
Satu minggu adalah waktu yang bisa dibilang cukup untuk mempersiapkan sebuah acara pernikahan. Meskipun pernikahan itu sedehana tanpa mengurangi kesakralannya, tidak sampai lima belas menit akhirnya Fatan dan Nila resmi menjadi suami istri. Setelah pengesahan selesai, keduanya berganti pakaian terlebih dahulu, barulah Fatan langsung memboyong Nila pergi ke Tiongkok sesuai dengan kesepakatan mereka di awal.
Tidak banyak keluarga yang hadir pada acara itu, apalagi kerabat ataupun rekan kerja mereka. Sebab pada dasarnya Fatan dan Nila hanya ingin pernikahan itu sah secara sipil dan negara.
Sepanjang perjalanan menuju Tiongkok, mereka terus berpegangan tangan sangat erat. Tampak sekali raut wajah berseri dari keduanya yang akhirnya bisa sampai dititik sekarang ini.
Namun disisi lain, Nila merasa cemas akan nasib dan takdir keduanya setelah ini. Mengingat entah kenapa keadaan yang sempat memanas karena Charma, tiba-tiba dalam waktu satu minggu bisa lenyap dan hening.
Bahkan Charma dan Edward pun tidak turut hadir di pernikahan mereka tadi. Menurut kabar yang diberikan oleh Lalisa, kalau Charma memilih menemani ibunya di rumah sakit, sementara Edward sedang berlibur bersama istri dan anaknya. Kendati demikian, keduanya merasa lega karena tidak ada pengacau yang bisa membatalkan pernikahan itu.
Seribanya di Beijing Capital International Airport, Fatan turun dari pesawat bersamaan dengan Nila. Lagi-lagi mereka berpegangan tangan sangat erat. Sungguh 'bucin' sekali mereka itu.
Namun di tengah mengantre untuk pengambilan koper, Nila merasa pusing karena terkena serangan jetlag. Ia berusaha memijat keningnya guna meringankan rasa sakitnya itu.
"Kamu pusing?" tanya Fatan khawatir.
"Iya." Nila menganggukkan kepala.
"Mau duduk dulu? Biar aku yang ambil barang-barang kita," ujar Fatan seraya melihat ke sekeliling, mencari letak kursi yang masih kosong. Tetapi rupanya, ruang tunggu yang ada bandara itu sangat ramai. Ia hampir kesulitan menemukannya.
Akan tetapi Nila menemukan lebih dulu letak kursi yang kosong dan kebetulan hanya ada satu.
"Fa--" Nila melonggarkan tenggorokannya. "Mas, lihat! Di sana ada satu kursi yang kosong," serunya seraya menunjuk ke arah yang dimaksud, Fatan pun mengikuti arah pandangnya.
"Tapi di sana jauh banget, aku khawatir," tolak Fatan mendadak memiliki firasat yang tidak enak. Sesaat kemudian Nila melihat ke arah lain yang lebih dekat dengannya, ternyata ada dua orang yang beranjak dari kursi dan pergi tanpa meninggalkan barang apapun.
__ADS_1
"Kalau di sana gimana?" tanya Nila seraya menunjuk lagi. Fatan mengalihkan pandangannya ke arah kursi yang dimaksud Nila saat ini.
"Ya udah, boleh." Fatan mengangguk memberi izin.
Nila pun kemudian melepaskan genggaman tangannya dan pergi ke kursi itu. Sedangkan Fatan kembali menunggu antrean pengambilan koper.
Tidak lama Nila duduk, ternyata ada seorang lelaki yang duduk di sana. Ia menoleh dan lelaki itu tersenyum. Namun Nila hanya menunjukkan raut wajah datar tanpa membalas senyuman laki-laki tersebut.
Karena antrean cukup panjang, Nila pun khawatir pada Fatan yang juga kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Ia mendadak gelisah tatkala suaminya itu tidak terjangkau oleh pandangannya.
"Kamu cari siapa? Kok kayak gak tenang gitu?"
Nila terkejut karena lelaki itu ternyata berasal dari Indonesia juga. Buktinya, dia pandai sekali berbicara dengan bahasa yang sama dengannya.
"Oh ... Suami saya." Nila menoleh sebentar lalu ke arah tempat pengambilan barang lagi. Namun Fatan semakin jauh dari jangkauannya dan suasana bandara pun semakin ramai.
"Mas Fatan kemana sih ya? Kok belum muncul juga," batin Nila semakin resah.
Ini adalah pengalaman pertamanya Nila menapaki kakinya di Beijing. Selama perjalanan karirnya, paling jauh itu hanya di negara tetangga saja seperti Malaysia, Singapura serta Thailand. Sepintas ada rasa kagum dan bangga, terlebih akhirnya ia menikah dengan lelaki yang memang dicintainya.
Cukup lama Nila terfokus ke arah tempat pengambilan barang itu, tanpa sadar lelaki yang tadi sempat di sampingnya itu pergi entah kemana, dan kemudian Fatan muncul bersama seorang lelaki yang membantunya membawakan beberapa koper miliknya menggunakan sebuah trolley.
"N-- Sayang, ayok kita pergi sekarang," ajak Fatan lalu mengulurkan tangannya, mengajak Nila untuk saling menggenggam tangan lagi. Tentunya Nila bahagia mendapati panggilan itu, dia tersenyum dan beranjak dari kursi sambil meraih tangan Fatan.
Di depan pintu kedatangan, sebuah mobil yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh Wicak pun ada di sana. Lelaki yang membantu Fatan memasukkan koper-koper itu ke dalam bagasi. Sedangkan Fatan dan Nila masuk lebih dulu ke dalam mobil di kursi penumpang belakang.
__ADS_1
"Mas ini benar mobilnya?" tanya Nila entah kenapa sedikit ragu.
"Iya ... Kalau dilihat dari plat mobil sih benar, sama seperti kemarin sewaktu aku pergi ke sini." Fatan memindahkan tangan Nila untuk dilingkarkan pada lengannya. Perempuan itu seketika merasa nyaman.
Sesat setelah sopir masuk ke dalam, mobil pun melaju. Keduanya akan tinggal di sebuah rumah bergaya khas negeri tirai bambu. Letaknya tidak jauh dari rumah sakit yang akan dijadikan Fatan sebagai tempat perawatannya untuk kesembuhannya nanti.
Selama di perjalanan, keduanya hanya saling bersandar di kursi penumpang. Ternyata Tiongkok lumayan jauh juga ya? pikir Nila dengan kepalanya yang sengaja disandarkan pada Fatan.
Namun rasa lelah sepasang pengantin baru itu seketika sirna tatkala mobil yang mereka tumpangi itu masuk ke dalam halaman rumah.
"Mas, suasananya nyaman sekali." Nila menatap kagum ke luar jendela.
"Aku juga baru tahu ternyata tempatnya sebagus ini," timpal Fatan lalu membuka pintu dan menggenggam tangan Nila untuk segera keluar dari mobil guna menikmati suasana yang berasa tenang itu, secara langsung.
Di depan pintu masuk ada dua orang yang berdiri di sana seraya menunduk hormat menyambut kedatangan Fatan dan Nila.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sapa kedua orang itu bersamaan.
"Terima kasih, boleh minta tolong masukkan barang-barang kami ke kamar?" pinta Fatan sopan.
"Tidak usah sungkan, kami memang akan bekerja disini. Lantas keduanya mengangguk paham dan bergegas dengan sigap.
Fatan mengajak Nila masuk ke dalam rumah itu. Ya seperti rumah khas negara tersebut pada umumnya. Hanya saja pada letak serta design kamar untuk mereka, dibuat sedemikian rupa ke salah satu lelaki itu dengann design modern.
"Mas istirahat ya? Dari tadi Mas udah berdiri terus, aku hanya takut nanti malam Mas malah ngedrop," kata Nila dengan sopan santunnya.
__ADS_1
"Iya juga ya, kedengarannya itu ide bagus." Fatan hendak melihat ke arah tempat tidur yang sepertinya sangat nyaman. Ia pun akhirnya naik ke atas tempat tidur, sementara Nila menunggu barang-barang dimasukkan ke dalam kamar.