
Semua anggota keluarga masuk ke dalam mobil masing-masing, kecuali anak-anak Elisa dan Elea. Sebab mereka akan berangkat ke sekolah. Sedangkan untuk Adinda (istrinya mendiang Edward), dia memilih tetap tinggal di Palembang. Meski begitu, Wicak memberi sebuah rumah serta ruko tempat usaha di salah satu perumahan mewah dan terkenal di kota tersebut. Alasannya yaitu, Wicak tidak ingin cucu-cucu nya terlantar apalagi sampai ada yang putus sekolah.
Sementara itu, Fatan sudah berada di dalam mobil sejak tadi. Ia sedang menunggu sang istri yang belum muncul juga dari dalam rumah. Ia sempat menelepon, tapi tidak dijawab oleh Nila. Namun saat Fatan hendak menyusul, tapi Nila sudah lebih dulu muncul dari dalam rumah.
Disisi lain, entah kenapa indera penci-uman Nila tiba-tiba berubah saat menghirup aroma yang berasal dari dalam mobil. Perempuan itu mencoba untuk berbalik badan seraya menarik napas dalam-dalam.
"Kenapa rasanya jadi pusing sekali?" gumam Nila lalu memijat keningnya.
"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Fatan saat melihat tingkah Nila yang menurutnya aneh. Sebab tidak biasanya sang istri seperti itu.
Beberapa saat kemudian, Nila berbalik badan lalu mengembangkan senyum ke arah suaminya. "Iya, Mas. Aku baik-baik aja kok!" jawabnya terdengar yakin seraya masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Fatan yang kali ini bertugas mengendarai mobil.
Usai memasang sabuk pengaman, Fatan mulai melajukan mobilnya. Dia melihat wajah Nila tampak memerah pucat. "Kamu pusing, Sayang?" tanyanya lagi merasa cemas akan keadaan istrinya itu.
"Sedikit, tapi gak apa-apa kok." Nila menoleh sambil tersenyum lagi. Ia sedang berusaha menguatkan diri supaya tidak sampai muntah. Pasalnya, ia tidak membawa pakaian ganti, terlebih kalau harus balik lagi ke rumah. Duh, rasanya malas sekali.
"Ya udah, kalau benar-benar gak enak badan ... Jangan dipaksain kerja ya Sayang. Aku gak mau kalau kamu sampai sakit. Nanti aku ikut sedih." Terdengar berlebihan memang lelaki satu itu, raut wajahnya memelas dan justru dia yang tampak menyedihkan. Tetapi karena rasa sayangnya sangat dalam pada Nila, perilakunya seperti itu memang semata refleks.
"Iya, Mas. Kamu tenang aja. Lagian hari ini pasti kita sibuk, bukan? Pusingnya nanti juga hilang kok," jawab Nila dan Fatan pun percaya kalau istrinya memang bisa kuat.
"Supaya gak pusing, sini aku ubah sandaran kursinya. Mungkin sedikit agak rebahan bisa bikin posisi dudukmu nyaman," usul Fatan dan Nila pun mengangguk patuh. "Udah nyaman belum kalau begini?" tanya lelaki itu setelah merubah setelan sandaran kursi tempat Nila duduk melalui salah satu tombol yang terdapat pada dashboard mobil.
"Udah, Mas ... Cukup," kata Nila lalu Fatan menjauhkan jari telunjuknya dari tombol itu seraya tersenyum.
Fatan juga menyalakan musik yang nyaman di dengar. Namun saat itu juga Nila langsung memejamkan mata.
"Masih pusing, Sayang?" tanyanya lagi. Lelaki itu tampak khawatir pada sang istri.
__ADS_1
"Gak kok, Sayang. Aku lagi menikmati, nyaman banget ... Tapi kok tiba-tiba aku kepengen rujak buah ya," jawab Nila kemudian membuka matanya kembali.
"Rujak buah? Sekarang, Sayang? Masih pagi loh ini, apalagi tadi kamu sarapan sedikit sekali," sahut Fatan lalu mengempaskan napasnya.
"Tapi aku pengen," lirih Nila menunjukkan raut wajah sedih. Manik matanya pun sampai berkaca-kaca.
"Um, gimana kalau pesan sarapan dulu ya di restoran yang menyajikan sarapan sehat?" usul laki-laki itu.
"Gak, Mas. Aku gak yakin kalau di restoran cepat saji benar-benar sehat. Gak apa-apa kok makan rujak buah, selama gak berlebihan," timpal Nila menolak usul sang suami.
"Kamu yakin, Sayang?" Fatan melirik sekilas, tampak cemas.
"Yakin. Tapi yang jadi masalahnya, dimana ya ada rujak buah pagi-pagi begini?" gumam Nila seraya melihat ke sekeliling jalan yang dilewatinya.
Akan tetapi sepanjang jalan hingga sampai di perusahaan tidak menemukan rujak buah sama sekali. Nila merasa sedih dan murung. Melihat raut wajah sang istri tampak tidak bahagia, Fatan menghentikan mobilnya di depan perusahaan.
"Iya udah deh, Mas gak apa-apa kok," ucap Nila lalu mengembangkan senyum manis dari kedua sudut bibirnya. Fatan bernapas lega karena Nila tidak sampai tantrum.
.
.
.
.
Mereka tiba di perusahaan. W-Family Company, itulah nama perusahaan besar yang dimiliki oleh Wicak dan akan dialihkan pada Fatan setelah serah terima jabatan selesai.
__ADS_1
Semua yang berkaitan dengan perusahaan, sebentar lagi akan sepenuhnya ada di tangan Fatan dan tentunya dengan tim yang sangat kompeten di bidang masing-masing.
Lalisa sendiri sebagai direktur bagian marketing. Sedangkan suami Elea, sebagai direktur bagian produksi. Sekertaris yang akan menemani Fatan nanti akan dipegang langsung oleh Nila. Sedangkan Rusli menjadi sekertaris tugas khusus dibawah Nila.
Tidak hanya itu, Mirna juga turut hadir di acara tersebut. Hal itu dikarenakan Lativa juga diajak bergabung disana sebagai staff marketing dibawah pimpinan Lalisa. Tentu Mirna datang bersama Lativa dengan mobil yang dikirimkan oleh Fatan.
Sebuah lapangan futsal berkonsep indoor juga ada di halaman perusahaan. Tempat itu seketika diubah sedemikian mewah layaknya hotel berbintang demi acara tersebut. Beberapa staf pun memberi hormat saat mereka datang.
Nila turun dari mobil dengan sangat anggun. Sebelah tangannya melingkar di lengan Fatan, lalu berjalan bersama menuju tempat acara yang telah disediakan.
Ketika masuk ke dalam, Nila mencium aroma masakan. Namun perempuan itu justru malah terasa tidak nyaman. Nila merasa aneh pada tubuhnya sendiri. Alhasil semakin lama ia semakin tidak bersemangat.
Tubuhnya merasa demam serta sakit pada bagian kepala. Akan tetapi sebisa mungkin ditahan olehnya. Sebab sebentar lagi akan menjadi moment penting untuk sang suami.
Setelah duduk di tempat masing-masing, acara pun akhirnya di mulai. Pembawa acara membuka jalannya acara tersebut. Sebuah hiburan yang ditampilkan sebagai pembuka turut memeriahkan. Semua orang yang hadir sangat terhibur.
Sementara, Fatan sebenarnya kurang fokus karena khawatir akan kondisi sang istri. Saat pembawa acara itu telah selesai memberika ucapan penutup, Fatan tidak sengaja melihat Nila yang sudah tampak semakin lemas.
"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Fatan lalu meraih tangan Nila. Perempuan itu kemudian menoleh dan mrngangguk lemah serta wajah sayu.
"Kayaknya ... Aku akan bawa kamu ke suatu tempat deh. Ikut aku yuk!" ajak Fatan seraya berdiri. Otomatis semua orang yang hadir di sana, membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Mas! Kita mau kemana?"
...****************...
__ADS_1