
..."Mencintaimu adalah pilihanku. Bersamamu itulah keinginanku. Tetap pegang erat tanganku, apapun ujian yang menerpa kita. Karena disaat itulah kita akan tahu, arti sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya."...
Senyum tidak lepas dari kedua sudut mereka masing-masing. Senda gurau yang dilontarkan pun mengundang sebuah perasaan yang begitu kuat diantara keduanya.
Cukup lama Nila berbincang dengan Fatan di ruangan itu, tiba-tiba ada pesan masuk pada ponsel Fatan. Keduanya menghentikan obrolan guna memberi waktu untuk lelaki itu membaca pesan tersebut.
Sesaat kemudian, Fatan beranjak seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Ada apa?" tanya Nila yang mendongak menatap Fatan.
"Bunda kirim pesan, katanya ayah udah sampai. Tapi bunda bilang kita ke sananya sskalian makan siang aja. Soalnya bentar lagi masuk makan siang juga, jadi biarkan ayah ganti baju dan istirahat sebentar," jelas Fatan.
"Oh gitu ... Terus kenapa kamu berdiri?" tanya Nila lagi sebab lelaki itu masih saja terus berdiri.
"Ya gak apa-apa. Pinggangku kerasa kram kalau kelamaan duduk," jawab Fatan dengan santainya. Tanpa ia sadari, wajahnya kian pucat.
"Mau ke kamar? Kamu kayaknya lelah banget," kata Nila yang menyadarinya.
"Gak usah. Kalau aku ke kamar, kamu jadi sendirian dong," ujar Fatan lalu hendak duduk kembali.
Nila segera menggeser duduknya mejadi di pinggir, karena kebetulan dia duduk di sofa yang berukuran panjang biasa digunakan bisa sampai 4 orang. "Jangan duduk disitu!" cegahnya membuat Fatan berdiri lagi.
"Kenapa?"
"Sini, rebahin badanmu disini," usul Nila sambil menepuk-nepuk atas pahanya.
"Apa boleh aku tiduran disitu? Kamu gak ngerasa risih?" tanya Fatan memastikan. Disisi lain, Nila semakin tidak tega melihat Fatan terus berdiri dengan keringat yang mulai bercucuran dari keningnya. Perempuan itu merasa kalau Fatan sedang dalam posisi tidak baik-baik saja.
"Nggak kok." Nila langsung menarik tangan Fatan, lalu memapah lelaki itu duduk bersebelahan dengannya. "Aku gak tega melihat kamu kayak gini," ucapnya sambil membantu Fatan merebahkan tubuh.
Mereka saling bertatapan, rasa canggung pun seolah pergi entah kemana karena tertutupi rasa iba yang tengah Nila rasakan pada laki-laki itu.
__ADS_1
"Fatan ... " panggil Nila, menundukkan kepalanya dan memperhatikan wajah tampan yang ada di atas pangkuannya. Bahkan setiap jengkalnya ia perhatikan.
Lantas lelaki yang sejak tadi sulit membalas tatapan Nila, akhirnya memberanikan diri menatap balik. Baginya rasa rindu berada dekat dengan Nila, terbayarkan sudah. Ditambah senyum manis perempuan pilihan hatinya itu, semakin terasa menggetarkan hati.
"Ada apa?" tanya Fatan seraya memberi tatapan ikut kian dalam.
"Gak apa-apa kok," jawab Nila. Namun wajah Fatan berubah kecewa.
"Aku kira kenapa, tapi biasanya kalau perempuan begini pasti ada apa-apanya," ujar Fatan lalu memicingkan matanya.
"Gak ada kok, beneran." Nila mengembangkan senyumnya yang paling manis.
Tidak lama kemudian Fatan memejamkan matanya dan tertidur pulas dengan kepala berada di pangkuan Nila. Tetapi berbeda dengan Nila. Perempuan itu malah asik memperhatikan wajah Fatan. Walaupun masih tampak pucat, tapi dia seakan tidak ada rasa bosan.
Hampir setengah jam berlalu, Fatan membuka kedua matanya. Melihat hal itu, Nila langsung memalingkan pandangannya ke arah lain. Dia terlihat salah tingkah. Fatan yang sudah merasa lebih baik pada tubuhnya pun bangun dan duduk bersebelahan dengan Nila.
"Gimana? Apa udah lebih baik?" tanya Nila dengan sorot teduhnya.
"Sama-sama ... " balas Nila.
Fatan melihat ke arah jam dinding yang terpasang di ruangan itu. "Udah waktunya makan siang, yuk ikut denganku!" ajaknya sambil meraih salah satu tangan Nila dan menggenggamnya sangat erat.
Keduanya pergi dari sana menuju bangunan utama rumah mewah itu. Sepanjang menelusuri jalan, tiba-tiba Nila merasa gugup.
"Fatan, apa ayahmu akan menerimaku?" tanya Nila ragu.
"Kamu tenang aja. Meskipun ayah orangnya keras, dia sebenarnya baik kok." Fatan memberikan jawaban sedikit melegakan hati Nila.
"Selain orang tuamu, ada siapa aja?" tanya Nila lagi. Ia sedang mempersiapkan diri dan juga mentalnya.
"Paling ada Charma, kak Elisa --kakak pertamaku, kak Elea --kakak keduaku. Selain Charma, kedua kakakku itu udah menikah, tapi masih tinggal dirumah ini," jelas Fatan.
__ADS_1
"Oh begitu rupanya." Nila diam lagi. Namun ia merasa sudah lama sekali berjalan, tapi tidak kunjung tiba di ruang makan. Nila pun jadi bingung, berapa lama lagi mereka akan sampai?
Beberapa menit berlalu, mereka berhenti di depan sebuah pintu berukuran besar. Tingginya bisa di perkirakan dua kali lipat dari tinggi badan lelaki yang berdiri di sebelah Nila.
"Ini ruang makannya?" tanya Nila memastikan dan Fatan pun mengangguk seraya bergumam.
Lantas Fatan memegang gagang pintu dan membukanya. Ketika pintu terbuka, tampak jelas di depan mereka sudah ada beberapa orang yang duduk bersama dalam meja makan berbentuk memanjang itu.
Nila mematung sesaat karena tercekat. Bukan hanya orang-orang yang ada di sana, melainkan ruangan yang memang dikhususkan untuk makan itu sangat luas sekali.
"Ini sih benar-benar orang tajir. Tapi sayangnya saingan Fatan sangat berat sekali," ujar Nila dala hatinya. Sontak ia seketika tersadar saat Fatan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Lalisa menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di rumah kami, Nila. Ayok silahkan duduk," ajak perempuan paruh abad itu sembari merangkul pinggang Nila untuk mengajaknya duduk bersama mereka.
Mereka semua duduk, sementara beberapa pelayan yang ada di sana berdiri di dekat pintu. Walaupun ada rasa canggung yang mendera Nila, tapi sebisa mungkin perempuan itu tetap santai serta menjaga sopan santunnya saat makan.
Akan tetapi di sisi lain, Charma yang juga ada di sana tetap menunjukkan sikap manjanya pada Fatan. Perempuan sebaya dengan Lativa itu, sesekali merengek kepada Fatan untuk meminta bantuan ini-itu. Padahal Fatan sendiri ingin sekali makan dengan tenang.
Kelihatannya Charma memang sengaja bersikap seperti itu karena ada Nila di sana. Tetapi dibalik sikap santainya Nila, perempuan satu itu pun memperhatikan gerak gerik Charma yang duduk bersebelahan dengan Fatan.
Lalisa yang duduk bersebelahan dengan Nila pun menyadari sikap Charma yang sangat mengganggu di pandang mata. Semua orang di sana tidak ada yang mampu menegurnya. Apalagi kedua kakak Fatan yang tetap sibuk mengurus keluarganya masing-masing. Sampai akhirnya Lalisa tidak tahan karena anaknya terus diganggu oleh Charma.
"Charma ... kamu mau apa? Biar Bunda aja sini yang ambilkan. Biarkan Fatan makan terlebih dahulu," usul Lalisa bersikap selembut mungkin.
Namun tak disangka, respon yang diberikan Charma sungguh diluar dugaan. Ia melirik sinis ke arah Lalisa lalu beralih kepada Nila. Sedangkan mulutnya masih bungkam.
Tiba-tiba saja ...
Brak!!!!
__ADS_1