Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 31


__ADS_3

Nila turun dari mobil taksi tepat di depan halaman rumahnya. Tak lupa ia membawa 2 paperbag berukuran besar. Satu berisi gaun dan satunya lagi aneka kue dan cake yang dibelinya setelah dari butik tadi.


"Sepi banget, pada kemana ya ibu sama Tiva?" Nila melihat waktu pada jam tangannya. "Harusnya sih jam segini Tiva juga ada di rumah ... Mobil ada, tapi motor Tiva yang gak ada." Ia penasaran dan akhirnya melangkahkan kaki ke teras rumah. Namun sayang rumahnya itu terkunci. Nila pun berinisiatif untuk menghubungi ibunya.


"Halo Nila? Ada apa? Tumben sekali telepon sore, emangnya kamu udah pulang dari kantor?"


"Iya Bu. Omong-omong Ibu lagi dimana?"


"Oh Ibu lagi ke rumah bibimu, bantu-bantu. Soalnya lusa anak sulungnya mau nikah."


"Masih lama gak Bu?" Nila sedikit gelisah. Mengingat ia harus berangkat sekitar tiga jam lagi.


"Nggak tahu juga. Emangnya kenapa Nila?"


Nila pun mengembuskan napas. "Kalau begini sih mending kasih tahu aja deh kalau aku dirumah. Daripada nanti telat datang ke acara terus dimarahin Pak Fatan, duh gak bisa bayangin deh aku," ucapnya dalam hati.


"Nila?"


"Oh iya Bu, Nila di rumah. Ibu bisa pulang sekarang gak? Soalnya pintu dikunci."


"Astaga, Ibu kira kamu di apartemen. Tiva gak ada di rumah?"


"Gak ada Bu. Motornya juga gak ada."


"Aduh kemana lagi itu anak, gak betah sekali di rumah. Ya udah Ibu pulang sekarang."


"Iya Bu, hati-hati ya."


Setelah sambungan telepon berakhir, Nila pun duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Seketika ingatannya kembali ke masa lalu bersama sang ayah.


Sewaktu zaman sekolah, ia dan ayahnya sering menghabiskan waktu sore berdua di teras sambil menceritakan kegiatan apa saja yang telah dilaluinya selama di sekolah. Nila tersenyum getir saat mengingat hal itu. Sayangnya sekarang sang ayah sudah tidak ada di dunia ini.


Tentang kasus ayahnya kemarin. Nila pun lega karena Dany sudah tertangkap dan mendapat hukuman mati. Sedangkan Winda dan Yunadi telah mendapat hukuman selama dua belas tahun masa tahanan.


Saat persidangan beberapa waktu lalu, Nila tidak dapat hadir karena memang dia sangat sibuk. Alhasil hanya diwakili ibunya dan juga Lativa, sang adik. Keadilan tetap berpihak padanya. Berhubung Winda masih berstatus istri Bayu saat itu, jadi kerugian yang harus dibayarkan menjadi tanggung jawab Bayu.


Akan tetapi setelah putusan itu berakhir, beberapa hari kemudian Winda dan Bayu pun naik ke meja hijau kembali untuk proses perceraian mereka. Lantas Bayu resmi menjadi duda dan diwaktu yang bersamaan ibunya masuk ke rumah sakit kembali. Itulah sepenggal cerita yang di dengar oleh Nila melalui ibunya lewat sambungan telepon.


Disaat tengah asik tertegun, sebuah tangan menepuk bahunya. Nila tersentak lalu menoleh untuk melihat orang yang telah berdiri di sampingnya entah sejak kapan.

__ADS_1


"Nila, kamu udah lama disini?"


"Eh Ibu ... Ya sekitar lima belas menit yang lalu." Nila berdiri lalu memeluk ibunya. "Gimana kabar Ibu? Sehat?" tanyanya kemudian.


"Sehat kok. Kamu gak bilang sih kalau mau pulang! Tahu gitu Ibu masakin makanan kesukaan kamu," sahut ibunya seraya melepaskan pelukan mereka.


"Maaf Bu. Niatnya Nila kan mau kasih kejutan. Eh gagal deh!" keluh perempuan itu.


"Tunggu ... " Sang ibu tidak sengaja melihat paperbag yang ada di bawah. "Ini kamu bawa apa? Kok bungkusnya besar bangeg sih!"


"Oh ini gaun dan satunya oleh-oleh buat Ibu."


"Astaga, gaun apa Nila? Pernikahan?" sahut ibunya.


"Ye! Bukan dong Bu. Jadi nanti malam Nila mau datang ke acara perusahaan di Jakarta selama 2 hari. Makanya Nila pulang ..." jelas perempuan itu. "Gagal deh kasih kejutan sama Ibu," keluhnya dengan suara pelan.


Ibunya pun terkekeh. "Gak gagal kok. Kamu udah bikin Ibu kaget tahu-tahu bilang udah di rumah. Asal kamu tahu ya, tadi Ibu sampai bingung pulangnya gak ada yang anterin. Eh untungnya pas udah di depan gerbang, ada anaknya paman datang. Ya udah Ibu minta tolong aja dia buat anterin Ibu pulang."


"Loh, anaknya paman? Delisa maksud Ibu? Bukannya dia baru lulus sekolah dasar?" Nila berusaha berpikir keras


"Bukan dia, tapi anak angkatnya. Ibu juga baru lihat, dia seumuran kamu."


"Iya ya, ayok ayok masuk!"


...----------------...


Beberapa jam kemudian. Nila telah siap untuk pergi ke acara perusahaan. Balutan gaun berwarna maroon sangat kontras dengan kulit putihnya. Tubuhnya terlihat lebih berisi dan seksi. Ditambah dengan heels setinggi 10 centi meter, Nila semakin tampak seperti model yang siap berlenggak-lenggok di atas catwalk.


Tak perlu pergi ke salon, karena Nila telah mengeluarkan skill terpendam memoles wajahnya. Alhasil dia pun bisa. Hanya saja bagian rambut panjangnya itu sengaja dibiarkan tergerai dengan indah.


Namun saat hendak keluar kamar, ponselnya berdering. Nila membuka clutch bag lalu mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi panjang itu.


"Hah! Pak Fatan telepon. Ada apa ya?" gumamnya lalu berbalik badan.


"Halo Pak."


"Nila, kamu bisa jemput saya gak? Sopir yang harusnya jemput kita malah gak bisa datang katanya. Kamu ada mobil kan?"


"Pak Fatan dimana? Shareloc ke saya ya Pak."

__ADS_1


Tak lama kemudian Nila mendapat pesan dari Fatan.


"Udah masuk kan pesan saya?"


"Udah Pak. Saya ke sana sekarang!"


Setelah telepon berakhir, Nila langsung keluar dari kamar dan mencari keberadaan ibunya.


"Bu, Ibu ... " Nila mencari ke seluruh ruangan lalu ia mendengar suara dari dapur. Ia pun segera menghampiri. Ternyata benar ibunya baru saja selesai memasak untuk makan malam. "Bu, Nila mau pakai mobil ya? Soalnya kata atasan Nila kalau sopir kantor yang seharusnya jemput berhalangan."


"Kamu mau pakai mobil yang mana Nila?"


"Mobil Nila aja, Bu."


"Oh, ya udah hati-hati. Kuncinya ada di dalam kamar Ibu ya." Nila langsung berbalik badan dan menuju kamar ibunya. "Di hanger!" seru perempuan paruh baya itu.


Tidak ingin membuat Fatan menunggu lama, Nila hanya memanaskan mesin mobilnya sebentar. Ditambah pakaian yang sedang dikenakannya saat ini sangat tidak fleksibel untuk berkendara. Nila sampai membuka sepatu heels.


Hanya butuh waktu sepuluh menit, Nila tiba di butik yang sudah diberitahukan oleh Fatan sebelumnya. Akan tetapi perempuan itu tidak melihat keberadaan Fatan diluar butik.


"Telepon aja deh biar keluar sendiri. Dikata dia princess harus dijemput terus dimasukkan ke dalam kereta berkuda?" Nila bermonolog. Kedua ibu jarinya dengan lihai mengetik nama 'Bos Fatan' pada pencarian kontak di ponselnya, kemudian mengklik ikon berbentuk gagang telepon guna melakukan panggilan.


"Halo? Kamu dimana? Udah sampai belum?" cecar Fatan terdengar mulai tidak nyaman ditelinga Nila.


"Saya udah di depan butik, Pak. Tapi kok gak ada Pak Fatan ya?"


"Ya iyalah! Saya di dalam." Semakin lama terdengar ketus. Tetapi Nila menghiraukan itu.


"Saya tunggu ya Pak," sahut Nila dengan santai.


Tak lama setelah telepon berakhir, Nila melihat Fatan keluar dari butik itu dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Tanpa ada sepatah katapun yang terucap, Fatan langsung masuk ke dalam dan duduk di kursi penumpang belakang lalu menutup pintu ya lagi cukup kencang.


Nila sampai bersusah payah menelan ludahnya sambil membatin.


"Kerasukan apalagi sih ini bos? Mukanya gitu amat?"


...****************...


__ADS_1


__ADS_2