?" gumam Bayu dalam hati. Lelaki itu tertegun beberapa saat.


"Oh enggak kok."


Meskipun usia Dany dua tahun dibawah Bayu, namun karena keakraban yang terjalin cukup lama sampai panggilan pun tak lagi formal kala sedang berdua.


"Kalau boleh tahu siapa namanya?" tanya Bayu lagi sedikit ragu.


"Kenapa gitu? katanya gak punya temen, tapi nanyain ... " Dany memicingkan matanya. "Ada mantan gebetan lo ya?" Tatapannya begitu dalam dan hampir membuat Bayu salah tingkah.


"Apaan sih!" elak Bayu. "Udah sana balik ke ruangan lo. Ganggu aja!" ujarnya seraya berdecak kesal.


Dany tertawa sangat puas. "Hahaha ... Ya udah gue balik ke ruangan. Bye!"


Bayu menghiraukan Dany dan memilih fokus pada laptop yang ada di depannya. Lelaki itu bukan sedang melihat pekerjaan, melainkan mengecek akun sosial media milik Nila yang masih terhubung dengannya. Semakin Bayu memandangi perempuan itu, semakin sulit dirinya membuka hati untuk istrinya.


Walaupun belum ada niat untuk menghubungi Nila, tapi rasanya untuk saat ini Bayu benar-benar ingin melupakan segala tekanan yang ada pada dirinya. Akhirnya akun sosial milik Nila pun di blokir olehnya.

__ADS_1


__ADS_2