
Saat jam pulang kantor tiba, Lativa baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini akhirnya bisa ia lewati dengan mulus. Walaupun tadi siang sempat ada meeting yang sangat alot dengan kolega baru, karena negosiasi dari mereka sampai menguras emosi serta otak Lativa menjadi berpikir keras. Pasalnya penawaran yang kolega itu lakukan sangat dibawah standar perusahaan. Namun hasilnya, nihil. Kolega itu mengundurkan diri.
Hal itu sudah biasa bagi Lativa sebagai orang yang sering bekerja di lapangan. Berhadapan dengan orang banyak dan memiliki sifat yang berbeda-beda sudah menjadi 'makanannya' sehari-hari.
"Huaaah!" Lativa menghela napas panjang sambil mengangkat kedua tangan dan meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
Kretek! Kretek!
"Tiv, kamu habis kerja rodi?" sindir Betty yang baru saja selesai memakai riasan wajah.
"Biasalah, wonder woman," seloroh Lativa lalu memposisikan duduknya, menghadap rekan kerjanya itu.
"Ya, ya, ya percaya kok." Betty menghela napas. "Yok pulang yok. Besok libur, jangan lupa kasih reward buat diri sendiri!" ucapnya penuh semangat.
"Hahaha. Harus dong!" sahut Lativa sambil tertawa. "Eh, kamu kok tumben make up? Mau kencan ya?" ledeknya. Namun bukannya menjawab, Betty malah cengengesan.
Lativa kembali merubah posisi duduknya untuk bergegas merapikan meja.
"Ya, semoga aja berhasil. Soalnya yang sekarang ini juga seorang pengusaha, tajir pula."
"Wah, hebat dong! Aku ikut senang mendengarnya. Semoga kencan kali ini berhasil ya!" kata Lativa tersenyum ke arah Betty.
"Ah, terima kasih. Aku jadi gak sabar buat ketemu dia."
"Sabar dong. Udah lebih baik kamu cepetan siap-siapnya. Biar dia gak kelamaan nunggu," usul Lativa. Ia pun sudah selesai merapikan meja kerjanya.
Mendengar usulan rekannya, Betty bercermin kembali guna memastikan kalau riasan wajahnya itu sudah rapi.
Sementara Lativa, memilih beranjak dari tempat duduk sambil meraih tas lalu mengaitkannya di bahu. "Bet, aku duluan ya!" pamitnya sembari merapikan kursi. Setelah itu berjalan dan menepuk bahu rekannya yang masih bercermin dan menambah riasan wajahnya.
"Loh! mau kemana? Kok aku ditinggal sendiri sih!" Betty mengeraskan suaranya, karena langkah Lativa sangat cepat.
"Ada urusan, bye!" jawab Lativa tanpa menoleh ke arah Betty.
__ADS_1
Ketika tiba di lobby, Rusli melihat Lativa berjalan seperti orang yang sedang terburu-buru. Dia segera menarik tangan Lativa dan membawanya ke sebuah lorong yang menuju ke arah toilet. Pun Lativa tersentak akan perlakuan itu.
"Beb, kamu baru mau pulang?" tanya lelaki itu mengernyit heran. Pasalnya dia belum mendapat balasan pesan dari Lativa.
"Iya, Beb. Kamu sendiri mau pulang atau masih ada kerjaan?" Lativa bertanya balik. Tidak ada raut yang aneh pada wajahnya. Tampak polos dan biasa saja. Hanya tingkahnya saja yang membuat Rusli merasa curiga.
"Aku masih ada sedikit kerjaan. Mau pulang bareng sama aku atau--"
"Aku pulang sendiri aja ya, soalnya kak Nila minta tolong untuk dibelikan sesuatu. Takut dia marah kalau kelamaan menunggu," potong Lativa cepat.
"Oh begitu rupanya, oke deh. Hati-hati di jalan ya, Beb." Lativa mengangguk sembari tersenyum. "Besok ada rencana pergi atau gak?" tanya Rusli segera sebelum Lativa pergi dari hadapannya.
"Niatnya aku mau ke salon ... mungkin seharian. Terus besoknya, kemungkinan di rumah aja. Memangnya kenapa, Beb?"
"Kalau malam ini kita jalan gimana?" Rusli mendekatkan wajahnya. "Aku kangen, Beb," bisiknya pelan.
Sontak Lativa langsung mengulum bibir karena takut tawanya lepas dan bisa menimbulkan kecurigaan pada para pegawai yang masih ada di kantor. "Iya, iya aku tahu kok, Beb. Soalnya aku pun sama."
"Iya, Beb ... Tapi maaf ya, aku gak bisa lama-lama. Sekarang aku harus pergi dulu." Lativa melambaikan tangan. Matanya tampak berbinar penuh cahaya. Senyum yang mengembang dari kedua sudut bibirnya, begitu menyejukkan hati Rusli. Seakan rasa lelah yang sama-sama merasakannya, pun terobati karena pertemuan yang singkat itu.
"Hati-hati di jalan, Beb," seru Rusli membalas lambaian tangan kekasihnya. Beruntung keadaan lobby sedang sepi, jadi keduanya hanya terlihat dari CCTV.
...----------------...
Lativa akhirnya sampai di pusat perbelanjaan terbesar di Ibu Kota dengan melajukan mobil cukup kencang. Alhasil tidak ada 20 menit, ia pun tiba.
Lantas ia segera turun dari mobil dan lekas pergi ke salah satu lantai khusus menjual barang elekronik. Ia pun mencari gerai khusus ponsel dengan merk yang diinginkan oleh Nila.
Cukup lama mencari, Lativa menemukan gerai itu. Ia memilih dengan cermat, supaya barang yang dicari bisa tepat. Sebab spesifikasi setiap ponsel bisa dikatakan banyak yang memiliki kemiripan, sehingga tidak sedikit orang bisa terkecoh karena hal tersebut. Meskipun harganya lumayan mahal bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah, tapi bersyukurnya tidak bagi seorang Nila. Buktinya, dia mampu membeli ponsel itu.
"Saya jadi ambil yang ini aja ya," kata Lativa menunjuk salah satu ponsel itu. "Sekalian sama kartu perdananya juga ya," sambungnya.
Pegawai gerai itu mengangguk paham. "Baik, akan kami persiapkan dulu ya Kak barangnya," jawabnya kemudian bergegas mempersiapkan pesanan.
__ADS_1
Setelah berhasil mendapat barang yang dicari, Lativa lekas pergi dari tempat itu dan kembali ke mobilnya yang berada di tempat parkir.
Tak terasa perjalanan dari pusat perbelanjaan itu akhirnya tiba di rumah sakit. Sebelum turun dari mobil, Lativa memasukkan barang pesanan Nila ke dalam tas. Lantas kemudian ia pun turun dari mobil.
Sampai di depan pintu ruang rawat inap sang kakak, Lativa mengetuk pelan. Alih-alih takut keponakannya itu merasa terganggu. Ia bahkan membuka pintunya sangat hati-hati sekali.
Nila menyadari pintu itu terbuka, sesaat kemudian Lativa muncul.
"Eh kamu rupamya." Nla berjalan menghampiri sang adik. "Kamu sendirian?" tanyanya kemudian.
"Iya, Kak. Omong-omong sepi, apa anak Kakak sedang tidur?" Lativa masuk ke dalam seraya menutup pintunya kembali dengan hati-hati.
"Iya, baru aja selesai mandi sama minum ASI."
Lativa mempercepat langkahnya karena tidak sabar untuk melihat keponakanannya.
"Tiv, kamu udah beli?" tanya Nila berbisik, sebab dia tidak ingin suaminya tahu.
"Udah kak." Lativa mengeluarkan barang itu dari dalam tasnya, kemudian Nila dengan cepat mengambil dan memasukkannya ke dalam tas miliknya. "Makasih banyak ya!"
"Sama-sama, Kak."
"Omong-omong, Rusli tahu gak kamu beli ini buat Kakak?" tanya Nila penasaran.
"Gak tahu, Kak. Aku sengaja gak bilang sih ke dia."
Nila bernapas lega.
"Kak, memangnya kenapa sih kok kayaknya di rahasiain banget?" Kali ini Lativa yang penasaran, karena gelagat Nila terlihat aneh.
"Ya gak apa-apa sih," jawab Nila. Dia merasa ragu untuk menceritakannya pada sang adik.
"Beneran gak mau cerita sama aku?" Lativa memfokuskan pandangannya ke arah Nila dengan sebelah alisnya yang terangkat. Ia terlihat seperti mengintrogasi.
__ADS_1