
Nila dan Fatan akhirnya menemukan rumah yang cocok untuk mereka tempati. Rumah itu tidak mewah apalagi megah. Namun hanya sebuah rumah sederhana yang memang sengaja Fatan beli mungkin untuk sementara waktu selagi berproses mengawali bisnis pertama yang akan dibangunnya itu.
Dua hari sudah berlalu tidak terasa mampu dilalui oleh keduanya. Kini mereka pun sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Kepulangan mereka sengaja tidak memberitahukan pihak keluarga, alasannya supaya baik terjadi hal burul lagi pada mereka.
Setibanya di Jakarta pun, pasangan itu masih dalam penjagaan ketat oleh para agen dibawah naungan Rusli. Sebisa mungkin terutama pihak keluarga Fatan tidak boleh ada yang tahu. Keduanya pun pergi ke sebuah hotel yang cukup jauh dari pusat kota Jakarta.
Hari pertama di Jakarta, mereka hanya menghabiskan waktu berdua sambil menikmati berbagai fasilitas hotel layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya melakukan bulan madu. Manis, bahagia, panas dan bergairah.
Lantas tibalah di hari kedua. Nila dan Fatan sudah siap 'bertempur di medan perang'. Disini Fatan sebagai pemimpin dan mengarahkan Nila harus seperti apa. Tetapi yang jelas, mereka harus berakting seakan tidak tahu apa-apa ataupun tidak terjadi apapun di depan pihak keluarga Fatan.
Pertama kali yang mereka kunjungi yakni rumah sakit dimana Wicak dan juga Lalisa di rawat. Keadaan keduanya masih dalam perawatan khusus, sehingga tidak boleh ada sembarang orang yang masuk untuk menjenguk.
"Mas, kita ke kamar siapa dulu? Ayah atau bunda?" tanya Nila saat keduanya baru saja tiba di rumah sakit.
"Bunda, Sayang ... Nanti kamu temani bunda terlebih dahulu gak apa-apa 'kan? Biar ayah, aku aja yang jenguk. Soalnya cuma boleh satu orang aja," jawab Fatan dan Nila pun mengangguk paham.
.
.
.
.
"Selamat pagi, Bunda," sapa Fatan saat muncul dari balik pintu yang terbuka pada ruang rawat inap Lalisa.
"Oh. Fatan ..." lirih Lalisa dengan manik mata yang seketika berkaca-kaca saat melihat Fatan datang menemuinya. "Benarkah itu kamu? Fatan anak Bunda?" Lalisa tak kuasa menahan tangisnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Nila muncul dari balik pungung sang suami sambil membawa bucket bunga dan juga paper bag yang berisi makanan kesukaan Lalisa.
"Benar kok, dia ini anak Bunda yang paling tampan!" seru Nila dengan mengembangkan senyum yang sangat merekah. Tak bisa dipungkiri, Nila pun rindu akan sosok Lalisa. Meskipun sedikit bar-bar kalau bicara, tapi Nila nyaman.
"Nila, menantuku ..." panggil Lalisa. Perempuan paruh abad itu merasa sangat terharu. Nila pun menghampirinya, dan Fatan pun mengikuti setelah dirinya membuka pintu.
Nila menaruh bucket bunga itu ke atas meja serta paper bag nya. Ia langsung memeluk Lalisa sangat erat.
"Gimana kabarnya Bunda? Apa udah lebih baik?" tanya Nila seraya mengelus punggung Lalisa serta menepuk lembut.
"Sekarang Bunda merasa sehat saat kalian datang ke sini," jawab Lalisa penuh haru. Keduanya pun melepaskan pelukan bersamaan.
Nila tersenyum, raut wajah Lalisa yang tampak pucat tidak mengurangi cantiknya. "Bunda jangan khawatir ya, aku sama Mas Fatan akan disini nemenin Bunda sampai sembuh," ucap Nila kemudian.
"Bunda sedih, ayahnya Fatan belum sadar juga. Ini semua karena kesalahan pelayan itu! Dia penyebabnya!" keluh Lalisa merasa geram. Sontak Fatan terdiam, dia melirik ke arah sang bunda sangat serius.
"Bunda ingat, soalnya sebelum kejadian Bunda lihat dia ke dapur terus masak air. Tapi habis itu dia pergi, Bunda lewat aja kan ... Bunda kira 'oh mungkin dia mau ambil sesuatu' ... Pas Bunda balik lagi dan lihat gak ada siapa-siapa di dapur. Dan air itu dalam keadaan mendidih, akhirnya Bunda matikan aja kompornya habis itu pergi. Eh gak tahu kenapa tiba-tiba ada yang ngelemparin pematik api dalam kondisi menyala ke panci berisi air panas itu. Alhasil duaaarrrr!"
"Meledak Bun?" tukas Nila reflek sekaligus kaget. Pasalnya gaya bercerita Lalisa memang sangat mendalami sekali.
"Iya meledak. Bunda juga baru sadar pas ada api tahu-tahu besar dan ternyata gak jauh dari sana ada ayah yang lagi telepon sama seorang laki-laki. Bunda gak lihat jelas karena memang hawanya udah panas banget dan mata Bunda juga perih lihat api sebegitu besarnya," sambung Lalisa dan raut wajahnya menjadi sedih.
Nila langsung memeluk Lalisa. "Aku tahu Bunda pasti trauma. Tapi Bunda harus semangat buat sembuh ya."
"Omong-omong, orang yang udah jenguk Bunda kesini siapa aja?" Kali ini Fatan yang bertanya.
"Kemarin sempat ada sepupu Bunda yang tinggal di Bekasi, datang. Banyak juga ternyata. Beberapa diantara mereka juga pegawai di kantor ayah," jawab Lalisa. Namun Fatan hanya merespon dengan anggukkan kepala.
__ADS_1
"Setelah itu gak ada yang jenguk Bunda lagi?" Fatan bertanya lagi.
"Gak ada. Makanya Bunda sepi, dokter sama perawat pun cuma sesekali aja datang ke sini," keluh Lalisa lalu memasang wajah memelas pada Fatan. Akan tetapi lelaki itu sudah bisa membaca apa yang diinginkan oleh sang bunda. "Fatan. Boleh ya Nila temenin Bunda di sini?" pintanya pada anak semanta wayangnya itu.
Fatan berdecak, "Iya boleh, tapi cuma sampai sore ya. Malamnya harus sama aku loh!" jawabnya sangat serius, tapi kenyataannya tidak seserius raut wajahnya.
"Ah kamu ini!" Lalisa pun ikut berdecak seraya memicingkan mata kemudian menghela napas. "Bunda sampai gak inget kalau kalian pengantin baru. Oke deh, malam Bunda akan balikin Nila ke kamu," sambungnya lalu terkekeh.
"Ya ampun kayak macam barang aja aku ini," sahut Nila mencoba menengahi ibu mertua serta suaminya.
"Oh iya Bun ... Bunda tahu gak dimana Charma sama Ibu Wiwi pas sebelum kejadian?" Lagi-lagi Fatan bertanya karena sangat penasaran sekali.
Lalisa terdiam seraya berpikir sejenak. "Setahu Bunda, kak Wiwi itu pulang ke rumah orang tuanya di Padang dan yang ikut Elisa serta anaknya aja. Suaminya Elisa gak ikut katanya ada bisnis luar kota. Terus kalau Charma, kalau gak salah dia di rumah sakit deh nemenin mama nya. Kenapa gitu?" paparnya lalu bertanya pada Fatan seraya mendelik.
"Oh gak Bun. Aku nanya aja." Fatan mengusap tengkuk lehernya.
"Berpikir Fatan, berpikir," ucap lelaki itu dalam hatinya lalu mengakhiri rekaman itu dan memasukkan kembali ke dalam saku celananya.
"Bun, aku mau lihat ayah dulu ya," kata Fatan pamit pada sang bunda lalu menoleh pada istrinya. "Sayang, aku titip bunda ya."
"Iya Mas." Nila mengangguk dan membiarkan Fatan keluar dari ruangan itu.
Sesaat setelah Fatan pergi, Nila meraih paper bag yang tadi sempat dibawa olehnya. "Bunda udah makan belum? Ini aku bawa makanan kesukaan Bunda. Mau makan sekarang atau nanti?"
"Kebetulan Bunda lapar lagi, sekarang aja deh," jawab Lalisa tersenyum senang dengan kehadiran Nila di sana.
"Oke Bunda ... Biar aku bantu buka terlebih dahulu ya."
__ADS_1
Lalisa pun sambil menyantap makanannya, juga sambil bercerita tentang dirinya dan anak semata wayangnya itu pada Nila. Meskipun ada beberapa hal yang sudah Nila ketahui, tapi dia masih dengan setia mendengarkannya versi Lalisa langsung.