
Suara riuh diluar rumah membuat Nila terpaksa membuka kedua matanya.
"Siapa sih yang gedor-gedor pintu?" omelnya, ditambah kepalanya tiba-tiba merasa sakit karena terkejut.
Ia turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar. Saat hendak berjalan ke ruang tamu, Nila sempat melihat jam dinding yang terpasang di ruang keluarga.
"Astaga masih jam lima pagi. Tapi ibu kemana ya? Kok tumben denger suara berisik gini gak muncul?" keluh Nila dan tetap berjalan menuju ruang tamu.
Nila tidak mengintip terlebih dahulu, melainkan langsung membuka pintu. Lagi-lagi ia terkejut karena bertepatan dengan sebuah tangan yang hendak mengenai wajahnya. Refleks kedua mata Nila terpejam sambil sedikit mundur ke belakang. Sementara orang yang ada di depannya asik bermain ponsel.
Ketika Nila membuka mata, emosinya langsung naik ke permukaan. "JAMAL!" sentaknya sambil mengeratkan rahang.
"Hai kak Nila," sapa lelaki itu dengan ramah dan senyum termanisnya, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Dari kapan kamu sampai?" tanya Nila terdengar ketus. Oh iya, dari kecil Nila paling tidak suka dengan Jarfin. Karena lelaki itu selalu menjahilinya, kalau Nila belum menangis, dia tidak akan berhenti. Apalagi dulu Nila sangat disayang oleh Widya, ibunya Jarfin. Perbedaan usia keduanya hanya berselisih 2 tahun saja. Meski begitu, Jarfin tetap sopan memanggilnya dengan sebutan 'kakak'.
"Dari setengah jam yang lalu, tapi gak ada yang bukain. Ya udah deh aku gedor aja pintunya," jawab Jarfin dengan sikap santai dan lebih kalem ketimbang dulu. "Budhe kemana sih Kak? Terus Kakak kok tumben di rumah? Bukannya kata mama, Kak Nila itu kerja di Palembang?" cecarnya yang sebenarnya masih kesal karena sudah berdiri lumayan lama.
"Udah mending kamu masuk dulu, ini masih terlalu pagi. Lihat tuh kompleks aja masih sepi," ujar Nila seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan memberi jalan untuk Jarfin supaya bisa masuk ke dalam.
Lelaki itu mengempaskan napas tenang, "Iya deh." Dia menurut dan masuk ke dalam rumah.
"Mau minum apa?" tanya Nila saat sudah melihat Jarfin duduk di kursi.
"Apa aja Kak," jawab laki-laki itu.
__ADS_1
"Oke deh, sebentar ya." Nila berjalan menuju dapur dan membiarkan pintu rumahnya terbuka. Namun sebelum ke dapur, ia melihat ke kamar ibunya terlebih dahulu.
"Ibu gak ada? Apa Ibu ke pasar ya?" gumam Nila bertanya-tanya. Karena tidak ingin Jarfin kelamaan menunggu, ia bergegas menyiapkan minum. Tak hanya itu, Nila juga menyuguhkan camilan yang tersedia di dalam kulkas.
"Nih diminum dulu," kata Nila seraya menaruh nampan yang berisi minuma dan camilan ke atas meja.
"Makasih, Kak." Jarfin pun dengan senang hati menyantap yang dihidangkan oleh tuan rumah. "Omong-omong, Kak Nila belum jawab pertanyaan aku tadi," sambungnya setelah seleai minum dan memakan beberapa keping kue kering.
"Oh itu ... Ibuku kayaknya sih ke pasar. Ibu kan emang gitu tiap pagi suka ke pasar buat belanja sayuran. Soalnya dikompleks ini, tukang sayur keliling siang banget kata ibu," ungkap Nila.
"Terus Kak Nila kenapa ada sekarang di Jakarta? Lagi cuti atau gimana?" tanya Jarfin lagi.
"Aku udah resign dari kantor, kemarin. Ya biasalah, udah gak nyaman kerja disana. Jadi daripada bikin emosi tiap hari, kesel terus ... Nanti yang ada aku malah cepat tua, hehe," jawab Nila sebagaimana mestinya.
"Oh gitu ... " Jarfin hanya mengangguk-anggukkan kepala, merasa paham bagaimana berada di posisi Nila.
"Maksud Kak Nila?" Jarfin mengangkat sebelah alisnya seraya memicingkan mata. Namun pada dasarnya ia tidak bisa marah, karena dia bukan tipikal laki-laki yang mudah terbawa perasaan.
"Ya gitu deh. Jangan pura-pura amnesia kamu Jamal!" sergah Nila sedikit meninggikan suaranya lalu terkekeh geli. Begitu pun dengan Jarfin yang ikut tertawa.
"Kak Nila sampai kapan sih panggil aku Jamal? Padahal namaku udah keren loh, Jarfin Maliki," ucap Jarfin dengan bangganya.
"Menurutku sih, lebih bagus Jamal dibanding Jarfin," balas Nila lalu menjulurkan lidah. Kalau sudah seperti ini, tanda-tanda perang akan dimulai. Masa kecil mereka seperti terulang kembali, bak kucing dan tikus.
Beruntung sebelum kondisi semakin sengit, Mirna pulang. Suara motor yang ditumpanginya terdengar oleh mereka berdua. Nila bergegas pergi ke pintu, untuk melihat kebenaran apa yang dengar saat ini dan ternyata benar.
__ADS_1
"Ibu ... Sini Nila bantu bawakan," kata Nila seraya mengulurkan tangannya untuk membawakan sayur mayur hasil belanja di pasar. Mirna pun dengan senang hati menerima lalu memberikan dua kantong plastik besar pada Nila, sisanya dia yang bawa. Nila masuk ke dalam lebih dulu, dan Mirna pun menyusul.
"Loh kamu udah sampai, Jar? Dari jam berapa?" sapa Mirna, menaruh barang belanjaannya di dekat pintu lalu berjalan menghampiri Jarfin yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Kalau belum sampai, Jarfin gak disini dong Budhe." Laki-laki itu terkekeh geli seraya bersalaman dengan Mirna. Sedangkan perempuan berstatus sebagai Budhe-nya itu hanya menggelengkan kepala. "Tadi sampai beberapa menit yang lalu," sambungnya dan Mirna pun ikut duduk tak jauh dari tempat Jarfin.
"Iya Bu. Dia gedor-gedor pintu malah gak ada suaranya. Pas buka pintu malah asik main hape," sahut Nila yang muncul dari arah dapur.
"Memang ya kamu itu dari kecil, ada aja kelakuannya, Jar," kata Mirna seraya menghela napas. "Oh iya, mungkin kamu lebih baik istirahat dulu ya. Pasti capek 'kan perjalanan dari Yogya ke sini?" ujarnya lalu berdiri.
"Iya Budhe, masih ngantuk banget rasanya habis naik kereta malam," keluh Jarfin sambil mengusap tengkuk lehernya.
"Ya udah, ayok! Nanti Budhe tunjukkin kamar kamu," ajak Mirna dan Jarfin pun mengangguk.
...----------------...
Nila baru saja membantu ibunya membereskan rumah serta memasak untuk mereka sarapan.
"Bu, Nila ke kamar dulu ya. Mau mandi udah gerah banget," kata perempuan itu sambil mengibas-ngibaskan kerah baju yang sudah dibasahi oleh keringat.
"Ya udah sana, Ibu juga mau mandi. Tapi jangan lama-lama ya keluar kamarnya. Nanti kita sarapan sama-sama," ucap Mirna dan dijawab anggukkan kepala oleh Nila.
"Duuh, adeeemmm," ucap Nila bermonolog saat merasakan kesejukan di dalam kamarnya. Ia pun berusaha melonggarkan bajunya supaya keringat yang sejak tadi bercucuran bisa cepat kering dan ia bisa segera mandi.
Sambil menunggu kering, Nila mencari keberadaan ponselnya untuk mengecek siapa tahu ada informasi penting.
__ADS_1
Ditengah sibuknya mencari, tiba-tiba terdengar suara panggilan masuk ke ponselnya. Nila lekas menemukan barang berharganya itu.
"Duh ternyata di kolong tempat tidur," keluhnya. Lantas sebelah tangannya pun berusaha meraih ponselnya.