
Beberapa hari kemudian, seperti biasa Nila menyiapkan pakaian untuk suaminya di ruang ganti. Ara pun masih tertidur nyenyak di dalam tempat tidurnya. Sementara Fatan sendiri sedang mandi sejak beberapa menit yang lalu.
Nila juga membereskan kamar supaya bersih dan nyaman untuk ditempati. Sebab ia serta Ara lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar yang mungkin luasnya hampir menyerupai lapangan futsal. Di sana bukan hanya terdapat kasur dan lemari saja, melainkan terdiri dari beberapa bagian ruangan yang dipisahkan oleh sekat semi permanen, ditambah aksen interior mewah tapi masih terlihat minimalis.
Meskipun kamar itu luas, alat kebersihan yang ada di sana pun sudah serba otomatis. Ada beberapa alat yang memang hanya tinggal menekan satu tombol dan dapat terkoneksi juga melalui ponsel. Canggih bukan?
Bagaimana dengan mual muntahnya? Apakah masih ada? Tentu masih. Bahkan lebih sering semenjak pulang ke rumah. Nila bahkan tidak bisa lepas dari obat pereda mual sebelum ia makan apapun. Memang makanan itu masuk melewati lambungnya, tapi setelah obat itu sudah tidak terasa, alhasil Nila muntah lagi. Sungguh nikmatnya jadi perempuan hamil.
Sambil menunggu alat pembersih lantai otomatis selesai bekerja, Nila duduk di depan meja rias. Disaat yang bersamaan pula, Fatan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan pada area pinggang menutupi hingga lutut.
"Sayang, kamu udah mandi belum?" tanya Fatan, lalu berjalan menghampiri istrinya setelah mengeringkan kaki ke atas keset lantai.
"Udah, Mas. Tadi pas bangun tidur aku langsung berendam air hangat. Pas banget Ara masih pulas," jawab Nila seraya mengambil sisir dari dalam laci yang ada di meja rias tersebut.
"Oh, terus gimana? Udah lebih relaks?" Fatan memberi pijatan pelan di area bahu istrinya.
"Udah, Mas. Pusingnya juga mulai berkurang." Nila sampai memejamkan mata karena pijatan yang diberikan suaminya itu sangat nikmat sekali.
"Syukurlah. Pagi ini kamu mau sarapan apa? Mau makan di kamar atau di ruang makan sama aku?" Fatan memeluk istrinya.
"Belum kepikiran sih, Mas. Paling kalau Ara udah bangun, kita sarapan bareng sama yang lainnya. Tapi kalau belum, aku minta tolong bibi buat bawakan ke kamar," jawab Nila.
"Ya udah kalau gitu, aku siap-siap dulu ya. Kamu ganti baju sana. Masa iya kalau ke ruang makan pakai baju tidur begini." Tiba-tiba Fatan mengigit pipi Nila.
"Aw!" pekik sang empunya yang terkejut karena rasa sakit akibat gigitan itu. Walaupun pelan tapi cukup dalam. "Kamu mah beneran gigitnya." Nila marah sembari melirik tajam dan memegang pipinya.
"Aku tuh gemas sekali sama kamu. Kira-kira anak kedua ini perempuan atau laki-laki ya. Pasti keluarga kita ramai deh!" ucap Fatan membayangkan kalau dirinya diperebutkan oleh anak-anaknya.
__ADS_1
"Seru deh pasti!" timpal Nila seraya terkekeh geli. Pun dengan Fatan yang ikut tertawa sambil berjalan ke ruang ganti.
Sesaat setelah Fatan masuk ke sana, Ara teriak sambil menangis memanggil Nila.
"Mom, Mom, huaaaa, Mom."
Nila segera beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan sampai tergopog menghampiri tempat tidur Ara.
"Selamat pagi anak cantiknya Emom sama Daddy. Ara udah bangun ya?" sapa Nila dengan wajah ceria menyambut putri kecilnya yang sedang berusaha berdiri sambil berpegangan ke pembatas tempat tidur. Ara begitu terlihat menggemaskan, apalagi masih memakai selimut bajunya. Nila berjongkok menyapakan tinggi badannya dengan Ara.
"Susu, Mom. Susu." Sisa air matanya masih membekas di area pipi. Hidungnya pun memerah sehingga terlihat kontras dengan kulit putihnya.
"Oh Ara mau susu. Oke deh, tapi Emom mau ke meja di sana dulu ya, boleh?" Nila menujuk ke arah meja yang memang khusus tempat menaruh susu beserta botolnya. Ara pun mengikuti arah pandang Nila, sesaat kemudian pandangannya beralih menatap Nila kembali.
Sorot matanya masih tampak sedih, tapi Ara paham lewat anggukkan kepalanya.
Di saat Nila tengah membuatkan susu, Fatan keluar dari ruang ganti.
"Hai, Ara ... Ara udah bangun ternyata. Sini Daddy mau gendong." Fatan yang baru selesai memasang kancing di pergelangan tangannya, berjalan santai menghampiri putri kecilnya. Ara tampak senang ketika Fatan mendekat, kedua tangannya langsung diangkat ke atas, ingin segera digendong oleh sang ayah.
"Mas, Ara sambil nyusu ya. Soalnya tadi dia sempat minta susu," ucap Nila saat melihat Ara sudah digendong oleh Fatan, kemudian ia menatap Ara seraya tersenyum dan memberikan susu itu pada anaknya. "Ara, ini susunya. Dihabiskan ya."
Fatan pun membawa Ara ke sofa sambil menonton televisi. Dia juga merebahkan Ara di atas pangkuannya. Sementara Nila mengambil alat pembersih lantai itu karena sudah mendapat pemberitahuan melalui ponselnya, lalu membuang sampah ke tempatnya dan menaruhnya kembali ke tempat semula.
Selesai menghabiskan susu, Ara dimandikan oleh Nila. Sedangkan Fatan memilih membuka laptopnya karena menurut informasi dari Rusli, hari ini akan ada meeting penting dengan beberapa kolega. Jadi dia harus mengetahui bahan bahasan pada meeting itu.
Setelah selesai memandikan Ara, mereka bertiga pun keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan.
__ADS_1
Di sana sudah ada para tuan rumah yang lain. Seperti biasa, semenjak Ara sudah bisa duduk sendiri, ia dibelikan kursi sendiri. Menu yang ada di atas meja pun, sudah tersedia untuknya. Tentu itu semua juga ada campur tangan Lalisa yang memerintahkan pelayan di dapur.
Disisi lain setelah disapih, Ara mulai suka makan. Apapun makanan yang dihidangkan di atas meja dimakan olehnya sangat lahap.
Suasana di ruang makan itu sangat kondusif. Semua tuan rumah yang sedang menyantap sarapan pun sangat menikmatinya.
Ketika sarapan sudah selesai, mereka pun kembali pada aktifitasnya masing-masing. Sementara Nila memilih pergi ke kamar bersama Ara.
...----------------...
Fatan akhirnya tiba di kantor. Seperti biasa, dia disambut oleh Rusli dan para staf lainnya. Dia turun dari mobil setelah sopir membukakan pintu untuknya. Semuanya langsung menunduk hormat. Fatan turun dari mobil seraya memasang kancing jasnya. Wajahnya tampak segar dan tampan. Perempuan mana yang tidak terpikat olehnya? Namun dihatinya hanya ada Nila serta Ara.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi." Fatan berjalan dengan langkah tegas dan berwibawa. Semakin kesini, aura pemimpinnya tampak terlihat sekali.
"Bos, ada hal penting yang harus saya sampaikan." Dari suara serta sorot mata Rusli sangat serius sekali.
Fatan menoleh dengan tatapan tajam. "Apa itu?"
"Bos tahu 'kan Pak Ali? Kolega kita yang tak lain adalah mantan mertuanya istri saya." Rusli memperjelas supaya Fatan bisa mengingat. Padahal yang Fatan tahu Ali itu hanya sebatas koleganyan saja, tidak tahu siapa dia dibalik itu.
"Iya, kenapa?" Fatan semakin menyorot tajam.
"Barusan sekertarisnya telepon saya, perusahaannya mendadak memutuskan kerjasama dengan perusahaan kita."
Fatan menautkan kedua alisnya. "Alasannya?"
__ADS_1
"Mereka bilang ..."