Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 132


__ADS_3

Setelah momen itu, Rusli dan Lativa sepakat untuk menggelar acara lamaran resmi kedua belah pihak keluarga pada akhir bulan nanti. Mengingat pekerjaan keduanya di kantor saat ini masih cukup padat. Sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil cuti ataupun mengadakan acara di akhir pekan. Makanya mereka memilih di akhir bulan karena akan libur panjang tahun baru.


Di sisi lain, sore ini Nila kembali ke kediaman Wicak. Ia mendapat kabar kalau Lalisa sudah tiba di rumah. Usai mandi dan berganti pakaian, Nila pun ikut bergabung di ruang makan untuk makan malam bersama.


"Nila!" seru Lalisa saat baru melihat keberadaan Nila di ruang makan itu. Perempuan satu itu langsung memeluk menantu kesayangannya. "Apa kabar, Nak? Gimana kesehatanmu dan calon cucu Bunda?" tanyanya sambil mengelus perut Nila yang sudah terlihat lebih besar.


"Sangat baik, Oma!" sahut Nila menirukan suara bayi, seolah-olah janin yang ada di dalam kandungannya itu bisa bicara.


"Syukurlah ... Ayok makan dulu." Lalisa merangkul pinggang Nila supaya menantunya itu bisa duduk bersebelahan dengannya.


Disaat seluruh anggota keluarga Wicak sedang menikmati makan malam bersama, di tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari sana pun juga tengah menikmati makan malam.


Ya, Fatan beserta peserta pelatihan lainnya itu sedang berkumpul di kafe hotel. Mereka dibebaskan untuk duduk di meja manapun sesuka hati. Begitupula dengan Fatan yang memilih duduk sendiri sambil melakukan 'chatting' bersama Nila.


Namun tiba-tiba saja Fatan mendapati bahunya ada yang menepuk. Sontak ia pun menegakkan tubuh lalu menoleh.


"Ocha? Kamu disini juga?" tanya Fatan. Lelaki itu terkejut dengan kedatangan perempuan yang sudah lama tidak dilihatnya.


Perempuan itu tidak langsung menjawabnya, melainkan ikut duduk bersama Fatan bersebelahan. Sesaat setelah duduk, dia tersenyum sembari menatap Fatan.


"Iya, aku lagi ada persiapan acara pameran di sini. Makanya waktu itu aku sempat kirim email ke kamu, tapi malah gak dibalas. Menyebalkan deh!" jawab perempuan itu diiringi dengan protes keras serta pukulan pelan di lengan Fatan.


"Ah, iya! Aku sampai gak ingat. Maaf ya, maklum sibuk," jawab Fatan basa-basi. Sebab lelaki itu hanya ingin menjaga perasaan istrinya.


Perempuan itu mendengus kesal. "Iya, iya percaya deh! ... Omong-omong kamu ngapain di hotel ini? Liburan?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Gak. Aku lagi pelatihan sama para pembisnis lainnya."


"Wah hebat dong! Memang posisimu di perusahaan apa?" Perempuan itu tampak terkagum-kagum pada Fatan.


"Ya, cuma disuruh pegang perusahaan aja sama ayah. Kamu sendiri udah lama kerja di bidang itu? Bukannya persiapan acara semacam itu di urus sama event organizer juga ya?" Fatan menaruh ponselnya. Ia mulai terbawa suasana perbincangan dengan perempuan itu.


"Wah hebat ya kamu!" puji Ocha dengan mata berbinar. "Iya sama ... Omong-omong, aku gak nyangka sekarang ayahmu udah bisa nerima kamu, Tan. Oh iya aku sampai gak ingat, gimana kabar kamu sekarang? Apa udah ada perempuan yang bisa naklukin lelaki serampangan dan punya keluarga super ketat kayak kamu?" Ocha terkekeh geli, pun sama halnya dengan Fatan.


"Ya semunya memang butuh waktu. Gak ada yang instan, bukan?" Ocha mengangguk-anggukkan kepala setelah Fatan menjawab demikian. "Kalau pun ada perempuan itu nanti akan kuperkenalkan denganmu ... Kamu sendiri gimana? Udah nikah?" sambung Fatan.


"Belum ... sebenarnya aku masih belum sanggup melupakan kejadian kita. Selama ini aku pindah ke luar negeri cuma mau hilangin tentang kita. Tapi ternyata susah ya?" Ocha tampak bersedih, suaranya pun sampai bergetar. Ditambah manik matanya mulai berkaca-kaca.


Fatan mengembuskan napas berat. "Cha, dari awal kita kenal ... aku dan kamu hanya ingin berteman baik. Aku tahu kamu dan kamu pun tahu aku. Sama halnya kamu ke Mawar. Masih ingat bukan sama dia?" Ocha menatap Fatan sangat intens. Kenangan masa lalu pun membuat pandangannya terkunci tatkala menatap kedua mata Fatan lagi.


"Kenapa begitu? Bukankah dia sahabatmu dari sekolah menengah pertama? Kamu gak boleh gitu, Cha. Masa hanya karena sebuah perasaan yang sama terhadap aku, ikatan persahabatan kalian jadi putus sih? Kalau begini, aku jadi merasa menjadi lelaki terkeren sedunia," ujar Fatan. Lelaki itu memang sangat percaya diri sekali.


"Seperti yang kamu bilang, semua butuh waktu bukan? ... Dan sekarang akupun gak tahu keberadaan dia dimana," lirih Ocha.


"Kalau suatu saat nanti aku pertemukan kalian lagi bagaimana? Apa kamu mau?" tanya Fatan. Sebab ia tidak mungkin begitu saja mempertemukan Mawar dan Ocha.


"Ck!" Ocha berdecak tampak meremehkan Fatan. "Bagaimana caranya? Apa kamu masih berhubungan sama dia?" Tatapannya malah beralih mengintimidasi.


"Oh gak, gak seperti itu. Aku pun udah lama gak komunikasi sama dia. Sebenarnya selama ini hubungan aku dengan dia, sama seperti halnya dengan kamu. Hanya teman," bantah Fatan hanya ingin meluruskan masa itu.


Ocha mengangkat kedua alisnya seraya menarik napas. Namun ditengah perbincangan mereka, seorang panitia datang menghampiri Fatan. Hal itu membuat pandangan Fatan teralihkan.

__ADS_1


"Pak, bisa ke tempat pelatihan lagi sekarang? Soalnya waktu sudah semakin sedikit. Jadi, mari!" ajak panita itu.


"Oh iya, oke!" jawab Fatan, kemudian menatap Ocha kembali. "Maaf ya Cha. Aku harus pergi. Semoga acara kamu lancar!" pamitnya lalu dijawab anggukkan kepala oleh Ocha.


"Oke, kamu juga."


Fatan beranjak dari tempat duduknya seraya meraih ponsel di atas meja. Lelaki itu bergegas pergi karena tidak ingin membuat yang lain menunggunya.


Usai kepergian Fatan, masih di meja yang sama. Ocha mengempaskan napas seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Perempuan itu menatap makanan serta minuman yang sejak tadi belum disentuhnya sama sekali.


"Kenapa firasatku bilang kalau Fatan udah punya kekasih? Sikapnya udah gak 'secair' dulu. Seperti ada jarak dan seakan membatasi diri. Aku jadi penasaran siapa perempuan yang bisa membuatnya jatuh cinta. Terus kenapa juga dia mau beritahu aku tentang Mawar. Apa emang dia tahu atau hanya rencananya aja? Rasanya aku ingin bertanya lebih banyak lagi pada Fatan. Tapi kira-kira dia disini berapa lama ya?" gumam Ocha bermonolog dalam hatinya.


Ditengah otaknya yang sedang berpikir keras. Teman satu profesinya datang sambil menepuk bahu, sehingga lamunannya itu seketika terempas.


"Kamu ngapain disini sendirian? Dicariin daritadi ternyata disini," keluh perempuan dengan rambut di cepol asal itu. Sedangkan Ocha tanya tersenyum. "Ditanyain kak Jo tuh. Ayok kita kumpul sama yang lain!" ajaknya kemudian.


"Iya sebentar ya, mau habisin makanan ini terlebih dahulu. Kalau kamu mau duluan, ya duluan aja, Sin," balas Ocha.


"Ya udah deh. Cepat nyusul ke sana loh ya!" ancam temannya itu sambil menyodorkan jari telunjuk kepada Ocha.


"Iya, kamu tenang aja. Sepuluh menit oke?" tawar Ocha.


"Iya! Oke."


Ocha bernapas lega karena teman satu profesinya itu akhirnya pergi. Dia segera menghabiskan makanannya.

__ADS_1


__ADS_2