Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 33


__ADS_3

Nila semakin tidak sabar mendengar perkataan Fatan yang sempat dijeda.


"Tapi apa?"


"Tapi kamu gak boleh pulang sampai larut malam, terus suruh aku buat anterin kamu," jawab Fatan lalu Nila pun bernapas lega.


"Ya ... Udah kalau gitu. Saya mau taruh mobil ini terlebih dahulu ya. Pak Fatan turun aja duluan," kata Nila dan langsung dijawab Fatan dengan anggukkan kepala.


Lelaki itu kemudian turun dari mobil. Sesaat setelah ia menutup pintu, Nila melajukan mobilnya ke halaman parkir yang ada di samping gedung hotel itu.


Fatan yang sedang menerima telepon seketika terpana saat melihat Nila yang sedang berjalan ke arahnya.


"Kenapa aku baru sadar kalau dia ternyata ... Cantik?" batin laki-laki itu lalu memutuskan sambungan telepon yang masih terhubung. Padahal panggilan itu dari orang penting dari kantor pusat.


Sementara perempuan itu terus melangkahkan kakinya tanpa ada keragu-raguan bak seorang model yang berjalan di atas catwalk sebuah pameran busana. Wajahnya menatap lurus ke depan dengan kedua sisi bahunya yang terbuka, serta kedua sudut bibir yang sedikit terangkat seakan terlihat sedang tersenyum. Aura wajahnya seketika keluar.


Pantas saja kalau Fatan sampai hampir tidak mampu bernapas dan juga mengedipkan mata. Bagi laki-laki itu, Nila seperti seorang bidadari yang baru saja turun dari khayangan. Manik matanya enggan berpaling sama sekali.


"Pak?" sapa Nila dengan suara yang seperti sehari-hari didengar. Namun nyatanya, entah kenapa kali ini terasa sangat berbeda. Terdengar lebih halus dan begitu mempesona.


"Pak?" ucap Nila sekali lagi karena sedari tadi Fatan tidak meresponnya sama sekali.


Lantas laki-laki itu kemudian terkesiap dan menjadi kikuk. "Eh iya ... Nila. Udah selesai?" tanyanya seraya mengusap tengkuk leher.


"Udah Pak."


"Ya udah mari ikuti saya." Fatan langsung mengambil langkah lebih dulu, dan Nila pun mengikuti.


Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang baru saja keluar dari ballroom hotel. Namun yang paling menyorot matanya tiada lain adalah Nila. Tatapan yang diberikannya pun penuh tanda tanya hingga menautkan kedua alisnya.


...----------------...


Di sebuah kamar dengan tipe President Suite, Nila disuruh menunggu di ruang tamu. Sementara Fatan mengganti pakaiannya terlebih dahulu di dalam ruangan yang hanya terdapat tempat tidur, lemari, serta televisi.


Tak lama kemudian, Fatan keluar ruangan itu memakai kaos oblong serta celana jogger panjang. Terlihat lebih santai dibanding saat ia memakai setelan jas seperti tadi.


"Kamu mau minum apa Nila? Biar nanti saya pesankan ke restoran hotel," kata Fatan seraya ikut duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Um ... " Tiba-tiba ditengah keheningan ruangan itu, perut Nila berbunyi. Perempuan itu langsubg teringat kalau ia belum sempat makan sesampai dirumahnya tadi.


Fatan mengulum bibirnya berusaha menahan tawa demi menjaga ketentraman suasana malam ini. "Sebentar ... " Ia beranjak lalu pergi ke dalam kamar untuk menghubungi bagian restoran. Beberap menit kemudian ia pun kembali duduk bersama Nila.

__ADS_1


"Ngapain Pak?" tanya Nila menatap heran, padahal ia sedang merasa malu.


"Apanya ngapain? Saya?" Fatan malah bertanya balik.


Nila menghela napas panjang. "Tadi Pak Fatan ngapain ke kamar?" Ia mengulanginya lagi dengan penuh kesabaran.


"Oh tadi sata telepon ke restoran hotel ... Suruh bawa daftar menunya ke sini."


"Loh ini apa?" Nila menunjukkan sebuah lembaran kertas dengan tulisan didepannya 'Daftar Menu Makanan'.


Seketika Fatan langsung mengusap tengkuk lehernya lagi, salah tingkah. "Oh ada ya ternyata ... Saya gak lihat soalnya."


Nila memicingkan matanya beberapa saat. "Terus yang Anda lihat apa?" tanyanya kemudian.


"Kamu!" jawab Fatan cepat. Namun ia langsung perbaiki. "Maksudnya lihat kamu tadinya mau tanya, pesan makanan apa gitu."


Nila mengulum bibirnya, kali ini dia yang menahan tawa. Jelas dia bukan anak remaja yang baru mengenal tanda-tanda aneh yang dilihatnya dari sikap Fatan.


"Oh gitu ... " Nila mengangkat wajahnya lalu tersenyum. "Jadi saya boleh pesan makan dulu Pak? Lapar banget ini," keluhnya dengan wajah memelas.


Fatan semakin bingung harus bersikap seperti apa? Seakan suasana di dalam kamarnya itu berubah drastis menjadi sangat canggung.


Sebelum beranjak, Nila memposisikan tubuhnya menjadi menghadap ke arah Fatan. Duh! Laki-laki itu semakin gerogi.


"Pak Fatan mau sekalian saya pesanin gak?" tanya Nila.


Fatan melihat sekilas lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. "Iya boleh. Sekalian pesanin saya ya ... samain aja."


"Oke." Nila beranjak dari tempat duduknya.


Saat perempuan itu melewati Fatan, wangi semerbak parfum yang dipakai oleh Nila semakin menghipnotis dirinya.


"Tahan Fatan, tahan! Inget tujuan utama ajak dia kesini itu mau diskusi ... Please jangan melenceng kemana-mana." Laki-laki itu membatin.


Beberapa menit kemudian Nila kembali ke ruang tamu lalu duduk di tempatnya lagi.


"Pak, jadi gak? Kalau gak jadi saya pulang nih?" tanya Nila saat masih melihat atasannya itu hanya diam sambil menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata.


"Aneh banget deh ini cowok. Kenapa sih dia?" ujar Nila dalam hati. Ia mendekatkan wajahnya hingga beberapa centi dari wajah laki-laki itu


Seketika Fatan membuka matanya dan terkejut melihat wajah Nila sangat dekat dengannya. Sontak perempuan itupun terkejut. Dia memundurkan wajahnya dan duduk seperti semula.

__ADS_1


Fatan mengusap kasar wajahnya. "Iya jadi kok, jadi."


Nila hanya mengembuskan napas panjang. "Jadi sebenernya ... ada apa Pak?" tanyanya menatap Fatan.


"Sebelum aku cerita, jangan panggil Pak ya. Panggil namaku aja, atau kamu punya sebutan lain yang cocok untukku?" pinta laki-laki itu. Namun Nila yang mendengar Fatan bilang aku-kamu, langsung menautkan kedua alisnya.


"Tunggu, kenapa jadi aku-kamu Pak? Saya lebih nyaman bilang saya-anda," bantah Nila yang belum paham maksud Fatan sebenarnya.


"Ya ... Supaya kita lebih akrab aja sih. Lebih santai dan gak terlalu formal. Toh emangnya salah? Atau takut dimarahi pacar kamu?" Fatan memang tidak salah, wajar saja bila inginnya seperti itu. Toh Nila juga sedang tidak dekat dengan siapapun, kalau Fatan tahu.


Nila menarik napas dalam-dalam. Sejujurnya perempuan itu sedikit tersinggung dengan kata 'pacar' yang dilontarkan oleh Fatan barusan. Satu kata itu kembali mengingatkannya pada Bayu.


Omong-omong, apa kabar dengan Bayu? Sudah lama sekali rasanya ia tidak mendengar kabar tentang laki-laki satu itu. Lantas ia tidak terlalu lama membuka lembaran lamanya lagi.


"Jadi intinya sebenarnya itu Pak Fatan mau ngobrolin tentang apa? Sampai saya harus ke sini ... Besok siang kita harus ke kantor pusat loh Pak untuk menemui ayah Anda." Nila ingin Fatan langsung ke inti pembahasannya. Sebab sejujurnya ia sangat ingin beristirahat lebih awal saat ini.


"Oke deh, terserah kamu ... Toh aku juga bukan siapa-siapa kan?" Nila semakin tidak paham dengan sikap Fatan kali ini. Terlalu ambigu baginya.


"Kata siapa?" seru Nila dengan suara yang sedikit melengking.


"Aku kan yang bilang ... "


"Anda itu atasan saya Pak. Jadi sudah sepatutnya saya menghormati Anda. Kalau Anda gak tanda tangan pengiriman gaji pegawai juga saya gak akan gajian," timpal Nila memotong ucapan Fatan.


"Ya udah deh ... Begini, aku sebenarnya mau tanya sama kamu ... " Nila mengangkat sebelah alisnya, lalu Fatan melanjutkan ucapannya lagi. "Kamu pernah gak jatuh cinta?"


Pertanyaan itu bagi Nila terasa begitu konyol. Tentu saja jawabannya 'iya' tapi sayangnya cinta yang pernah mengisi ruang di hati ya itu sudah pergi. Nila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pak Fatan baru ngerasain jatuh cinta ya?" Ia bertanya balik.


"Ya gak juga sih. Aku cuma mau sharing aja sama kamu. Soalnya ada seorang perempuan yang bunda pilihin buat aku," jawab laki-laki itu bersikap santai. Wajahnya pun sudah tidak ada lagi raut kemarahan seperti saat akan berangkat ke tempat acara tadi.


"Oh ceritanya Pak Fatan ini lagi dijodohin ya?" ledek Nila seraya tersenyum. Namun Fatan hanya membalas ledekan itu dengan respon biasa saja.


"Selama ini aku takut mengajak perempuan menikah. Secinta apapun, lebih baik menghindar."


"Memangnya apa yang Pak Fatan takutin?" Nila mulai menunjukkan raut wajah seriusnya.


"Aku takut bikin pasanganku kecewa. Takut gak bisa bahagiain dia. Takut kalau disaat aku udah cinta banget sama dia, eh dia malah pilih pergi. Makanya selama ini aku gak terlalu menanggapi perempuan disekitar yang katanya pada nge-fans, ataupun yang dijodohin sama bunda. Kalau setiap diajak ke club malam aja, aku gak pernah mau ... Terus menurut kamu, aku harus bagaimana?"


"Ternyata aku kira cuma perempuan yang punya keresahan sebegitu besarnya perihal masalah jodoh. Tetapi lelaki juga," batin Nila.


"Pak Fatan beneran mau tahu jawaban saya apa?" Nila merubah posisinya yang semula menghadap ke arah Fatan, kini menyandarkan punggungnya sambil melipat kedua tangan di dada.

__ADS_1


__ADS_2